Di dunia tempat Surga mengendalikan takdir dan kekuatan menentukan segalanya, Gu Chenxiao adalah anomali yang tidak pernah tercatat dalam Kitab Surga.
Dengan bantuan Arsip Pengamat Abadi, ia menapaki Dao Iblis yang menentang hukum kosmos. Ia bukan pahlawan yang menyelamatkan dunia, melainkan manipulator yang mempermainkan takdir, memanfaatkan pengkhianatan, dan menjadikan musuh sebagai bidak dalam rencana jangka panjangnya.
Namun, ketika Fondasi Asal mulai mengoreksi keberadaannya, Gu Chenxiao menyadari bahwa dunia yang ia kenal hanyalah sebagian kecil dari rahasia kosmos.
**Jika Surga menentukan takdir semua makhluk, siapa yang berani menentukan takdir Surga?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 — Orang yang Mengubah Urutan
Pagi itu, Gu Chenxiao menerima dua laporan sebelum sarapan.
Laporan pertama berasal dari perpustakaan. Pemeriksaan ruang penyimpanan sementara belum menemukan buku yang hilang, tetapi daftar perabot menunjukkan bahwa dua rak kayu pernah dipindahkan ke bangunan arsip lama setelah pemeliharaan lantai selesai.
Laporan kedua berasal dari bagian administrasi perdagangan. Permintaan penjelasan mengenai inventaris gudang yang telah ditutup telah diteruskan kepada pejabat yang bertanggung jawab atas pengelolaan aset wilayah barat.
Kedua laporan itu tidak memiliki hubungan yang jelas.
Satu berkaitan dengan rak perpustakaan. Satu lagi berkaitan dengan gudang.
Namun, keduanya menyebut bangunan arsip lama di sisi barat kawasan keluarga Gu.
Gu Chenxiao meletakkan kedua laporan berdampingan.
“Paman Fu, apakah bangunan itu masih digunakan?”
“Sebagian ruangnya digunakan untuk menyimpan dokumen lama. Ruangan lainnya telah ditutup. Tidak banyak orang yang masuk ke sana kecuali petugas arsip dan pegawai yang menerima izin.”
“Apakah rak perpustakaan yang dipindahkan masih berada di sana?”
“Itu belum dipastikan. Daftar perabot hanya mencatat bahwa dua rak dikirim ke bangunan tersebut. Tidak ada catatan pemindahan berikutnya.”
Gu Chenxiao mengangguk.
Ia tidak segera memerintahkan pemeriksaan bangunan itu. Sebelum mengirim orang, ia ingin memastikan apakah dua rak tersebut benar-benar berada di sana atau hanya belum tercatat dipindahkan.
“Ajukan permintaan inventaris perabot bangunan arsip lama. Gunakan alasan pembaruan daftar aset. Jangan menyebut buku yang hilang.”
“Baik.”
“Dan satu lagi. Cari tahu apakah ada catatan pemindahan rak dari bangunan arsip lama ke tempat lain selama dua belas bulan terakhir.”
Paman Fu mengerutkan kening. “Apakah Anda menduga buku itu masih berada di sana?”
“Aku menduga rak-rak tersebut pernah berada di sana. Itu saja.”
Gu Chenxiao mengambil laporan pertama dan menyimpannya.
Ia mulai menyadari bahwa setiap kali sebuah ketidaksesuaian ditemukan, ada kecenderungan untuk segera menghubungkannya dengan masalah utama. Kebiasaan itu terasa wajar karena manusia menyukai cerita yang memiliki satu penyebab dan satu jawaban.
Namun, penyelidikan bukan cerita yang harus diselesaikan dengan cepat.
Sebuah rak dapat dipindahkan karena alasan biasa. Sebuah buku dapat salah tempat karena kelalaian. Sebuah gudang dapat memiliki inventaris yang buruk tanpa ada seseorang yang sengaja menyembunyikan barang.
Jika ia ingin menemukan sesuatu yang benar-benar salah, ia harus terlebih dahulu memahami seperti apa keadaan yang normal.
Menjelang siang, Gu Chenxiao berjalan menuju bangunan arsip lama bersama seorang petugas inventaris.
Bangunan itu berdiri di sisi barat kompleks keluarga Gu, agak jauh dari aula utama. Dindingnya terbuat dari batu abu-abu, dengan atap genting yang sudah beberapa kali diperbaiki. Tidak ada penjaga khusus di pintu depan, hanya seorang petugas yang memeriksa surat izin masuk.
Setelah melihat surat dari bagian administrasi, petugas itu membuka pintu.
