Di balik tatapan kosong dan cemoohan sebagai "dokter idiot" yang selalu diremehkan di rumah sakit elit, Arka Prasetya sebenarnya menyimpan kejeniusan otak super serta sertifikasi bedah internasional yang tidak diketahui siapa pun. Ketika hidupnya terus diinjak-injak oleh para dokter senior yang arogan dan terjebak dalam perjodohan tak terduga dengan Clara, seorang pewaris konglomerat yang angkuh, Arka perlahan mulai menunjukkan taringnya lewat operasi-operasi mustahil yang akan memberikan tamparan telak bagi siapa saja yang berani merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Nafas Clara Wijaya terengah-engah tidak beraturan begitu ia tiba di hadapan Arka.
Air mata penyesalan dan ketakutan tampak menggenang jelas di pelupuk matanya yang indah.
"Arka... tolong aku..." rintih Clara dengan suara parau bergetar hebat.
Arka menghentikan langkahnya lalu menatap wanita di depannya dengan tatapan tenang.
"Ada apa, Nona calon istri? Kenapa kamu berlari seperti dikejar hantu?" tanya Arka santai.
Clara mencengkeram erat lengan baju seragam sederhana yang dikenakan oleh Arka.
"Perusahaan kakekku... Grup Wijaya... semuanya hampir hancur total," isak Clara putus asa.
"Keluarga Handojo memutus seluruh kontrak kerja sama secara sepihak dan menutup semua akses modal."
Siska yang berdiri tidak jauh dari mereka langsung menutup mulutnya karena terkejut mendengarkan berita buruk itu.
Arka mengusap lembut punggung tangan Clara yang sedang mencengkeram bajunya.
"Tenanglah, Nona. Jangan menangis di tempat umum begini," ujar Arka dengan nada suara menenangkan.
"Bagaimana aku bisa tenang, Arka?! Seluruh aset keluarga kami terancam disita besok pagi!" seru Clara histeris.
"Kakek menyuruhku untuk mencarimu... Kakek bilang hanya kamu satu-satunya orang yang bisa menolong kami."
Arka tersenyum tipis mendengar pengakuan tulus dari pewaris keluarga konglomerat tersebut.
[Sistem Mendeteksi Misi Utama Tahap Kedua: Penyelamatan Krisis Finansial Grup Wijaya]
[Peluang Keberhasilan Serangan Balik Terhadap Grup Handojo: 100 Persen]
[Membuka Akses Dokumen Rahasia Jaringan Bisnis Gelap Keluarga Handojo]
Suara notifikasi bernada datar berderik pelan di dalam kesadaran kepala Arka.
Sebuah layar transparan melintas cepat menampilkan rincian kelemahan fatal dari kerajaan bisnis Grup Handojo.
Arka menatap layar tersebut sekilas lalu kembali memfokuskan pandangannya kepada Clara.
"Jadi, kakekmu benar-benar menyuruhmu datang memohon kepadaku?" tanya Arka memastikan.
Clara menganggukkan kepalanya dengan cepat berulang kali.
"Iya, Arka! Aku mohon... selamatkan keluarga kami... aku bersedia melakukan apa saja!" mohon Clara tanpa mempedulikan harga dirinya lagi.
Siska yang melihat pemandangan itu merasakan gelombang emosi bercampur aduk di dalam dadanya.
Ia tahu betul betapa arogan dan angkuhnya Clara Wijaya pada hari-hari pertama mereka bertemu di rumah sakit.
Namun sekarang, wanita konglomerat itu berlutut secara tidak langsung di hadapan seorang petugas kebersihan demi menyelamatkan keluarganya.
Arka menarik napas perlahan lalu menatap lurus ke dalam manik mata Clara yang basah oleh air mata.
"Melakukan apa saja, ya?" ulang Arka dengan nada suara yang terdengar sangat misterius.
Clara menatap Arka dengan penuh pengharapan, mengabaikan rasa gengsinya sepenuhnya.
"Iya! Apapun syaratnya akan aku turuti, asalkan keluarga Wijaya bisa selamat dari kehancuran ini," janji Clara sungguh-sungguh.
Arka tersenyum lebar sangat menawan, membuat jantung Clara berdegup kencang seketika.
"Baiklah, kalau itu keputusanmu, aku akan menerima tantangan ini," ucap Arka mantap.
"Tapi ingat, syarat pertama dariku adalah kamu harus mendengarkan setiap instruksiku tanpa membantah sedikit pun."
Clara langsung mengangguk cepat tanda menyetujui syarat mutlak yang diajukan oleh Arka.
"Aku janji tidak akan membantah! Apa langkah pertama yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Clara tidak sabar.
Arka melangkah maju satu langkah, menatap ke arah gerbang rumah sakit dengan sorot mata setajam elang.
"Langkah pertama adalah kita pergi ke markas utama Grup Handojo untuk menagih utang nyawa anak mereka," jawab Arka dingin.
Clara tertegun mendengar rencana nekat yang diucapkan oleh pria di depannya itu.
"Menagih utang nyawa? Apa maksudmu, Arka?" tanya Clara kebingungan.
"Penyakit liver kronis Roy Handojo sudah memasuki ambang batas kritis akibat amarahnya sendiri," jelas Arka santai.
"Tanpa penanganku, anak itu tidak akan bisa bertahan hidup melewati malam ini."
Siska yang mendengarkan penjelasan itu langsung menyadari kejeniusan strategi tingkat tinggi yang sedang dimainkan oleh Arka.
Arka tidak perlu mengangkat senjata untuk menghancurkan musuh-musuhnya.
Cukup dengan keahlian medis dan ketenangan mentalnya, ia bisa mengendalikan hidup dan mati siapa saja.
"Jadi... kita akan menggunakan penyakit Roy sebagai senjata negosiasi?" tanya Clara mulai mengerti arah rencana Arka.
"Tepat sekali, Nona cerdas," puji Arka tersenyum jahil.
"Sekarang, berdirilah di belakangku dan biarkan aku yang menyelesaikan semuanya."
Clara merasa ada rasa aman yang luar biasa besar setiap kali ia berada di dekat pemuda tersebut.
Ia perlahan-lahan bangkit berdiri lalu menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan.
"Baiklah, aku akan ikut kemana pun kamu pergi, Arka," ucap Clara tulus.
Siska melangkah mendekati mereka berdua dengan senyuman tipis di wajahnya.
"Hati-hati di jalan, Arka... dan bawa kemenangan kembali ke rumah sakit ini," pesan Siska lembut.
Arka menoleh lalu mengangguk singkat kepada perawat setianya itu.
"Tenang saja, Siska. Pertunjukan besar malam ini akan segera dimulai," jawab Arka berwibawa.
Mereka berdua berjalan berdampingan meninggalkan area rumah sakit menuju mobil mewah yang sudah bersiap di depan lobi.