"Daddy, bagaimana bisa menjodohkan Lily dengan pria Arogan itu?" pertanyaan Lily meronta-ronta di hadapan Daddy-nya menunjuk Lucas yang duduk disofa dengan wajah datarnya.
"Lucas itu pria yang baik, Daddy sudah menjodohkan kalian sejak kecil" pernyataan Daddy menatap Lucas yang sejak kecilnya sudah dia anggap seperti anak sendiri.
"Sejak kecil apanya, Lily baru lahir dia sudah tua" komplen Lily, selain terkenal arogan Lucas juga beda 8 tahun darinya.
"Lily menolak perjodohan dengan pria Arogan itu" pernyataan Lily.
"Berani kamu menolak saya?" pertanyaan Lucas dengan suara beratnya.
Yuk baca cerita Lily.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 Akibat Tidak Mendengarkan Suami
"Wahhhh, mau Kak, Kakak menetap saja di luar negeri, biar aku di sini," kata Lily malah tersenyum senang.
"Cehhhk, segitunya kamu tidak ingin melayani suami," ketus Lucas yang mendadak hilang selera makan.
"Jadi kamu cuma mau menikmati uangku atas status pernikahan kita?" tanya Lucas langsung memelototi Lily.
"Apa lagi? Kalau menikmati Kak Lucas kan nggak mungkin," kata Lily sampai Lucas syok mendengarnya.
"Kenapa tidak mungkin, apa tubuhku tidak memenuhi standar kriteria kamu?" tanya Lucas langsung melepaskan kaos tipis yang dipakainya.
"Jadi boleh disentuh?" tanya Lily dengan excited, sedari dulu Lucas sangat menjaga jarak dari Lily jangankan untuk bermain bersentuhan saja Lucas tidak mau jika tidak terpaksa.
Brakkkkk
"Jadi setelah menikah jika tidak menyentuh tubuhku, kamu ingin menyentuh tubuh siapa Lily?" tanya Lucas emosi sampai menggebrak meja.
"Ma, maksud aku kan biasanya Kak Lucas nggak mau aku sentuh," kata Lily gelagapan curi-curi pandang menatap tubuh Lucas lalu menunduk lagi.
"Itu karena dulu kamu selalu mengganggu, jadi aku malas melihatmu," kata Lucas dengan jujur.
Ketika kecil Lily adalah gadis nakal, cerewet dan selalu memaksakan kehendaknya, itulah yang membuat Lucas tidak menyukai Lily.
"Mmmmh, Kak Lucas aja yang nggak suka Lily padahal anak-anak lain senang bermain sama Lily," kata Lily.
"Jika memang banyak anak-anak lain yang senang bermain dengan kamu, kenapa dulu kamu selalu menggangguku?" itulah pertanyaan yang sedari dulu Lucas penasaran dengan jawabannya.
"Ya, Lily pengin main sama Kak Lucas," kata Lily yang hanya ingin bermain tapi sejak kecil Lucas adalah anak disiplin yang menghabiskan hari-harinya dengan belajar bahkan dia tidak suka bermain.
"Alah, bilang aja kamu menyukai aku sejak kecil kan?" tanya Lucas yang selama ini merasa begitu.
Lily satu-satunya perempuan yang tidak pernah menjauhi Lucas, mau seperti apa pun Lucas cuek, tidak mempedulikannya bahkan kadang kasar padanya.
"Haaaa, Lily waktu itu kan masih kecil mana tahu perasaan cinta Kak," kata Lily setelah tertegun beberapa saat.
.......
Hampir jam 10 malam, Lucas masuk ke dalam kamar dan mendapati Lily masih main ponsel dengan wajah ditutupi masker.
"Lily cuci muka kamu itu, aku ingin tidur," ucap Lucas begitu duduk di tepi ranjang.
"Ya Kak Lucas tidur aja, kenapa malah suruh aku cuci muka," tanya Lily.
"Kamu ingin aku teriaki hantu saat aku terbangun tengah malam?" tanya Lucas.
"Mmmh, jangan matiin lampu malam ini Kak, Lily mau pakai masker semalaman," rengek Lily.
"Aku tidak bisa tidur jika lampu menyala," kata Lucas.
"Cepat cuci sebelum aku matikan lampunya," perintah Lucas.
"Mmmmh, nggak mau," kata Lily malah melawan dan berbaring memunggungi Lucas.
"Terserah Lily," kata Lucas yang sudah lelah mematikan lampu dan berbaring lalu tertidur.
.......
Tengah malam Lily yang merasa ingin pipis segera bangun dengan mata yang masih sangat mengantuk dan berjalan menuju kamar mandi.
"Hahhh, apa itu," kata Lily yang matanya langsung melek begitu dia berjalan tidak sengaja melihat kilatan putih di cermin lemari.
Karena rasa penasarannya mengalahkan rasa takut Lily kembali bergeser ke belakang dan melihat ke arah cermin lemari dekat ranjang.
