Bagi Ayara, hidup hanya tentang bekerja tanpa pernah mengenal cinta. Namun, saat ia mendaki gunung bersama teman-temannya semuanya berubah. Sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang pria di jalur pendakian menjadi awal baru baginya untuk mengenal rasa jatuh cinta.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Ayara? Siapa pria yang ditemui Ayara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beneran?
Mobil sedan hitam mewah milik Althaf melaju pelan menyusuri jalanan aspal yang mulai menyempit, lampu depan mobil memantulkan cahaya terang dan membelah kegelapan gang padat penduduk yang dipenuhi rumah-rumah sederhana.
Begitu kendaraan beroda empat itu memasuki kawasan tempat tinggal Ayara, suasana malam yang biasanya tenang mendadak berubah riuh. Beberapa warga yang masih duduk-duduk di teras rumah atau berkumpul di pos ronda mendadak menghentikan obrolan mereka. Sontak, kepala-kepala menoleh serentak ke arah jalan.
Mata mereka membelalak lebar, menatap takjub pada mobil mewah berkilau yang perlahan merayap melewati jalanan kampung yang hanya selebar beberapa meter. Pemandangan itu sangat kontras dengan lingkungan sekitar yang didominasi oleh rumah-rumah berdinding setengah bata dan halaman sempit.
Ayara yang duduk di kursi penumpang depan, merasakan jantungnya berdegup kencang bak hendak melompat keluar dari rongga dadanya. Wajahnya seketika merona merah padam karena menahan rasa malu dan canggung yang luar biasa, jemarinya saling meremas erat di atas pangkuan.
"Mas Althaf... saya kan sudah bilang, berhenti di gang depan saja," ucap Ayara pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin mobil yang halus. Ia menunduk dalam-dalam, enggan melihat keluar jendela di mana para tetangga mulai berbisik-bisik dan menunjuk ke arah mobil.
Althaf tidak langsung menjawab. Pria itu tetap fokus memegang kemudi dengan sebelah tangan, ia melirik sekilas ke arah Ayara dan menangkap raut ketakutan bercampur malu di wajah wanita itu, lalu tersenyum tipis.
"Kenapa? malu? Saya hanya mengantar kamu pulang dengan selamat sampai di depan rumah," ucap Althaf lembut, suaranya yang tenang seolah meredakan sebagian kepanikan di dada Ayara.
"Bukannya malu, Mas... Tapi warga di sini pasti akan heran dan bertanya-tanya. Nanti jadi bahan gosip," jawab Ayara lirih, menggigit bibir bawahnya gelisah.
"Biarkan saja mereka bicara, saya hanya mengantar kamu," balas Althaf tanpa beban.
Mobil itu akhirnya berhenti tepat di depan halaman rumah kecil Ayara yang berukuran lima kali enam meter. Di depan rumah, Ibu Yati yang baru saja selesai membereskan cucian tampak terkejut mendengar suara mesin mobil berhenti di depan pagar seng mereka. Wanita paruh baya itu lantas menyingkap gorden pintu, sementara Arlan yang baru pulang dari bengkel pun keluar dari teras dengan alis bertaut bingung.
Suasana di sekitar mendadak sunyi sesaat, dikelilingi beberapa tetangga yang sengaja berdiri di dekat pagar untuk melihat siapa tamu penting yang datang malam-malam begini.
Ayara menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberaniannya sebelum membuka pintu mobil. Begitu ia keluar, udara malam langsung menyambutnya, bersamaan dengan puluhan pasang mata tetangga yang menatap lekat ke arahnya.
Namun, sebelum Ayara sempat melangkah, pintu pengemudi di sebelah sana terbuka. Althaf keluar dengan postur tubuhnya yang tinggi tegap, mengenakan jaket kasual berbalut kaos gelap. Kehadiran pria itu seketika membuat para tetangga termasuk Bu Marni yang rumahnya berada tidak jauh dari sana, semakin terperangah.
Althaf berjalan memutari mobil dan menghampiri Ayara, lalu membuka bagasi belakang untuk mengambil kantong belanjaan besar berisi penuh oleh-oleh yang dibelinya tadi di tempat wisata, serta kotak martabak hangat yang baru ia beli di jalan.
"Mbak Ayara," sapa Arlan dengan mata melotot takjub dan menghampiri Kakaknya sambil melirik pria asing berpenampilan rapi di samping Ayara.
"Ini... siapa, Mbak?" tanya Arlan pelan.
