🔥CRAZY UP🔥
Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.
Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Sabtu, 8 November, ruang kecil di lantai tiga puluh tidak dipakai untuk rapat dewan. Mejanya hanya muat empat orang kalau map tidak dibuka bersamaan. Yusuf sudah datang lebih dulu. Layar di dinding menyala pada slide kosong. Judulnya satu baris: Latihan jawaban. Tidak ada logo. Tidak ada tanggal yang bisa difoto dari koridor kaca.
Dimas duduk di sudut, bukan di meja. Kursi itu biasanya untuk orang yang mencatat risalah, dan hari ini ia memang mencatat. Pena di atas buku. Laptop tertutup. Ia sudah bilang kepada Yusuf bahwa ia di sini sebagai saksi batas, bukan juru bicara. Yusuf menerima itu tanpa komentar. Lebih sedikit mulut, lebih sedikit kalimat yang nanti harus ditarik.
Alina masuk dengan badge konsultan masih di tali, lalu melepaskannya dan memasukkannya ke saku. Latihan ini bukan tentang kartu. Adrian datang dua menit kemudian. Kemeja putih, jam tali kulit, tanpa jas. Ia melihat susunan kursi dan duduk di sisi yang tidak menghadap pintu, supaya orang yang lewat kaca hanya melihat punggung.
“Jamnya satu jam,” kata Yusuf. “Bukan karena saya ingin kalian lancar. Jawaban yang dilatih terlalu lama biasanya jadi pidato, dan pidato di depan wartawan adalah cara paling rapi untuk mengatakan hal yang belum disepakati.”
Ia menekan remote. Slide pertama hanya bertuliskan hubungan.
“Pertanyaan hipotetis. Off the record, tetapi anggap saja rekaman tetap menyala di kepala kalian. Seseorang dengan gaya Gita Ramadhani bertanya: apa hubungan Direktur Utama dengan konsultan yang sekarang sering terlihat di lantai yang sama?”
AC di ruang itu terlalu dingin untuk ukurannya. Alina meletakkan tangan di atas meja, telapak ke bawah.
“Kalau saya yang ditanya, saya tidak memakai kata pacar,” katanya. “Kalimat yang sudah ada. Hubungan pribadi, tidak relevan dengan transaksi. Lalu berhenti.”
“Berhenti itu bagian dari jawaban,” kata Yusuf. “Orang yang menambah biasanya menambah lubang.”
Adrian mengangguk. “Saya yang mengatakannya kalau pertanyaannya ditujukan ke saya. Alina tidak perlu mengulang dengan kata lain. Dua versi akan dibaca sebagai dua cerita.”
“Dan kalau mereka bertanya sejak kapan?”
Adrian tidak menoleh untuk minta izin. Aturan itu sudah tertulis di kertas yang tidak ikut dibawa ke ruangan ini. “Tidak ada tanggal yang kami umumkan. Kalau dipaksa, jawabannya tetap tidak relevan dengan transaksi. Tanggal pribadi bukan lampiran akuisisi.”
Yusuf mencatat di pinggir kertasnya, bukan di slide. “Bagus. Jangan diulang dengan kata yang lebih halus. Halus di jawaban ini biasanya berarti menghindar, dan menghindar dibaca sebagai ada yang ditutup.”
Ia menekan remote ke slide yang hanya bertuliskan setelah penutupan. “Pertanyaan tambahan, masih terkendali. Apakah konsultan eksternal ini akan tetap mendampingi setelah closing?”
Adrian membuka mulut, lalu menutupnya setengah detik karena jawaban yang hampir keluar berbunyi seperti janji. “Itu di luar latihan hari ini. Pendampingan mengikuti perjanjian yang ada. Tidak ada perpanjangan yang saya umumkan di sini.”
Alina mengangguk. “Kontrak saya terbatas. Kalau ditanya lebih dari itu, jawabannya belum ada keterangan. Jangan diisi.”
Dimas di sudut menulis kedua kalimat itu tanpa berhenti. Pena masih biasa. Ruangan masih kaku dengan cara yang bisa dipegang: tidak ada yang tersenyum, tidak ada yang memperbaiki dasi orang lain, tidak ada yang menambahkan kata yang belum disepakati. Yusuf terlihat puas hanya sejauh tidak ada risiko baru.
