NovelToon NovelToon
Mari Bercerai, Mas!

Mari Bercerai, Mas!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Senja

“Mari bercerai, Mas!”

Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.

Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.

“Apa katamu?!”

Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”

Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.

Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.

Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.

Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 18

Selama perjalanan menuju rumah sakit, atmosfer di dalam mobil terasa begitu sunyi dan kaku. Harsa hanya duduk bersandar pada kursi depan, menatap lurus ke arah jalanan melalui kaca depan dengan pandangan kosong.

Tak seperti biasanya yang selalu menanggapi ocehan Gavin dengan tawa dan obrolan hangat, pagi ini pria itu benar-benar menjelma menjadi patung es.

Pikirannya melayang jauh, kembali pada bayangan Rania yang melangkah sendirian keluar dari gerbang rumah dengan taksi.

Rasa sesak di dada Harsa kian mengembang, menyisakan sebuah firasat buruk yang terus menghantui kepalanya.

Di kursi belakang, Gavin terus mengoceh riang menceritakan mainan barunya.

Namun, karena tidak kunjung mendapat respons, bocah itu memajukan tubuhnya dan mencolek pundak Harsa.

“Papa Harsa... Papa dengar Gavin, tidak? Nanti setelah dari dokter, kita jadi beli es krim rasa stroberi, kan?” tanya Gavin dengan mata bulatnya yang berbinar penuh harap.

Harsa tersentak kecil, lamunannya buyar seketika. Ia menoleh sedikit ke belakang dengan senyum yang dipaksakan.

“Eh? Iya, Gavin... Kamu bicara apa tadi? Maaf, Paman agak kurang dengar.”

Melihat hal itu, Wulan yang duduk di samping Gavin segera menarik lembut bahu putranya agar kembali bersandar di kursi.

Lalu, ia menatap Harsa dengan pandangan penuh selidik dan cemas.

“Gavin, sudah ya, Sayang. Jangan ganggu papa Harsa dulu,” nasihat Wulan dengan suara yang amat lembut.

“Papa Harsa mungkin sedang lelah dan banyak pikiran di kantor. Gavin tidak boleh berisik, ya?”

Gavin merengut pelan, namun akhirnya mengangguk patuh.

“Iya, Mama.”

Suasana kembali hening selama beberapa saat. Wulan terus memperhatikan raut wajah Harsa dari arah belakang.

Wajah pria itu nampak sangat kusut, guratan tegas di rahangnya terlihat menegang, dan ada keringat dingin yang mulai membasahi pelipisnya meskipun mesin pendingin ruangan mobil menyala cukup kencang.

Karena didorong rasa khawatir yang teramat sangat, Wulan mencondongkan tubuhnya ke depan.

Tanpa diduga, ia mengulurkan tangannya dan menyentuh kening Harsa untuk memeriksa suhunya.

“Astaga, Mas...” ucap Wulan spontan, menarik napas pendek.

“Keningmu sedikit panas. Mas Harsa sepertinya sedang demam ini.”

Plak!

Belum sempat Wulan menarik tangannya kembali, Harsa dengan gerakan refleks yang cukup kasar langsung menepis tangan wanita itu dari keningnya.

Suara tepukan tangan itu terdengar cukup nyaring di dalam mobil, membuat Pak Darto yang sedang menyetir sempat melirik sekilas dari kaca spion dengan wajah tegang.

“Jangan lancang, Wulan. Aku tidak apa-apa,” desis Harsa, suaranya terdengar sangat dingin, kaku, dan sarat akan penekanan yang mutlak.

Harsa membetulkan posisi duduknya, membuang muka ke arah jendela samping. Meskipun hubungannya dengan Rania sedang berada di ambang kehancuran, jauh di dalam lubuk hatinya, Harsa tetaplah pria yang sangat menjaga batasan.

Harsa tidak suka, dan tidak akan pernah sudi disentuh oleh wanita lain mana pun selain Rania, istrinya yang sah.

Sikap dingin dan penolakan terang-terangan dari Harsa itu seketika membuat wajah Wulan memucat. Ia menarik kembali tangannya dengan gemetar, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Raut wajahnya berubah murung, menyiratkan rasa bersalah sekaligus rasa sakit yang tersembunyi.

“M–maaf, Mas Harsa... Maafkan aku,” cicit Wulan, suaranya mendadak parau dan berkaca-kaca.

“Aku... aku sama sekali nggak ada maksud untuk bersikap lancang atau kurang ajar pada Mas Harsa.”

Harsa tetap diam, tidak berniat membalas ucapan itu sedikit pun.

“Aku beneran khawatir melihat kondisi Mas pagi ini,” lanjut Wulan di sela helaan napasnya yang berat, mencoba menghapus air mata yang hampir menetes di sudut matanya agar tidak dilihat oleh Gavin.

“Aku tidak mau Mas Harsa sampai jatuh sakit hanya karena kelelahan mengurus dan memikirkan tanggung jawab Mas pada Gavin dan diriku selama ini. Aku merasa sangat bersalah...”

Ya, Wulan sangat sadar diri akan posisinya di dalam hidup Harsa. Jika bukan karena sebaris janji yang pernah diucapkan Harsa di depan mendiang suaminya, mungkin pria sukses dan terpandang seperti Harsa tidak akan pernah ada di sampingnya saat ini.

