NovelToon NovelToon
Datang Untuk Membayar

Datang Untuk Membayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Iblis
Popularitas:295
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

DATANG UNTUK MEMBAYAR

(Orang Mati Datang Membayar Janjinya)

"Tanggal delapan saya bayar, Cik..."

Maya berjanji melunasi utangnya tepat tanggal delapan. Lalu ia menghilang.

Hingga malam itu, pintu digedor. Maya berdiri di sana — menyerahkan uangnya.

Namun pagar terkunci rapat dari dalam. Dan kabar menyebut: Maya sudah meninggal dua minggu lalu.

Siapa yang baru saja membayar?



Tentang janji, kehormatan, dan sosok yang melintasi kematian demi menepati kata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: JEJAK DI AMBANG VENTILASI

Aroma tanah basah yang agak amis kusam mengendap tipis di sekitar ubin lorong samping rumah kami.

Lampu gantung porselen di ruang tengah menyinari wajah Dini dan Ranti yang berdiri membeku di belakangku.

Mata kedua putriku tertuju kaku pada gumpalan tanah merah basah yang menempel segar di ambang pintu samping.

"Bu... gumpalan tanah merah itu bentuknya masih basah banget nggih?" bisik Dini menahan napasnya.

"Inggih, Din. Tanah merah ini kelihatannya baru saja terjatuh dari atas celah ventilasi," sahutku berbisik pelan.

"Ranti takut kalau di atas ventilasi kayu itu ada yang ngintip ke dalam rumah, Bu," cicit Ranti gemetar.

"Mboten bakal ada yang bisa ngintip, Ran. Celah ventilasi itu tinggi dan terpasang terali kayu rapat," balasku menenangkan.

"Tapi gumpalan tanah merah ini mirip banget sama kerak di karung goni kemarin ya, Bu?" tanya Dini lagi.

"Iya, Din. Tekstur tanah merah basah ini warnanya pekat dan baunya agak amis," jawabku mengamati cermat.

"Aroma tanah basah ini persis sama dengan bau yang tercium di pekarangan belakang kemarin," tambah Dini menimpali.

"Iya, Din. Makanya kita mboten boleh menyentuh tanah ini pakai tangan telanjang," pesanku tegas.

"Ibu mau ambil wadah porselen buat menyimpan gumpalan tanah merah ini mboten?" usul Dini.

"Iya, Din. Tolong ambilkan selembar kertas karton tebal dan cangkir porselen kecil di lemari dapur," perintahku.

Dini bergegas ke dapur kecil, mengambil selembar kertas karton tebal dan cangkir porselen putih bersih.

Aku berjongkok perlahan di depan ambang pintu samping tanpa menggeser selot besi atau ganjal kayu jati.

Menggunakan ujung kertas karton tebal, kuambil gumpalan tanah merah basah itu secara cermat tanpa menyentuhnya langsung.

"Tanah merah ini teksturnya pekat dan lembap, persis seperti tanah di pekarangan belakang sebelah," bisikku.

"Masukkan ke dalam cangkir porselen saja, Bu, supaya nanti bisa diperiksa polisi," ujar Dini menyodorkan cangkir.

"Iya, Din. Kita amankan gumpalan tanah merah ini sebagai barang bukti tambahan untuk Polsek," balasku setuju.

Kumasukkan gumpalan tanah merah basah itu ke dalam cangkir porselen, lalu meletakkannya aman di atas meja rias.

Ganjal kayu jati tebal di bawah pintu samping kupastikan kembali tertancap presisi dua putaran penuh dari dalam.

Pukul delapan malam kurang seperempat, gerbang pagar teras depan berderit perlahan dari arah luar gang.

Kreeek...

Suara derit engsel besi tua itu membuat kami bertiga refleks menoleh ke arah daun pintu depan.

"Sinten teng luar?" tanyaku penuh kewaspadaan dari balik daun pintu kayu yang tertutup rapat.

"Kulo, Bu Sari... Pak RT," sahut suara Pak RT dengan nada tenang dari halaman teras.

Aku memutar anak kunci kuningan dan menggeser selot besi dua kali untuk membukakan pintu depan.

Pak RT berdiri di teras depan mengenakan jaket kain cokelat tua, memegang map kertas cokelat di tangannya.

"Selamat malam, Bu Sari," sapa Pak RT menganggukkan kepala secara sopan.

"Selamat malam, Pak RT. Dherek pinarak teng teras, Pak," sambutku membukakan pintu pagar besi.

Pak RT mendudukkan diri di kursi rotan teras, melepaskan peci hitamnya dan meletakkannya di atas meja kayu.

Dini keluar dari ruang tengah sambil membawa segelas air putih hangat untuk pengurus RT kami.

"Matur nuwun sanget, Mbak Dini," ujar Pak RT menerima gelas porselen dari tangan Dini.

"Pripun kabar dari Polsek wilayah selatan, Pak RT?" tanyaku mengejar kejelasan penyelidikan.

