Blurb!
Tujuh tahun menikah, tapi belum dikaruniai anak? Siap-siap telinga panas mendengar julidan mertua!
Nisa dan Dimas harus bertahan dari teror Bu Ratna, mertua sosialita gengsian yang menghalalkan segala cara absurd, demi menimang cucu. Mulai dari minum jus delima pencahar, hingga tidur di kasur giok penyiksa raga. Sanggupkah Nisa bertahan dibawah tekanan mertuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 05
_____🌺
Saat bu Ratna yang mendengar menantunya dihina di depan umum, matanya langsung melotot lebar.
Meskipun ia sering sekali menghina Nisa habis-habisan di dalam rumah, tapi pantang baginya membiarkan orang luar merendahkan martabat keluarga besarnya. Gengsinya sebagai nyonya besar di kompleks itu langsung tercoreng.
"Heh! Bu RW! Enak aja mulut ibu bilang menantu saya mandul! Nisa itu sel telurnya bagus, anak saya Dimas juga bibit unggul berkelas! Mereka berdua itu lagi fokus ke karier, nggak kayak anak ibu yang bisanya cuma bikin malu keluarga, bunting duluan sebelum sah jadi istri! Kelihatan banget didikan ibunya gagal total!" teriak Ibu Ratna.
Mertua dari Nisa itu, menunjuk tepat ke depan hidung Bu RW tanpa rasa takut sedikit pun.
"Ibu Ratna! Berani-beraninya ibu ngomong begitu ke saya di depan umum! Saya ini istri RW di sini! Bisa saya laporin ibu ke polisi atas pasal pencemaran nama baik!" ancam Bu RW sambil berkacak pinggang, daun katuk di tangannya ia lempar begitu saja ke dalam keranjang belanjaan dengan kasar.
"Laporin aja sana sekarang juga! Emang saya takut? Polisi juga tahu kali ngitung bulan dari bulan Maret ke bulan Oktober itu totalnya berapa! Ibu pikir bapak-bapak polisi itu nggak bisa matematika dasar?" tantang Ibu Ratna semakin berani.
Tangannya menyambar seekor ikan salmon segar berukuran besar yang tersisa satu-satunya di lapak Kang Maman. "Kang Maman! Ini ikan salmonnya, saya beli semuanya! Buat menantu saya makan, biar gizinya makin bagus dan nggak dibilang rata kayak triplek!"
Bu RW yang melihat hal itu langsung naik pitam luar biasa. Ia dengan gerakan cepat ikut memegang erat ujung ekor ikan salmon tersebut.
"Eh, tunggu dulu! Ikan salmon ini udah saya pesan dari kemarin sore ke Kang Maman! Ini salmon segar buat bikin kaldu anak saya yang lagi menyusui cucu! Ibu jangan main serobot punya orang, gitu aja dong!"
"Enak aja pesen-pesen! Mana ada buktinya? Kang Maman bilang ini sisa satu dan siapa cepat dia dapat. Lepasin nggak tangan ibu dari ikan milik saya ini!" bentak bu Ratna sembari menarik bagian kepala ikan salmon itu sekuat tenaga.
"Nggak bisa! Ini punya saya! Lepasin, Bu Ratna! Ibu cari aja ikan lele di pasar sana!" balas Bu RW menarik bagian ekor salmon dengan kekuatan penuh.
Terjadilah adegan tarik-menarik ikan salmon mentah yang sangat dramatis di pagi hari yang cerah itu.
Bu Ratna yang memakai daster sutra mahal motif macan tutul, beradu kekuatan otot dengan Bu RW yang memakai setelan olahraga berwarna merah menyala. Ikan salmon mentah itu menjadi korban malang perebutan harga diri dua ibu-ibu paling berpengaruh di kompleks perumahan.
"Ya Allah, Ibu-ibu! Ampun, Bu! Jangan ditarik-tarik ikannya begitu, nanti hancur dagingnya, saya yang rugi bandar, Bu!" rengek Kang Maman,
Pedagang panik luar biasa melihat barang dagangan termahalnya dijadikan alat tarik tambang.
Ibu-ibu yang lain mulai heboh menjerit dan berusaha melerai, namun tak ada satupun yang berani mendekat karena takut terkena sabetan buntut ikan salmon mentah.
Nisa yang sejak tadi mematung bagai patung batu, akhirnya tersadar dari rasa syoknya. Ia segera berlari menerobos kerumunan ibu-ibu untuk melerai mertuanya yang mulai kehilangan akal sehat.
