NovelToon NovelToon
MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.

Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.

Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.

"Jangan sentuh!"

Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.

"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12.

Malam pun perlahan merayap, menggantikan tirai siang dengan kegelapan yang dihiasi pendar lampu-lampu kota. Di dalam Ruang Melati, suasana terasa hangat dan dipenuhi gelak tawa. Aluna sedang terkekeh pelan mendengarkan Romeo menceritakan kenangan konyol masa kecil mereka.

Namun, keceriaan itu mendadak menguap saat ponsel di saku celana Aluna bergetar hebat.

Aluna merogoh benda persegi itu. Layar yang menyala menampilkan deretan angka tanpa nama, namun intuisinya langsung tahu siapa pemiliknya. Dengan jemari dingin dan dada berdebar, ia menggeser tombol hijau lalu melangkah pelan menuju sudut dekat jendela.

"Turun ke lobi sekarang. Aku sudah di bawah," suara rendah, dingin, dan sarat akan dominasi milik Hayden langsung menyergap pendengarannya tanpa basa-basi.

Aluna tertegun, matanya membelalak kaget. "Apa? Tapi... bukannya kemarin kau sendiri yang bilang hari ini aku bebas dan tidak perlu ke studio?" bisik Aluna sangat pelan, memastikan suaranya tidak mengundang curiga Romeo.

"Aturan dibuat olehku, Aluna. Dan aku bisa mengubahnya kapan saja," balas Hayden datar namun tidak menerima bantahan. "Tiga menit. Kalau kau tidak muncul, aku yang akan naik menjemputmu ke kamar perawatan itu."

"Jangan! Jangan naik!" tahan Aluna panik. "Aku... aku turun sekarang."

Klik. Sambungan telepon diputus sepihak.

Dada Aluna bergemuruh hebat oleh gelombang kecemasan. Hayden tetaplah Hayden—pria berkuasa yang memegang kendali penuh atas nasib kakaknya. Ia tahu betul menolak bukanlah opsi cerdas jika tidak ingin rahasia kelam perjanjian ini terbongkar di depan Romeo.

Aluna memutar tubuhnya, memaksakan senyuman paling natural di hadapan Romeo yang menatapnya penuh tanya. "Ada apa, Na? Siapa yang telepon malam-malam begini?"

"Anu, Kak... itu tadi telepon dari teman sekelompok kuliah," bohong Aluna ragu. "Ada tugas praktek mendadak yang harus dikumpulkan besok pagi. Lagipula badan Aluna rasanya agak hangat dan sumeng. Boleh tidak malam ini Aluna izin tidur di rumah sekalian mengerjakan tugas?"

Romeo menatap adiknya dengan raut cemas yang kentara. "Tentu saja boleh, Na. Wajahmu memang kelihatan pucat dari tadi siang. Kenapa baru bilang?"

"Aluna cuma tidak mau bikin Kakak kepikiran," bisik Aluna pelan.

"Pulanglah, istirahat di rumah. Di sini kan ada Suster Maya dan tim medis yang menjaga Kakak. Kamu tidak perlu khawatir," tutur Romeo lembut.

"Terima kasih ya, Kak. Aluna pamit dulu," ucap Aluna, mengecup dahi Romeo lembut sebelum mengambil tas ranselnya dan melangkah keluar dari ruangan.

Menginjakkan kaki di area lobi rumah sakit yang mulai lengang, mata Aluna langsung menangkap sosok yang menunggunya. Hayden berdiri tegap di samping sebuah motor sport gahar berwarna hitam pekat. Pria itu mengenakan jaket kulit hitam dengan kacamata tipis, memancarkan aura berbahaya yang begitu mencolok di tengah lingkungan rumah sakit.

Aluna menghampirinya dengan langkah lebar dan raut wajah dipenuhi kekesalan. "Kau gila, Hayden! Kenapa tiba-tiba menyuruhku datang padahal kau sendiri yang memberi izin libur?!"

Hayden tidak mengindahkan protes itu. Pria itu menyodorkan sebuah helm full-face ke tangan Aluna. "Naik. Aku tidak suka membuang waktu."

"Tapi kau sudah berjanji kemarin!" cicit Aluna menahan geram.

"Janji itu berlaku sebelum aku mengubah pikiran," potong Hayden dingin. "Naik, Aluna. Atau aku cabut semua dana perawatan kakakmu detik ini juga."

Aluna mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Kau jahat sekali, Hayden..."

"Aku pebisnis, Aluna. Bukan dermawan. Pakai helmmu," tegas Hayden, tatapan dari balik kacamata tipisnya menghunus tajam.

Dalam kepasrahan yang pahit, Aluna memakai helm tersebut dan naik ke jok belakang motor sport yang tinggi itu.

Deru mesin meraung dahsyat. Hayden menggegas gasnya, membawa kendaraan itu melesat cepat membelah dinginnya jalanan malam kota. Kecepatan yang luar biasa tinggi membuat angin malam menusuk hingga ke tulang. Rasa takut yang membuncah membuat Aluna secara refleks merengkuh dan mencengkeram pinggang kokoh Hayden erat-erat, membenamkan wajahnya di belakang punggung jaket kulit pria itu.