“Cukup untuk bagian aman,” katanya. “Sekarang yang lebih mudah membuat kalian tergelincir.”
Slide berganti. Bukan pertanyaan tentang perasaan. Judulnya pendek: vendor historis.
“Ini yang mungkin muncul kalau orang menghubungkan konsultan dengan arsip lama,” kata Yusuf. “Bukan karena saya tahu ada yang akan bertanya besok. Sekali nama perusahaan masuk ke mulut wartawan, nama vendor lama sering ikut menumpang. Saya ingin jawaban kalian tidak menciptakan vendor baru di depan mikrofon.”
Di slide ada daftar contoh. Sebagian netral: bengkel, sewa gudang, depo. Di baris keempat hurufnya sama rapinya dengan yang lain, tetapi Alina berhenti membacanya seperti berhenti di lantai yang sudah dikenal: PT Lazuardi Mitra Logistik.
Yusuf tidak memberi tekanan pada baris itu. Baginya itu contoh, satu di antara beberapa, dipilih karena sudah muncul di draf yang dibahas di ruang baca. “Kalau ditanya apakah akuisisi tersangkut vendor lama yang belum bersih, jawaban resminya: ada item dalam peninjauan internal. Tidak ada nama yang saya ingin kalian sebut hanya untuk mengisi keheningan.”
“Dalam peninjauan internal,” kata Adrian. “Titik.”
Alina mengangguk sekali. Ia tidak menambahkan pola tanggal. Selisih dua hari setelah rapat bukan kalimat untuk latihan media. Yusuf tidak memegang catatan Kamis, dan Alina tidak berniat memberinya hari ini.
Di sudut, pena Dimas berhenti.
Bukan karena halaman habis. Buku masih punya ruang. Jarinya tetap memegang pena, tetapi ujung pena tidak menyentuh kertas. Matanya ada di slide, di baris keempat, lebih lama dari waktu yang dibutuhkan untuk menyalin satu nama. Biasanya ia menulis sambil mendengar. Kali ini mendengar kalah dari satu baris.
Adrian melihatnya karena ia memperhatikan ruangan, bukan karena ia sedang mencari kesalahan. “Dimas?”
Dimas menurunkan pena. Gerakannya cepat, seperti orang yang baru ingat ia duduk bersama orang lain. “Tidak ada. Saya hanya memastikan tanggal.”
“Tanggal yang mana?”
“Tanggal latihan. Supaya catatan tidak tercampur dengan risalah Rabu.” Dimas sudah menulis tanggal di kepala halaman sejak mereka masuk. Alina bisa melihat angkanya dari tempat duduk: 8 November. Tidak ada yang perlu dipastikan lagi.
Yusuf, yang membaca jeda itu sebagai akhir pekan dan bukan sebagai apa pun yang lain, menekan remote. “Lanjut. Jangan beri nama. Jangan bilang bersih. Jangan bilang kotor. Dalam peninjauan. Kalau mereka meminta contoh, kalian tidak punya contoh untuk umum.”
Mereka mengulang sekali. Adrian mengucapkan kalimat yang sama tanpa variasi. Ketika Yusuf mengarahkan pertanyaan kepada Alina, ia menjawab dengan batas. “Saya konsultan. Temuan saya masuk ke jalur yang sudah diatur kontrak. Saya tidak mengomentari vendor di luar ruangan ini.”
Suaranya rata. Di kepalanya, jeda Dimas belum rata.
Latihan selesai sebelum jam yang Yusuf sebut habis. Tidak ada jawaban baru yang perlu dipaksa. Yusuf mematikan layar.
“Cukup. Jangan kirim ringkasan latihan ke grup. Kalau ada yang bertanya, bilang ini persiapan biasa menjelang gala dan pertanyaan pasar. Tidak perlu daftar nama.”
“Tidak ada daftar,” kata Adrian.
Yusuf keluar lebih dulu. Map di bawah lengan. Langkahnya seperti orang yang sudah memindahkan risiko ke dalam kalimat, dan karena itu boleh pulang. Pintu menutup pelan.