"Akkkkkh," teriak Lily ketakutan sampai jatuh berguling di lantai karena kepeleset.
Lucas yang terkejut langsung menyalakan lampu dan bergegas menolong Lily yang terjatuh sampai berbaring tengkurap di lantai.
"Lily kamu kenapa?" tanya Lucas membantu Lily agar duduk.
"Hwaaa, ada hantu Kak," tangis Lily menggapai pada Lucas dengan gemetaran.
Lily masih terbayang sosok berwajah putih dengan rambut berantakan yang dia lihat dari cermin.
Begitu mendengar Lucas tertawa Lily mendongak, "Lily serius Kak, nggak becanda," ucap Lily dengan polosnya karena benar-benar melihat.
"Itu akibatnya jika tidak mendengar apa yang suami katakan," kata Lucas menggendong Lily dan menurunkan tepat di depan lemari yang ada cerminnya.
"Hwaaaa," Lily langsung meronta-ronta, dia lupa sedang memakai masker putih, jadi hantu yang dia lihat di cermin berarti dirinya sendiri.
"Mmmh, Akkkh," ringis Lily ketika akan melangkah menuju kamar mandi kedua kakinya terasa ngilu saat digerakkan.
"Kak Lucas tolong," pinta Lily selain ingin cuci muka juga sudah tidak tahan ingin pipis.
"Kalau aku tidak mau?" kata Lucas dengan santai memangku kedua tangannya.
"Aku ingin pipis Kak," kata Lily yang sudah tidak tahan.
"Pipis aja dalam celana," kata Lucas dengan cuek malah kembali berbaring di atas ranjang.
"Hiks, Kak Lucas jahat banget," tangis Lily tetap berjalan dengan susah bahkan berpegang pada dinding.
"Makanya kalau orang bicara didengar," kata Lucas langsung menggendong Lily yang sudah berjalan beberapa langkah.
Lucas menunggu Lily di depan pintu toilet, lalu menunggu Lily yang sedang cuci muka.
"Udah," kata Lily begitu selesai.
Lucas berjalan menggendong Lily lalu menaruhnya di tepi ranjang.
"Tunggu sebentar aku ambil kotak obat," Lucas berlutut di depan Lily lalu memijit kaki Lily yang sepertinya terkilir karena terpeleset.
"Akkkh, sakit Kak, pelan-pelan, aakkkh," rengek Lily meremas seprai.
"Tahan sedikit lagi," kata Lucas memijit dengan telaten.
"Akkkkh"
"Tahan," kata Lucas yang diam-diam mengulum senyum mendengar percakapan mereka seolah sedang bercinta saja.
......
"Sakit," mewek Lily menatap Lucas yang sudah selesai memijit kakinya.
"Tidurlah lagi," kata Lucas menyimpan kotak obat dan kembali mematikan lampu setelah berbaring.
Mendengar Lily sesekali masih meringis Lucas meraih Lily agar masuk ke dalam pelukannya.
"Tidurlah dengan tenang, besok juga sembuh," kata Lucas yang jadi kasihan.
"Sakit, Kak," mewek Lily yang benar-benar merasa ngilu dan sakit.
"Besok sembuh," kata Lucas mengelus-elus kepala Lily sampai dia tertidur.
......
3 hari kemudian.
Lucas membawa Lily untuk pindah ke rumah pribadinya yang sudah selesai renovasinya.
"Selamat datang Tuan, Nyonya," kata kepala bodyguard menyambut mereka di pintu utama.
"Waahhhh, ini benar-benar kehidupan ala Eropa," batin Lily menatap bangunan dan pelayanan orang-orang di rumah ini yang melebihi apa yang biasa Lily dapatkan di rumah utama keluarga Brisbane.
Lucas terus berjalan sambil memegang sebelah tangan Lily yang masih celingak-celinguk menatap seisi rumah.
"Selamat datang, Tuan Lucas," ucap kepala pelayan yang menyambut di dalam rumah.
"Alena, semua sudah siap?" tanya Lucas yang diangguki wanita itu dengan sopan.
"Dari semua wanita yang ada, baru dengan wanita ini Kak Lucas mau bicara," batin Lily menatap wanita di hadapannya.
"Lily haus Kak," kata Lily.
"Pelayan siapkan minuman untuk Nyonya," perintah wanita itu.
Lily meminum air yang dibawakan pelayan lalu Lucas mengajaknya kembali berjalan menuju ke kamar utama.
"Tangganya banyak sekali, Lily capek," keluh Lily yang belum juga naik sudah lelah duluan melihat puluhan anak tangga.
"Lift sedang dalam pengerjaan, jika Nyonya lelah naiknya biar saya bantu," ucap wanita yang bernama Alena itu.
"Kak Lucas, gendong," kata Lily yang tidak mungkin juga digendong wanita itu.