"Kamu sudah menganggap anak kita adalah sebuah kutukan, maka suatu hari nanti dia akan benar benar menjadi sebuah kutukan untuk keluarga kamu mas!"
Itu adalah kata kata terkahir Riyanti yang bisa di dengar oleh suaminya Raditya ketika di tepi jurang.
Apa yang terjadi sebenarnya? kenapa bisa seseorang bisa menjadi terkutuk?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eva murka
"Dapurnya sudah selesai Bu, sudah saya ganti semua peralatan dapurnya juga dan pastinya sudah rapi" ucap Erwin yang menyambut kedatangan Raditya, Eva dan Hilda.
"Bagus, apa kamu juga sudah menanam apa yang aku minta kemarin?" tanya Eva
"Sudah Bu, pelet itu sudah saya semen di kamar dua mahasiswi cantik itu" bisik Erwin dan Eva tersenyum senang.
Raditya tidak suka ketika melihat Erwin ada di sana, dia tahu itu semua adalah rencana Eva dan Hilda untuk membuat Kanaya jatuh cinta pada Erwin dan akan di manfaatkan Erwin sebagai alat mencari uang nantinya di tempat khusus yang sering dia gunakan untuk menjual para perempuan.
Tapi Raditya juga tidak bisa memperlihatkan rasa tidak sukanya karena dia takut Eva akan segera membuatkan ramuan hitam itu dan memberikan ramuan itu pada Raditya.
"Hei tampan jangan bengong nanti kesambet jin air, Sahara mau keliling dulu ya" bisik Sahara yang berpura pura mengantar Hilda yang masih duduk di kursi roda.
Sahara memang di bawa oleh Raditya dengan alasan untuk membantu Hilda dan mengatur kenyamanan Hilda di rumah mereka, tapi Eva menolak dan terus bersikap ketus pada Sahara yang sejak kemarin terus saja masuk ke ruangan Raditya dengan alasan ingin ngecek Hilda, tapi tangannya terus piknik ke arah tubuh Raditya.
"Pak tampan, ini mau di bawa ke mana ibu misda nya?" tanya Sahara genit membuat Erwin tersenyum senang karena melihat seorang suster cantik yang berpakaian cukup seksi ikut bersama Raditya.
"Hilda, nama saya Hilda bukan misda!" bentak Hilda
"Hihihi.. maaf ya Bu misda, saya tidak bisa bilang huruf H masalahnya, soalnya lidah saya lidah bule" jawab Sahara semakin membuat Hilda kesal tapi Raditya terkekeh.
"Bawa saja mama ke kamar nomor dua di depan kamar yang pintunya warna hitam, itu kamar mama" jawab Raditya
"Oke, Sahara masuk duluan ya... Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!" teriak Sahara dan tiba tiba saja lampu rumah Raditya padam semua.
Wush
Angin juga tiba tiba saja muncy dari dalam menuju keluar dan menabrak tubuh Sahara tapi Sahara bisa mengatasi itu
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh" jawab Raditya pelan.
"Mas, kamu larang dia dong harusnya, kan rumah ini tidak suka ada bacaan seperti itu di sebut di sini, Segera minta dia pergi setelah mengurus mama, sisanya biar aku yang urus!" kesal Eva
Raditya tidak menjawab, dia memilih untuk masuk dan melihat apa yang akan di lakukan oleh Sahara mumpung Eva masih sibuk bicara dengan Erwin, Raditya tidak mau kalau sampai Kanaya kenapa napa jika Kanaya kembali tinggal di rumah itu bersamanya, meskipun Raditya juga senang karena Kanaya tidak membencinya setelah apa yang dia lakukan dulu pada Riyanti.
"Bu misda istirahat ya, Sahara akan memeriksa obat Bu misda dulu di dapur" ucap Sahara pergi setelah membantu Hilda berbaring.
Ceklek.
Pintu kamar Hilda di tutup dan Sahara segera membawa Raditya ke dapur barunya untuk mencari bubuk hitam yang selalu di gunakan Eva untuk membuat minuman Raditya. Tapi meskipun sudah berkeliling bubuk itu tidak di temukan dan dapur itu hanya berisi bumbu dapur dan beberapa peralatan baru saja.
"Mungkin di kamar kamu tampan" ucap Sahara
"Ayo ke sana" jawab Raditya tapi ketika mereka melewati kamar Kanaya dan Shaquilla, Sahara merasakan energi gelap yang begitu kuat dan itu berasal dari dalam kamar Kanaya.
