“Laki-laki kok nganggur di rumah! Makan di belakang saja. Jangan duduk semeja sama tamu.” Selama tiga tahun, Arkana Pramudya—Arkan—dianggap pengangguran dan beban oleh keluarga istrinya, Laras Wijaya. Pada hari jadi pernikahan mereka, Laras menjatuhkan talak karena malu memiliki suami yang dianggap miskin. Ia tak tahu Arkan adalah pewaris tunggal Grup Pramudya sekaligus pemegang saham pengendali PT Nusa Karya, tempatnya bekerja. Setelah perceraian resmi, Arkan mengambil tanggung jawab sebagai CEO. Namun, kebangkitan Arkan bukan sekadar pamer kekayaan: pelanggaran anggaran harus dibuktikan, konflik warisan mengancam perusahaan, dan Reno—orang yang memanfaatkan ambisi Laras—kembali membawa fitnah. Saat penyesalan datang terlambat dan Laras meminta kesempatan kedua, Arkan harus memilih hidup yang dibangun atas rasa hormat, bukan rasa bersalah. Bersama Nadine Prasetya, teman lama sekaligus CEO yang setara dengannya, Arkan belajar bahwa memaafkan tak berarti harus kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BayouDarda Novelis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 - Telepon Pak Surya
Kardus terakhir masih berdiri di dekat pintu kamar ketika aku kembali dari ruang cuci.
Tidak banyak barang yang kubawa ke sana. Beberapa kemeja, celana kerja, perlengkapan mandi, dan sebuah tas berisi dokumen pribadi. Sisanya masih tertinggal di kamar yang selama ini kutempati bersama Laras. Aku tidak berniat mengambil semuanya malam ini. Ada hal-hal yang bisa menunggu, termasuk kenangan yang tidak lagi tahu harus diletakkan di mana.
Aku menarik kursi ke dekat meja kecil, lalu duduk.
Rumah itu kembali tenang. Dari lantai atas terdengar suara pintu ditutup. Langkah kaki Laras menjauh, kemudian hilang. Aku tidak mencoba menebak apa yang sedang dipikirkannya. Sepuluh hari yang diberikan untuk menyelesaikan urusan perceraian semakin dekat pada akhirnya. Kalau Laras sudah mengambil keputusan, aku tidak punya alasan untuk memaksanya tinggal.
Ponselku tergeletak di samping tas.
Ada beberapa pesan yang belum kubuka. Sebagian dari nomor yang kukenal, sebagian lagi berasal dari grup kerja yang sejak sore terus mengirimkan pembaruan. Aku membaca satu per satu tanpa buru-buru membalas. Tidak ada keadaan darurat yang membutuhkan keputusan spontan.
Lalu sebuah nama muncul di layar.
Pak Surya.
Aku langsung mengangkat panggilan itu.
“Selamat malam, Pak,” sapaku.
“Selamat malam, Pak Arkan. Maaf mengganggu di jam seperti ini.”
“Tidak apa-apa. Ada perkembangan?”
Di seberang sana terdengar suara kertas digeser. Pak Surya bukan orang yang suka membuang waktu dengan basa-basi, terutama jika ia menelepon menggunakan nomor pribadinya.
“Ada dua hal yang perlu saya sampaikan. Pertama, rapat yang dijadwalkan besok pagi tetap berjalan. Kedua, ada permintaan agar sejumlah keputusan strategis dibawa kembali ke pembahasan dewan.”
Aku menyandarkan punggung pada kursi.
“Keputusan yang mana?”
“Rencana pengembangan unit usaha, penyesuaian anggaran, dan beberapa hal yang berkaitan dengan kewenangan manajemen. Belum ada keputusan yang berubah. Mereka baru meminta agar pembahasannya dipercepat.”
“Siapa yang mengajukan?”
“Hendra termasuk pihak yang mendorongnya.”
Aku menatap kardus di dekat pintu. Namaku tercetak pada secarik kertas yang ditempel di sisinya. Tulisan tangan Laras. Singkat, rapi, tanpa penjelasan tambahan.
Dulu, aku mungkin akan sibuk memikirkan mengapa barang-barangku diperlakukan seperti sesuatu yang harus segera disingkirkan. Malam ini, pikiranku justru tertuju pada rapat yang menunggu di kantor.
Hendra tidak pernah bergerak tanpa alasan. Namun, alasan belum tentu berarti pelanggaran. Aku tidak akan menjatuhkan penilaian hanya karena namanya disebut dalam laporan.
“Apakah permintaan itu sudah disertai dokumen pendukung?” tanyaku.
