"Gue capek jadi badut. Mulai hari ini, lo bebas dari gue."
Selama tiga tahun di SMA Nusantara, semua orang tahu kalau Elsa Nur Cahyani adalah cegil (cewek gila) garis keras yang bucin mati-matian ke Muhammad Firdaus, Ketua OSIS sempurna yang sedingin es. Elsa rela dipermalukan, jadi seksi sibuk OSIS tanpa dibayar, sampai dihukum lari keliling lapangan demi cari perhatian Firdaus. Hasilnya? Nol besar. Firdaus tetap menganggap Elsa gangguan yang tidak punya harga diri.
Titik balik itu datang di hari ulang tahun Firdaus. Setelah kuenya dihancurkan dan cintanya ditolak mentah-mentah di depan satu sekolah, Elsa sadar: dia sudah selesai. Elsa memutuskan pensiun jadi budak cinta. Dia berubah total—menjadi cuek, fokus pada ujian, dan benar-benar menganggap Firdaus tidak ada.
Tapi anehnya, saat Elsa melangkah pergi, justru Firdaus yang mulai kehilangan arah. Cowok yang tadinya antipati itu mendadak sadar kalau dunia tanpa gangguan Elsa ternyata terasa sangat sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konfrontasi Yang Dirtertawakan 17.
Firdaus tidak tahu ke mana kakinya melangkah. Yang dia tahu, cemburu adalah racun yang paling cepat menjalar.
Rasa sesak dari depan pintu UKS tadi telah bermutasi menjadi kemarahan yang membakar. Matanya menatap lurus, mengabaikan sapaan beberapa adik kelas yang berpapasan dengannya di koridor utama.
Sebagai ketua OSIS, dia selalu punya kendali atas segalanya. Namun hari ini, kendali itu patah.
Langkah Firdaus mendadak berhenti di dekat loker koridor tengah.
Di sana, Aris sedang berjalan santai, bersiul kecil dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana abu-abunya yang sedikit longgar. Seragam cowok itu masih berantakan, persis seperti yang dilihat Firdaus di UKS tadi.
Melihat wajah tanpa beban itu, emosi Firdaus mencapai ubun-ubun.
"Aris."
Suara Firdaus terdengar berat dan dingin, menggema di koridor yang mulai sepi karena bel masuk menyisakan waktu lima menit lagi.
Aris menghentikan langkahnya. Dia menoleh, menaikkan satu alisnya saat mendapati sang Ketua OSIS teladan sedang berdiri menghalangi jalannya dengan tatapan seperti ingin menelan orang hidup-hidup.
Bukannya tegang, Aris malah menyeringai tipis.
"Yo, Pak Ketua. Ada apa nih? Muka lo tegang amat, kayak habis mergokin orang maling kas OSIS," sahut Aris santai, bersandar pada salah satu pintu loker besi.
Firdaus maju dua langkah. Jarak mereka kini hanya terpaut satu meter. Aura permusuhan langsung terasa pekat. Beberapa siswa yang lewat refleks mempercepat langkah, tidak berani terlibat dalam ketegangan dua cowok paling berpengaruh di angkatan mereka—yang satu penguasa nilai, yang satu penguasa jalanan.
"Gue cuma mau ngingetin lo," kata Firdaus, suaranya ditekan, penuh otoritas yang dipaksakan. "Sebagai ketua OSIS, tugas gue adalah menjaga ketertiban sekolah. Dan lo... gue minta jauhi Elsa."
Aris tidak langsung menjawab. Dia menatap Firdaus dari ujung rambut sampai ujung sepatu, lalu tertawa kecil seolah baru saja mendengar lelucon paling konyol tahun ini. "Hubungannya sama ketertiban sekolah apa, Bos? Emang sejak kapan ada aturan siswa dilarang temenan sama siswi?"
"Elsa itu siswi yang... bermasalah," potong Firdaus cepat. Kalimat itu terasa pahit di lidahnya sendiri, tapi egonya menolak untuk kalah. "Dia sering buat onar belakangan ini, nilainya turun, dan lo cuma bakal bikin dia makin terseret ke hal negatif. Lo berandal sekolah, Ris. Jangan bawa Elsa masuk ke lingkaran lo."
Hening sejenak.
Seringai di wajah Aris perlahan luntur, digantikan oleh tatapan mata yang mendadak tajam dan menusuk. Dia menegakkan tubuhnya, melepas sandaran dari loker, lalu melangkah maju hingga wajahnya sejajar dengan Firdaus.
Jarak yang begitu dekat membuat Firdaus bisa melihat kilat kemarahan di mata cokelat gelap milik Aris.
"Bermasalah?" Aris mengulang kata itu dengan nada mengejek yang kental. "Lo sebut cewek yang pelipisnya robek karena ngelindungi papan klip OSIS lo itu... bermasalah?"
Firdaus tersentak. Rahangnya mengeras.