"Ada apa?" tanya Raditya
"Ada energi jahat di sini, wanginya mirip wangi pelet yang sering di tanan dan di tujukan untuk perempuan yang akan dia pelet sampai mati" jawab Sahara membuat Raditya khawatir.
"Itu pasti di tujukan untuk Kanaya, laki laki yang ada di depan itu adalah preman yang akan di tugaskan Eva untuk merayu Kanaya" ucap Raditya
"Begitu ya..."
Sahara masuk ke dalam kamar Kanaya, dan ketika di buka langsung tercium wangi kemenyan yang begitu kuat dan menusuk hidung Raditya juga Sahara.
"Ya Allah Sahara tidak suka kemenyan, Sahara sukanya rendang!" keluh Sahara masuk dan mencari asal energi gelap itu.
Lantai kamar Kanaya Sahara periksa satu persatu tapi dia tidak menemukan apapun di bawahnya, bahkan ranjang dan lemari Kanaya juga sudah di periksa Sahara dan di sana tidak ada apapun. Hingga suara derap langkah kaki membuat Raditya dan Sahara saling tatap dan sedetik kemudian Sahara langsung mendorong Raditya ke atas kasur dan menindihnya.
Brak.
"Apa yang kalian lakukan!" teriak Eva menendang pintu kamar Kanaya ketika dia melihat suaminya sedang di tindih Sahara yang karena menduduki Raditya pahanya jadi terekspos, apalagi dengan tangan Raditya yang bertengger di pinggang Sahara semakin membuat darah Eva mendidih.
"Minggir kamu perempuan murahan! Jangan goda suami saya!" bentak Eva
"Eva.. kamu jangan berpikiran macam-macam dulu, aku tadi mengecek kamar untuk Kanaya dan Sahara menanyakan teh untuk mama karena mama pusing, tapi pas berjalan kakinya terpeleset jadi Sahara jatuh" ucap Raditya bangkit begitupun dengan Sahara yang matanya masih memeriksa keberadaan pelet untuk Kanaya.
"Kamu tenang dulu" bujuk Raditya
"Tidak! Kamu juga diam saja mas dia goda! Kamu naksir dia ya! Apa tidak cukup kamu genit pada Kanaya dan Shaquilla!" kesal Eva
"Keluar kamu dari rumah saya! saya tidak butuh perawat untuk mama ataupun suami saya!" bentak Eva menarik tangan Sahara tapi Sahara menjatuhkan dirinya ketika dia menemukan titik pelet itu.
Sahara menyalurkan energinya tapi karena dia terus di tarik Eva, pelet itu tidak hancur sempurna, hanya sebagian saja yang di buang Sahara dan nanti dia akan meminta Sanca mengurus sisanya.
"Sahara butuh pekerjaan ini Bu untuk beli rendang" ucap Sahara
"Eva, kamu pasti nanti kelelahan mengurus rumah dan mama, biarkan Sahara di sini setidaknya sampai Kanaya dan Shaquilla kembali ke sini, untuk membantu kamu merawat mama" bujuk Raditya.
"Tidak! aku sudah terbiasa mengurus semuanya sendirian sejak lama jadi kamu jangan macam-macam mas! aku tidak akan membiarkan kamu menduakan aku !" jawab Eva tetap menarik tangan Sahara yang terlihat memelas.
Bruk.
"Pergi kamu dari sini!" bentak Eva mendorong Sahara hingga dia terjatuh, bahkan Eva langsung menutup pintu rumahnya dengan begitu keras.
Brak.
"Hiks... ibu Vajus ini jahat sekali pada Sahara, padahal Sahara sudah berbaik hati akan merawat suaminya di rumah" lirih Sahara berdiri dan mencuri pandang pada Erwin yang sekarang mendekat untuk membantu Sahara.
"Kamu tidak apa apa cantik? kenapa panggil Bu Eva Vajus?" tanya Erwin.
"Namnya menang Vajus, Eva judes karena sejak di rumah sakit marah marah terus, padahal Sahara tidak melakukan apapun" jawab Sahara mengusap bahu Erwin yang terlihat senang meskipun sebenarnya Sahara sedang menghancurkan pelet dari dalam tubuh Erwin.
Padahal dia biasa centil juga sama Dimas dll 😄
Gass Sahara godain aja tuh Raditya biar Eva keluar tanduknya 😄