Isabella adalah mantan pembunuh bayaran paling berbahaya dan paling di takuti di dunia gelap. Selama bertahun-tahun tangannya telah berlumuran darah.
Namun semuanya berubah saat Isabella menemukan seorang bayi perempuan di depan apartemennya. Sejak saat itu dia memutuskan pensiun demi keselamatan anaknya. Tapi sayangnya sang bos tidak menyukai itu, hingga dia membunuh anak Isabella karena menganggap jika anak itu adalah penghalang Isabella.
Melihat sang putri tewas, Isabella marah dan mulai memburu satu persatu orang yang telah membunuh putrinya. Setelah dendamnya terbayar, Isabella memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Namun kematian ternyata bukan akhir baginya, karena setelah membuka mata kembali. Isabella mendapati dirinya berada di tubuh seorang wanita bernama Isabella Iris, seorang ratu yang di buang dari istananya sendiri.
Bagimana kisah Isabella selanjutnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Serangan Monster
Satu per satu monster itu mulai keluar dari kegelapan, awalnya hanya beberapa. Tapi semakin lama jumlahnya terus bertambah, Kael menatap sekeliling dengan wajah tegang.
"Berapa banyak sebenarnya mereka?"
Aeron menggeram, tatapannya terus mengamati Isabella.
"Terlalu banyak untuk dihitung." Kata Aeron
Sang kusir yang bersembunyi di belakang kereta langsung pucat saat melihat monster-monster itu semakin banyak, dia bahkan sudah hampir tidak mampu berdiri.
"Apakah dia akan baik-baik saja." Bisik sang kusir yang masih bisa di dengar oleh Aeron dan Kael, tapi kedua binatang mistis itu hanya diam dan terus menyaksikan Isabella.
Kael melirik sang kusir lalu berbisik pada Aeron.
"Sepertinya dia benar-benar ketakutan, lihat kakinya bahkan gemetar." Ucap Kael julid.
"Kau benar, padahal badannya bahkan besar dan kekar tapi dia ketakutan seperti anak kecil." Balas Aeron.
"Sudahlah, dia hanya manusia biasa." Ujar Kael.
Kael kemudian mengalihkan pandangannya kepada para monster, tatapannya berubah dingin.
"Kenapa mereka bisa sebanyak ini, apakah tidak ada dari pihak kerajaan yang datang membunuh monster-monster ini." Tanya Aeron bingung, karena kalau raja sebelumnya selalu menyiapkan penjaga di setiap desa untuk menjaga keamanan tiap warga dari serangan monster, tapi sepertinya raja yang kali ini berbeda.
Belum sempat Kael mengatakan apa pun, salah satu monster kembali menerjang Isabella.
"Isabella, Hati-hati!" Ucap Kael dalam pikiran Isabella.
Isabella tidak bergerak, dia hanya menatap monster itu dingin. Kini, monster itu sudah berada tepat di depannya. Namun tepat sebelum cakar monster tersebut mengenai tubuhnya—
Isabella menunduk, hingga cakar monster itu hanya melewati bagian atas kepalanya.
Dalam satu gerakan cepat, Isabella memutar tubuhnya.
SLASH!
Pedangnya menebas tubuh monster itu, hingga kepalanya terpisah dari tubuhnya. Sedangkan tubuh monster itu terlempar dan menghantam tanah dengan keras.
"Lumayan." Batin Isabella.
Kael yang mendengar suara batin Isabella, sampai terdiam, tuannya memang berbeda dengan yang lain.
"Secepat itu..." Kata Aeron terkejut.
Namun belum sempat kael bereaksi, dua monster lainnya sudah menyerang Isabella dari arah berlawanan.
"Di belakangmu!" Telepati Kael.
Isabella melompat, tubuhnya berputar di udara. Lalu kakinya menghantam kepala salah satu monster yang menyerangnya.
BAM!
Monster itu terlempar ke samping, belum sempat bernapas lega monster lainnya kembali menyerangnya. Isabella mendarat dengan satu lutut di tanah.
Kemudian dia langsung mengayunkan pedangnya.