“Sebagian. Ada catatan tentang efisiensi dan evaluasi kewenangan. Tetapi beberapa angka masih harus dicocokkan dengan laporan terakhir.”
“Kalau begitu, jangan sahkan apa pun sebelum pemeriksaan selesai.”
“Memang itu yang sedang kami lakukan. Saya ingin memastikan sikap Bapak sebelum rapat dimulai.”
Aku mengusap sisi ponsel dengan ibu jari.
“Perusahaan harus tetap berjalan sesuai mandat yang sudah disetujui. Jangan menghentikan pekerjaan yang sah hanya karena ada permintaan baru. Untuk keputusan yang membutuhkan persetujuan dewan, ikuti jalur yang berlaku. Saya tidak mau ada yang melompati prosedur, termasuk orang yang merasa sedang membela kepentingan saya.”
“Baik, Pak.”
“Pastikan setiap perubahan punya dasar tertulis. Periksa angka, kewenangan, dan dokumen hukumnya. Kalau ada bagian yang belum jelas, kembalikan untuk diperbaiki. Jangan menutup kekurangan dengan asumsi.”
Pak Surya terdiam sesaat.
“Saya mengerti. Ada beberapa pihak yang berharap Bapak memberi arahan lebih tegas.”
“Arahan saya sudah jelas.”
“Sebagian dari mereka mungkin menganggap Bapak sedang mengambil jarak.”
“Biarkan mereka menilai.”
Aku tidak perlu menjelaskan bahwa urusan rumah tanggaku sedang berada di ujung. Aku juga tidak ingin menjadikan keadaan pribadi sebagai alasan bagi siapa pun untuk mengubah tata kelola perusahaan. Posisi yang kupegang bukan hadiah yang bisa kutinggalkan sesuka hati ketika keadaan menjadi tidak nyaman.
Ada tanggung jawab yang tidak boleh ikut berantakan hanya karena kehidupan pribadiku gagal dipertahankan.
Pak Surya kembali berbicara. “Saya akan menyampaikan instruksi Bapak kepada tim terkait. Namun, untuk beberapa keputusan yang bersifat strategis, persetujuan pemegang kendali tetap diperlukan sesuai ketentuan.”
“Saya tahu. Siapkan semua bahan yang dibutuhkan. Saya akan memeriksa bagian yang menjadi kewenangan saya setelah dokumennya lengkap.”
“Baik.”
Aku hampir mengakhiri panggilan ketika Pak Surya menambahkan, “Bagaimana keadaan Bapak sendiri?”
Pertanyaan itu membuatku diam beberapa detik.
Pak Surya sudah bekerja bersamaku cukup lama. Ia mengenal caraku menghadapi persoalan. Ia tahu kapan harus mendesak dan kapan sebaiknya membiarkan satu pertanyaan menggantung. Tidak banyak orang di perusahaan yang mengetahui keadaan sebenarnya di rumahku, tetapi ia tidak pernah memanfaatkan kedekatan profesional kami untuk mencampuri urusan pribadi.
“Masih bisa ditangani,” jawabku.
“Saya harap Bapak tidak memaksakan diri.”
“Ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Itu saja.”
“Kalau begitu, saya tidak akan menahan Bapak lebih lama. Saya akan mengirimkan berkas rapat malam ini.”
“Terima kasih, Pak Surya.”
Panggilan berakhir.
Aku meletakkan ponsel di meja, lalu memandang layar yang kembali gelap. Pak Surya tahu aku tidak membutuhkan kata-kata penyemangat untuk menjalankan tanggung jawab.
Aku membuka laptop.
Koneksi tersambung setelah beberapa detik. Kotak masuk perusahaan menampilkan sejumlah pesan baru, termasuk pembaruan dari tim yang menangani pemeriksaan internal PT Nusa Karya. Aku membuka dokumen yang relevan, membaca ringkasan, lalu memeriksa lampiran satu per satu.
Angka-angka itu tidak berbicara tentang perasaan. Mereka hanya menunjukkan apa yang tercatat, apa yang belum cocok, dan bagian mana yang masih membutuhkan bukti.
Di salah satu berkas, ada perbedaan antara angka dalam laporan awal dan data yang tercantum pada dokumen pendukung. Selisihnya tidak cukup untuk menyimpulkan adanya penyimpangan, tetapi juga tidak layak diabaikan. Aku menandai bagian itu untuk diperiksa kembali oleh tim yang berwenang.
Aku tidak akan menyebut seseorang bersalah hanya karena sebuah angka terlihat janggal. Namun, aku juga tidak akan membiarkan kejanggalan menghilang hanya karena orang yang terlibat memiliki jabatan penting.
