Di balik utang yang mencekik, janji gaib menanti di atas bukit.
Terdesak tagihan, biaya sekolah tertunggak, dan ancaman penyitaan toko besok pagi, seorang ayah di ujung keputusasaan mendengar rahasia: tetangganya Pak Kasan mendadak kaya setelah mendatangi Simbah, juru kunci Makam Keramat Panjang.
Makam berukuran tak lazim di bukit itu konon memberi pinjaman tanpa bunga bagi yang terdesak. Tapi di dunia gaib, tak ada yang benar-benar gratis. Saat wangi pandan basah dan tanah kuburan mulai menyelimuti kamarnya, ia harus memilih sebelum subuh: seberapa mahal harga yang dibayar, saat yang dipertaruhkan bukan harta, melainkan nyawa sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 — TAGIHAN DI ATAS TAPLAK
Uang kertas lima puluh ribuan yang sudah lecek itu tergeletak pasrah di atas meja kayu.
Di sampingnya, tiga lembar nota pembelanjaan barang kelontong yang sudah kedaluwarsa menumpuk rapat.
Aku mengusap wajahku yang terasa tebal dan lengket oleh keringat dingin.
“Masih kurang seratus delapan puluh ribu rupiah lagi buat bayar beras sama minyak,” bisikku pelan.
Ningsih tidak langsung menjawab ucapanku.
Ia berdiri kaku di dekat lemari es tua yang mesinnya bergetar dan berdesing kasar sejak tadi sore.
Tangannya yang kurus sibuk mengelap permukaan meja plastik dengan kain kumal, berulang kali, seolah nota-nota utang itu bisa terhapus jika diusap cukup keras.
“Dedek butuh uang buku LKS besok pagi, Mas,” kata Ningsih tanpa menatap mataku.
“Ibu guru tadi siang sudah bilang, murid yang belum lunas tidak boleh ikut ujian minggu depan.”
Suaranya datar dan rendah, tetapi aku tahu ada kepanikan luar biasa yang ditahannya rapat-rapat di balik tenggorokan.
“Toko Pak Leksa bagaimana, Mas?” tanyanya lagi.
Aku menghela napas panjang dan menyandarkan punggungku ke paku-paku kayu di sandaran kursi.
“Pak Leksa tidak mau memberi bon baru sebelum tunggakan dua minggu kemarin lunas, Ningsih,” jawabku jujur.
“Toko grosirnya sedang diaudit oleh distributor utama dari kota.”
“Jadi beliau tidak berani mengeluarkan barang tanpa pembayaran tunai langsung di tempat.”
Satu kalimat jujur itu menjatuhkan keheningan yang pekat ke tengah ruang tengah kami yang sempit.
Lampu bohlam kuning lima watt yang menggantung di langit-langit mengayun pelan ditiup angin malam dari celah dinding.
Bayangan kami berdua memanjang dan memendek di atas dinding semen kasar.
“Lalu kita mau cari pinjaman uang ke mana lagi, Mas?” suara Ningsih mulai bergetar samar.
“Uang tabungan kita sudah habis bersih buat biaya berobat Dedek minggu lalu.”
Ia akhirnya menghentikan gerakan tangannya yang mengelap meja.
Matanya yang merah dan sembap menatapku lurus-lurus, menuntut sebuah jawaban yang sejak tadi sore tidak pernah kupunyai.
“Masih ada sepeda motor tua di samping rumah,” kataku dengan nada pasrah.
“Kita bisa jual murah ke tengkulak kendaraan malam ini juga.”
Ningsih dengan cepat menggelengkan kepalanya rapat-rapat.
“Jangan, Mas, tolong jangan pernah dijual motor itu!” cegahnya cepat.
“Itu kan kendaraan satu-satunya yang kita punya buat kamu mengangkut barang dari pasar kota.”
“Kalau motor itu sampai dijual, kamu mau mengangkut karung beras pakai apa?” sambungnya lagi.
“Terus kita harus dapat uang tunai dari mana sebelum subuh tiba, Ningsih?” tanyaku berbalik menatapnya.
“Masa kita mau membiarkan Pak Leksa datang besok pagi terus menyita sisa barang di toko kita?”
