Tiga dekade tersimpan rapi, rahasia kelam SMA Bhakti Mulia akhirnya meminta bayaran.
Tepat tengah malam, dentang lonceng kuno ke-13 bergema. Gerbang sekolah terkunci gaib, sinyal ponsel lenyap, dan enam murid—Revan, Anya, Bima, Sasha, Dika, dan Nisa—terjebak di dalam labirin maut berdarah.
Sebuah kotak hitam kuno terkuak, menyisakan enam simbol aneh yang persis dengan tanda lahir mereka, beserta pesan berdarah:
"Selesaikan Kurikulum Maut ini sebelum fajar, atau jadilah bagian dari dinding sekolah untuk selamanya!"
ATURAN BERTAHAN HIDUP:
1. Jangan pernah berpencar.
2. Selesaikan teka-teki sebelum jam pasir habis.
3. Jangan percayai apa yang kamu lihat, entitas bisa meniru wujud temanmu!
Mampukah mereka selamat dari dosa besar tahun 1996?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Z. F. Werr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangga Bawah Tanah dan Ruang Kepala Sekolah
BLEK!
Pintu besi kecil di balik rak buku itu berhasil Revan kunci rapat-rapat tepat saat cakar-cakar hitam berkeriput menembus kayu rak di belakang mereka. Suara erangan berat dan garukan kasar di permukaan besi bergema teredam, perlahan menjauh seiring mereka melangkah lebih dalam ke dalam lorong rahasia.
Suasana di lorong tangga ini teramat dingin dan lembap. Bau tanah basah berpadu dengan aroma karat tua menyengat hidung. Tangga batu yang sempit itu menukik curam ke bawah, dipenuhi lumut licin yang memaksa mereka berenam bergerak sangat berhati-hati.
"Semua aman?" bisik Revan seraya mengarahkan cahaya senter ponselnya ke bawah, menerangi setiap anak tangga yang rapuh.
"Masih bernapas, Van..." sahut Bima terengah-engah dari barisan paling belakang. Pipa besi di tangannya kini dipenuhi goresan dalam akibat menahan lemari tadi.
"Tapi kalau ada mahluk lain yang muncul di tangga sempit gini, kita beneran gak punya ruang buat manuver."
"Jangan mendahului takdir, Bima," potong Nisa seraya mendekap buku catatannya erat-erat di dada.
"Fokus lihat pijakan. Salah langkah sedikit aja, kita bisa menggelinding sampai dasar."
"Revan..." panggil Dika pelan dari tengah barisan. Matanya terus menatap punggung Revan dengan cemas.
"Peta rahasia yang lo ambil dari kotak besi tadi... merujuk ke mana jalur tangga ini?"
Revan merogoh saku jaketnya, menarik kertas kalkir tua berbau apak itu lalu membentangkannya sebentar di bawah sorotan lampu senter.
"Di peta ini, tangga darurat di balik Ruang 104 ini terhubung langsung ke dua tempat: laboratorium alkimia lama, atau Ruang Kepala Sekolah Era 1996."
"Ruang Kepala Sekolah?" Anya mengernyitkan dahi. "Kenapa aksesnya harus sembunyi-sembunyi di balik rak buku ruang arsip?"
"Karena dari dokumen yang kita baca tadi, Kepala Sekolah tahun 1996—R. Hartono—adalah dalang utama yang menandatangani kesepakatan Kurikulum Maut ini," jawab Revan dengan suara dingin.
"Semua perintah, daftar tumbal, dan kunci utama gedung pasti disimpan di sana."
Mereka terus melangkah menuruni puluhan anak tangga hingga akhirnya tapak sepatu mereka menyentuh lantai semen datar yang dilapisi karpet merah kusam yang sudah koyak di berbagai sisi.
Di ujung lorong bawah tanah tersebut, berdiri sebuah pintu ganda berukuran raksasa dari kayu mahoni ukir. Di atas ambang pintunya, terpasang sebuah lambang garuda kuno yang diapit oleh dua patung singa bertanduk dengan mata yang terbuat dari batu akik merah menyala.
"Ruang Kepala Sekolah..." gumam Dika bergidik saat cahaya senternya menyoroti tulisan plat kuningan di pintu: [ KANTOR UTAMA DEWAN PENGAWAS & KEPALA SEKOLAH ].
Sasha merapatkan tubuhnya ke lengan Nisa.
"Gue ngerasa ada yang mengawasi kita dari dalam patung singa itu... matanya kayak ikut gerak."
"Cuma pantulan cahaya senter, Sha," kata Revan berusaha menenangkan, meski dadanya sendiri berdesir aneh.
Revan melangkah mendekati pintu mahoni itu. Ia melihat dua lubang kunci yang sejajar di tengah gagang pintu besi. Lubang pertama berbentuk lingkaran biasa, sedangkan lubang kedua berbentuk Salib Unik—sama persis dengan bentuk Kunci Perak yang baru saja ia dapatkan dari kotak besi Ruang 104!
