Mo Yuuran, seorang permaisuri yang dikenal bengis dan kejam, pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, menjatuhkan Kaisar Zi Xuan dari tahtanya demi cinta butanya kepada Bo Wen. Ia rela mengorbankan segalanya, bahkan mengkhianati pria yang mencintainya dengan sepenuh jiwa.
Tapi kenyataan yang terungkap di akhir hidupnya jauh lebih kejam dari apa pun yang pernah ia lakukan.
Bo Wen, pria yang ia cintai mati-matian, ternyata bersekongkol dengan keluarganya sendiri, kakak dan orang tuanya untuk membunuhnya. Selama ini, Mo Yuuran hanyalah alat. Sebuah pion yang dimanfaatkan untuk menyingkirkan Kaisar Zi Xuan, satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya, bahkan terobsesi.
Saat napas terakhirnya terenggut dalam pengkhianatan, penyesalan memenuhi hatinya. Tapi, takdir memberinya kesempatan kedua.
Mo Yuuran terbangun kembali di masa lalu sebelum semuanya hancur. Dengan ingatan akan kematian tragisnya, ia bersumpah untuk mengubah segalanya. Termasuk menjadi ibu tiri yang baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suamiku Butuh Aku
Sepanjang malam, Mo Yuuran tidak meninggalkan sisi Zi Rui. Ia duduk di tepi ranjang, sesekali menyentuh dahi anak itu untuk memastikan panasnya tidak kembali naik.
Beberapa kali ia juga bangkit, berjalan ke ranjang lain untuk mengecek Zi Cheng dan Zi Xin. Tangannya menyentuh dahi mereka dengan hati-hati, memastikan keduanya tidak mengalami hal yang sama.
“Jangan sampai kalian ikut sakit,” gumamnya pelan.
Waktu berlalu tanpa terasa hingga suara ayam mulai berkokok di kejauhan. Langit masih gelap, namun fajar sudah mendekat.
Mo Yuuran menarik napas pelan. Ia melirik sekali lagi ke arah ketiga anak itu, lalu berdiri.
“Aku harus kembali,” bisiknya.
Mo Yuuran lamgsung teringat dengan Zi Xuan yang pasti sudah menunggunya. Ia melangkah keluar paviliun dengan tenang, menuju Paviliun Naga. Namun saat tiba, alisnya langsung mengerut.
“Yang Mulia kemana?” tanyanya pada prajurit yang berjaga.
Prajurit itu segera menunduk. “Yang Mulia Kaisar berada di ruang kerjanya, Permaisuri.”
Mo Yuuran mengangguk singkat, lalu langsung berbalik menuju ruang kerja Zi Xuan.
Langkahnya cepat, namun begitu tiba di depan pintu, ia berhenti sejenak. Tidak ada satu pun prajurit yang berjaga.
Keningnya semakin berkerut. Tanpa ragu, ia membuka pintu. Dan dalam sekejap, wajahnya berubah dingin.
Di dalam, dua wanita tampak berdiri tidak jauh dari meja kerja. Dao Ling dan Rong, dua selir dari mendiang kaisar, terlihat tengah berusaha mendekati meja Zi Xuan seolah tengah melakukan sesuatu.
“Apa yang kalian lakukan?” suara Mo Yuuran terdengar dingin, memecah suasana.
Kedua wanita itu langsung berbalik. Bukannya terkejut, mereka justru tersenyum manis.
“Permaisuri,” sapa Dao Ling lembut. “Kami hanya membawakan teh dan camilan sehat untuk Yang Mulia.”
Rong mengangguk, menambahkan, “Benar. Kaisar pasti lelah bekerja sepanjang malam.”
Tatapan Mo Yuuran semakin tajam. “Dan kalian sudah berada di sini sejak pagi buta?”
Dao Ling tersenyum tipis. “Apa salahnya?” katanya santai. “Kami hanya ingin menemui putra kami.”
Rong menyambung dengan nada menyindir, “Lagipula, tampaknya Permaisuri tidak terlalu memperhatikan suaminya.”
“Istri macam apa itu,” gumamnya pelan namun cukup jelas.
Mo Yuuran tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap mereka dengan dingin.
“Kami hanya membantu,” lanjut Dao Ling. “Mungkin Yang Mulia memang membutuhkan kami.”
“Siapa tahu kami bahkan diundang,” tambah Rong, pura-pura polos.
Senyum tipis muncul di bibir Mo Yuuran, namun jelas bukan senyum ramah.
“Kalian?” ujarnya pelan. “Hanya selir rendahan dari kaisar terdahulu.”
