“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”
Maizara merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.
Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Kecupan di Halaman Remang
Matahari mulai condong ke barat ketika SUV hitam milik Dimas membelah jalanan perbukitan menuju daerah Bantul. Hari pertama kencan kami ternyata belum usai. Setelah makan siang sederhana di warung lokal dekat Keraton yang ternyata dilahap Dimas tanpa canggung sedikit pun, kini lelaki jangkung itu membawaku ke Wanawatu sebuah restoran ternama yang berada di atas bukit dengan pemandangan lanskap Candi Prambanan dan Gunung Merapi dari kejauhan.
Pemandangan dari meja tempat kami duduk benar-benar menakjubkan. Angin sore berembus sejuk menyapu pelataran outdoor, membiaskan aroma tanah dan pepohonan.
Aku memperhatikan cara Dimas memesan menu dinner kami. Bahasa tubuhnya tenang, penuh kendali, dan berkelas. Aku hanya mengikuti alur yang disiapkannya. Dalam hati, aku menduga dia pasti sudah membaca beberapa referensi tempat paling romantis di Yogyakarta melalui internet sebelum berkunjung kemari.
Cahaya keemasan sunset mulai melukis langit sore. Semburat jingga dan merah muda membentang indah di atas garis horison. Aku terpaku memandangi panorama itu, menikmati momen keheningan yang amat jarang kudapatkan.
"Kamu mirip matahari di pantai ini," suara berat Dimas tiba-tiba memecah sunyi.
Aku menoleh. Dimas tidak sedang menatap senja. Mata hitam pekatnya terpaku lurus padaku, menagkap pendar cahaya jingga yang memantul di wajahku.
"Hangat dan tak terburu-buru," lanjutnya pelan.
Lagi-lagi, kalimat manis meluncur dari bibirnya tanpa aba-aba. Aku menata posisi dudukku, mencoba agar tidak terlihat goyah oleh pujiannya. Sebuah pertanyaan yang sudah lama mengendap di kepalaku tiba-tiba mendesak untuk disuarakan.
"Aku jadi penasaran," kataku sambil menopang dagu di atas meja, menatapnya berani. "Kamu belum pernah pacaran?"
Mungkin pertanyaanku terdengar sedikit tidak sopan untuk ukuran wanita keraton yang biasanya menahan diri, tapi aku ingin tahu dengan siapa aku berhadapan saat ini.
Dimas menyandarkan punggungnya di kursi, memegang cangkir minumannya dengan santai. "Tentu pernah," jawab Dimas tenang. "Hanya saja... tidak membekas."
Jawaban itu membuat sudut bibirku terangkat tipis dalam senyum miring. Tidak membekas. Sebuah frasa yang membuatku langsung berasumsi bahwa dia sama saja dengan kebanyakan laki-laki perkotaan lainnya menganggap hubungan emosional hanyalah sesuatu yang bisa datang dan pergi tanpa jejak.
"Pernah berhubungan seks?" tanyaku lagi, kali ini lebih menohok dan mendetail. "Sama orang yang kamu cintai, atau tanpa ada rasa cinta?"
Uhuk! Uhuk!
Dimas yang saat itu baru saja memasukkan sepotong steak malamnya ke dalam mulut langsung tersedak hebat. Pria yang selalu berpenampilan tenang dan dominan itu mendadak terbatuk-batuk, wajahnya memerah karena kaget dengan pertanyaan polos namun ekstrem yang meluncur begitu saja dari bibirku.
Dia bergegas meraih gelas air dingin di samping piringnya dan meminumnya sampai habis dalam beberapa tegukan besar.
Aku tetap duduk tenang, memotong steak hangat di piringku sendiri dengan gerakan santai, menunggu reaksi lelaki di hadapanku ini.
Setelah batuknya reda dan pernapasan berangsur normal, Dimas mengusap bibirnya dengan serbet kain. Dia menegakkan posisi duduknya, menatapku lurus dengan pandangan yang tak lagi santai.
"Kalau boleh jujur... sudah," jawabnya tegas tanpa keraguan, sorot matanya mengunci pandanganku.
"Dengan perasaan cinta?" tanyaku menghardiknya, menuntut kejujuran yang lebih dalam.
Dimas terdiam. Mulutnya yang biasanya pandai merangkai kata-kata puitis kini membisu. Bibirnya seakan kelu untuk mengutarakan kebenaran. Tatapan matanya yang goyah sudah cukup menjadi jawaban tersirat bagiku.
"Berarti tak pernah pakai perasaan cinta," terusku dingin sambil mengunyah steak yang masih hangat di mulutku. Dugaan awal tentangnya ternyata tidak meleset.
Dimas menghela napas panjang, merapikan pisau dan garpunya. Kini giliran dia yang menatapku intens.
"Kamu sendiri?" tanyanya balik, suaranya terdengar lebih dalam dan serius.
Aku tahu apa yang ada di pikirannya saat ini. Di zaman sekarang, mungkin dia berpikir aku juga perempuan yang membebaskan diri dalam hal seperti itu, apalagi aku baru saja putus dari hubungan dua tahun.
Aku meletakkan pisau dan garpuku perlahan, menatap tepat ke dalam manik matanya.
"Aku tidak mau berhubungan dengan orang yang tidak aku cinta... sebelum menikah," jawabku tegas dan tanpa keraguan sedikit pun.
