Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.
Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.
Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Bunyi detak sepatu hak tinggi berdiameter tipis itu berdentang cepat, memantul di atas lantai marmer mengkilap pusat perbelanjaan mewah.
Plak! Plak! Plak!
Kecepatan langkah itu sama sekali tidak selaras dengan keanggunan setelan blazer kerja rancangan desainer ternama yang melekat di tubuhnya.
Langit, CEO yang terkenal berdarah dingin dan selalu tampil sempurna tanpa cela, saat ini sama sekali tidak peduli pada pandangan orang-orang.
Rambut sanggulnya sedikit melonggar, menyisakan beberapa helai yang menempel di pelipisnya yang berkeringat. Napasnya memburu, memompa dada dengan ritme yang kacau.
Sepuluh menit yang lalu, sebuah telepon dari salah satu pengawal pribadinya memecah konsentrasi rapat direksi Langit.
Pengawal yang ditugaskan untuk mengawasi Bumi melaporkan situasi darurat. Bumi,sedang dikonfrontasi di area pertokoan baju pria eksklusif.
"Bu Langit, Pak Bumi didatangi oleh Pak Galang dan Ibu Sarah. Mereka menghina Pak Bumi di depan umum, Bu," lapor pengawal itu dengan suara berbisik.
Mendengar nama Galang, mantan tunangannya yang brengsek, darah Langit langsung mendidih.
Ditambah lagi dengan keberadaan Sarah, wanita yang menjadi selingkuhan Galang hingga membuat pertunangan mereka hancur berantakan.
Dan Bumi adalah wilayah kekuasaannya sekarang. Kontrak atau bukan, tidak ada yang boleh menyentuh milik Langit.
Langit terus berlari, mengabaikan rasa sakit yang mulai menusuk pergelangan kakinya akibat sepatu hak sembilan sentimeter itu.
Begitu berbelok di koridor utama menuju butik desainer pria, matanya menangkap kerumunan orang yang mulai menghilang.
"Bumi!"
Teriakan Langit memecah keheningan koridor mewah itu. Suaranya melengking tinggi, sarat akan kekhawatiran yang teramat sangat.
Wajahnya yang biasa dipenuhi otoritas kini pucat pasi, matanya bergerak liar memeriksa setiap jengkal tubuh Bumi dari kejauhan, takut jika ada luka atau tanda fisik akibat keributan.
Semua pasang mata langsung tertuju pada Langit. Sementara Bumi terkejut mendapati siapa yang sudah ada di depannya.
"Bumi! Kamu nggak apa-apa? Apa mereka ngapa-ngapain kamu? Ada yang terluka?!" tanya Langit bertubi-tubi begitu jarak mereka mengikis. Suaranya bergetar hebat, tangannya yang gemetar terangkat, hendak menyentuh lengan Bumi.
Sebelum kepanikan Langit semakin meledak, Bumi bergerak dengan gerakan yang sangat tenang namun penuh perhitungan.
Ketegangan yang tadinya menyelimuti atmosfer tempat itu seolah diredam seketika oleh aura maskulinnya yang kuat.
Bumi melangkah maju satu kali. Tangan kanannya yang besar dan dipenuhi kapalan khas pekerja keras itu meluncur mulus ke pinggang ramping Langit.
Dengan satu hentakan lembut namun bertenaga, Bumi menarik tubuh Langit ke dalam dekapannya.
Dada bidang Bumi menyambut tubuh Langit yang gemetar. Di depan puluhan pasang mata, Bumi memeluk langit dengan sangat hangat dan protektif.
"Aku nggak apa-apa, Langit. Tenang," bisik Bumi dengan suara beratnya yang tenang, sangat kontras dengan kepanikan Langit.
Tangannya yang besar bergerak perlahan, mengusap punggung Langit dengan ritme yang teratur, menyalurkan rasa aman yang instan.
Bumi kemudian sedikit merenggangkan pelukan, namun lengannya tetap melingkar posesif di pinggang Langit, matanya yang tajam dan dingin melirik ke arah luar, dan rupanya di sana Galang dan Sarah berdiri dengan wajah yang tiba-tiba berubah kaku.
Kedua orang itu sebenarnya berniat pergi setelah puas mencaci-maki Bumi, namun kedatangan Langit yang tiba-tiba membuat mereka tertahan.
"Nggak usah khawatir," ucap Bumi lagi, suaranya sengaja dikeraskan agar terdengar oleh sekeliling, terutama oleh dua manusia yang masih memperhatikan nya.
"Cuma ada sedikit gangguan dari masa lalu kamu yang sepertinya kurang hiburan dan nggak punya kerjaan." Ucap langit.
Mendengar sindiran telak itu, wajah Galang langsung memerah padam akibat malu. Sarah yang tadinya bergelayut manja di lengan Galang sambil tersenyum sinis, kini merapatkan bibirnya rapat-rapat, menahan malu yang luar biasa.
Setelah memastikan dua benalu itu menghilang di balik eskalator, Bumi menghela napas panjang. Ia melepaskan lingkaran tangannya dari pinggang Langit, lalu menunduk untuk menatap wajah wanita itu.