“Aku malu setengah mati sama tetangga kalau hal itu sampai terjadi,” bisikku menyembunyikan wajah.
“Pasti ada jalan keluar lain yang lebih baik, Mas,” hiburnya lirih sambil memegang bahuku.
“Coba kamu tanyakan ke Kang Ujang atau tetangga sebelah rumah.”
Aku tertawa pahit tanpa suara mendengarkan masukannya.
“Kang Ujang sendiri warungnya lagi sepi sekali belakangan ini, Ningsih.”
“Tetangga sebelah rumah juga kemarin sore baru saja menagih sisa cicilan gula pasir kita.”
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan mendadak di pintu depan membuat kami berdua melonjak kaget.
Suara kayu lapuk yang dihantam keras oleh buku jari manusia itu terdengar nyaring di tengah malam.
Aku memandang Ningsih, lalu memberi isyarat tangan agar ia segera masuk ke kamar Dedek.
Ningsih bergegas melangkah pergi, meninggalkan aroma minyak kayu putih yang tipis di udara.
Aku berjalan pelan menuju pintu depan dengan langkah kaki yang terasa begitu berat.
Lantai semen dingin menusuk telapak kakiku yang tidak memakai sandal.
“Siapa orang di luar sana?” tanyaku sambil memegang selot besi pintu yang berkarat.
“Ini aku, Mas, Ujang,” sahut suara dari balik papan kayu pintu.
“Buka pintunya sebentar, Mas, ada hal penting yang mau kubicarakan.”
Aku menghela napas lega dan menarik napas panjang.
Gagang pintu kutarik perlahan, menyisakan celah yang cukup lebar untuk melihat wajah Ujang.
Jaket jins tebal yang dikenakannya tampak basah di bagian bahu karena terkena embun malam yang makin tebal.
“Belum tidur kamu, Mas?” tanya Ujang sambil melangkah masuk begitu pintu terbuka.
“Bagaimana bisa tidur kalau isi kepala cuma penuh nota tagihan utang, Jang,” jawabku jujur.
“Silakan duduk dulu di bangku teras ini.”
Aku ikut duduk di sampingnya, meraih bungkus rokok di saku kemeja yang ternyata kosong.
Ujang menyadari gerak-gerikku, lalu merogoh saku jaketnya sendiri dan menyodorkan sebatang rokok padaku.
“Pak Leksa menagih janji pembayaran lagi sore tadi, Mas?” tanya Ujang seraya menyalakan korek api.
Api membumbung sejenak, menerangi guratan garis-garis lelah di wajah kawan lamaku itu.
Aku menyedot rokok pemberiannya dalam-dalam sampai ujungnya membara merah menyala.
Asap tebal menggelembung keluar dari mulut dan hidungku, membawa sedikit rasa tenang semu.
“Bukan cuma Pak Leksa yang datang menagih dengan muka marah, Jang.”
“Orang koperasi simpan pinjam juga sudah kirim pesan singkat dua kali sore tadi,” tambahku serak.
“Sekarang ini uang tunai di dompetku benar-benar tidak tersisa sama sekali buat makan besok.”
Ujang mengangguk-angguk paham mendengarkan penjelasan panjangku.
Ia mengusap tengkuk lehernya yang kasar dengan telapak tangan kanannya.
“Zaman sekarang memang lagi susah sekali buat pedagang kecil seperti kita ini, Mas.”
“Warungku sendiri dari pagi tadi cuma laku tiga bungkus mie instan sama dua gelas es teh,” ujar Ujang.
“Tapi keadaan ekonomi rumah tanggamu masih jauh lebih mendingan dibanding aku, Jang.”
“Anakmu belum masuk sekolah dasar, beban harianmu belum sebesar yang harus kutanggung.”
“Istriku sampai menangis bingung tadi di dapur gara-gara tidak punya uang buat beli beras,” sahutku.
Ujang mengepulkan asap rokoknya ke udara malam yang kian dingin dan lembap.
Pandangan matanya beralih menatap kegelapan kebun pisang yang membentang riap di sebelah rumah.
“Sebenarnya... ada satu jalan keluar cepat kalau kamu memang benar-benar terdesak malam ini, Mas,” ujar Ujang berbisik.
