Seratus ribu tahun setelah Perang Senja yang memusnahkan para Dewa Asli dan Iblis Primordial, para "Penguasa Abadi" di Sembilan Langit menjadikan dunia fana sebagai ladang ternak spiritual yang dipanen setiap sepuluh ribu tahun. Lin Xuan, seorang murid yatim piatu dari Sekte Pedang Awan Biru yang dikhianati dan diambil Akar Spiritualnya demi menghidupkan putra mahkota sekte, dibuang ke dasar Jurang Tulang Iblis. Di ambang kematian, darahnya menyalakan Lentera Abu Senja—pusaka terlarang peninggalan Dewa Senja terakhir—yang membentuk kembali tubuhnya dengan Meridian Kembar Dewa-Iblis. Dengan menggenggam pedang di satu tangan dan api senja di tangan lain, Lin Xuan merangkak naik dari dasar jurang untuk menumbangkan sekte-sekte munafik, menyatukan ras Iblis dan Manusia, serta meruntuhkan takhta palsu di Sembilan Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Akar yang Dirampas di Puncak Awan Biru
Angin dingin musim gugur berembus tajam di Puncak Utama Sekte Pedang Awan Biru, membawa aroma dupa cendana yang bercampur dengan bau amis darah segar.
Di tengah Aula Penegak Dharma yang megah, di bawah tatapan dingin dua belas tetua sekte yang duduk di atas mimbar batu giok, seorang pemuda berusia tujuh belas tahun terpaksa berlutut di atas lantai marmer putih. Kedua pergelangan tangannya ditembus oleh sepasang rantai besi pengunci Qi yang berukir mantra penyegel, sementara jubah murid dalamnya yang berwarna biru muda telah koyak dan basah oleh darah yang merembes dari bagian bawah perutnya—tepat di titik Dantian-nya.
Pemuda itu adalah Lin Xuan.
Tiga tahun lalu, saat ditemukan oleh Tetua Buta Mo Chen di kaki gunung, Lin Xuan menggemparkan seluruh Sekte Pedang Awan Biru karena memiliki Akar Spiritual Pedang Murni—bakat langka yang hanya muncul sekali dalam lima ratus tahun di Wilayah Timur. Di usia enam belas tahun, ia telah menembus Lapisan Kesembilan Ranah Pemurnian Qi, hanya selangkah lagi menuju Ranah Pembangunan Fondasi.
Namun hari ini, semua kejayaan itu berubah menjadi lelucon yang kejam.
"Lin Xuan," suara berat dan penuh wibawa menggema dari kursi tertinggi di ujung aula. Sosok yang berbicara adalah Gu Tianheng, Ketua Sekte Pedang Awan Biru, seorang kultivator tingkat Inti Emas yang dihormati sebagai pendekar berhati lurus di seluruh Wilayah Timur. "Sekte telah membesarkanmu, memberimu tempat bernaung, pil spiritual, dan kitab pedang. Kini, putra kandungku, Gu Changge, mengalami kerusakan meridian saat berlatih. Menyerahkan Akar Spiritual Pedang Murnimu untuk menyempurnakan tubuh Changge adalah kehormatan terbesar yang bisa kau berikan untuk membalas budi sekte."
Lin Xuan mengangkat kepalanya perlahan. Wajahnya pucat pasi bagai kertas, bibirnya berlumuran darah, namun sepasang matanya yang tajam menatap lurus ke arah tiga orang di depannya tanpa sedikit pun rasa takut—melainkan kebencian yang membeku.
Di samping Ketua Sekte Gu Tianheng, berdiri seorang pemuda tampan berjubah brokat emas—Gu Changge—yang tersenyum tipis penuh kemenangan. Dan tepat di sisi Gu Changge, berdiri seorang gadis cantik bergaun putih bersih dengan pedang giok di pinggangnya: Liu Ruyan, gadis yang sejak kecil tumbuh bersama Lin Xuan di lembah luar, gadis yang tiga malam lalu masih menyuguhkan semangkuk sup teratai hangat untuknya.
Sup teratai yang ternyata telah dicampur dengan Bubuk Pelumpuh Jiwa Sembilan Hari.
"Kehormatan?" Lin Xuan terkekeh pelan, suaranya serak bagai gesekan besi berkarat, membuat darah kembali menetes dari sudut bibirnya. Ia menatap Liu Ruyan yang berdiri di samping Gu Changge. "Ruyan... waktu kau memberikan sup itu dengan tangan yang gemetar tiga malam lalu, aku mengira kau sedang kedinginan. Ternyata kau takut racunnya kurang pekat?"
Liu Ruyan sedikit memalingkan wajahnya, namun sesaat kemudian tatapannya berubah dingin dan angkuh. "Lin Xuan, jangan salahkan aku. Jalan kultivasi menuju keabadian itu kejam. Kau hanyalah anak yatim piatu tanpa latar belakang klan, sedangkan Kakak Senior Changge adalah putra Ketua Sekte yang ditakdirkan menembus Ranah Inti Emas dan bahkan Jiwa Nascent! Akar Spiritual Pedang Murni di tubuhmu hanya akan terbuang sia-sia. Di tangan Kakak Changge, akar itu akan membawa kita berdua ke puncak Wilayah Timur. Sebagai gantinya, aku sudah memohon pada Ketua Sekte agar mengampuni nyawamu dan membiarkanmu hidup sebagai pelayan biasa."