"Dua lubang kunci..." gumam Revan. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan dua kunci yang mereka kumpulkan sejauh ini: Kunci Kuningan [R. 104] dari Kamar Busuk Sains, dan Kunci Perak Salib dari Ruang 104.
"Coba putar berbarengan, Van," usul Nisa.
"Di teka-teki ruang pimpinan seperti ini, biasanya ada mekanisme kunci ganda."
Revan memasukkan kunci kuningan ke lubang atas, dan kunci perak ke lubang bawah. Ia menatap Bima.
"Bima, bantu gue pegang kunci yang atas. Begitu gue hitung sampai tiga, kita putar searah jarum jam bersamaan."
Bima maju memegang kunci kuningan. Keduanya menarik napas dalam-dalam.
"Satu... dua... tiga!"
KLIK! KLAK!
Suara roda gigi mekanis berat berputar di dalam dinding pintu. Dua batu akik merah di mata patung singa mendadak berkedip cepat memancarkan pendar cahaya merah pekat. Pintu mahoni ganda itu perlahan terdorong terbuka ke dalam dengan suara derit kayu tua yang nyaring.
Udara hangat beraroma minyak kayu cendana dan debu tua berhembus keluar dari dalam ruangan.
Begitu mereka melangkah masuk, cahaya senter mereka menyingkapkan sebuah ruangan yang teramat megah namun mengerikan. Ruang Kepala Sekolah itu berukuran hampir tiga kali lipat dari kelas biasa. Dinding-dindingnya dilapisi panel kayu jati gelap, dipenuhi foto-foto hitam-putih jajaran guru dan pengurus sekolah era 1990-an yang dibingkai figura emas.
Namun, di tengah ruangan, berdiri sebuah meja kerja raksasa dari kayu fosil. Di balik meja tersebut, sebuah kursi kulit tinggi membelakangi mereka, menghadap ke arah dinding kaca tebal yang menampilkan pemandangan koridor bawah tanah.
"Ada... ada orang di kursi itu?!" bisik Sasha histeris sambil menunjuk ke arah sandaran kursi kulit yang tinggi.
Bima langsung pasang badan di depan, mengangkat pipa besinya.
"Siapa di sana?! Jangan main-main ya!"
Keheningan melingkupi ruangan itu selama beberapa detik. Tidak ada jawaban.
Revan melangkah perlahan mengitari meja kerja tersebut dengan senter terarah lurus ke kursi kulit. Ketika ia sampai di sisi meja dan menyorotkan cahayanya ke arah kursi... napasnya mendadak tercekat.
Di atas kursi kulit itu, duduk sebuah kerangka manusia berseragam jas rapi era 90-an. Tangannya yang hanya tinggal tulang-belulang kering masih memegang sebuah pulpen emas tua di atas selembar kertas perkamen yang sudah bercak-bercak hitam.
"Itu... itu jasad R. Hartono?" tanya Dika dengan suara gemetar hebat.
"Bukan..." bisik Anya seraya mendekati meja. Matanya tertuju pada papan nama kuningan yang terletak di sudut meja jati tersebut. Papan nama itu bertuliskan: [ DRS. R. HARTONO - KEPALA SEKOLAH (1990-1996) ].
"Dia mati di sini... di kursinya sendiri," kata Nisa tercengang.
"Tapi kenapa jasadnya gak pernah dievakuasi? Kenapa sekolah menutup-nutupi kematian Kepala Sekolah mereka sendiri?"
Revan menunduk, menatap kertas perkamen yang berada tepat di bawah jemari kerangka R. Hartono. Kertas itu merupakan surat keputusan resmi bernomor registrasi khusus. Revan membaca kalimat pembukanya dengan nada penuh penekanan:
SURAT PERJANJIAN PELEPASAN JIWA - KURIKULUM 1996
"Bahwa saya, R. Hartono, menyetujui pengorbanan 18 jiwa murid untuk mengunci entitas di bawah pilar sekolah. Apabila dalam 30 tahun pilar ini runtuh, maka keturunan dari penandatangan wajib menyerahkan jantungnya untuk memperbarui segel."
Di bawah kalimat tersebut, terdapat sebuah pasfoto hitam-putih seorang anak laki-laki berusia 15 tahun yang ditempelkan di lembar lampiran.
Saat Revan menyorotkan senternya tepat ke wajah anak laki-laki di foto tahun 1996 itu, jantung Revan seolah berhenti berdetak.
Wajah anak laki-laki di foto itu... sama persis 100% dengan wajah Revan Raditya!
"Gak... gak mungkin..." bisik Revan, langkah kakinya mundur tidak terkontrol hingga menabrak sudut meja. Ponsel di tangannya hampir saja terjatuh.
"Revan... itu..." Anya menunjuk foto tua itu dengan tangan bergetar hebat.
"Itu... wajah lo, Van?!"
Seluruh anggota kelompok membeku. Suasana di Ruang Kepala Sekolah mendadak berubah sangat dingin dan menakutkan, ketika kerangka R. Hartono di kursi kulit itu perlahan... memutar kepalanya ke arah Revan!
KREK... KREK...