Ibu Yati yang menyusul keluar dari pintu rumah pun tampak terpaku di ambang pintu dan menatap Althaf dengan sorot mata penuh tanya namun tetap ramah.
Ayara menelan ludahnya susah payah, merasa menjadi pusat perhatian seluruh kampung malam itu. "Ibu... Arlan..." cicit Ayara gugup.
Sebelum Ayara sempat memperkenalkan, Althaf melangkah maju lebih dulu dengan senyum ramah yang begitu mempesona. Pria itu menganggukkan kepalanya dengan takzim kepada Ibu Yati, lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Selamat malam, Bu. Saya Althaf, temannya Ayara," ucap Althaf dengan nada suara yang sangat sopan dan berwibawa dan membuat siapa pun yang mendengarnya langsung menaruh rasa hormat.
Ibu Yati menyambut uluran tangan itu dengan senyum ramah, meski raut kebingungan masih menghiasi wajahnya. "Oh... silakan masuk, Nak Althaf. Maaf rumahnya kecil dan sederhana."
"Tidak apa-apa, Bu," balas Althaf tenang.
'Loh, kok dia malah masuk? Bukannya nolak dan pulang?' batin Ayara.
"Ini, Ra," ucap Althaf memberikan belanjaan serta martabaknya pada Ayara.
"Mas, martabaknya kan punya, Mas Althaf. Aku nggak beli," ucap Ayara.
"Aku beli buat kamu," ucap Althaf.
"Tapi, Mas...,"
"Kamu ambil, nanti bisa kamu makan sama keluarga kamu," ucap Althaf.
"Tapi, kebanyakan, Mas. Di rumah cuma ada aku, Ibu sama Arlan," ucap Ayara.
"Nggak apa-apa, nanti kalau masih sisa bisa kamu kasih ke tetangga kamu," balas Althaf.
"Makasih, Mas." ucap Ayara, tidak ingin berdebat lagi dengan Althaf.
Setelah itu, Ayara pun segera membantu Ibu Yati menyiapkan suguhan untuk Althaf, sedangkan Althaf duduk di kursi kayu panjang bersama Arlan.
Arlan sejak tadi tidak henti-hentinya mencuri pandang ke arah mobil sedan hitam mengkilap yang terparkir di depan gang sempit rumah mereka. Sebagai orang yang bekerja di bengkel dan menyukai otomotif, Arlan tahu persis bahwa mobil yang dibawa Althaf bukanlah mobil sembarangan, harganya bisa setara dengan puluhan kali lipat biaya renovasi rumah mereka.
"Wah, mobilnya keren banget, Bang" puji Arlan tanpa ragu, memecah kecanggungan.
Althaf tersenyum ramah menanggapi Arlan. "Kamu suka otomotif?" tanya Althaf.
"Iya, Bang. Aku kerja di bengkel," jawab Arlan.
"Kamu mau coba?" tanya Althaf.
"Boleh, Bang?" tanya Arlan.
"Boleh...,"
"Jangan, itu mobil mahal," potong Ayara.
"Iya sih," gumam Arlan.
"Kalau mau coba, nggak apa-apa. Coba aja, aku nggak masalah kok," balas Althaf.
"Nggak deh, Bang. Sayang mobilnya mahal," ucap Arlan.
"Makasih ya Nak Althaf, banyak banget belanjaannya," ucap Ibu Yati, ikut duduk di kursi.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya senang," balas Althaf.
Baru saja Althaf hendak bersuara untuk mencairkan suasana, tiba-tiba ponselnya berdering. "Maaf, saya angkat telepon dulu."
Saat Althaf tengah di teras untuk menelepon, Arlan menatap Ayara dengan tatapan bertanya-tanya. "Itu pacarnya Mbak?" tanya Arlan.
"Bukan, dia cuma teman," jawab Ayara.
"Beneran?" tanya Arlan.
"Iya, ngapain juga Mbak bohong," balas Ayara.
"Terus teman-teman Mbak, kemana? Kok Mbak diantar Bang Althaf?" tanya Arlan.
"Udah pulang, tadi pas sampai Bandung mereka pindah mobil," jawab Ayara.
"Kalau Mbak sama Bang Althaf, Arlan setuju. Bang Althaf ganteng soalnya," ucap Arlan.
"Apa sih kamu, Lan. Udah mandi sana," ucap Ayara.
"Cie, Mbak salting. Yaudah deh, Arlan mandi dulu," ucap Arlan, lalu pergi meninggalkan Ayara yang sudah salah tingkah.
.
.
.
Bersambung.....
gimana menghadapi calon mertua yang ngeremehin kita