Clara Nagendra, siswi berprestasi dengan senyum tempelan sempurna, hidup dalam rumah dingin yang hanya memuja adiknya, Thea. Di balik nilai 98 dan piala emas, ia menyembunyikan gagal ginjal kronis stadium 4 dalam diary biru lusuhnya. Hanya Nenek Kamila dan tiga sahabatnya yang melihat lukanya. Pertemuannya dengan Kim Seokjin, ketua geng motor yang ditakuti, mengubah segalanya. Dari musuh jadi rumah. Dari taman belakang yang bersih hingga janji rumah kecil bernomor 7 di Lembang, Clara akhirnya menemukan tempat pulang — bukan gedung, melainkan pelukan yang tidak menuntutnya sempurna. Sebuah kisah tentang luka yang tak terlihat, cinta yang menjadi tempat istirahat, dan rumah yang tertinggal namun tetap menyala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 — Jadi, Kita Ini Apa?
Dua minggu abis kejadian "kalau suatu hari gue gak ada" di taman itu, hubungan Clara sama Seokjin jadi aneh.
Aneh yang enak, tapi bikin bingung.
Seokjin makin sering nyariin Clara. Bukan cuma lewat koridor lagi. Sekarang dia nungguin di depan kelas pas jam pulang. Bawain es teh kalau Clara lupa makan siang. Ngirimin meme gak jelas jam 11 malem.
Clara juga gitu. Tiap HP geter, langsung ngeliat. Kalau dari Seokjin, senyum-senyum sendiri. Kalau seharian gak chat, dia yang nge-chat duluan.
Mutiara, Diana, Safira udah males ngelesin.
"Udah jadian aja sana," kata Diana tiap liat mereka berdua di taman.
"Belum," jawab Clara terus. Padahal pipinya merah.
Sampai hari Jumat itu.
Hari Jumat sore, sekolah udah sepi. Anak OSIS lagi beresin panggung bekas lomba. Taman belakang yang udah bersih itu juga sepi. Cuma ada bangku kayu.
Clara duduk di sana sendirian abis bantuin Nenek belanja. Nungguin Seokjin yang katanya mau balikin buku LKS yang kemarin dipinjem.
Seokjin dateng agak telat. Napas ngos-ngosan. Kayak abis lari dari parkiran.
"Sorry telat. Tadi ditahan Pak Budi gara-gara motor gue parkir sembarangan lagi," katanya sambil duduk.
Clara ketawa. "Udah langganan ditahan ya."
Seokjin nyodorin LKS. "Nih, udah gue kerjain. Jangan nyontek semua ya."
Clara ambil. "Ih, gue gak nyontek."
Hening bentar. Angin sore lewat.
Seokjin mainin tutup botol aqua di tangannya. Keliatan gugup. Gak kayak Seokjin yang biasanya dingin dan santai.
Clara merhatiin. "Kak, kenapa? Gugup amat."
Seokjin ngela napas panjang. Kayak ngumpulin nyali.
"Ra, gue mau nanya."
"Nanya apa?"
"Jadi, kita ini apa?"
Clara bengong. "Apa?"
"Kita. Gue sama lo. Kita ini apa?"
Clara langsung salah tingkah. Jantung deg-degan kenceng. Tangannya ngeremas bungkus LKS.
"Maksudnya?"
Seokjin ngeliatin Clara. Matanya serius. Gak bercanda.
"Gue tuh... gue udah lama mikir. Sejak lo nolongin gue di got itu, gue mikir lo beda. Terus lo duduk di taman bilang boleh istirahat sebentar, terus lo ketawa lepas pas Pensi, terus lo peluk gue di gang kemarin. Gue... gue jadi kebiasaan ada lo, Ra."
Clara nunduk. Pipinya merah banget.
"Gue tuh bukan orang yang gampang suka sama orang. Gue geng motor, berantem mulu, semua orang takut sama gue. Tapi sama lo, gue bisa jadi Seokjin yang gak usah berantem. Yang bisa minum susu kotak sambil ngeliatin langit. Gue suka jadi Seokjin yang kayak gitu. Dan itu gara-gara lo."
Seokjin berhenti bentar. Tarik napas lagi.
"Jadi... boleh gak kalau gue jadi pacar lo?"
Plak.
Clara kaget. Beneran kaget. Walaupun udah diduga-duga sama Mutiara, tapi pas denger langsung dari Seokjin, tetep aja kagetnya setengah mati.
"Pacar?" bisik Clara.
"Iya. Pacar. Bukan temen taman lagi. Pacar beneran. Yang kalau lo sakit, gue yang pertama tau. Yang kalau lo capek, lo bisa pulang ke gue."
Clara diem lama. Lama banget. Sampai Seokjin jadi panik.
"Kalau lo gak mau, gak apa kok. Kita tetep temen taman aja. Gue gak maksa. Sumpah."
Clara masih diem. Tapi bukan karena gak mau. Karena di kepalanya rame banget.
Dia pengen bilang iya. Pengen banget. Dari Pensi kemarin dia udah pengen.
Tapi dia inget. Ginjalnya stadium 4. Harus cuci darah. Masa depannya gak jelas. Umurnya aja gak tau sampe kapan. Gimana bisa pacaran kalau dia sendiri gak tau bisa hidup berapa lama lagi?
"Gue takut, Kak," akhirnya Clara ngomong. Suaranya kecil.