*

Motor sport itu terus melaju menanjak menuju kawasan perbukitan tanpa henti, membelah kegelapan malam hingga akhirnya berhenti tepat di halaman studio kayu di tengah hutan pinus.

Aroma cat minyak, tiner, dan kayu pinus menyambut kedatangan mereka saat memasuki studio yang luas dan remang-remang. Hayden melepas jaket kulitnya, menyisakan kaos oblong hitam yang melekat ketat di dadanya. Pria itu melangkah menuju meja kerjanya, mengambil selembar selendang kain putih tipis yang agak transparan dari atas kotak kayu berukir—sebuah properti yang rupanya sudah ia siapkan sejak awal.

Pria itu melemparkan selendang putih tersebut ke atas podium melukis, lalu menunjuk ke arah sana tanpa emosi.

"Lepas seluruh pakaianmu," perintah Hayden, suaranya datar dan mutlak.

Jantung Aluna serasa berhenti berdetak. Matanya membelalak horor. "Tidak! Kau gila?! Kau bilang hari ini aku libur, dan sekarang kau menyuruhku bertelanjang bulat di sini?! Aku tidak mau!"

"Aku tidak menerima penolakan, Aluna."

"Aku punya harga diri, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar, dadanya naik turun menahan gumpalan amarah yang membakar. "Aku mau menjadi modelmu bukan berarti kau bisa menginjak-injakku sesukamu dan memaksaku telanjang malam ini! Carilah wanita lain, aku mau pulang!"

Aluna memutar tubuhnya, bersiap melangkah pergi meninggalkan studio. Namun, langkahnya terhenti saat suara dingin Hayden kembali memotong udara malam.

"Berhenti di situ jika kau masih ingin melihat kakakmu bernapas besok pagi."

Aluna mengepal tangan, menahan tangis tanpa memutar badan. "Kenapa kau selalu memakai Kak Romeo untuk mengancamku?"

"Karena cuma itu celahmu," bisik Hayden datar, melangkah santai mendekat. "Seorang kolektor seni privat menawar lukisan eksklusifku malam ini. Dia ingin konsep kepasrahan murni berbalut kain tipis."

"Cari model lain! Bukannya banyak artis yang mengantre untukmu?!" sergah Aluna emosi, membalikkan badan menatap Hayden.

"Mereka murah. Aku butuh kepasrahan yang nyata, bukan akting," balas Hayden dingin. "Harganya fantastis, Aluna. Komisi dari lukisan ini cukup untuk melunasi seluruh biaya operasi dan perawatan rumah sakit kakakmu sekaligus. Tanpa sisa. Kau bisa bebas dari utangmu malam ini juga."

Langkah Aluna terpaku seketika. Kata-kata itu menghantamnya tepat di dada.

"Pelunasan... total?" bisik Aluna dengan suara bergetar, memastikan pendengarannya tak salah.

"Ya. Bebas murni. Kau tidak perlu lagi berurusan denganku setelah ini," jawab Hayden tegas, menatap manik mata Aluna yang mulai basah. "Jadi, pilih harga dirimu malam ini, atau kebebasan kakakmu selamanya?"

Pilihan itu begitu mencekik, tetapi Aluna tahu mana yang harus ia korbankan.

"Kau benar-benar iblis, Hayden..." desis Aluna, air mata keputusasaan meluncur pelan menembus pipinya.

Dengan jemari yang bergetar hebat dan napas sesak oleh rasa hina, Aluna melucuti pakaiannya satu per satu. Ia melepaskan tiap helai kain yang melekat hingga tubuhnya berdiri polos di bawah pendar lampu studio.

Hayden mengambil selendang putih transparan yang disiapkannya, lalu menyodorkannya.

"Duduk di atas podium," perintah Hayden. "Dongakkan wajahmu ke atas, sembunyikan parasmu dari pandanganku. Busungkan dadamu, buka pahamu, lalu tutupi bagian tengah tubuhmu dengan selendang putih itu."

"Tolong, Hayden... Jangan pose seperti ini..." Aluna terisak, suara tangisnya terdengar begitu pilu. "Ini terlalu merendahkan..."

"Lakukan, Aluna!" tekan Hayden tegas. "Lagi pula aku tidak tertarik dengan tubuh wanita manapun. Bahkan sekelas seorang artis pun, bagiku hanya seonggok daging yang di berikan nyawa. Wajahmu tidak akan kulukis dengan jelas. Fokus lukisan ini adalah bentuk tubuh dan kepasrahanmu. Lakukan sekarang!"

Sejak dulu, Hayden tak pernah membiarkan wanita mana pun mengacaukan fokusnya. Sudah tak terhitung berapa banyak tubuh wanita yang telanjang di depan kanvasnya—mulai dari model profesional hingga sekelas artis kenamaan yang mengantre demi dilukis oleh tangannya.

Namun, tak seorang pun dari mereka mampu memantik desir asing di dadanya. Tubuh-tubuh itu baginya tak lebih dari gundukan daging dan lekuk anatomis tanpa jiwa.