"Inggih, Bu Sari. Bripka Haryono baru saja menghubungi kulo memberi kabar terbaru dari lapangan," terang Pak RT.

"Apakah polisi berhasil menemukan petunjuk baru di dekat lokasi sepeda motor Rian, Pak?" tanya Dini menyimak.

"Petugas Polsek selatan sudah minta keterangan dari Pak Kromo, pemilik kebun singkong tempat motor ditemukan," ungkap Pak RT.

"Punapa yang disampaikan Pak Kromo ke polisi, Pak RT?" tanyaku menatap raut wajah pengurus RT kami.

"Pak Kromo bilang pada Rabu fajar hari ini, dia sempat lihat seorang laki-laki berjalan cepat membawa karung goni," jelas Pak RT.

"Laki-laki itu berjalan sendirian melintasi jalan setapak menuju kawasan hutan jati perbatasan selatan," tambah Pak RT.

"Apakah Pak Kromo sempat melihat wajah laki-laki yang membawa karung goni itu, Pak?" tanya Dini penasaran.

"Mboten sempat, Mbak Dini. Laki-laki itu memakai jaket kusam bertopi dan berjalan terburu-buru dalam remang fajar," jawab Pak RT.

"Selain itu, petugas Polsek juga menemukan tali karet hitam pengikat karung goni yang terbuang di semak kebun," sambung Pak RT.

"Tali karet hitam itu ada bercak tanah merah basah yang masih pekat di permukaannya," tambah Pak RT menatap kami.

"Apakah tali karet hitam itu jenis tali yang biasa dipakai mengikat barang di motor matik, Pak?" tanya Dini mengejar detail.

"Inggih, Mbak Dini. Bripka Haryono mengonfirmasi tali karet itu cocok sama rekaman CCTV kemarin," jawab Pak RT.

Keterangan resmi itu makin memperjelas fakta pergerakan Rian yang meninggalkan sepeda motornya untuk masuk ke area hutan.

"Lalu soal gumpalan tanah merah di ambang pintu samping kita tadi sore pripun, Bu?" tanya Dini pada Pak RT.

"Gumpalan tanah merah basah di ambang pintu samping nggih?" tanya Pak RT terkejut menatap kami.

"Inggih, Pak RT. Tadi sore pukul lima lewat empat puluh, kami menemukan gumpalan tanah merah basah di ambang pintu," terangku.

"Tanah merah itu sudah kulo simpan rapi di dalam cangkir porselen untuk barang bukti," lanjutku menjelaskan.

"Langkah Bu Sari sangat tepat. Besok pagi kulo bakal serahkan cangkir porselen itu ke Bripka Haryono," puji Pak RT.

"Matur nuwun sanget atas bantuan Pak RT dalam menyampaikan laporan kami ke Polsek," balasku mengangguk mantap.

"Sami-sami, Bu Sari. Tolong malam ini pintu rumah tetap dikunci rapat dan jangan keluar gang," pesan Pak RT berdiri.

Pak RT merapikan map kertas cokelat di bawah ketiaknya, lalu melangkah meninggalkan teras rumah kami.

Langkah kaki pengurus RT itu terdengar kaku menyusuri jalan aspal gang yang temaram di bawah hawa malam.

Aku dan Dini segera masuk ke dalam ruang tengah, memutar anak kunci kuningan pintu depan dua putaran penuh.

Pukul sembilan malam lewat empat puluh menit, hawa dingin khas lereng gunung makin pekat menembus ventilasi.

Kami bertiga bersiap untuk tidur di dalam kamar utama seperti malam-malam sebelumnya demi menjaga keselamatan.

Lampu ruang tengah dan koridor samping tetap dibiarkan menyala terang untuk menerangi seluruh sudut rumah.

Ganjal kursi kayu jati dipasang kencang di belakang pintu kamar utama setelah kunci kuningan diputar dua kali.

Di atas tempat tidur, Dini dan Ranti berbaring rapat di bawah selimut tebal sembari mendengarkan suasana luar.

"Bu... kalau laki-laki itu masuk ke hutan jati, berarti Tante Maya ikut dibawa ke dalam hutan nggih?" bisik Ranti.

"Kita mboten usah menerka-nerka hal yang mboten kita ketahui, Ran. Biarkan polisi yang melacak," jawabku pelan.

"Tapi gumpalan tanah merah di ambang pintu tadi benar-benar bikin Ranti takut, Bu," bisik Ranti meremas selimut.

"Mboten usah takut, Ran. Pintu samping sudah diganjal kayu jati dan selot besi dipasang kencang," balasku mengusap bahunya.

"Mari kita berdoa bersama-sama supaya malam ini rumah kita tetap dilindungi Allah," ajak Dini menguatkan adiknya.

"Inggih, Mbak. Ranti berdoa moga-moga mboten ada suara aneh lagi di lorong samping," sahut Ranti memejamkan mata.

