Rasa percaya diri Refisha benar-benar hilang karena di usianya yang sudah memasuki 29 tahun, orang tuanya berkali-kali menjodohkan, tetapi banyak kendala pria menikahinya dan termasuk banyak orang tua pria yang tidak setuju menikah dengan.
Refisha juga selalu bertentangan dengan adiknya yang sudah berusia 24 tahun dan ingin secepatnya menikah. Banyak sekali permasalahan percintaan dalam hidupnya yang tidak sesuai dengan karirnya dalam dunia pekerjaan.
Sampai seketika orang tuanya kembali menjodohkannya dengan seorang Ustadz, Refisha tidak pernah menolak apapun yang dilakukan orang tuanya, dia setuju, tetapi bukannya kebahagiaan yang didapatkan justru penghinaan dari pria yang memahami permasalahan agama itu membuat kepercayaan dirinya semakin hilang.
Lalu siapa sangka Ustadz pemuka agama itu menolaknya, satu pria pria yang dia temui tidak sengaja dengan usianya yang lebih muda, justru ingin melamarnya, mengejarnya dengan cara ugal-ugalan.
Mari mengikuti ceritanya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1 Malam Itu
Kilatan petir menerpa bumi layaknya seperti potretan kamera, hujan deras malam ini membasahi bumi. Cuaca belakangan ini memang tidak baik-baik saja, terkadang panas, hujan, bumi sudah semakin tua.
Wiper mobil bergerak cepat ke kiri dan ke kanan menyapu air hujan yang membasahi kaca depan, terlihat seorang wanita cantik berhijab dengan sedikit mengangkat kepalanya, beberapa kali melihat jalanan yang rusak di ibukota.
Wanita cantik itu mengerutkan kepala, saat melewati jembatan, tetapi ada sesuatu yang mencuri perhatiannya dengan membuatnya menoleh ke sebelahnya tampak seorang pria berjas berdiri di pinggir jembatan.
"Apa itu makhluk halus?" tanyanya memastikan melewati pria tersebut yang hanya terlihat bagian punggungnya saja.
Wanita bernama Refisha itu masih penasaran sampai melihat dari kaca spionnya.
"Astagfirullah, dia manusia!" ucap Refisha menghentikan mobilnya dengan memikirkan di tepian.
Refisha terlihat mengambil payung dari jok belakang mobil dan kemudian keluar dari mobilnya. Langkah gadis cantik memakai rok tersebut berjalan buru-buru menghampiri pria itu.
"Hentikan!" ucapnya dengan tegas, suaranya harus beradu dengan derasnya air hujan.
Pria yang saat ini sedang memejamkan matanya itu sedikit mengerutkan dahi ketika mendengar suara seseorang.
"Ini adalah perbuatan yang sangat dibenci Allah, tidak ada masalah di dunia ini yang tidak bisa diselesaikan," ucapnya.
Perlahan mata pria itu terbuka, kemudian berbalik badan dengan mengerutkan dahi.
"Kamu masih muda, jangan menyia-nyiakan hidup kamu, saya sangat yakin masalah yang kamu hadapi pasti akan selesai, kamu harus tahu jika bunuh diri adalah perbuatan yang paling dibenci Allah, bunuh diri sama saja menentang takdir yang sudah ditetapkan pada manusia,"
"Jika saya hari ini menghentikan kebodohan kamu yang artinya, masalah kamu akan selesai secepatnya, jadi jangan lakukan hal itu lagi," ucap Refisha menasehati pria berkulit putih yang hanya diam sejak tadi.
Bukan terlihat seperti seseorang yang memiliki tatapan kosong, dia memang diam saja tetapi ekspresinya lebih pada bingung.
Refisha melangkah sekitar 3 langkah, memberikan payung tersebut kepada pria itu yang diambil begitu saja sehingga saat ini Refisha yang kehujanan.
"Saya sangat yakin jika hidup kamu lebih baik daripada saya, saya memiliki beribu masalah dalam hidup, tetapi saya tetap takut pada Tuhan dan tidak ingin melakukan hal bodoh, karena saya pasti yakin kebahagiaan di depan sana pasti sedang menunggu saya, jadi saya sangat berharap kamu menghentikan niat kamu, jalankanlah hidup kamu dengan baik,"
"Jika saat ini permasalahan yang kamu hadapi begitu besar, kamu putus asa dengan masalah yang tidak saya ketahui, mungkin saja masalah hutang piutang yang begitu banyak, tetapi saya yakin kamu masih memiliki sedikit uang untuk membeli makanan yang kamu suka dan saya yakin kamu akan melupakan masalah kamu,"
"Tetaplah hidup dan ingat Allah, untuk tidak melakukan hal ini!" ucap Refisha tersenyum.
"Assalamualaikum!" ucap Refisha menundukkan kepala dan kemudian langsung pergi.
Pria itu melihat kepergian wanita yang menceramahi dirinya, berlari memasuki mobilnya dengan meletakkan telapak tangannya di atas kepalanya agar tidak terlalu basah terkena air hujan dan padahal dia sudah begitu basah.
Lampu mobil Refisha menyalah dan kemudian mobil itu melaju dengan kecepatan santai.
"Bunuh diri," ucapnya
"Apa maksudnya!"
"Siapa dia?"
Pria bernama Ezra tersebut benar-benar kebingungan, kemudian dia melihat ke arah atas dengan payung kecil yang masih dia pakai saat ini.
