Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.
Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.
Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.
Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.
Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Mia hari ini benar-benar kurang enak badan.
Sejak dini hari kepalanya sudah berdenyut hebat, tubuhnya panas dingin, dan tenggorokannya terasa kering. Ia bahkan tidak sanggup bangun untuk menyiapkan sarapan seperti biasa. Ketika Rian menawarkan diri untuk mengurus Kayla dan membeli makanan di luar, Mia hanya mengangguk lemah. Ia memeluk bantal, memejamkan mata, berharap bisa tidur lagi setidaknya sampai siang.
Rian berangkat kerja setelah memastikan Kayla sudah sarapan dan bermain di ruang tamu. Ia sempat mencium kening Mia yang masih panas.
“Istirahat saja, ya. Jangan paksakan diri. Makanan sudah aku belikan cukup untuk semua,” bisiknya sebelum pergi.
Tapi ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Belum genap satu jam Rian pergi, pintu kamar Mia sudah digedor-gedor dengan keras. Bunyi itu membuat kepalanya semakin berdenyut.
Dugh....
Dugh....
Dugh...
“Mia! Bangun kamu! Jangan malas-malasan! Kami lapar!” teriak Rukmini dari luar. Suaranya nyaring dan penuh perintah, seolah sedang membangunkan pembantu yang terlambat bangun.
Mia mengerang pelan. Ia membuka mata dengan susah payah. Pandangannya masih kabur, dan setiap gerakan membuat pusingnya semakin hebat. Ia terduduk di tepi ranjang, menahan rasa mual yang naik ke tenggorokan, lalu pelan-pelan berdiri. Langkahnya goyah ketika ia berjalan menuju pintu.
Ia membuka pintu.
Ceklek....
Rukmini berdiri di depan dengan tangan di pinggang, wajahnya cemberut. Di belakangnya, Sonya menatap Mia dengan ekspresi yang sudah tidak lagi segan.
“Ada apa, Bu?” tanya Mia sambil meringis menahan nyeri di kepala. Suaranya serak.
Rukmini memandanginya dari atas sampai bawah, seolah menilai. “Tolong masakan kami makanan. Kami lapar,” perintahnya datar, seperti seorang nyonya rumah yang sedang memberi instruksi kepada orang suruhan.
Mia mengerutkan dahi. “Tadi kan Mas Rian sudah membeli sarapan untuk kalian. Masih ada di meja makan.”
Sonya segera menyahut, suaranya lebih berani dari biasanya. “Tidak kenyang, Kak. Itu cuma sedikit. Sebentar lagi juga waktunya makan siang"
Mia menatap keduanya. Sejak kedatangan Rukmini dua hari lalu, suasana rumah semakin berubah. Dan yang lebih menyakitkan, Sonya yang sebelumnya masih sedikit segan kini menjadi jauh lebih berani. Seolah kehadiran Rukmini memberinya keberanian untuk ikut menyuruh-nyuruh. Karena ibu mertuanya itu sangat menyayangi Sonya dan Lukman, anak bungsunya.
Mia memegang sisi kepalanya. “Bu, aku sedang tidak enak badan. Tadi mas Rian sudah beli makanan cukup banyak. Bisa untuk makan siang juga" ucap Mia.
Rukmini mendengus. “Demam sedikit saja sudah tidak mau gerak? Dulu waktu ibu masih muda, meski sakit tetap harus masak untuk keluarga. Jangan manja, Mia. Kamu ini istri, harusnya bisa mengurus rumah. Kayla saja ditinggal di ruang tamu sendirian.” serunya.
Kata-kata itu menusuk. Mia menoleh ke arah ruang tamu dan memang melihat putrinya sedang duduk sendirian di lantai, memegang boneka sambil sesekali melirik ke arah kamar ibunya.
Sonya menambahkan dengan nada seolah prihatin, “Iya, Kak. Kasihan Kayla. Nanti kalau lapar siapa yang suapi? Aku harus mengasuh Janu, ibu juga sudah tua.”
Mia mengepalkan tangan di balik pintu. Ia ingin bilang banyak hal. Ingin bilang bahwa ia yang selama ini memasak, mencuci, membersihkan rumah, mengurus Kayla, bahkan kadang membantu mengurus Janu. Ingin bilang bahwa demamnya bukan sedikit. Tapi melihat tatapan Rukmini yang sudah tidak sabar, dan Sonya yang berdiri dengan sikap seolah berhak memerintah, Mia hanya menghela napas panjang.
“Baiklah, tunggu sebentar” katanya pelan dan masuk kedalam kamar.
Mia mengambil selimut tipis untuk menutupi tubuhnya yang masih menggigil, lalu keluar kamar dengan langkah lambat. Setiap langkah terasa berat. Di dapur, ia menyalakan kompor dengan tangan yang gemetar. Bau minyak goreng membuatnya semakin mual, tapi ia tetap menumis telur dan menghangatkan nasi yang tersisa.
Di belakangnya, Rukmini duduk di kursi ruang makan sambil mengipasi diri, sementara Sonya duduk dengan santai sambil main ponsel. Keduanya tidak menawarkan bantuan. Tidak ada yang bertanya apakah Mia butuh obat. Tidak ada yang bilang apa-apa.