"Mengampuni nyawaku setelah merobek Dantianku dan menjadikanku orang cacat?" mata Lin Xuan menyipit tajam.
"Cukup!" Tetua Pertama yang berdiri di dekat altar melangkah maju, jari-jari tuanya yang keriput membentuk segel tangan yang memancarkan sinar hijau tajam. "Formasi Pemindah Akar sudah mencapai puncaknya! Jika kita menunda lebih lama lagi, esensi Akar Pedang di tubuh bocah ini akan menyusut!"
"Lakukan sekarang," perintah Ketua Sekte Gu Tianheng tanpa berkedip.
BZZZT!
Lingkaran formasi berukir darah di bawah lutut Lin Xuan menyala terang. Lima bilah jarum emas sepanjang sejengkal melesat masuk ke lima titik meridian utama di punggung dan perut Lin Xuan.
"AAARGHHH!"
Rasa sakit yang tak terlukiskan—seolah-olah setiap urat nadi dan tulang sumsumnya ditarik keluar hidup-hidup menggunakan kail besi panas—meledak di seluruh tubuh Lin Xuan. Di dalam lautan Dantiannya, seberkas cahaya perak berbentuk pedang mini yang telah ia tempa dengan keringat dan darah selama bertahun-tahun bergetar hebat, berusaha bertahan bersama tuannya, namun perlahan-lahan ditarik paksa keluar dari perutnya oleh daya hisap formasi!
Urat-urat di leher dan dahi Lin Xuan menonjol hingga nyaris pecah. Di tengah rasa sakit yang mampu membuat kultivator dewasa kehilangan akal sehat itu, Lin Xuan menggigit lidahnya sendiri hingga berdarah agar kesadarannya tetap terjaga.
Ia menatap wajah satu per satu tetua di aula itu. Ia merekam wajah Gu Tianheng, senyum mengejek Gu Changge, dan tatapan dingin Liu Ruyan jauh ke dalam relung jiwanya.
SRAAAK!
Seberkas cahaya perak murni akhirnya tercabut keluar dari perut Lin Xuan, meninggalkan lubang berdarah di Dantiannya, lalu melayang masuk ke dada Gu Changge yang duduk bersila di atas altar seberang. Seketika itu juga, aura pedang yang megah membubung tinggi dari tubuh Gu Changge, menembus atap aula dan membelah awan di langit!
"Hahaha! Berhasil! Akar Pedang Murni ini benar-benar luar biasa!" Gu Changge membuka matanya yang kini bersinar keperakan, tertawa lepas merasakan lonjakan kekuatan yang langsung mendorong kultivasinya menembus Ranah Pembangunan Fondasi dalam sekejap!
Sementara itu, tubuh Lin Xuan ambruk ke lantai marmer. Seluruh Qi spiritual di tubuhnya menguap bagai asap yang tertiup angin. Meridiannya hancur berantakan, kekuatannya lenyap tak bersisa, menyisakan tubuh manusia fana yang sekarat dan berlumuran darah.
Gu Changge bangkit berdiri, merapikan jubah emasnya, lalu berjalan mendekati tubuh Lin Xuan yang terkapar. Ia menunduk dan berbisik cukup pelan hingga hanya Lin Xuan yang bisa mendengarnya:
"Adik Junior Lin, kau pikir aku akan benar-benar membiarkanmu hidup sebagai pelayan di sekte ini? Selama kau masih bernapas, rahasia hari ini tidak akan pernah benar-benar aman. Apalagi Tetua Buta Mo Chen dari Lembah Pedang Patah akan segera kembali dari perjalanannya besok."
Gu Changge menegakkan tubuhnya, lalu berkata dengan suara lantang dan wajah prihatin kepada seluruh isi aula: "Ayah, para Tetua! Sayang sekali... tubuh Adik Junior Lin Xuan terlalu lemah menahan guncangan energi, dan ia mengalami penyimpangan Qi hingga menyerang pikirannya! Bawa dia ke belakang gunung dan lemparkan ke Jurang Tulang Iblis agar miasma penyimpangan Qi-nya tidak mencemari sekte kita!"
Tak seorang pun tetua di aula itu membantah. Bahkan Liu Ruyan hanya berdiri diam, menggenggam gagang pedang gioknya tanpa menoleh sedikit pun saat dua penjaga berjubah hitam menyeret tubuh Lin Xuan yang bersimbah darah keluar dari aula bagai menyeret bangkai anjing.
Dalam pandangannya yang mulai kabur oleh darah dan kegelapan, bibir Lin Xuan bergerak tanpa suara, mengukir sumpah yang membakar jiwanya sendiri:
Jika ada dewa di langit, mengapa dewa membiarkan kemunafikan ini berkuasa? Jika dewa itu buta, maka biarlah aku menjadi iblis yang merobek mata langit! Selama jiwaku belum hancur menjadi debu... aku, Lin Xuan, bersumpah akan kembali dan membasuh seluruh Puncak Awan Biru dengan darah kalian semua!
kalo bisa alur ceritax dibuat liku2 jgn baru 100 chapter sudah sampai di alam atas...buat panjang ceritax....