NovelToon NovelToon
ASMARA DI HATIKU

ASMARA DI HATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"

Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.

Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.

Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.

PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 SANG PUTRI ABDI DALEM KERATON YOGYAKARTA

Sepeda onthel peninggalan kakeknya itu melaju pelan menyusuri jalanan beraspal di kawasan Jeron Beteng.

Matahari sore Jogja mulai mencondongkan sinarnya ke ufuk barat, membiaskan cahaya keemasan yang menerobos celah-celah daun beringin tua di pinggir jalan.

Asmara mengayuh sepedanya dengan ritme yang konstan, tidak terburu-buru.

Sesekali, ia membunyikan bel sepedanya yang bersuara kring-kring nyaring saat berpapasan dengan tetangga atau pedagang sayur keliling yang sedang berjalan kaki, membalas sapaan mereka dengan senyuman hangat dan anggukan hormat.

Angin sore menerpa wajahnya, memainkan ujung rambut hitamnya yang tergerai.

Namun, meski angin itu terasa sejuk, pikiran Asmara sedang mengembara pada "hawa panas" yang ia rasakan barusan di kantin sekolah saat jam pulang.

Wira Aji Pratama... Nama itu terngiang di benaknya.

Asmara bisa mengingat dengan jelas sepasang mata pemuda itu saat menatapnya di depan kedai soto. Mata yang menyala oleh amarah, gengsi yang terluka, dan pemberontakan yang liar.

Wira seperti seekor burung elang yang terbiasa terbang bebas di langit badai, lalu tiba-tiba dipaksa masuk ke dalam sangkar emas yang tenang.

Pemuda itu meronta, menabrakkan dirinya ke jeruji besi, melukai dirinya sendiri hanya untuk membuktikan bahwa ia tidak bisa dijinakkan.

Banyak teman perempuannya di OSIS tadi yang membicarakan Wira saat rapat usai. Sebagian merasa takut dengan gaya preman pemuda Bogor itu, sebagian lagi diam-diam mengagumi wajah tampannya yang berbalut aura seorang "Bad Boy".

Namun bagi Asmara, yang ia lihat dari diri Wira hanyalah seorang anak laki-laki yang sedang kesepian dan kehilangan arah.

Wira menutupi rasa tidak amannya dengan bertingkah arogan. Ia menggunakan kemarahan sebagai perisai, karena mungkin hanya bahasa itulah yang selama ini ia pahami untuk melindungi diri.

Asmara menghela napas pelan.

"Dia pasti mengira aku sedang menantangnya," batin Asmara.

Wira jelas menganggap kesabaran Asmara sebagai sebuah topeng kemunafikan yang harus dihancurkan. Asmara tahu, esok hari dan hari-hari berikutnya, pemuda itu akan terus mencari cara untuk memancing emosinya.

Tapi Asmara sudah bersiap. Ia tidak akan melawan api dengan api.

.....

.....

Sepeda onthel itu akhirnya berbelok memasuki sebuah pelataran rumah berhalaman luas yang sangat asri. Tidak ada pagar besi menjulang tinggi atau mobil mewah yang terparkir.

Hanya ada pot-pot tanah liat berisi tanaman hias, sangkar burung perkutut yang menggantung di teras, dan sebuah rumah berarsitektur limasan sederhana yang dinding kayunya sudah mulai pudar dimakan usia.

Inilah istana Asmara. Rumahnya.

Begitu ia memarkirkan sepedanya dan menaiki undakan teras, aroma khas perpaduan dupa dupa cendana, seduhan teh melati, dan malam (lilin batik) langsung menyergap penciumannya.

Aroma itu adalah aroma rumah. Aroma ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun.

"Asmara pulang, Bu... Romo..." ucap Asmara lembut seraya melangkah masuk melewati pintu kayu berukir.

Di ruang tengah yang tidak memiliki banyak perabotan itu, pemandangan yang selalu menghangatkan hatinya tersaji.

Di atas selembar tikar pandan yang digelar di lantai, ibunya—Nyi Surti—sedang duduk bersimpuh, memegang canting dan menorehkan cairan malam panas ke atas selembar kain mori putih. Motif Batik Kawung yang melambangkan kesucian dan umur panjang perlahan terbentuk dari tangan keriput namun terampil itu.