*****
Refisha akhirnya sampai ke rumahnya, Refisha kemudian keluar dari mobil dengan pakaian yang basah kuyup dan langsung berlari memasuki rumah.
"Assalamualaikum!" sapa Refisha.
"Walaikum salam," sahut orang-orang yang ada di ruang tamu terlihat sepasang suami istri dan wanita sekitar berusia 24 tahun tanpa hijab dengan wajahnya terlihat cemberut.
"Ya ampun Refisha, kamu kenapa bisa pulang basah kuyup seperti ini?" tanya Mila terlihat begitu khawatir.
"Ma, di luar sedang hujan, wajar saja Refisha basah kuyup seperti itu," sahut Tio sang suami.
"Mama juga tahu di luar sedang hujan, tetapi Refisha juga tidak jalan kaki dan berada di dalam mobil. Pa," sahut Mila.
"Ma, Pa, Kak Refisha itu sudah besar, sudah berumur, kenapa harus dibesar-besarkan hanya karena pulang hujan-hujanan seperti ini, saat ini Laudya sedang membutuhkan pendapat kedua orang tua, apa tidak bisa fokus padaku saja untuk saat ini," sahut Laudya sang adik.
"Laudya, seperti apa yang sudah Papa katakan kepada kamu. Kamu tunda dulu pernikahan kamu sampai Kakak kamu menikah, itu adalah keputusan Papa!" tegas Tio.
"Lalu sampai kapan aku harus menunggu Pa. Usiaku saat ini sudah 24 tahun, jika aku terus-terusan menunggu Kak Refisha yang adanya aku akan mengikuti jejak dia, usia 29 tahun dan belum menikah, lalu 30 tahun 31 tahun dan sampai 50 tahun juga akan tetap seperti itu!"
"Cukup Laudya!" bentak Tio
Laudya menghela nafas dengan ekspresinya tampak begitu kesal
"Mama sama Papa selalu saja sibuk mengurus satu orang, sampai-sampai tidak memikirkan bagaimana masa depanku, menyebalkan!" umpat Laudya berdiri dari tempat duduknya.
Laudya seketika menghentikan langkahnya saat ingin melewati Refisha.
"Kak, cari dong suami, suami tidak akan datang sendiri jika tidak dicari, jangan membuat jodoh seseorang harus tertahan hanya karena menunggu Kakak untuk menikah, Kakak yang tidak laku dan aku yang harus menjadi korban!" ucap Laudya dengan sini Refisha hanya diam saja.
"Refisha!" Tio kembali menegur putri bungsunya itu dan kemudian Laudya langsung pergi dengan kekesalannya.
"Refisha, kamu jangan dengarkan apa kata Laudya, dia hanya emosi," ucap Mila.
"Mama tidak perlu khawatir, semua perkataan Laudya memang tidak perlu dimasukkan ke dalam hati," sahut Refisha dengan tersenyum.
Mungkin terlihat dia baik-baik saja dan tidak menganggap masalah perkataan adiknya, tetapi dari tatapan matanya terlihat begitu jelas bahwa dia sedih mendapat kata-kata seperti itu.
"Refisha, Papa kemarin bicara dengan teman Papa, kebetulan dia memiliki putra yang memimpin pondok pesantren. Insyallah mereka akan silaturahmi ke rumah kita, mungkin saja kalian cocok," ucap Tio.
"Pa, Ma. Maafkan Refisha ya, Refisha harus merepotkan Mama dan Papa hanya untuk pasangan Refisha, padahal ini bukan pertama kali, Refisha akan mempermalukan Mama dan Papa lagi," ucap Refisha.
"Kamu tidak boleh bicara seperti itu Refisha, tanggung jawab orang tua bukan hanya memberi makan anak, pendidikan anak dan ilmu agama, tetapi juga mengantarkannya ke pelaminan. Kamu tidak perlu takut, insyaAllah kali ini akan berhasil," ucap Mila.
"Amin," sahut Refisha
"Ya, sudah kalau begitu Refisha mau ke kamar dulu, mau ganti baju nanti masuk angin," ucap Refisha.
"Iya. Nak," sahut Mila.
Refisha lagi-lagi tersenyum, kemudian langsung pergi, kedua orang tuanya saling melihat, mungkin terkadang mereka tidak bisa menghentikan perkataan putri bungsu mereka yang selalu menyakiti hati kakaknya.
*******
Refisha sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur, saat ini dia sedang duduk di depan cermin mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer.
Refisha harus teringat kembali dengan perkataan sang adik yang dia katakan tidak apa-apa.
"Maafkan Kakak Laudya, gara-gara prinsip mama dan papa, kamu tidak diizinkan menikah karena Kakak belum menikah," ucapnya merasa bersalah pada adiknya.
"Ya Allah, besok adalah pertemuan dengan laki-laki yang akan menjadi suami hamba, jika menurutmu pernikahan ini baik, maka berjalan yang lancar, tetapi jika tidak maka jaga hamba," batin Refisha.
Bersambung......
Hay para pembaca, senang sekali bisa menyapa kalian di karya terbaru saya dengan episode pertama, besar harapan saya kalian mendukung karya saya dari awal sampai akhir, memberikan komentar positif yang membangun karya saya menjadi lebih baik, memberikan vote, like dan yang pastinya hal-hal kecil yang kalian berikan menjadi motivasi untuk saya.
Saya ucapkan banyak terima kasih untuk para pembaca yang sampai saat ini masih setia pada karya-karya saya dan terus menunggu karya-karya terbaru saya.....