Langkahnya maju satu langkah, tatapannya menusuk. “Jangan pernah melampaui batas. Bahkan riasan kalian saja mirip wanita di rumah bordil.”
Wajah kedua wanita itu langsung berubah.
Saat itu, pintu kamar kecil terbuka. Zi Xuan keluar sambil mengusap tangannya, lalu berhenti begitu melihat suasana di dalam.
Alisnya langsung berkerut. “Apa yang kalian lakukan di sini?” tanyanya dingin pada dua wanita selir mendiang ayahnya itu.
Dao Ling dan Rong langsung memasang wajah lembut. “Kami membawa teh dan camilan sehat dari keluarga kami, Yang Mulia,” ujar Dao Ling.
“Kami hanya khawatir Yang Mulia kelelahan, apalagi kami tahu Permaisuri masih perlu belajar lagi dari kami,” tambah Rong sambil mencoba mendekat.
Zi Xuan langsung mengangkat tangan. “Cukup. Keluar.”
Keduanya tertegun. “Yang Mulia—”
“Aku tidak memanggil kalian,” potong Zi Xuan dingin.
Wajah mereka langsung masam, jelas tidak terima.
Saat itu, Mo Yuuran melangkah mendekat. Ia dengan santai meraih tangan Zi Xuan, menggenggamnya erat.
“Suamiku tidak membutuhkan teh atau camilan,” katanya ringan.
Ia menoleh ke arah kedua wanita itu, senyumnya tipis namun penuh kemenangan. “Yang dia butuhkan … hanya aku.”
Sebelum siapa pun bereaksi, ia sedikit berjinjit dan mengecup pipi Zi Xuan.
Cup!
“Benarkan, sayang?” bisiknya lembut.
Zi Xuan menatapnya sejenak, lalu mengangguk tanpa ragu. “Benar.”
Wajah Dao Ling dan Rong langsung memerah, antara marah dan malu.
Tanpa berkata apa-apa lagi, keduanya berbalik dan pergi dengan langkah cepat, meninggalkan ruangan dengan hati yang terbakar.
Setelah kedua wanita itu pergi, suasana ruangan mendadak hening. Mo Yuuran masih berdiri dekat Zi Xuan, tangannya belum sepenuhnya terlepas.
Tiba-tiba, Zi Xuan menarik pinggangnya mendekat. “Jangan salahkan aku,” bisiknya rendah. “Kau yang memancingku.”
Mo Yuuran sedikit terkejut. “Aku—”
Sebelum ia sempat melanjutkan, Zi Xuan sudah mengangkatnya dengan mudah. Tubuh Mo Yuuran refleks berpegangan pada bahunya saat ia digendong.
“Zi Xuan!” protesnya pelan.
Pria itu hanya tersenyum tipis, lalu meletakkannya di atas meja kerja. Dengan satu gerakan, ia menyapu sebagian barang di meja hingga gulungan dokumen bergeser dan beberapa jatuh ke lantai.
Mo Yuuran langsung menahan dadanya. “Ini ruang kerja,” katanya, berusaha tetap tenang.
Zi Xuan menatapnya dalam, matanya penuh sesuatu yang sulit dijelaskan. “Aku ingin suasana baru,” jawabnya pelan.
Mo Yuuran terdiam, napasnya sedikit tidak teratur. Jarak mereka terlalu dekat, membuat suasana berubah panas dalam sekejap.
“Lagipula,” lanjut Zi Xuan, suaranya melembut, “kau sendiri yang datang mencariku sepagi ini.”
Mo Yuuran memalingkan wajahnya sedikit, namun tidak benar-benar menolak. “Aku hanya memastikan kau tidak diganggu,” balasnya lirih.
Zi Xuan tersenyum, lalu mendekatkan dahinya. “Dan sekarang aku tidak ingin diganggu siapa pun.”
Cup!
Pria itu langsung mencium bibir ranum sang istri dengan lembut. Akhirnya terjadilah pergulatan panas di pagi buta itu, membuat dua wanita yang belum jauh dari ruangan itu dada mereka semakin panas dan mendidih mendengar suara desahan itu.
Tangan mereka mengepal kuat dengan wajah memerah.
“Mo Yuuran si jalang sialan itu!” desis Dao Ling dengan wajah merah pada.
“Ayo kita berikan jalang itu pelajaran berharga,” ucap Rong.
dia ketakutan
smngat terus buat up'y ya....💪💪
belagu tidur nyenyak dikasur empuk
eeh justru anak kaisar malah dikasih kasur tikar