Dimas tertegun sejenak. Sorot mata curiga dan dingin di wajahnya perlahan mencair, berganti dengan kilatan kekaguman yang tersembunyi.
"Bagus," sahut Dimas singkat.
Sahutan yang sangat singkat, namun aku tahu arti di balik kata itu. Ada sebuah poin besar yang baru saja tertulis di kepalanya tentang diriku bahwa aku masih menjaga kesucianku dan memegang teguh prinsip hidupku di tengah gempuran zaman.
Sisa makan malam kami diisi dengan perbincangan yang lebih santai mengenai seluk-beluk bisnis kuliner dan dunia desain. Namun, perdebatan singkat soal prinsip hidup tadi meninggalkan keheningan yang sarat akan ketegangan tak kasatmata di antara kami berdua.
Mobil SUV hitam Dimas akhirnya memasuki gerbang besar Ndalem Natakusumah saat jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Halaman rumahku yang amat luas tampak remang, hanya diterangi oleh lampu-lampu taman bergaya antik yang membiaskan cahaya kekuningan di antara pepohonan rindang.
Suasana Ndalem begitu hening. Seluruh anggota keluarga sepertinya sudah masuk ke kamar masing-masing.
Dimas menghentikan mobilnya di dekat pendopo utama. Aku merapikan tas selempangku dan menoleh padanya.
"Terima kasih untuk hari ini, Mas Dimas," ucapku halus. Aku membuka pintu mobil, bersiap turun. "Aku berpamitan ke kamarku duluan ya."
Aku melangkah turun dan berjalan menyusuri halaman berkerikil menuju koridor paviliunku. Langkah kakiku terdengar berisik di tengah kesunyian malam.
Namun, sebelum aku sempat mencapai tangga kayu menuju teras kamar, suara langkah kaki terburu-buru terdengar dari belakangku.
"Mei," panggil suara berat itu.
Belum sempat aku memutar tubuhku sepenuhnya untuk menoleh, sebuah tangan kekar yang hangat tiba-tiba meraih pergelangan tanganku. Dengan satu tarikan lembut namun penuh bertenaga, Dimas menarik tubuhku mendekat ke arahnya.
Srettt.
Sebelum aku menyadari apa yang terjadi, punggungku sudah menempel tipis pada salah satu pilar kayu pendopo, dan tubuh tinggi tegap Dimas sudah berada tepat di hadapanku, mendekap erat pinggangku dengan kedua tangannya.
"M-Mas Dimas...!" bisikku kaget, mataku membelalak lebar.
Jarak kami terkikis habis. Aroma woody-citrus yang mahal dari tubuhnya mengepung seluruh indra penciumanku. Dalam remang cahaya lampu taman, mata kami saling menatap sangat dekat.
Keheningan malam membuat segalanya terasa begitu nyaring. Di dalam dada yang saling berhimpitan ini, aku bisa mendengar detak jantung yang berdegup kencang dan liar. Aku tidak tahu apakah itu suara detak jantung Dimas yang berpacu hebat, atau justru detak jantungku sendiri yang mendadak hilang kendali.
Aura dingin dan angkuh yang biasa dibawanya menguap begitu saja, berganti dengan tatapan lapar dan hangat yang belum pernah kulihat sebelumnya dari pria ini.
"Kalau mencium orang asing... pernah?" tanya Dimas pelan, suaranya parau dan berbisik tepat di depan wajahku. Tangannya yang hangat masih memeluk pinggangku dengan posesif.
Aku terkekeh kecil, mencoba menetralisir kegugupan luar biasa yang membuat seluruh persendianku lemas. Pria ini benar-benar masih mengira aku adalah wanita yang mudah disentuh oleh sembarang orang.
"Ya gak lah," jawabku pelan sambil menggelengkan kepala di dalam dekapannya. "Ngapain juga cium orang asing?"
Dimas tidak tertawa. Matanya turun menatap bibirku, lalu kembali naik menatap langsung ke mataku dengan pendar intensitas yang membuat napasku tertahan di tenggorokan.
"Tapi aku..." bisik Dimas, ibu jarinya bergerak pelan mengelus rahangku dengan kelembutan yang memabukkan, "...aku bisa."
Sebelum aku sempat mencerna kata-katanya atau mengajukan protes, Dimas memiringkan wajahnya dan mendekatkan bibirnya ke wajahku.
Dunia seolah berhenti berputar.
Secara lembut dan penuh kehangatan, bibirnya menyentuh bibirku. Sebuah kecupan yang awalnya terasa begitu pelan dan ragu-ragu, perlahan berubah menjadi makin dalam dan menuntut. Sentuhan bibirnya terasa hangat, memabukkan, dan meruntuhkan seluruh dinding pertahanan yang kubangun rapat-rapat selama tiga puluh tahun ini.
Mataku terpejam rapat. Jemariku yang tadinya berniat mendorong dadanya justru refleks mencengkeram kemeja linen krem yang dikenakannya.
Itu bukan sekadar ciuman biasa. Itu adalah sebuah klaim. Sebuah invasi lembut dari Dimas Arjowibowo yang membuktikan bahwa di balik keputusanku untuk menjaga diri, ada seorang pria yang akhirnya berhasil menembus batas kesucian hatiku tanpa peringatan.