"Kamu berlarian pakai sepatu ini?" tanya Bumi, matanya beralih menatap sepatu hak tinggi Langit dengan dahi berkerut.
Langit yang emosinya baru saja mereda kini mengerjapkan matanya.
"Ya_ ya iya! Aku panik, Pengawal bilang kamu dihina-hina sama si brengsek Galang. Kenapa kamu diam aja sih tadi? Kamu kan bisa patahin leher dia pakai tangan kosong!" omel Langit, mendadak tensinya naik lagi karena gemas dengan ketenangan Bumi.
Bumi memutar bola matanya malas, gaya khasnya yang dingin namun selalu berhasil membuat Langit gemas.
Pria itu berjalan menuju salah satu bangku panjang di koridor mall, lalu menarik lengan Langit agar duduk di sana. Tanpa memedulikan statusnya atau pandangan orang, Bumi berlutut di lantai, memegang pergelangan kaki Langit dan melepas paksa sepatu hak tinggi itu.
"Aduh, Bumi, ngapain sih?!"
"Duduk dan diam, ibu CEO," sahut Bumi datar. Ia mulai memijat pelan telapak kaki Langit yang memerah.
Lalu Bumi melanjutkan ucapannya,
"Patahin leher orang itu butuh tenaga. Tenaga saya mahal, mending dipakai buat benerin mesin motor pelanggan daripada buat mukul muka pas-pasan kayak mantan kamu itu."
Langit tidak bisa menahan tawa kecilnya yang meledak spontan. "Muka pas-pasan? Dulu dia dibilang cowok tertampan di jalurnya, tahu."
"Tampan dari mana? Kerah kemejanya aja lebih tegak daripada harga dirinya,"
cibir Bumi tanpa ekspresi, namun tangannya tetap memijat kaki Langit dengan sangat lembut.
"Lagian, ngapain kamu dengerin omongan pengawal lebay itu? Saya dihina? Nggak mempan."
"Tapi dia bawa-bawa pekerjaan kamu sebagai montir, Bumi! Dia bilang kamu nggak level ada di mall ini," ujar Langit, matanya kembali menyiratkan rasa bersalah. Bagaimanapun, Bumi terseret ke dunia ini karena kontrak dengannya.
Bumi menghentikan pijatannya sejenak, mendongak menatap Langit dengan tatapan mata elangnya yang tajam namun teduh.
"Langit, dengerin, aku malah kasihan sama dia."
"Kasihan kenapa?" Langit menopang dagunya, mulai menikmati obrolan konyol ini.
"Ya kasihan. Dia ke sini mau beli baju mewah biar kelihatan kaya. Sementara saya? Saya ke sini melihat wanita cantik dan berkuasa terengah-engah sampai mau copot jantungnya cuma demi mastiin saya baik-baik saja," kata Bumi datar, namun ada kilat jenaka di matanya, "Secara strata sosial di dalam mall ini, saya pemenangnya. Saya dapet bosnya, dia cuma dapet baju diskonan." Lanjut Bumi.
"Bumi! Kamu tuh ya!" Langit memukul bahu kekar Bumi dengan tas tangan mewahnya, wajahnya merona merah akibat ucapan konyol namun manis dari mulut pria dingin itu.
"Siapa juga yang mau kamu dapetin? Kita kan cuma_" langit tak melanjutkan kata-katanya.
Bumi berdiri, membersihkan celana jinsnya yang sedikit berdebu karena berlutut tadi. Ia mengulurkan tangannya pada Langit.
"Iya, kontrak. Tapi di dalam kontrak nggak tertulis kalau CEO dilarang baper sama calon suaminya, kan?"
"Narsis banget. Sekarang gimana aku jalannya coba kalau nggak pakai sepatu?"
Bumi tidak menjawab. Dengan gerakan cepat yang membuat Langit terpekik, pria bertato itu langsung mengangkat tubuh Langit ke dalam gendongan ala bridal style.
"Bumi! Turunin! Ini di tempat umum!" seru Langit dengan wajah super merah, memukul-mukul dada Bumi yang sekeras batu.
"Katanya nggak bisa jalan. Ya sudah, saya jadi kursi roda darurat kamu," jawab Bumi santai, mulai melangkah lebar menyusuri mall dengan menggendong CEO yang cukup ditakuti di dunia bisnis.
Langit akhirnya menyerah. Ia menyembunyikan wajahnya yang memerah di ceruk leher Bumi, menghirup aroma tubuh pria itu sambil tersenyum lebar.
Sampai di dalam mobil, Langit yang baru saja duduk tiba-tiba mendapat telepon, melihat sebuah nama terukir di layar, cepat-cepat Langit mengangkatnya.
"Iya Kek, aku akan membawanya" seketika suasana berubah mencekam
"Siapa?" Tanya Bumi.
"Kakek, dan aku harus membawa mu kesana"
Keduanya terdiam tanpa kata.
Yuk mana ini komennya, apa yang akan terjadi dengan kakek langit, apakah akan memberi Restu nya?