Dimas berdiri dan menutup buku. “Saya turunkan ini ke lantai saya. Tidak perlu dibahas lagi kalau kalimatnya sudah sama.”
“Sebentar,” kata Alina.
Adrian sudah di ambang. Ia menoleh. Alina menggeleng kecil, bukan untuk memanggilnya kembali. “Bukan untuk sekarang.”
Adrian menerima batas itu tanpa menanyakan isinya di depan pintu yang masih setengah terbuka. “Senin, ruang baca. Jangan bawa latihan ini ke nomor orang lain.”
Ia pergi. Koridor lantai tiga puluh sepi untuk hari Sabtu. Setengah lampu dimatikan. Dimas tidak langsung ke lift. Alina berjalan di sampingnya hanya sampai belokan yang tidak terlihat dari pintu kaca ruang latihan.
“Nama itu membuat Anda berhenti,” kata Alina pelan. “Kenapa?”
Dimas menggeleng. “Saya hanya lelah. Jangan baca berlebihan.”
“Anda tidak lelah waktu menulis dua kalimat tadi. Pena Anda berhenti tepat di baris Lazuardi.”
“Baris itu kecil. Layarnya besar. Mata saya ikut. Itu bukan pengakuan.”
“Saya tidak minta pengakuan. Saya minta Anda tidak mengatakan lelah kalau yang terjadi bukan lelah.”
Dimas menatap ujung koridor, bukan wajah Alina. Suaranya tetap rendah. “Akhir pekan. Slide. Nama yang sudah kita lihat berkali-kali. Kalau setiap jeda jadi kesimpulan, kita tidak selesai sampai Senin. Saya lelah. Titik yang sama dengan jawaban media. Jangan diisi.”
Alina mengenali cara itu. Meminjam kalimat Yusuf untuk menutup pertanyaan. Ia tidak tersenyum karenanya.
“Baik,” katanya. “Saya tidak isi. Saya juga tidak hapus.”
Dimas mengangguk, lega yang tidak sampai ke bahunya. “Kalau Anda menyampaikan ke Pak Adrian bahwa saya berhenti di satu nama, sampaikan juga bahwa saya bilang tidak ada. Jangan hanya jedanya.”
“Saya belum menyampaikan apa pun.”
Itu benar. Dimas mendengarnya sebagai penundaan, bukan sebagai hadiah. Ia menekan tombol lift. “Senin saya di tempat. Latihan ini tidak perlu diulang kalau tidak ada pertanyaan baru.”
Lift terbuka. Dimas masuk dengan buku catatan di dada, seperti barang yang tidak boleh tertinggal di ruang yang layarnya sudah mati. Alina tidak ikut. Pintu menutup.
Ia tetap berdiri sampai angka di dinding turun. Ponsel tidak ia buka. Tidak ada pesan untuk Adrian, dan tidak ada pesan untuk Dimas yang akan membuat jeda itu menjadi barang tertulis di server orang lain. Di kepalanya catatannya tetap, karena kepala tidak masuk log akses.
Dimas gentar pada nama Lazuardi. Bukan kaget karena hurufnya asing. Mereka sudah berminggu-minggu mengucapkan nama itu di ruang baca. Yusuf hanya menaruhnya sebagai contoh, dan Dimas berhenti seperti orang yang mendengar ketukan di pintu yang ia kenal. Bukan takut biasa pada pertanyaan wartawan. Sesuatu yang lebih spesifik.
Alina belum tahu apa. Menuduh hari ini hanya akan membuat pintu itu dikunci dari dalam, sama seperti pola tanggal yang bisa hilang kalau dibawa terlalu cepat ke meja yang salah. Ia memilih menyimpan jeda itu di tempat yang sama dengan catatan Kamis: belum dibuka bersama, belum dibuang.
Tangga lebih sepi daripada lift. Ia turun dua lantai, mengambil jaket di ruang baca yang kosong, dan tidak membuka folder. Sabtu tidak butuh baris baru. Butuh agar baris yang sudah ada tidak berubah hanya karena seseorang bilang ia lelah.