“Ruang inventaris berada di sebelah kiri, Tuan Muda. Ruang penyimpanan perabot berada di bagian belakang.”
Gu Chenxiao tidak langsung masuk lebih dalam. Ia memeriksa papan daftar ruangan yang tergantung di dekat pintu.
Terdapat enam ruangan yang masih aktif. Dua ruangan lainnya ditandai sebagai ruang penyimpanan tertutup. Pada daftar perabot, rak kayu yang dipindahkan dari perpustakaan tercatat sebagai barang inventaris biasa tanpa nomor identitas individual.
“Apakah perabot yang masuk ke sini diperiksa satu per satu?” tanyanya.
Petugas inventaris menggeleng. “Biasanya kami menghitung jumlah dan mencocokkan ukuran. Nomor identitas hanya digunakan untuk perabot yang bernilai tinggi atau memiliki fungsi khusus.”
“Jadi, dua rak dari perpustakaan bisa tercatat masuk tanpa ada cara mudah untuk membedakannya dari rak lain dengan ukuran serupa?”
“Benar. Namun, kami biasanya mencatat jumlah rak dan ruangan tempat penyimpanannya.”
“Biasanya?”
Petugas itu tampak sedikit canggung.
“Jika pemindahan dilakukan bersama banyak barang, pencatatan kadang diselesaikan setelah semua barang tiba.”
Gu Chenxiao mengangguk. “Tunjukkan catatannya.”
Petugas membawa mereka ke meja administrasi. Di sana terdapat beberapa buku inventaris yang disusun berdasarkan tahun. Catatan pemindahan rak perpustakaan ditemukan setelah pemeriksaan singkat.
Dua rak telah diterima pada tanggal yang tercantum dalam laporan. Keduanya ditempatkan di ruang penyimpanan belakang.
Namun, catatan inventaris terbaru menunjukkan bahwa ruangan itu hanya memiliki satu rak kosong dengan ukuran serupa.
“Ke mana rak yang lain?” tanya Gu Chenxiao.
Petugas memeriksa halaman berikutnya.
“Menurut catatan, satu rak dipindahkan ke ruang penyimpanan alat pada enam bulan lalu.”
“Siapa yang menyetujui pemindahannya?”
Petugas membalik beberapa halaman lagi. “Ada tanda pengesahan dari kantor pengelolaan aset wilayah barat.”
“Nama pejabatnya?”
Petugas menunjuk bagian bawah dokumen.
Nama itu ditulis dengan tinta yang sebagian memudar, tetapi masih dapat dibaca.
Gu Hengyuan.
Gu Chenxiao tidak mengubah ekspresinya.
Nama yang sama kembali muncul dalam catatan lain. Kali ini, bukan sebagai peminjam buku, melainkan sebagai pejabat yang mengesahkan pemindahan sebuah rak.
Tetapi ia masih belum mengetahui apakah rak tersebut memiliki hubungan dengan buku yang hilang.
“Apakah rak itu benar-benar dipindahkan?” tanyanya.
“Catatan menunjukkan bahwa pemindahan telah disetujui.”
“Itu bukan pertanyaan yang sama.”
Petugas terdiam.
“Apakah ada tanda terima dari ruang penyimpanan alat?”
Petugas mencari dokumen terkait. Setelah beberapa saat, ia menemukan catatan penerimaan yang hanya mencantumkan satu rak kayu tanpa nomor identitas.
“Rak itu tercatat diterima,” katanya.
“Siapa yang menerima?”
“Nama penerima tidak dicantumkan.”
Gu Chenxiao memandangi dokumen tersebut.
Sekali lagi, catatan menunjukkan bahwa sebuah benda telah dipindahkan, tetapi tidak menunjukkan siapa yang benar-benar menerimanya.
Pola itu mulai terasa familier.
Namun, ia tidak membiarkan dirinya langsung menyimpulkan bahwa seseorang menggunakan prosedur yang sama untuk menyembunyikan buku, memindahkan rak, dan menghilangkan jejak barang gudang.
Ada kemungkinan prosedur tersebut memang merupakan kebiasaan administrasi lama. Jika demikian, banyak ketidaksesuaian yang ia temukan mungkin berasal dari kelemahan sistem, bukan satu rencana rahasia.
Tetapi jika seseorang sengaja memanfaatkan kelemahan itu, ia perlu mengetahui bagian mana yang memberikan peluang terbesar.
Gu Chenxiao menutup buku inventaris.
“Jangan memindahkan apa pun. Saya ingin salinan seluruh catatan yang berkaitan dengan kedua rak itu, termasuk daftar penerimaan, pengesahan, dan pemindahan berikutnya.”
Petugas membungkuk.