Aku menoleh menatap wajahnya erat dari samping.
“Jalan keluar cepat seperti apa yang kamu maksudkan itu, Jang?” tanyaku penasaran.
Ujang tidak langsung menjawab pertanyaanku itu.
Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah takut ada tetangga yang mengintip percakapan kami.
“Kamu ingat tidak kenapa Pak Kasan tiba-tiba bisa melunasi semua utang bank bulan lalu?” bisik Ujang.
Dahiku berkernyit dalam-dalam mendengarkan ucapannya.
Nama Pak Kasan memang sempat menjadi bahan perbincangan hangat di warung kopi dua minggu terakhir ini.
Lelaki tua yang dulunya sering berutang beras eceran itu mendadak memiliki uang tunai puluhan juta.
“Bukankah katanya dia mendapat uang kiriman warisan dari saudaranya yang di Sumatra?” tanyaku meragu.
Ujang terkekeh pelan, sebuah tawa dingin yang terdengar janggal dan tidak sampai ke matanya.
“Warisan dari mana, Mas, itu cuma cerita bohong buatan Pak Kasan sendiri.”
“Saudara kandung Pak Kasan itu semuanya cuma buruh tani miskin di Jawa Tengah.”
“Dia sebenarnya pergi mendatangi rumah Simbah yang tinggal di ujung desa sebelah,” kata Ujang serius.
“Simbah yang tinggal di dekat kompleks pekuburan tua itu?” tanyaku kaget.
Bulu kuduk di leherku mendadak berdiri tegak mendengarnya.
“Maksudmu... tempat makam keramat yang di atas bukit itu?” tanyaku menegaskan suaraku.
Ujang mengangguk pelan tanpa ragu sedikit pun.
Puntung rokoknya yang hampir habis diapit erat di antara ibu jari dan jari telunjuknya.
“Makam Keramat Panjang,” bisik Ujang pelan.
“Orang-orang tua dulu menyebutnya begitu karena gundukan tanah makamnya memang jauh lebih panjang.”
“Bukan cuma bentuk makamnya yang tidak lazim, tapi sosok yang menjaga di sana juga bukan manusia biasa,” kata Ujang.
“Simbah itu dukun atau apa, Jang?” tanyaku berbisik.
“Dia itu juru kunci lama yang memegang rahasia perjanjian gaib di makam tersebut,” jawab Ujang.
Aku menelan ludah yang terasa sangat kering di tenggorokan.
Tiba-tiba saja, aroma bau pandan basah dan wangi tanah kuburan tercium tipis namun menyengat hidungku.
Padahal aku tahu betul di sekitar teras rumahku tidak ada satu pun batang pohon pandan.
“Jang, kita ini orang beragama yang punya norma dan iman,” tegasku walau suaraku gemetar.
“Banyak orang beragama di kampung ini yang akhirnya datang ke sana juga kalau perutnya lapar, Mas,” potong Ujang.
“Aku tidak menyuruhmu buat minta pesugihan hitam atau membawa sajen darah, Mas.”
“Aku cuma memberi tahu jalan, Simbah itu punya cara tersendiri buat bantu orang terdesak.”
“Bantu bagaimana bentuknya?” tanyaku kian penasaran.
Ujang mendekatkan posisi duduknya padaku, sampai aku bisa mencium aroma tembakau dari jaketnya.
“Simbah punya simpanan uang kuno dan modal usaha yang bisa dipinjamkan tanpa bunga.”
“Tapi tentu saja ada syarat dan janji yang harus dipatuhi oleh orang yang meminjamnya, Mas.”
“Syarat seperti apa yang dia minta dari peminjam?” tanyaku mengejar penjelasan.
“Kamu harus datang sendiri ke kompleks makam itu nanti malam Jumat Kliwon,” jawab Ujang.
“Kamu harus bicara langsung sama penunggu di sana didampingi Simbah buat meminjam modal.”
Aku terpaku kaku mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari mulut Ujang.
Malam Jumat Kliwon hanya berjarak dua hari dari malam ini.
Grombol!
Suara lembaran seng atap dapurku yang dihantam angin malam terdengar begitu nyaring hingga membuatku kaget.