"Ma! Mama! Udah, Ma, astaga! Malu dilihatin banyak orang begini, Ma! Lepasin ikannya sekarang!" Nisa memeluk lengan mertuanya dari belakang.
Nisa berusaha menarik tubuh Mama mertuanya itu menjauh dari gerobak sayur.
"Nggak bisa, Nis! Ini masalah harga diri keluarga besar kita! Dia udah berani ngatain kamu mandul! Enak aja! Lepasin ikan ini, Bu RW! Dasar tukang serobot kelas teri!" teriak bu Ratna.
Wanita itu masih enggan menyerah, tenaga wanita paruh baya itu mendadak menjadi sepuluh kali lipat lebih kuat dari kekuatan normalnya.
"Ibu yang tukang serobot! Mertua julid nggak tahu diri! Pantesan menantunya nggak betah hamil, rahimnya aja kepanasan terus denger omongan mertuanya tiap hari!" balas Bu RW dengan mulut yang tak kalah pedas menyayat hati.
Mendengar ucapan Bu RW barusan, emosi Ibu Ratna benar-benar meledak sampai menembus ubun-ubun. Dengan satu sentakan tangan yang sangat kuat dan tiba-tiba, ia menarik ikan salmon itu hingga terlepas paksa dari genggaman tangan Bu RW.
Saking kuatnya tarikan penuh amarah itu, ikan salmon yang sangat licin tersebut terlempar bebas ke udara dan ...
PLAAAK!
Ikan salmon mentah berukuran besar itu mendarat dengan sangat mulus dan menampar telak wajah Bu RW. Lendir segar dan bau amis seketika menempel sempurna di wajah wanita nomor satu di kompleks perumahan tersebut.
Suasana mendadak hening seketika. Hening yang sangat mencekam dan menakutkan.
Bahkan suara jangkrik pun seolah takut untuk berbunyi melihat kejadian tragis namun konyol barusan.
Kang Maman memegang kepalanya sendiri dengan kedua belah tangan, merasa hidupnya dan karir berjualan sayurnya akan segera berakhir hari ini juga.
Bu RW mengusap wajahnya yang penuh lendir ikan dengan tangan gemetar hebat. Wajahnya memerah padam menahan rasa malu dan amarah yang meledak-ledak.
"BU RATNAAAAAAA!!! AWAS IBU YA! SAYA BAKAL BIKIN KELUARGA IBU DISINGKIRKAN DARI KOMPLEKS INI SECEPATNYA!"
Ibu Ratna sedikit terkejut melihat hasil karya lemparan tak sengaja-nya, namun gengsi tetaplah gengsi yang harus dijunjung tinggi.
Ia menegakkan dagunya dengan sombong, menepuk-nepuk tangannya seolah sedang membersihkan debu kotoran.
"Bagus deh kalau begitu, sekalian aja bikin pengumuman besar di masjid. Biar semua orang tahu kalau cucu ibu itu hasil DP duluan. Ayo, Nis! Kita pulang sekarang! Mama mendadak hilang selera makan ikan, bau amisnya nular!"
Tanpa menunggu balasan apapun dari Bu RW yang masih syok mematung, Ibu Ratna menarik tangan Nisa dengan sangat kasar dan berjalan melenggang pergi dari lapak Kang Maman dengan gaya angkuh layaknya seorang model yang baru saja memenangkan ajang kecantikan bergengsi. Daster macan tutulnya berkibar anggun terkena hembusan angin pagi.
Nisa hanya bisa berjalan setengah terseret mengikuti langkah kaki cepat mertuanya. Ia menoleh ke belakang, menatap iba ke arah Kang Maman dan meminta maaf tanpa mengeluarkan suara kepada ibu-ibu tetangga yang masih terbengong-bengong tak percaya.
anda sebenarnya sayang ma Nisa Bu ,, cuma julid ma gengsi ny tu looo gede banget same nutupin rasa sayang yg sbenarny besar tu ,,
jgn sampai km menyesal Bu ,, ayooo baikan ,, jgn2 julid2an lgi ,, 😁😁😁😁😁🤭
semoga cepat2 dapet momongan yx Nisa ,, buat nyumpel mulut mertua mu yg gx da rem ny ,,
ad nilai plus ny nih Bu Ratna ,,
hadeh