“Apakah saya perlu melaporkan bahwa pemeriksaan ini dilakukan atas permintaan Anda?”
“Laporkan bahwa pemeriksaan dilakukan sebagai bagian dari pembaruan inventaris. Itu benar.”
Ia berhenti sejenak.
“Dan jangan menulis bahwa rak tersebut berkaitan dengan buku yang hilang. Kita belum mengetahui hal itu.”
Petugas segera mencatat instruksinya.
Sebelum meninggalkan bangunan, Gu Chenxiao melihat ke arah lorong yang menuju ruang penyimpanan tertutup. Pintu-pintunya tidak memiliki tanda khusus, hanya nomor ruangan dan segel administrasi.
Ia tidak meminta dibukakan.
Belum ada alasan untuk melakukannya.
Jika ia mulai membuka setiap pintu hanya karena ada sesuatu yang tidak tercatat, ia akan memberi siapa pun yang mengawasi penyelidikannya kesempatan untuk mengetahui betapa jauh ia telah bergerak.
Lebih buruk lagi, ia mungkin merusak bukti yang belum diketahuinya.
Ia meninggalkan bangunan arsip dengan dua fakta baru: Gu Hengyuan pernah mengesahkan pemindahan salah satu rak, dan catatan penerimaan rak tersebut tidak mencantumkan nama penerima.
Keduanya dapat diperiksa.
Keduanya juga masih dapat dijelaskan dengan cara yang tidak mencurigakan.
Untuk saat ini, itu sudah cukup.
Sore harinya, Gu Chenxiao kembali ke kediamannya dan menemukan Paman Fu sedang menunggu di ruang kerja.
Di atas meja terdapat salinan catatan inventaris dari bangunan arsip lama, bersama sebuah pemberitahuan yang baru diterima dari kantor pengelolaan aset wilayah barat.
Pemberitahuan itu menanggapi permintaan pemeriksaan mengenai gudang yang telah ditutup.
Isinya singkat.
Menurut catatan resmi, seluruh gudang yang ditutup dua belas tahun sebelumnya telah menjalani proses penonaktifan inventaris. Barang-barang yang masih memiliki nilai telah dipindahkan ke lokasi lain, sedangkan barang yang tidak lagi digunakan dicatat sebagai aset yang dihapuskan.
Tidak ada daftar rinci yang disertakan.
“Apakah mereka menolak memberikan daftar itu?” tanya Gu Chenxiao.
“Tidak secara langsung. Mereka menyatakan bahwa daftar terperinci hanya dapat diberikan setelah permintaan pemeriksaan menyebutkan nomor aset atau kategori barang yang hendak dicocokkan.”
“Apakah itu sesuai prosedur?”
“Menurut peraturan yang berlaku, ya. Permintaan terlalu umum dapat ditolak sampai ruang lingkupnya diperjelas.”
Gu Chenxiao membaca pemberitahuan itu.
Respons tersebut tidak aneh. Bagian administrasi tidak berkewajiban menyerahkan seluruh arsip hanya karena seseorang meminta pemeriksaan inventaris.
Namun, ada hal yang menarik.
Pemberitahuan itu menyebut proses penonaktifan inventaris telah selesai, tetapi tidak menjelaskan apakah setiap benda diperiksa secara individual atau hanya berdasarkan jumlah kelompok.
Ia mungkin dapat meminta penjelasan tambahan.
Tetapi permintaan semacam itu akan membuat pemeriksaan gudang semakin jelas terlihat.
Gu Chenxiao meletakkan dokumen itu.
“Kita tidak akan meminta daftar lengkap. Ajukan permintaan yang lebih spesifik mengenai prosedur penonaktifan aset dan jenis dokumen yang seharusnya disimpan.”
Paman Fu mengangguk.
“Dengan begitu, kita dapat mengetahui catatan apa yang seharusnya tersedia sebelum meminta dokumen tertentu.”
“Benar. Jika dokumen yang seharusnya ada ternyata tidak tersedia, kita akan memiliki pertanyaan yang lebih tepat.”
Paman Fu tampak memahami maksudnya.
“Apakah kita perlu meminta keterangan dari Gu Hengyuan?”
“Belum.”
“Namanya muncul dalam dua catatan berbeda.”
“Dan kedua catatan itu masih memiliki penjelasan yang masuk akal.”
Gu Chenxiao menatapnya.
“Jangan mengira bahwa dua jejak yang mengarah kepada orang yang sama otomatis membuktikan hubungan di antara keduanya. Jika kita ingin menuduh seseorang, kita harus mengetahui bukan hanya apa yang dilakukannya, tetapi juga mengapa tindakan itu relevan terhadap masalah yang sedang kita selidiki.”