Sementara itu, tidak jauh dari ibunya, sang ayah—Romo Dwijo—sedang duduk bersila sambil membersihkan sebuah keris dengan sangat hati-hati menggunakan perasan jeruk nipis.

Romo Dwijo mengenakan kaus oblong putih sederhana dan kain jarik, kacamata bacanya bertengger di ujung hidung.

Keluarga Asmara bukanlah keluarga bangsawan kaya raya.

Romo Dwijo dan Nyi Surti adalah Abdi Dalem Keraton Yogyakarta.

Mereka adalah orang-orang yang mendedikasikan seluruh hidup, tenaga, dan waktu mereka untuk melayani keraton dan menjaga kelestarian budaya Jawa, bukan untuk mengejar materi.

Gaji seorang Abdi Dalem secara nominal mungkin tidak seberapa jika diukur dengan standar modern, namun bagi keluarga ini, berkah dan ketenteraman batin yang mereka dapatkan dari pengabdian itu jauh melampaui tumpukan harta karun.

"Sudah pulang, Nduk (Nak)?" sambut Nyi Surti tanpa mengalihkan pandangannya dari kain batik, senyum lembut menghiasi bibirnya. "Sana mandi dulu, Ibu sudah buatkan teh tubruk di dapur."

"Nggih, Bu," jawab Asmara. Ia mendekat, lalu mencium punggung tangan ibunya, kemudian beralih mencium punggung tangan ayahnya dengan takzim. "Romo besok ada jadwal pisowanan (menghadap/bertugas di keraton)?"

Romo Dwijo mengangguk pelan, meletakkan kerisnya di atas nampan kecil. "Iya, Nduk. Besok Romo tugas jaga di bangsal. Kamu hari ini di sekolah bagaimana? Lancar? Katanya ada murid baru dari luar kota di kelasmu?"

Asmara duduk bersimpuh di sebelah ayahnya, meletakkan tas sekolahnya di lantai.

Mendengar pertanyaan ayahnya, senyum tipis yang penuh makna kembali terbentuk di wajahnya.

"Lancar, Romo. Iya, ada murid baru pindahan dari Bogor. Namanya Mas Wira," jawab Asmara tenang.

"Bocahnya bagaimana? Mudah berbaur dengan teman-teman yang lain?" tanya Romo Dwijo, mulai melipat kain lap pembersih kerisnya.

Asmara terdiam sejenak.

Ia memikirkan insiden di Alun-alun kemarin saat Wira hampir memukul tukang becak, lalu insiden kemeja berantakan di kelas, dan puncaknya di kantin saat pemuda itu menantang kakak kelas berkelahi hanya karena urusan soto.

Jika ia menceritakan semuanya, ayahnya mungkin akan terkejut.

Namun, Asmara memilih merangkumnya dari sudut pandangnya yang penuh empati.

"Mas Wira... sepertinya sedang kesulitan menyesuaikan diri, Romo," jawab Asmara perlahan, memilih kata-katanya dengan hati-hati.

"Dia terbiasa dengan kehidupan yang keras dan cepat. Di sini, dia merasa semuanya terlalu pelan dan asing. Tadi juga dia sempat marah-marah di kantin karena merasa tidak dihormati saat harus mengantre."

Romo Dwijo terkekeh pelan. Tawa yang berat dan menenangkan.

Beliau menatap putrinya dengan mata tuanya yang bijaksana.

"Orang yang gampang marah itu, Nduk, biasanya adalah orang yang hatinya paling lelah," ucap Romo Dwijo, sebuah petuah yang langsung meresap ke dalam sanubari Asmara.

"Mereka berteriak keras karena mereka merasa tidak ada yang mendengarkan. Mereka menggunakan otot karena mereka tidak tahu cara menggunakan hati."

Nyi Surti yang sedang meniup ujung canting-nya ikut menimpali. "Ibu tebak, kamu tadi pasti maju untuk menegurnya, kan?"

Asmara tersenyum kecil, sedikit menunduk. "Hanya mengingatkan, Bu. Kasihan teman-teman yang lain kalau sampai ada keributan. Tapi sepertinya Mas Wira jadi tidak suka sama Asmara. Dia mengira Asmara sok mengguruinya."