"Baik! Aku lakukan!" jerit Aluna pelan di antara isak tangisnya.

Demi kesembuhan total Romeo, Aluna menelan bulat-bulat rasa hinanya. Ia menaiki podium dingin itu, mendongakkan kepala hingga leher jenjangnya terekspos penuh, membusungkan dada, dan membiarkan kakinya terbuka dengan kain transparan yang menutup samar area intimnya.

Hayden melangkah mundur, mengambil tempat di balik kanvas raksasa dengan kuas di tangan.

Sepanjang proses melukis, jemari Hayden bergerak lihai. Namun, di tengah sapuan kuasnya, tangan pria itu perlahan terhenti di udara. Manik mata gelapnya tak lagi terfokus pada perpaduan warna di kanvas, melainkan terpaku sepenuhnya pada objek di hadapannya.

Di bawah pendar lampu sorot kuning yang hangat, lekuk tubuh Aluna terpancar begitu murni dan memikat. Kulitnya yang halus, leher jenjangnya yang terangkat pasrah, serta napasnya yang memburu pelan membawa daya tarik yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Gelar model, ketenaran, maupun kecantikan para artis yang pernah dipotretnya tak ada apa-apanya dibanding pemandangan ini. Benteng pertahanan dingin yang bertahun-tahun ia jaga mendadak retak.

Keindahan murni dari kepasrahan gadis itu membakar dorongan asing di dalam dada Hayden. Pria itu tak lagi sekadar ingin mengabadikannya di atas kanvas untuk sang kolektor—ia ingin menikmati keindahan itu secara nyata untuk dirinya sendiri.

*

Hayden meletakkan kuasnya ke atas palet dengan dentang pelan. Derap langkah kaki telanjang pria itu mendekati podium terdengar memburu di tengah kesunyian studio.

Aluna, yang sejak tadi mempertahankan posisinya dengan mata terpejam rapat, menyadari ketukan langkah yang semakin dekat. "Kenapa berhenti? Lukisannya sudah selesai?"

Hayden tidak menjawab. Pria itu menghentikan langkah tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna tanpa celah. Ia mengulurkan tangan, seolah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha gadis itu.

Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak makin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis tersebut.

Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.

"Jangan sentuh!"

Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur bertumpu di sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.

"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi biaya rumah sakit Kakakku, bukan menjual tubuhku untuk kamu jamah sembarangan!"

Hayden tertegun sejenak. Tangannya tertahan di udara, merasakan bekas tepisan kasar Aluna di punggung tangannya. Raut wajah pria itu mengeras, manik matanya meredup berbahaya.

"Kau berani membentakku, Aluna?" bisik Hayden dengan suara rendah yang amat menakutkan. Pria itu maju satu langkah, menumpukan kedua tangannya di sisi tubuh Aluna hingga mengunci posisi gadis itu. "Kau lupa siapa yang memegang kendali atas nasib kakakmu?"

"Aku tidak lupa!" balas Aluna berani, menatap lurus ke dalam iris mata gelap Hayden meski tubuhnya gemetar. "Tapi dalam perjanjian kita tidak ada poin yang mengizinkanmu menyentuhku seperti ini! Jika kau melanggarnya, kau tidak beda jauh dari penjahat jalanan, Hayden Mahendra!"

"Penjahat jalanan?" ulang Hayden seraya mengulas senyum sinis. "Kau pikir siapa yang memberimu makan dan membayar kamar rumah sakit mewah itu kalau bukan penjahat ini?"

"Itu utang yang kubayar dengan pekerjaanku, bukan dengan harga diriku!" tegas Aluna tanpa gentar, matanya berkaca-kaca menahan amarah. "Sentuh aku sekali lagi, dan aku pastikan aku akan keluar dari studio ini sekarang juga, persetan dengan semuanya!"

Keheningan yang mencekam membeku di udara. Hayden menatap bibir Aluna yang bergetar namun memancarkan keberanian luar biasa. Tatapan menantang gadis itu bukannya memadamkan gairahnya, melainkan justru makin menyulut keangkuhan dan rasa penasarannya.

*

*

*

1
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Mia Camelia
Hayden makin gak bisa melepaskan Aluna nih🤭
𝐀⃝🥀Weny
baru aja baca, udah disuguhin Bombay banyak sama othor😭
Mia Camelia
siap thor 😁penasaran nih visual ny gimana😂
diga pues
+21☻️☻️☻️
diga pues
☻️☻️☻️
diga pues
serigala☻️
diga pues
ugh☻️
Mia Camelia
hayden obsesif banget ini mah ke aluna🤭
sukaa banget nih sama modelan ky hayden 😁
diga pues
ugh🌚
Ita Putri
haduuhh
bahaya Aluna
sudah dong Hayden kasihan aluna
Mia Camelia
lanjut thor😁
Mita Paramita
Thor nih novelnya sampai tamat kn? gak kayak novel kemarin yang dihapus? padahal lagi seru cerita ny
Mita Paramita: siap Thor 🔥🔥🔥🔥
semangat Thor 🔥🔥🔥
total 2 replies
Mia Camelia
seru banget thor😁😁😁
MissSHalalalal: terimakasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!