Arka cowok paling populer di sekolah tapi punya sifat yang dingin dan keras kepala. Laras gadis pendiam yang selalu berusaha tampil biasa saja, tapi entah kenapa selalu berakhir berdebat sama Arka. Awalnya mereka saling tidak suka, selalu berselisih paham di mana pun mereka bertemu. Namun seiring waktu berlalu dan berbagai kejadian menyatukan mereka, rasa benci itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam rindu yang tak terucap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Cemmzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Riska Memasuki Cerita
Kabar tentang kepergian Arka ternyata bukan hanya diketahui oleh mereka berdua. Entah bagaimana caranya, Siska akhirnya mengetahui hal itu juga. Dan bukan hanya Siska, ternyata ada satu orang lagi yang selama ini diam-diam memperhatikan setiap gerak-gerik mereka yaitu Riska, sepupu Siska yang baru pindah ke sekolah mereka 3 bulan lalu.
Nama hampir sama watak pun sama, namun anehnya riska memiliki pola yang terstruktur dalam memasuki hubungan antara Laras dan Arka.
Riska terlihat pendiam dan selalu tersenyum ramah kepada siapa pun, tapi di balik senyumnya itu tersembunyi niat yang tidak kalah dari sepupunya. Riska sejak lama mengagumi Arka dari jauh, dan dia merasa keberangkatan Arka justru adalah peluang emas baginya.
Suatu siang saat Laras sedang duduk sendirian menunggu Arka yang sedang mengambil buku di perpustakaan, Riska datang menghampirinya dengan senyum yang terlihat terlalu manis. Dia duduk tepat di hadapan Laras tanpa diminta, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Boleh gue ngobrol sebentar sama lu, Laras?" tanyanya lembut, tapi nada bicaranya terdengar seakan dia sudah memegang kendali atas pembicaraan itu.
"Boleh kok. Duduk aja," jawab Laras sopan, meski ada perasaan tidak nyaman yang perlahan muncul di hatinya.
Riska menarik napas panjang lalu menatapnya lurus. "Gue tahu lu orang baik, dan gue tahu lu menyukai Arka. Tapi lu juga sadar kan bahwa waktu luang bersama dia itu sangat sedikit? Dia akan pergi jauh, dan setelah itu apa yang tersisa dari dia? Hanya rindu yang menyakitkan dan kenangan yang akan menyiksa lu tiap malam. Bukankah lebih baik kalau lu mundur sekarang? Biarkan dia pergi tanpa beban perasaan, dan biarkan lu memulai babak baru tanpa harus menunggu seseorang yang bahkan tidak tahu kapan akan kembali."
Laras terdiam sejenak, bukan karena tersinggung atau marah, tapi karena dia terkejut betapa Riska bisa begitu lancar mengucapkan kata-kata yang sebenarnya juga pernah terlintas di pikirannya sendiri. Namun dia tahu, alasan Riska mengatakannya bukan karena peduli pada dirinya.
"Terima kasih sudah peduli, Riska. Tapi ini bukan tentang siapa yang benar atau salah. Ini soal apa yang membuat hati kita tenang. Kalau gue mundur sekarang karena takut terluka, berarti gue tidak pernah benar-benar menghargai kebersamaan yang kita miliki. Arka akan pergi, itu kenyataan yang harus kita terima. Tapi selama dia masih di sini, gue ingin menjadi alasan dia tersenyum, bukan alasan dia merasa sedih. Dan itu pilihan gue," jawab Laras tenang namun tegas.
Wajah Riska sedikit berubah, senyumnya mulai memudar. "Lu keras kepala ya. Nanti jangan menangis kalau akhirnya lu sendirian."
"Sekalipun nanti gue sendirian, gue tidak akan menyesal pernah berusaha bahagia bersama seseorang yang berharga. Lu boleh punya perasaan lu sendiri ke Arka, dan gue menghormati itu. Tapi tolong jangan minta gue menyerah pada sesuatu yang membuat hidup gue lebih berwarna," ucap Laras, lalu berdiri saat melihat Arka berjalan mendekat sambil tersenyum ke arahnya.
Riska berdiri juga, menatap mereka berdua yang tertawa sambil berjalan pergi meninggalkannya sendirian di bangku taman itu. Dia mengepalkan tangannya pelan.
Dia tahu kata-katanya belum cukup untuk membuat Laras menyerah. Dia butuh rencana lain, sesuatu yang lebih kuat, sesuatu yang benar-benar bisa memisahkan mereka sebelum waktu habis.