"Takut apa?"
"Takut gue bukan pacar yang bagus. Gue banyak rahasia. Gue sakit-sakitan. Gue... masa depan gue gak jelas, Kak. Gue gak mau kakak nyesel pacaran sama gue."
Seokjin langsung geser duduknya. Lebih deket. Ngeliatin Clara.
"Ra, gue gak peduli masa depan lo jelas apa enggak. Gue peduli sekarang. Sekarang lo ada di sini, di depan gue. Itu aja udah cukup buat gue. Rahasia lo, nanti kalau siap cerita aja. Gue tunggu."
Clara ngeliatin Seokjin. Matanya berkaca-kaca.
"Tapi kalau nanti gue ngerepotin kakak gimana?"
"Ya biarin ngerepotin. Gue udah biasa ngerepotin Mama gue. Sekarang giliran lo ngerepotin gue."
Clara ketawa kecil sambil nangis. "Ih, jawabannya gitu amat."
"Serius, Ra. Gue janji. Kalau dunia lo berat, pulang aja ke gue. Gue jadi rumah lo. Bukan rumah yang gede, tapi rumah yang lo bisa nangis tanpa takut disalahin. Boleh ya?"
Kata-kata itu. Rumah. Kata yang selama ini Clara cari-cari di diary birunya. Rumah bukan tempat dilahirin, tapi tempat bisa nangis tanpa takut disalahin.
Clara nangis beneran. Gak ditahan.
Seokjin panik. "Eh, kok nangis? Salah ya gue ngomongnya?"
Clara geleng sambil nangis. "Enggak... enggak salah. Bagus. Bagus banget, Kak."
"Terus jawabannya apa? Jadi kita ini apa?"
Clara ngusap air mata. Senyum. Senyum lepas yang udah lama gak keluar pas nangis.
"Kita... pacaran. Gue mau jadi pacar kakak."
Seokjin bengong. Dua detik. Terus senyum. Senyum lebar yang jarang banget dia keluarin. Senyum yang bikin mukanya yang biasanya dingin jadi manis banget.
"Beneran?"
"Beneran. Tapi kakak jangan nyesel ya."
"Gak bakal nyesel."
Seokjin ngulurin tangan. Gak langsung peluk. Cuma genggam tangan Clara. Tangan Clara kecil, dingin. Tangan Seokjin gede, anget.
"Jadi mulai hari ini, lo pacar gue ya. Clara pacarnya Seokjin."
Clara angguk. "Seokjin pacarnya Clara."
Mereka duduk gandengan tangan di bangku taman yang udah bersih itu. Sore udah mau maghrib. Langit oren-ungu.
Gak ada bunga, gak ada balon, gak ada kejutan gede kayak di film. Cuma roti sisa kemarin sama LKS yang udah dicoret-coret Seokjin.
Tapi buat Clara, itu lebih dari cukup.
"Janji ya Kak, jadi tempat gue pulang kalau dunia berat," bisik Clara.
"Janji. Gue jadi rumah lo. Lo capek, pulang ke gue. Lo sedih, pulang ke gue. Lo seneng juga pulang ke gue."
Clara nyender ke bahu Seokjin. Untuk pertama kalinya, dia nyender tanpa takut dibilang manja.
Seokjin diem. Biarin Clara nyender.
Dari jauh, di balik pohon mangga, Mutiara, Diana, Safira ngintip lagi. Kali ini bawa popcorn beneran.
"SAH! JADIAN!" teriak Diana pelan tapi heboh.
Safira langsung rekam video. "Akhirnya! Si tukang lewat resmi jadi pacar!"
Mutiara senyum sambil nangis dikit. "Akhirnya Clara punya rumah."
Di bangku taman, Clara sama Seokjin gak sadar diintip. Mereka sibuk gandengan tangan.
Malemnya, Clara nulis di diary biru. Tulisannya rapi, gak berantakan kayak biasanya. Soalnya tangannya gak gemeter. Hatinya anteng.
Hari ini Seokjin nanya, "Jadi kita ini apa?"
Gue jawab, kita pacaran.
Akhirnya gue punya pacar. Pacar pertama gue. Kim Seokjin.
Dia janji jadi tempat gue pulang kalau dunia berat. Jadi rumah gue.
Gue udah lama cari rumah. Ternyata rumahnya bukan gedung. Rumahnya orang.
Rumahnya Seokjin.
Ini janji paling berharga yang pernah gue dapet seumur hidup gue.
Gue simpen di sini ya, Di. Kalau nanti gue lupa, tolong ingetin gue pernah punya rumah.
Clara tutup diary. Naruh di dada. Peluk.
HP geter.
Seokjin: Udah sampe rumah? Pacar gue udah makan belum?
Clara ketawa. Ngetik bales.
Clara: Udah. Pacar gue juga udah makan belum?
Seokjin: Udah. Sekarang pacar gue lagi kangen pacarnya.
Clara: Gombal.
Seokjin: Serius. Besok ke taman lagi ya. Rumah kita.
Clara baca chat itu. Rumah kita.
Dia senyum sampe ketiduran.
Di luar kamar, Nenek yang ngintip dari pintu yang kebuka dikit, ngeliat Clara tidur sambil senyum megang HP.
Nenek bisik pelan, "Akhirnya kamu pulang ya, Ra."