Harsa hanya sedang menunaikan amanah untuk menjaga janda dan anak dari adik kandungnya yang tewas dalam kecelakaan tragis satu tahun lalu.

Awalnya, Wulan pun menganggap seluruh perhatian, bantuan finansial, dan kehadiran Harsa di setiap akhir pekannya tak lebih dari sekadar bentuk kasih sayang seorang kakak ipar kepada adik iparnya yang malang.

Namun, seiring berjalannya waktu, kedekatan yang intens dan sosok Harsa yang begitu bertanggung jawab, tegas, serta dewasa perlahan-lahan mulai menumbuhkan benih-benih perasaan lain di dalam hati Wulan.

Rasa nyaman yang semestinya tidak boleh ada, kini justru tumbuh subur dan mencengkeram erat sanubari Wulan.

Sembari memeluk Gavin yang mulai mengantuk di pangkuannya, Wulan menatap punggung tegap Harsa yang terasa begitu dekat dan sangat mustahil untuk ia gapai.

Hatinya berdenyut nyeri, didera pergulatan batin yang teramat menyiksa.

“Salahkah jika aku memiliki perasaan lebih pada kakak iparku sendiri, Tuhan? Salahkah jika aku mendambakan sosoknya untuk menjadi pelindungku dan ayah seutuhnya bagi Gavin? Mengapa takdir mempertemukan kami dalam ikatan ipar yang begitu menyakitkan ini?” batin Wulan.

Wulan memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan deru mesin mobil menenggelamkan seluruh jeritan hatinya yang tak akan pernah bisa ia suarakan di depan Harsa.

Sementara di kursi depan, Harsa tetap mematung, sama sekali tidak menyadari bahwa kebaikannya selama ini telah menjadi racun yang menumbuhkan harapan semu di hati adik iparnya sendiri.

“Maaf, Wulan. Aku tidak bermaksud bersikap kasar padamu tadi,” ucap Harsa tanpa menoleh.

Wulan yang sejak tadi menunduk langsung mendongak. Ia memaksakan sebuah senyuman manis, meski matanya masih nampak sedikit berkaca-kaca.

“Nggak apa-apa, Mas. Aku mengerti kok. Mas pasti sedang lelah karena urusan kantor yang menumpuk. Aku yang seharusnya lebih tahu batasan.”

Harsa hanya mengangguk sebagai respons, lalu kembali melemparkan pandangannya ke luar jendela, tenggelam dalam lamunan panjangnya tentang Rania.

Di kursi kemudi, Pak Darto diam-diam memperhatikan interaksi kedua penumpangnya melalui kaca spion tengah.

Ia melirik Wulan dan Harsa bergantian dengan kening yang perlahan berkerut halus. Sebagai orang tua yang sudah banyak makan asam garam kehidupan, Pak Darto mulai menangkap ada sesuatu yang tidak biasa di sini.

“Ah, mungkin saja ini cuma perasaanku yang terlalu sensitif. Semoga saja tuan Harsa tidak terjerat ke dalam masalah baru, kasihan nyonya Rania di rumah,” gumam Pak Darto menenangkan hatinya sendiri.

1
Marina Tarigan
lanjut tdk ada itu
Marina Tarigan
lanjut cerita akal2an wulan
Marina Tarigan
harsa ini manager sukses tapi kok tdk punya hati dan otak terlampau sadis kelakuanmu itu monyet
Marina Tarigan
jgn terlampau lemah Rania. harsa sdh seperti suami istri didepanmu
Marina Tarigan
berjuanglah utk hidup jgn biarka wulan dan mertuamu menang kalau kenapa2 wulan bertepuk tangan sm si Ratna yg tdk tahu diri itu
Marina Tarigan
kesalahan yg tdk anggap serius akhirnya kesalahan makin dalam
Marina Tarigan
kebaikan Harsa disalah gunakan Wulan bibir bawahnya muai gatal dia tdk berpikir gimana endingya nanti selalu memperalat Gavjn dgn kesehatan anak itu
Marina Tarigan
tdk apa2 Harsa bikin saja ulahmu dgn wulanmu itu kesimpulan pernikahan kalian pasti ada
Marina Tarigan
hai ya lanjut mertua luar biasa manipulatif
Marina Tarigan
gitu dong baru wanita jgn mau di injak2 laki 2 tapi sbgai istri harus sopan dan menghargai suami sepenuh jiwa
Marina Tarigan
lanjut bos
Marina Tarigan
lanjut
Marina Tarigan
betul nu ztatna sebentsr lahi Rania akan meninggal kan lebooj baok Harsa nikah sm wulan foakan sj buk supays Rania cepay mati utk apa kalau bodoh selali
Marina Tarigan
lanjut
Marina Tarigan
nangis mulu raina lebai banget
Katherina Ajawaila
gembel lupa diri, dasar OKB sj belagu lupa apa ya speahn
Marina Tarigan
bisa kpk idyri adik landung xijadikan ostri kalau adikny sdh meninhhal
Dessy Christianti
keren karyanya thor
Marina Tarigan
orang bodoh terlampau bawa perasaan tak perlu fikasihani mato. 1 gantinya datang seribu
Marina Tarigan
deorang wanita bodoh lebih baik mati saja kamu kesana siapapun tfk ribi orang tuamu kalau ada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!