"Woy sampah rendahan."
"Sampah? Sampah? Sampah seperti ku masih bisa di daur ulang, tapi sampah seperti mu pantasnya dihancurkan."
Juna Adiwiyata hanya siswa beasiswa yang datang dengan tangan kosong ke Akademi Arcapolis—sekolah elite tempat nama keluarga menentukan siapa yang berhak menunduk dan siapa yang berhak menginjak.
Di sana, tidak ada yang peduli seberapa keras kau belajar. Yang ada hanya empat faksi, empat Raja, dan satu aturan tak tertulis: yang lemah akan diinjak sampai lupa cara berdiri.
Juna pernah jadi bagian dari yang lemah itu. Dihina, dipukuli, diseret ke gudang gelap sampai tubuhnya nyaris tak bernyawa—sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dari titik matinya sendiri dan mengubah segalanya.
Bukan sistem yang memberi kekuatan cuma-cuma. Sistem yang mengukur kekuasaan.
"Aku bangkit bersama orang-orang terbuang, dan akan menghancurkan mereka yang membuang"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Getaran langkah kaki semakin terasa jelas di bawah telapak kaki Juna, seiring sosok raksasa itu melangkah keluar dari balik jeruji yang sudah terangkat penuh.
Tubuhnya menjulang, jauh lebih tinggi dari siapa pun yang pernah Juna hadapi sebelumnya, dengan otot-otot yang menonjol di setiap lekuk lengannya seperti batu yang dipahat kasar. Kepalanya sedikit menunduk, matanya menatap Juna dengan tatapan kosong yang menyimpan sesuatu yang liar di baliknya.
"Itu dia," seorang penonton di tribun berbisik penuh kagum kepada temannya, suaranya masih terdengar oleh Juna di tengah gemuruh sorakan. "Ben. Nggak ada yang pernah bertahan lebih dari satu menit lawan dia."
'Tidak lebih dari satu menit,' batin Juna, mengatur napasnya sambil mengamati setiap gerakan tubuh raksasa itu. 'Baiklah, mari kita lihat apa aku bisa jadi pengecualian.'
Tanpa aba-aba, tanpa kata pembuka apa pun, Ben melesat maju dengan kecepatan yang sama sekali tidak sepadan dengan ukuran tubuhnya. Kepalan tangannya yang sebesar kepala manusia dewasa terayun cepat ke arah wajah Juna.
Juna berhasil menghindar tipis, merasakan angin dari kepalan itu menyapu pipinya dengan kekuatan yang membuat bulu kuduknya meremang. Namun sebelum ia sempat membalas, sebuah pukulan susulan sudah datang dari arah berlawanan, menghantam telak ke rusuknya.
Tubuh Juna terpental beberapa meter, membentur dinding arena dengan suara benturan keras yang membuat seluruh tribun bersorak semakin liar. Rasa sakit menjalar cepat dari rusuknya, membuat napasnya tercekat sejenak.
'Anjing,' batin Juna, memaksa dirinya bangkit meski kedua lututnya gemetar. 'Tenaganya benar-benar nggak masuk akal. Ini bukan sekadar kuat, ini seperti bertarung lawan gorila beneran.'
Ben melangkah maju lagi, tidak menunggu Juna sepenuhnya pulih. Ia mengayunkan tinjunya sekali lagi, kali ini ke arah perut Juna, dengan kekuatan yang sanggup meruntuhkan dinding beton jika mengenai sasarannya.
Juna melompat mundur, namun sedikit terlambat. Ujung kepalan Ben masih sempat menyerempet perutnya, cukup untuk membuatnya terhuyung dan jatuh berlutut di lantai arena, Juna batuk keras.
"Bangkit," suara Kaisar Dirgantara terdengar dari kursinya, nadanya santai seolah sedang menonton pertunjukan sirkus yang menghibur. "Pertunjukan baru saja dimulai."
Juna mendongak, menatap sosok Ben yang berdiri menjulang di hadapannya, tangannya masih terkepal siap melancarkan serangan berikutnya. Rasa sakit di sekujur tubuhnya nyaris membuatnya ingin menyerah sejenak, namun sesuatu di dalam dadanya menolak keras pikiran itu.
'Tidak,' batinnya, memaksa kedua kakinya berdiri kembali meski gemetar hebat. 'Aku belum boleh kalah di sini. Bukan cuma soal harga diri, tapi soal Gery yang masih ditahan di pinggir arena itu.'
Ia mengangkat kedua tangannya ke posisi bertahan, mengatur napas dalam-dalam, matanya tidak lepas dari setiap gerakan kecil tubuh raksasa di hadapannya.
'Kalau aku nggak bisa menang lewat kekuatan,' pikirnya cepat, mengingat kembali setiap detail pukulan yang baru saja ia terima, 'aku harus cari cara lain. Harus ada celah di balik tenaga sebesar itu.'
Ben kembali melesat maju, kali ini dengan kombinasi pukulan beruntun yang membuat Juna hanya bisa menghindar sebisa mungkin, sesekali menerima serempetan yang cukup untuk membuat kulitnya lecet dan memar di berbagai tempat.
Sorakan tribun semakin membahana, memenuhi seluruh ruangan bawah tanah itu dengan gemuruh yang terdengar seperti lonceng kematian bagi siapa pun yang berdiri di tengah arena.
semangat up ceritanya...
Yuk saling dukung cerita permanen di novel aku yang judulnya "Baby or Babi"...
jangan lupa mampir ya Thor