SLASH!
Monster kedua jatuh.
Kael hanya bisa menatapnya terpaku.
"Dia benar-benar tidak menggunakan sihir."
Aeron mengangguk.
"Aku mulai berpikir kalau kemampuan fisiknya justru sama menakutkannya dengan sihirnya."
Sementara itu, para monster semakin banyak berdatangan. Mereka mulai mengepung Isabella.
Satu dari depan.
Dua dari belakang.
Beberapa lainnya dari samping.
Namun Isabella hanya berdiri sambil memegang pedangnya, tidak ada sedikit pun rasa takut di wajahnya.
"Kalau kalian mau menyerang..."
Dia mengangkat pedangnya.
"Serang saja bersamaan."
Kael membelalakkan mata.
"Isabella, jangan bilang..."
Belum selesai Kael berbicara, seluruh monster langsung menyerang secara bersamaan.
Isabella tersenyum tipis.
"Nah."
Tubuhnya bergerak dengan sangat cepat, satu monster menyerang dari depan dan Isabella berhasil menangkisnya.
Monster kedua datang dari samping, dia menunduk.
Monster ketiga menyerang dari belakang, Isabella berbalik dan menendangnya.
BAM!
Monster itu terpental.
Kemudian Isabella berputar dan menebas monster lainnya.
SLASH!
Satu demi satu monster mulai jatuh.
Kael dan Aeron hanya bisa melongo melihat pemandangan itu.
"Ternyata dia memang benar-benar tidak membutuhkan bantuan kita." Kata Kael.
"Kau benar." Jawab Aeron
Mereka berdua terus mengamati pertarungan itu dengan tatapan penuh kekaguman. Sedangkan sang kusir masih bersembunyi di balik kereta sambil memejamkan mata. Dia benar-benar tidak ingin melihat pertarungan itu lagi.
Namun tiba-tiba—
DUG!
Tanah kembali bergetar, Isabella langsung berhenti.
DUG!
Getaran kedua terdengar lebih kuat, Kael perlahan menoleh ke arah hutan.
"Kau mendengar itu?"
Aeron memperhatikan pepohonan yang bergerak.
"Itu bukan monster biasa."
Dari balik pepohonan, muncul sebuah bayangan besar.
Jauh lebih besar daripada monster-monster sebelumnya.
Tubuhnya hampir setinggi 4 kali manusia dewasa, matanya merah menyala, setiap langkahnya membuat tanah bergetar.
DUG...
DUG...
Para monster kecil yang sebelumnya menyerang Isabella tiba-tiba mundur.
Kael menelan ludah.
"Mereka..."
Dia melihat para monster yang ketakutan.
"takut padanya."
Aeron mengangguk perlahan.
"Kalau begitu, dia pasti pemimpinnya."
Monster besar itu mengeluarkan raungan yang membuat seluruh desa bergema.
"ROOOAAARRR!"
Sang kusir semakin gemetar ketakutan, dia duduk meringkuk sambil menutup kedua telinganya.
"Tolong..." Lirihnya.
Namun Isabella justru tersenyum saat melihat monster itu.
Dia menatap monster besar tersebut dengan tatapan penuh tantangan.
"Jadi kau pemimpin mereka?"
Monster itu menatap Isabella, kemudian perlahan membuka mulutnya. Air liur menetes dari taring-taringnya, Isabella menggenggam pedangnya lebih erat.
"Kalau begitu..."
Dia melangkah maju.
"Jangan mengecewakanku."
Kael langsung menatap Isabella dengan tidak percaya, dia sudah banyak melihat manusia gila tapi tidak ada yang segila Isabella.
Saat ini dia tidak tau apakah dia harus merasa kagum pada Isabella atau merasa kasihan pada para monster itu. justru benar-benar tidak tahu apakah harus kagum.
Karena monster tersebut sepertinya belum menyadari satu hal.
Malam ini, bukan mereka yang berburu melainkan merekalah yang sedang di buru. Sayang sekali, malam ini mereka tidak beruntung karena harus berhadapan dengan manusia yang salah.
Bersambung