"Lo tahu kenapa dia jadi 'bermasalah' kayak yang lo bilang?" Aris terkekeh, tapi tawanya terdengar hambar dan sinis. "Lucu banget ya, Daus. Lo pakai jabatan lo yang megah ini cuma buat nutupi fakta kalau lo itu sebenernya cemburu. Lo cemas karena sekarang bukan lo lagi yang ada di dekat dia."
"Jaga mulut lo, Aris! Ini murni masalah kedisiplinan—"
"Halah, telat kalau mau akting jadi pahlawan kesiangan!" Aris memotong dengan sentakan kasar. Dia menunjuk dada Firdaus dengan jari telunjuknya, tepat di atas pin OSIS yang tersemat rapi. "Gue tahu semuanya. Tentang gimana Elsa yang dulu, yang setiap pagi bela-belain bangun jam empat subuh cuma buat masakin lo bekal. Elsa yang rela masuk OSIS demi dekat dengan lo. Dan lo? Lo selalu abaikan dia. Lo anggap ketulusan dia itu cuma angin lalu yang ganggu ruang gerak lo."
Kata-kata Aris seperti palu godam yang menghantam ulu hati Firdaus. Permukaan ego Firdaus yang keras mulai retak.
"Lo nggak tahu apa-apa soal hubungan kami," desis Firdaus, giginya bergemeletuk. Tangannya di dalam saku celana sudah mengepal begitu erat hingga kukunya menembus kulit telapak tangan.
"Gue emang baru masuk ke kehidupan Elsa. Tapi gue punya mata buat melihat seberapa hancurnya dia karena malam terkutuk itu," balas Aris, suaranya merendah namun penuh penekanan yang mengintimidasi. "Di hari ulang tahun lo, lo ucapin kata-kata sadis yang bikin dia ngerasa jadi manusia paling gak berharga di dunia ini. Lo buang dia kayak sampah setelah semua yang dia kasih ke lo. Dan sekarang, pas dia udah mulai belajar napas tanpa lo, lo datang lagi bawa-bawa jabatan lo buat ngatur siapa yang boleh dekat sama dia?"
Aris mencondongkan tubuhnya, berbisik tepat di telinga Firdaus, "Lo itu egois, Daus. Lo gak mau memiliki dia, tapi lo juga gak sudi liat dia bahagia sama orang lain. Lo sakit jiwa."
Deg.
Darah Firdaus terasa berhenti mengalir. Wajahnya mendadak pias. Semua fakta yang diucapkan Aris adalah kebenaran telanjang yang selama ini coba dia kubur dalam-dalam.
Rasa bersalah, cemburu, dan gengsi bergejolak hebat di dalam dadanya, menciptakan rasa sesak yang membuatnya hampir tersedak.
Dia ingin melayangkan pukulan ke wajah Aris, tetapi tangannya lumpuh oleh kenyataan bahwa dirinya memang sebrengsek itu.
Aris mundur selangkah, lalu menepuk pundak Firdaus dengan kasar dua kali.
Senyum mengejeknya kembali terkembang, namun matanya tetap sedingin es.
"Saran gue sebagai sesama cowok, mending lo balik ke ruang OSIS lo yang adem itu. Urus proposal lo, urus absensi lo. Jangan urusi Elsa lagi," ujar Aris santai. "Karena mulai hari ini, kalau lo bikin dia nangis lagi walau cuma satu tetes air mata... gue gak peduli lo anak emas kepala sekolah atau bukan. Gue bakal bikin lo nyesel pernah lahir di dunia ini."
Tanpa menunggu jawaban dari Firdaus yang masih terpaku seperti patung, Aris berbalik. Dia berjalan menjauh dengan santai, melambaikan satu tangannya ke udara tanpa menoleh lagi.
Firdaus berdiri sendirian di koridor. Bel masuk berbunyi nyaring, memecah keheningan, namun dia tidak bergeming.
Dadanya kembang kempis menahan badai emosi yang berkecamuk.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Firdaus merasa jabatannya sebagai ketua OSIS tidak ada artinya sama sekali.
Di hadapan Aris, dia baru saja ditelanjangi sebagai seorang pecundang yang telah menyia-nyiakan permata berharga.
Dari kejauhan, di ujung koridor dekat UKS, Firdaus melihat pintu ruangan itu terbuka.
Elsa keluar dengan langkah agak perlahan, memegangi tas sekolahnya. Pandangan mereka sempat bertemu selama dua detik dari kejauhan.
Tidak ada senyum. Tidak ada lambaian tangan. Elsa hanya menatapnya datar, seolah Firdaus hanyalah bagian dari dinding sekolah yang tidak bernyawa, sebelum akhirnya gadis itu berbelok menuju kelasnya.
Firdaus memejamkan mata rapat-rapat. Rasa sakit yang teramat pekat kembali menghantam ulu hatinya, menjalar ke seluruh tubuh, meninggalkan rasa hampa yang semakin membakar.
......................
...****************...
Tbc,