Pemeriksaan harus berjalan dengan cara yang sama untuk semua orang.
Aku teringat pesan yang pernah dikirim Reno. Kalimatnya singkat, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa ada rencana penggunaan dana kantor yang perlu ditelusuri. Aku tidak membuka akun pribadinya, tidak mencoba menebak kata sandinya, dan tidak mencari jalan pintas untuk memperoleh informasi yang bukan hakku.
Apa yang tersedia melalui jalur resmi sudah cukup untuk memulai pemeriksaan. Jika ada bukti tambahan yang dibutuhkan, tim harus mendapatkannya sesuai prosedur.
Ponselku bergetar.
Pesan dari Pak Surya masuk, disertai beberapa dokumen rapat dan catatan singkat mengenai agenda yang akan dibahas besok. Aku mengunduh semuanya, kemudian membuka daftar keputusan yang membutuhkan persetujuan.
Beberapa hal bisa diproses oleh manajemen. Beberapa lainnya harus menunggu pemeriksaan lebih lanjut. Tidak ada alasan untuk mencampuradukkan keduanya.
Aku menuliskan catatan singkat pada dokumen yang memerlukan klarifikasi, lalu mengirimkannya kembali kepada Pak Surya.
Jangan mengubah keputusan yang sudah sah tanpa dasar yang dapat diverifikasi. Lengkapi dokumen yang masih kurang. Bawa setiap usulan ke forum yang sesuai.
Tiga instruksi. Tidak lebih.
Aku menutup laptop sebentar dan berdiri untuk mengambil air minum. Gelas di meja masih menyisakan setengah isinya. Aku menghabiskannya, membilas gelas, lalu kembali duduk.
Di luar, suara kendaraan sesekali terdengar dari jalan depan rumah. Lampu ruang cuci menyala pucat. Tempat itu tidak nyaman untuk bekerja, tetapi aku tidak membutuhkan ruangan besar untuk membaca laporan.
Yang kubutuhkan hanya waktu, dokumen yang benar, dan kepala yang cukup jernih untuk mengambil keputusan.
Aku kembali memeriksa pesan-pesan yang masuk. Salah satunya berasal dari bagian administrasi, berisi permintaan konfirmasi atas sejumlah agenda. Aku membalas seperlunya dan meminta mereka tetap menggunakan jalur komunikasi resmi.
Aku tidak ingin keadaan pribadiku menjadi bahan pembicaraan di kantor. Lebih penting lagi, aku tidak ingin siapa pun mengira bahwa keputusan perusahaan bisa berubah hanya karena aku sedang menghadapi masalah rumah tangga.
Menjelang tengah malam, pekerjaan yang bisa kuselesaikan malam itu mulai berkurang. Aku menyimpan berkas, memastikan catatan terkirim, kemudian mematikan layar laptop.
Untuk beberapa saat, aku hanya duduk dengan kedua tangan di atas meja.
Ada bagian dari diriku yang ingin segera meninggalkan rumah ini. Bukan karena takut menghadapi Laras, melainkan karena terlalu banyak hal di dalamnya yang telah berubah menjadi pengingat tentang posisi yang diberikan kepadaku oleh orang lain. Suami yang harus tahu diri. Menantu yang dianggap tidak membawa apa-apa. Laki-laki yang keberadaannya ditoleransi selama tidak mengganggu kenyamanan mereka.
Namun, aku tidak akan pergi hanya untuk membuktikan bahwa aku bisa hidup tanpa mereka.
Keputusan itu harus kuambil dengan kepala dingin, bukan sebagai jawaban terhadap penghinaan terakhir.
Aku menatap kardus di dekat pintu sekali lagi. Di dalamnya ada barang-barang sederhana yang selama ini kupakai setiap hari. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada pula yang perlu kupamerkan untuk membuktikan nilai diriku.
Aku pernah mengira bahwa mempertahankan rumah tangga berarti terus memberi waktu, kesempatan, dan pengertian. Aku mencoba memahami ketakutan Laras, membiarkan ucapan Ibu Retno berlalu, dan menahan diri setiap kali harga diriku diperlakukan seperti sesuatu yang tidak penting.
Tetapi kesabaran tidak seharusnya menghapus batas.
Aku bisa menerima bahwa pernikahan ini tidak lagi dapat diselamatkan. Aku bisa menyelesaikan perceraian tanpa menuntut balas atas setiap penghinaan yang pernah kuterima. Namun, aku tidak harus membiarkan orang lain menentukan seberapa jauh aku boleh dihormati.