Paman Fu membungkuk.
Gu Chenxiao mengambil secangkir teh, lalu menambahkan dengan nada ringan, “Lagi pula, jika Gu Hengyuan memang terlibat dalam sesuatu, menemuinya sekarang hanya akan memberi tahu bahwa aku mulai memperhatikan namanya.”
“Dan jika beliau tidak terlibat?”
“Kalau begitu, kita baru saja membuat seorang tetua merasa dicurigai tanpa alasan yang cukup.”
Paman Fu tidak lagi bertanya.
Malam itu, Gu Chenxiao menerima kabar lain dari pengawas yang mengamati gudang nomor tujuh.
Tidak ada orang yang masuk selama dua malam terakhir.
Namun, pada sore sebelumnya, seorang petugas administrasi datang ke area gudang dan berbicara dengan penjaga yang bertugas. Petugas itu tidak memasuki gudang, tetapi menyerahkan sebuah dokumen yang kemudian disimpan oleh penjaga.
Pengawas tidak dapat mendengar percakapan mereka.
Ia hanya melihat bahwa setelah membaca dokumen tersebut, penjaga memeriksa pintu gudang dan menulis sesuatu di buku catatannya.
“Apakah kita tahu siapa petugas itu?” tanya Gu Chenxiao.
“Belum. Pengawas hanya melihat lencana administrasi dari kejauhan. Ia tidak bisa memastikan bagian mana yang menerbitkannya.”
“Apakah dokumen yang diserahkan masih ada?”
“Tidak diketahui. Penjaga menyimpannya.”
Gu Chenxiao berpikir sejenak.
Gudang nomor tujuh telah ditutup dua belas tahun lalu, tetapi masih memiliki penjaga, catatan akses, dan prosedur pemeriksaan pintu. Hal itu sendiri tidak membuktikan adanya rahasia. Gudang yang sudah tidak aktif tetap dapat memerlukan pemeliharaan dan pengamanan.
Namun, penyerahan dokumen itu menunjukkan bahwa seseorang masih melakukan komunikasi administratif terkait gudang tersebut.
Pertanyaan yang tepat bukanlah mengapa seseorang mendatangi gudang tertutup.
Pertanyaan yang lebih berguna adalah: dokumen apa yang membuat penjaga perlu memeriksa pintu setelah membacanya?
Mungkin ada jadwal pemeriksaan.
Mungkin ada pemberitahuan mengenai pemeliharaan.
Atau mungkin dokumen itu berkaitan dengan izin akses.
Gu Chenxiao tidak akan mengetahui jawabannya hanya dengan menatap penjaga dari kejauhan.
Ia membuka buku catatannya dan menulis instruksi untuk hari berikutnya: periksa jadwal pemeliharaan gudang, daftar petugas yang memiliki kewenangan menerbitkan perintah pemeriksaan, dan prosedur pencatatan dokumen yang diserahkan langsung kepada penjaga.
Tidak ada perintah untuk menangkap orang.
Tidak ada perintah untuk membuka gudang.
Ia hanya ingin mengetahui aturan apa yang sedang dijalankan.
Setelah menulis instruksi tersebut, Gu Chenxiao menutup buku catatannya.
Ia mulai melihat bentuk masalah yang sedang dihadapinya.
Bukan satu cap yang mirip dengan cap lama.
Bukan satu buku yang hilang.
Bukan satu pejabat yang namanya muncul berulang kali.
Melainkan sekumpulan prosedur yang memungkinkan benda berpindah, dokumen disahkan, dan catatan dianggap lengkap tanpa pemeriksaan individual yang memadai.
Jika semua itu hanya kelemahan administrasi, maka ia sedang menemukan alasan mengapa keluarga Gu kehilangan jejak atas sebagian asetnya.
Jika seseorang sengaja memanfaatkannya, maka kelemahan tersebut mungkin telah menjadi alat.
Tetapi ia belum tahu siapa yang menggunakannya, kapan penggunaannya dimulai, atau apakah semua kejadian itu memang saling berhubungan.
Gu Chenxiao tidak membutuhkan jawaban malam itu.
Ia hanya membutuhkan pertanyaan yang tepat untuk diajukan besok.
Sebab orang yang terburu-buru mencari pelaku sering kali lupa bahwa sebelum seseorang dapat dihukum, harus ada sesuatu yang benar-benar dapat dibuktikan.
Dan Gu Chenxiao tidak berniat memberikan kesempatan kepada siapa pun untuk menjatuhkannya hanya karena ia terlalu cepat menganggap sebuah dugaan sebagai kebenaran.