Kami bertiga membaca doa dalam bisikan pelan, merapatkan diri di atas kasur di tengah kegelapan kamar yang redup.

Pukul sebelas malam lewat lima belas menit, hembusan angin dingin bertiup kencang menampar dinding semen luar.

Aroma tanah basah yang agak amis kusam merembes tipis melalui celah jendela kayu kamar tidur utama.

Pukul sebelas malam lewat empat puluh menit, sebuah suara tetesan tipis terdengar dari arah lorong samping.

Tik... tik...

Suara tetesan air basah itu jatuh tepat di atas ambang kayu bagian luar lorong samping rumah kami.

Disusul suara gesekan lambat yang kaku di celah kayu ventilasi atas pintu samping.

Srok... srok...

Dini dan Ranti terbangun seketika, duduk tegak di atas kasur dengan mata terbuka lebar dalam kegelapan.

"Bu... Ibu dengar suara tetesan dan gesekan di atas ventilasi itu mboten?" bisik Dini menahan napasnya.

"Dengar, Din. Tetap diam di tempat tidur dan jangan bergerak atau bersuara sama sekali," bisikku memegang bahunya.

"Suaranya persis dari celah ventilasi kayu di atas pintu samping ya, Bu?" tanya Ranti gemetar ketakutan.

"Iya, Ran. Tetap tenang dan jangan ada yang mendekati pintu kamar," perintahku berbisik sangat pelan.

Suara gesekan tipis di celah kayu ventilasi itu terulang dua kali di balik dinding semen kamar kami.

Srok... srok...

Bunyi gesekan itu terdengar kaku, seperti benda keras bersalut tanah merah yang menggesek terali kayu ventilasi.

Aroma tanah basah yang menyengat mendadak menguat, merayap masuk memenuhi celah ventilasi atas kamar.

Hawa dingin yang menusuk tulang membuat bulu kudukku berdiri kaku di balik selimut kain tebal.

Namun, tidak ada suara langkah kaki atau ketukan tangan di daun pintu samping rumah kami.

Suara gesekan di celah ventilasi itu berhenti perlahan setelah berlangsung selama dua menit di balik tembok.

Keheningan malam kembali menyelimuti koridor samping, menyatukan hawa dingin lereng gunung yang pekat.

Aku mengembuskan napas perlahan, mengusap punggung Dini dan Ranti yang gemetar di sampingku.

"Suaranya sampun berhenti kan, Bu?" bisik Ranti menatap wajahku dalam remang lampu tidur.

"Sampun, Ran. Suaranya sudah mboten ada lagi di luar," jawabku menenangkan jiwa anak bungsu saya.

"Ganjal kursi kayu di pintu kamar masih terpasang kencang kok, Mbak," bisik Dini menguatkan adiknya.

"Inggih, Din. Pintu kamar kita tetap kokoh terkunci rapat," balasku mengangguk mantap.

Kami bertiga bertahan di atas tempat tidur kamar utama tanpa berani membuka pintu hingga fajar datang.

Cahaya fajar hari Kamis tanggal dua belas membias perlahan menembus celah jendela kayu kamar tidur utama.

Burung gereja berkicau nyaring di dahan pohon mangga tua, menandai bergantinya malam menuju fajar hangat.

Pukul enam pagi, aku memutar anak kunci kuningan kamar utama dan melangkah keluar menuju dapur kecil.

Dini dan Ranti mengikutiku dari belakang, memandangi pintu samping yang masih tertutup ganjal kayu jati.

Ganjal kayu jati dan selot besi pintu samping masih terpasang kokoh dua putaran penuh dari dalam.

Aku mendongak menatap bingkai kayu ventilasi di atas pintu samping yang diterangi sinar fajar pagi.

Di bingkai kayu ventilasi sebelah luar, segores tanah merah basah yang mengering menempel tebal.

Coretan tanah merah itu membentang empat jari melintasi celah terali kayu ventilasi atas pintu samping.

Goresan tanah merah itu seolah menunjukkan ada benda keras berkerak tanah basah yang semalam menyentuh celah ventilasi.

"Bu... lihat di atas ventilasi kayu itu, ada coretan tanah merah kering!" pekik Dini dengan wajah pucat pasi.

"Mbak Dini benar! Coretan tanah merahnya tebal banget di terali kayu atas!" tambah Ranti gemetar ketakutan.

"Ibu bakal minta Pak RT dan Bripka Haryono memeriksa coretan tanah merah ini pagi ini juga," ujarku tegas.

"Inggih, Bu. Cangkir porselen berisi tanah merah kemarin juga sekalian diserahkan nggih," sahut Dini mengangguk.

Aku mempererat genggaman tanganku pada jemari Dini dan Ranti, menahan keheningan pagi yang mendadak membeku.

Ganjal kayu jati di bawah pintu samping kupastikan tertancap makin dalam dan kencang di ambang semen dari dalam.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!