Ponselku kembali menyala. Bukan panggilan, melainkan pemberitahuan bahwa Pak Surya telah menerima catatan yang kukirim.
Aku membalas dengan satu kalimat: Pastikan semuanya mengikuti prosedur.
Setelah itu, aku meletakkan ponsel dan merapikan berkas-berkas di meja. Besok pagi, rapat akan berlangsung. Ada keputusan yang harus dibahas, ada laporan yang harus diverifikasi, dan ada pihak-pihak yang mungkin mencoba menarik perusahaan ke arah yang menguntungkan kepentingan mereka sendiri.
Aku akan menghadapi semuanya berdasarkan bukti.
Bukan berdasarkan kemarahan kepada Laras. Bukan karena ingin mempermalukan Hendra. Dan bukan pula untuk menunjukkan kepada siapa pun bahwa laki-laki yang mereka anggap tidak berguna ternyata memiliki kuasa.
Kalau aku menggunakan jabatan untuk membalas penghinaan, aku tidak lebih baik daripada orang yang memanfaatkan kedudukannya demi kepentingan pribadi.
Aku mematikan lampu meja, lalu berbaring dengan pakaian yang masih kukenakan. Kasur kecil di ruang cuci terasa keras. Bau deterjen tertinggal di udara, bercampur aroma kain yang belum sepenuhnya kering.
Aku memejamkan mata, tetapi pikiranku belum berhenti bekerja.
Rapat besok hanyalah satu urusan. Proses perceraian masih menunggu penyelesaian. Dokumen kepemilikan rumah harus disimpan dengan baik, dan barang-barangku harus dipindahkan tanpa menimbulkan pertengkaran yang tidak perlu.
Aku tidak tahu apakah Laras akan berubah pikiran. Namun, aku tidak lagi menjadikan kemungkinan itu sebagai dasar untuk menentukan langkahku.
Jika ia tetap ingin berpisah, aku akan menghormati keputusannya.
Jika keluarganya kembali meremehkanku, aku tidak perlu menjawab dengan membuka seluruh identitasku.
Dan jika Hendra benar-benar sedang mengumpulkan dukungan untuk mengubah arah perusahaan, ia akan menghadapi proses yang sama seperti siapa pun yang mengajukan keputusan strategis.
Tidak ada jalan pintas. Tidak ada pengecualian.
Aku menarik selimut tipis hingga ke dada. Besok, aku akan kembali bekerja. Aku akan membaca dokumen yang dikirimkan, meminta penjelasan atas angka yang belum cocok, dan memastikan setiap keputusan memiliki dasar yang jelas.
Untuk malam ini, itu sudah cukup.
Aku tidak perlu memenangkan pertengkaran di rumah untuk menjalankan tanggung jawabku. Aku juga tidak perlu mengorbankan tanggung jawab itu hanya karena rumah tanggaku berada di ambang akhir.
Namun, sebelum akhirnya tertidur, satu hal dari percakapan tadi kembali terlintas.
Hendra mendorong pembahasan mengenai kewenangan dewan. Pak Surya mengatakannya dengan hati-hati, seolah belum ingin menarik kesimpulan. Aku pun belum memiliki cukup bukti untuk menuduhnya merencanakan sesuatu.
Tetapi waktunya bukan kebetulan yang boleh kuabaikan.
Aku membuka mata, meraih ponsel, lalu membaca kembali pesan Pak Surya. Tidak ada informasi tambahan di sana. Hanya agenda rapat dan daftar dokumen yang harus diperiksa.
Aku meletakkannya kembali.
Besok, aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Bukan dengan kecurigaan semata, melainkan dengan memastikan siapa yang mengajukan perubahan, apa dasar usulannya, dan siapa yang akan diuntungkan jika perubahan itu disetujui.
Aku tidak akan bergerak lebih jauh daripada yang dibenarkan bukti.
Di rumah ini, aku telah terlalu lama membiarkan orang lain menentukan batas kesabaranku. Di perusahaan, aku tidak akan melakukan kesalahan serupa dengan membiarkan dugaan menggantikan fakta.
Aku memejamkan mata lagi.
Pagi belum datang, tetapi keputusan pertamaku sudah jelas: pekerjaan akan berjalan sesuai mandat, proses perceraian akan kuselesaikan tanpa menjadikan dendam sebagai tujuan, dan tidak seorang pun akan mendapat perlakuan istimewa hanya karena memiliki nama besar.
Aku belum tahu sejauh apa Hendra akan melangkah.
Namun, kali ini aku tidak akan membiarkan diamku disalahartikan sebagai ketidakpedulian.