Romo Dwijo menggeser duduknya, menatap lurus ke arah Asmara. "Asmara, kamu ingat pelajaran pertama yang Romo ajarkan saat kamu masih kecil dulu? Tentang filosofi Banyu (Air)?"

"Ingat, Romo," jawab Asmara. "Air itu sifatnya mengalah, selalu mencari tempat yang paling rendah. Dia tidak menolak bentuk apa pun wadahnya."

"Tepat," Romo Dwijo mengangguk. "Tapi ingat juga, Nduk. Meskipun air itu sifatnya mengalah dan diam, air yang terus-menerus menetes pada akhirnya bisa melubangi batu yang paling keras sekalipun. Menghadapi api, tidak bisa pakai angin, karena api akan semakin membesar. Menghadapi api harus pakai air."

Romo Dwijo mengusap puncak kepala Asmara dengan lembut.

"Anak baru itu ibarat bara api yang sedang ditiup angin. Panas dan merusak. Tapi kalau kamu ladeni kemarahannya dengan kemarahan pula, kamu sama saja mengorbankan ketenanganmu. Tetaplah jadi air, Asmara. Berikan dia kesejukan. Sabar iku kuncining swarga (Sabar itu kunci surga). Kalau dia mengujimu, balaslah dengan senyuman. Orang yang mencari musuh akan kebingungan kalau musuhnya menolak untuk diajak berperang."

Petuah dari sang ayah seolah memperkokoh benteng pertahanan di dalam hati Asmara. Ia menyerap setiap kata itu layaknya tanah kering yang menyerap air hujan.

Inilah harta karun terbesar yang ia warisi dari keluarganya.

Bukan harta benda, melainkan unggah-ungguh, kesabaran, dan kelapangan dada. Sebuah filosofi hidup "nrimo ing pandum"—menerima dengan ikhlas apa yang digariskan Tuhan, dan melayani sesama dengan tanpa pamrih.

Inilah dunia Asmara.

Dunia di mana pengabdian adalah sebuah kehormatan.

Sungguh sebuah realitas yang bertolak belakang dengan dunia Wira, di mana segala sesuatunya diukur dari seberapa besar kau bisa mendominasi orang lain.

"Asmara mengerti, Romo. Asmara tidak akan terpancing," ucap gadis itu mantap.

"Ya sudah. Bersihkan badanmu dulu, lalu bantu Ibu siapkan makan malam," perintah ibunya dengan lembut.

Asmara pamit, berdiri perlahan dari posisi simpuhnya, lalu melangkah menuju kamar tidurnya.

Begitu ia menutup pintu kamarnya yang sederhana, Asmara bersandar pada daun pintu. Ia menatap pantulan dirinya di cermin lemari pakaian peninggalan neneknya. Ia menatap seragam putih abunya, lencana OSIS di dadanya, dan wajahnya yang tenang.

Wira berjanji untuk mengupas topeng kesabarannya?

Asmara tersenyum sendiri memikirkan hal itu. Wira akan menemukan jalan buntu, karena kesabaran ini bukanlah topeng. Ini adalah kulitnya, dagingnya, tulang-tulangnya.

Ketangguhan Asmara tidak terletak pada volume suaranya, melainkan pada akar budayanya yang menghujam jauh ke dasar bumi Jogja.

"Silakan dicoba, Mas Wira," gumam Asmara pelan pada cermin, suaranya dipenuhi oleh tekad yang tak kasat mata. "Mas boleh membenci kota ini, Mas boleh menantang semua aturannya. Tapi saya berjanji, pada akhirnya, kota ini... dan kelembutannya, yang akan menaklukkanmu, Mas."

Asmara melepaskan lencana OSIS-nya, meletakkannya di atas meja belajar dengan rapi.

Permainan di antara "Sang Matahari" dari Bogor dan "Sang Bulan" dari Jogja, baru saja memasuki babak yang sesungguhnya.

Dan Asmara, sang putri Abdi Dalem...

Sudah sangat siap menyambut hari esok dengan senyum paling menenangkan yang ia miliki.

1
Kesya Ohilitean
aku senang sekali kerana novel mau membantu aku untuk mehilakan sertes
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih banyak, Kak Kesya... 😍😍😍

Semoga Kakak selalu sehat, ya... Selalu bahagia juga buat Kak Kesya... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!