Keringat dingin kembali menetes membasahi dahi dan pelipisku yang panas.
“Ujang, aku punya anak kecil dan istri yang harus kujaga di dalam rumah,” kataku pelan.
“Aku tidak mau mengambil risiko gaib yang bisa mencelakakan keluarga kecilku sendiri.”
Ujang perlahan berdiri dari posisi duduknya di bangku teras.
Ia mematikan puntung rokoknya di dinding semen sebelum memasukkan tangannya ke saku jaket.
“Aku cuma memberi informasi kawan sebagai sesama teman bernasib sama, Mas.”
“Tapi kalau besok pagi Pak Leksa datang membawa orang buat menyita seluruh barang toko, kamu mau kasih alasan apa pada Ningsih?” kata Ujang menusuk ulu hatiku.
Kalimat pertanyaan dari Ujang itu menancap dalam tanpa ampun di dadaku.
Aku terduduk membisu tanpa sanggup memberikan jawaban satu kata pun.
Ujang berjalan pelan meninggalkan teras menuju sepeda motornya yang terparkir di pinggir jalan.
“Pikirkan baik-baik saran dariku ini malam ini, Mas.”
“Kalau kamu berminat, besok sore aku bisa mengantarmu ketemu Simbah dulu sebelum ke makam,” tambah Ujang.
Suara mesin motor Ujang meraung pelan sebelum akhirnya derunya menghilang di balik tikungan jalan.
Aku berdiri sendirian di tengah teras rumah yang sepi dan dingin.
Keheningan malam kembali menyergap dengan pekat, terasa jauh lebih berat dan menekan dibanding sebelumnya.
Aku melangkah masuk ke dalam rumah dan memasang kunci selot pintu depan yang lapuk.
Di dalam kamar tidur yang remang-remang, Ningsih tampak sudah tertidur lelap sambil memeluk tubuh Dedek.
Wajah Ningsih terlihat begitu pucat dan penuh guratan lelah di bawah sinar remang lampu minyak.
Napas kecil Dedek terdengar halus dan teratur, begitu polos tanpa mengetahui beban utang ayahnya.
Aku duduk pelan di tepi ranjang bambu yang berderit nyaring.
Tanganku meraba saku celana kemeja dan mengeluarkan lembaran uang lima puluh ribu rupiah tadi.
Uang kertas yang tidak akan pernah cukup buat membeli beras dan minyak goreng besok pagi.
Krek...
Suara engsel kayu jendela kamar belakang berderit pelan, seolah-olah ada dorongan angin keras dari luar.
Bersamaan dengan munculnya bunyi itu, aroma bau pandan basah yang tadi tercium kembali merebak pekat.
Aroma wangi bunga dan tanah itu kini terasa jauh lebih dingin dan menyengat hidungku.
Aku menolehkan kepala menatap ke arah bingkai jendela yang tertutup rapat.
Tidak ada satu pun daun pohon yang bergerak di luar sana, tidak ada angin yang berembus.
Namun bulu tengkuk di leherku meremang hebat, dan detak jantungku berdebar kencang sekali.
Sesuatu yang tak kasatmata seolah sedang berdiri tepat di balik jendela kamar memperhatikan napasku.
Aku menggenggam erat lembaran uang lima puluh ribu di jemariku hingga kertasnya remuk tak berbentuk.
Pikiranku berputar hebat, terombang-ambing antara rasa takut gaib dan desakan utang yang memusnahkan keluargaku.
“Mas... bagaimana utang kita besok?” gumam Ningsih pelan dalam tidurnya tanpa membuka matanya.
Aku menatap wajah istriku dan wajah polos anakku secara bergantian.
Rasa malu yang luar biasa sebagai seorang kepala keluarga yang gagal mendadak membakar dadaku.
Jika besok pagi seluruh barang di toko disita dan Dedek dikeluarkan dari sekolahnya, aku tidak punya muka lagi.
Aku memejamkan mata rapat-rapat, menghirup aroma pandan dingin yang kian memenuhi seluruh ruangan.
Keputusan nekat itu akhirnya mengristal rapat di dalam benakku karena rasa putus asa yang dalam.
Besok sore, aku akan menemui Simbah.