NovelToon NovelToon
Saving My Ex-Husband

Saving My Ex-Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mafia / Penyelamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hyacinthus Rainwood

IG: @hyacinthschia

Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.

Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Ketika Semua Usaha Kehilangan Maknanya

Minggu-minggu berikutnya berlalu dengan pola yang semakin familiar bagi Brooklyn—sebuah siklus usaha dan penolakan yang terus berulang, seolah ia terjebak dalam lingkaran setan yang tidak memiliki jalan keluar. Namun meski luka demi luka terus bertambah, sebagian kecil dari dirinya masih belum sepenuhnya menyerah, seolah ada semacam kekeraskepalaan yang mendorongnya untuk terus mencoba, meski hasil yang ia dapatkan selalu sama menyakitkannya.

Suatu pagi, Brooklyn bangun lebih awal dari biasanya, menyiapkan sarapan yang cukup mewah—telur benedict lengkap dengan saus hollandaise buatan sendiri, roti panggang gandum, dan jus jeruk segar yang baru diperas. Ia menata semuanya dengan rapi di meja makan, berharap sarapan istimewa ini bisa menjadi awal yang lebih baik untuk hari itu.

Namun ketika Liam turun dari kamarnya, ia hanya melirik sekilas ke arah meja makan sebelum mengambil secangkir kopi hitam dan berjalan langsung menuju pintu keluar, sama sekali tidak menyentuh hidangan yang telah Brooklyn siapkan dengan susah payah sejak subuh.

"Aku ada rapat pagi," ucapnya singkat tanpa menoleh, meninggalkan Brooklyn sendirian menatap piring-piring yang perlahan mendingin, uap dari telur benedict yang tadinya hangat kini menghilang begitu saja, sama seperti harapan kecil yang selalu ia bawa setiap pagi.

...***...

Beberapa hari kemudian, Brooklyn kembali mencoba peruntungannya dengan membawakan makan siang ke kantor Liam, meski pengalaman sebelumnya telah mengajarkannya betapa menyakitkannya usaha semacam ini. Namun kali ini, ia berpikir mungkin situasinya akan berbeda jika ia tidak mengganggu waktu rapat Liam.

Sayangnya, harapan itu kembali sia-sia. Di depan beberapa rekan kerja yang kebetulan lewat di lorong kantor, Liam kembali menegurnya dengan nada tajam.

"Kenapa kau terus melakukan ini, Brooklyn?" ucapnya dengan suara yang cukup keras hingga terdengar oleh karyawan-karyawan di sekitarnya. "Apa kau pikir dengan terus muncul di kantorku seperti ini, orang-orang akan mengira kita pasangan yang bahagia? Berhentilah membuat dirimu terlihat menyedihkan seperti ini."

Kata "menyedihkan" itu terdengar begitu jelas, membuat beberapa karyawan yang lewat menahan senyum sinis mereka. Brooklyn hanya bisa menundukkan kepala, meninggalkan kotak bekal itu begitu saja di meja resepsionis sebelum bergegas pergi, mencoba menyembunyikan rasa malu yang kembali membakar wajahnya.

Lalu, malam harinya, situasi tidak menjadi lebih baik. Brooklyn kembali menyiapkan makan malam, kali ini dengan menu yang lebih sederhana—pasta carbonara dan salad segar—berharap sesuatu yang lebih santai mungkin bisa diterima lebih baik oleh Liam yang tampak lelah sepulang kerja.

Namun begitu Liam duduk di meja makan dan mencicipi sesuap pasta tersebut, ekspresinya berubah kesal.

"Apa ini?" tanyanya sinis, meletakkan garpunya dengan kasar. "Kau bahkan tidak bisa memasak dengan benar. Rasanya hambar sekali."

"Aku sudah mengikuti resep dengan teliti, Liam. Mungkin—"

"Mungkin kau memang tidak becus melakukan apa pun dengan benar," potong Liam kasar, suaranya penuh penghinaan. "Seharusnya aku tidak berharap banyak dari seseorang sepertimu. Kau bahkan tidak bisa memasak makanan sesederhana ini dengan layak."

Kata-kata itu menusuk dalam, bukan hanya karena penghinaan terhadap masakannya, melainkan karena nada merendahkan yang semakin sering keluar dari mulut Liam belakangan ini. Brooklyn hanya bisa terdiam, menahan air mata yang mendesak keluar, sementara Liam bangkit dari meja makan dan meninggalkan ruangan tanpa menghabiskan makanannya sama sekali.

Tidak berhenti di situ, beberapa hari setelahnya Brooklyn mencoba cara lain untuk menunjukkan perhatiannya. Ia membelikan sebuah jam tangan mewah keluaran terbaru dari butik ternama di Madison Avenue, mengetahui bahwa Liam sering mengeluh jam tangannya yang lama sudah mulai rusak.

Ketika ia memberikan kotak jam tangan itu dengan penuh harap, Liam hanya membukanya sekilas, menatap jam tangan tersebut dengan ekspresi datar, sebelum akhirnya berjalan menuju tempat sampah di dapur dan membuang kotak beserta isinya begitu saja, tanpa sepatah kata pun.

"Aku sudah punya jam tangan yang cukup bagus," ucapnya dingin, seolah tindakan yang baru saja ia lakukan adalah hal yang paling wajar di dunia. "Berhentilah membuang-buang uang untuk barang yang tidak kubutuhkan."

Brooklyn hanya bisa menatap tempat sampah itu dalam diam, tidak lagi memiliki energi untuk membantah atau memprotes tindakan tersebut. Ia hanya berbalik dan berjalan meninggalkan dapur, membiarkan jam tangan mahal itu terkubur di antara sampah rumah tangga lainnya.

...***...

Puncak dari semua penolakan itu terjadi ketika Brooklyn, dengan niat baik untuk membantu meringankan beban kerja Liam yang tampak begitu kelelahan belakangan ini, mengambil inisiatif untuk menyelesaikan sebagian laporan presentasi bisnis yang tergeletak di meja kerja rumah mereka. Brooklyn, yang ternyata memiliki latar belakang pendidikan bisnis yang cukup mumpuni dari universitas ternama, menyusun ulang beberapa bagian laporan tersebut dengan analisis data yang lebih tajam dan presentasi visual yang jauh lebih rapi dibandingkan draf awal yang ia temukan.

Ia berharap Liam akan menghargai usahanya ketika pria itu pulang malam itu dan menemukan laporan yang telah ia perbaiki dengan susah payah selama berjam-jam.

Namun harapan itu kembali hancur berkeping-keping.

"Apa yang kau lakukan pada laporanku?!" bentak Liam begitu ia membuka berkas tersebut di meja kerjanya, wajahnya memerah karena amarah yang meluap. "Siapa yang mengizinkanmu menyentuh pekerjaanku?"

"Aku hanya ingin membantu, Liam. Aku pikir beberapa bagian bisa diperbaiki, dan aku—"

"Membantu?" Liam tertawa sinis, suaranya penuh ejekan. "Kau pikir dengan otak rendahanmu, kau bisa memperbaiki pekerjaan seorang eksekutif Whitmore Group? Kau hampir menghancurkan seluruh presentasi ini dengan campur tanganmu yang tidak diperlukan!"

Kenyataannya, laporan yang telah Brooklyn perbaiki jauh lebih baik dari versi aslinya—analisisnya lebih tajam, datanya lebih akurat, dan presentasinya jauh lebih meyakinkan. Namun kesombongan dan kebutuhan Liam untuk terus merendahkan Brooklyn membuatnya buta terhadap kualitas kerja yang sebenarnya sangat baik itu.

"Aku hanya mencoba membantu," ulang Brooklyn, suaranya mulai bergetar menahan air mata yang sudah tidak sanggup lagi ia tahan.

"Kalau begitu berhentilah mencoba!" bentak Liam, membanting berkas laporan itu ke meja dengan keras. "Jangan pernah menyentuh pekerjaanku lagi! Kau hanya akan membuat semuanya semakin kacau dengan kemampuanmu yang terbatas!"

Kata "otak rendahan" dan "kemampuan yang terbatas" itu terus terngiang di kepala Brooklyn bahkan setelah Liam meninggalkan ruangan malam itu, menusuk jauh lebih dalam dibandingkan penghinaan-penghinaan sebelumnya, karena kali ini bukan hanya tentang perhatian atau kepeduliannya yang ditolak, melainkan tentang kecerdasan dan kemampuannya sebagai individu yang direndahkan begitu rupa.

...***...

Setelah rentetan penolakan dan penghinaan yang datang bertubi-tubi dalam waktu singkat itu, sesuatu dalam diri Brooklyn akhirnya mencapai titik jenuhnya. Ia mulai menarik diri, tidak lagi berusaha memasak hidangan istimewa, tidak lagi mencoba memberikan hadiah, dan tidak lagi menawarkan bantuan dalam bentuk apa pun kepada Liam.

Selama beberapa hari berikutnya, Brooklyn menjadi jauh lebih pendiam dari biasanya. Ia hanya berbicara seperlunya, wajahnya selalu tampak muram dengan tatapan mata yang kosong, seolah kehilangan cahaya yang dulu selalu menyinari matanya meski di tengah kesedihan sekalipun. Ia menghabiskan waktu lebih banyak sendirian di kamarnya, menatap keluar jendela yang menghadap cakrawala Manhattan tanpa benar-benar melihat apa pun, pikirannya tenggelam dalam kehampaan yang semakin dalam setiap harinya.

Bahkan staf rumah tangga yang bekerja di penthouse mereka mulai menyadari perubahan drastis pada diri Brooklyn, bertukar pandangan penuh kekhawatiran setiap kali melihat nyonya rumah mereka berjalan melewati koridor dengan langkah lesu dan wajah tanpa ekspresi.

Liam sendiri, meski tidak pernah menunjukkannya secara terbuka, sesekali memperhatikan perubahan sikap istrinya itu dengan tatapan yang sulit dijelaskan—entah rasa penasaran, entah sedikit kekhawatiran yang enggan ia akui, atau mungkin hanya ketidakpedulian yang semakin mengeras seiring waktu. Namun ia tidak pernah bertanya, tidak pernah mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam diri wanita yang telah menjadi istrinya selama ini.

Dan Brooklyn, di sisi lain, tidak lagi berharap ia akan bertanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!