Mia menahan air mata yang hampir tumpah. Ia terus mengaduk wajan, meski kepalanya berdenyut hebat dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Di ruang tamu, Kayla memanggil pelan, “Mama… Mama cakit?”
Mia memaksakan senyum ke arah putrinya. “Iya, sayang. Mama sedikit pusing. Tunggu sebentar, ya.” ucap Mia lembut.
Sementara di meja makan, Rukmini sudah mulai mengeluh lagi. “Cepat, Mia. Jangan lama-lama. Nanti kami kelaparan.”
Mia menunduk, terus memasak dalam diam. Di dalam dada yang sesak dan kepala yang berdenyut, satu pertanyaan terus berputar tanpa jawaban.
*
*
Mia tidak kuat lagi. Setelah memasak dalam keadaan demam, menyajikan makanan di meja, lalu kembali ke dapur untuk mencuci piring yang menumpuk, tubuhnya benar-benar menyerah. Ia sempat duduk di lantai dapur sebentar, memegang kepala yang berdenyut hebat, sementara keringat dingin membasahi punggungnya. Dari ruang makan terdengar suara Rukmini dan Sonya yang makan dengan tenang, sesekali meminta tambahan lauk seolah tidak melihat kondisi Mia sama sekali.
Mia kembali ke kamar, Kayla sudah menangis karena khawatir pada ibunya. Mia memeluk putrinya erat-erat, lalu mengambil ponsel dengan tangan yang gemetar.
Ia menekan nomor ibunya.
“Ma…” suaranya serak dan hampir pecah begitu telepon diangkat. “Ma, tolong… datang ke rumah. Jemput aku. Aku tidak kuat lagi.”
Di seberang sana, suara ibunya langsung panik. “Mia? Ada apa, Nak? Kamu kenapa?”
Mia menahan isak. “Aku sakit, Ma. Demam. Tapi mertua dan ipar terus menyuruhku masak. Rian sudah berangkat kerja. Aku… aku mau pulang sebentar. Istirahat di rumah Mama. Bawa Kayla juga.”
Ibunya terdiam sejenak, lalu suaranya tegas. “Tunggu. Papa dan Mama berangkat sekarang. Jangan paksakan diri. Kunci pintu kamar kalau perlu.”
Selang berapa lama, suara mobil terdengar di depan rumah. Pintu gerbang diketuk, lalu bel rumah berbunyi berkali-kali.
Ting tong
Ting tong
Ting tong
Rukmini yang sedang duduk di ruang tamu berdiri dengan wajah tidak senang.
“Siapa itu siang-siang begini?” gumamnya.
Ceklek..
Ketika pintu dibuka, sepasang orang tua Mia berdiri di ambang. Wajah ibu Mia tampak khawatir, sementara ayahnya memandang ke dalam rumah dengan tatapan serius. Mereka langsung masuk tanpa banyak basa-basi.
“Dimana Mia?” tanya ibu Mia.
Rukmini tersenyum ramah. "Eh, jeng. Mau ketemu Mia ya. Mia sedang di kamar"
Ibu Mia tidak menjawab. Ia langsung menuju kamar putrinya.
Ceklek...
Begitu pintu terbuka, ia melihat Mia duduk di tepi ranjang dengan wajah pucat, memeluk Kayla yang juga terlihat cemas. Tanpa banyak kata, ibu Mia mendekat dan memeluk putrinya.
“Sudah, Nak. Mama di sini. Kita pulang dulu.”
Ayah Mia berdiri di pintu, menatap Rukmini dan Sonya yang kini berdiri di belakang. Suasana menjadi sangat tegang.
“Kami menjemput anak kami,” kata ayah Mia datar. “Dia sedang sakit. Biarkan dia istirahat di rumah kami sementara.”
Rukmini mendengus. “Pulang? Lalu siapa yang mengurus Rian di sini? kami sibuk tidak bisa menyiapkan keperluannya"
Ibu Mia menoleh, matanya tajam. “Anda ibunya, harusnya anda bisa mengurus putra anda untuk sementara waktu. Putri saya sedang sakit. Dia bukan pembantu di rumah ini.”
Sonya menunduk, tidak berani ikut campur. Sementara Rukmini tampak tersinggung, tapi tidak membantah lebih jauh karena melihat wajah ayah Mia yang sudah tidak main-main.
Mia hanya bisa terdiam sambil terus memeluk Kayla. Air matanya akhirnya jatuh begitu ia merasakan pelukan ibunya. Berbulan-bulan menahan, mengalah, dan memaksakan diri, akhirnya ada seseorang yang membela dirinya.
Ayah Mia membantu mengumpulkan beberapa pakaian dan barang Kayla ke dalam tas. Mia berdiri dengan dibantu ibunya. Langkahnya masih goyah, tapi ada rasa lega yang mulai muncul di dadanya.
Rukmini masih berdiri di ruang tamu dengan wajah masam. “Nanti Rian pulang, saya bilang semuanya. Jangan kira bisa seenaknya pergi.”
Ibu Mia menatapnya datar. “Silakan. Tapi ingat, anak saya bukan budak di rumah ini.”
Mereka keluar rumah. Udara siang terasa panas, tapi bagi Mia udara itu jauh lebih lega daripada udara di dalam rumah yang penuh tekanan. Ia duduk di kursi belakang mobil sambil memeluk Kayla, sementara ibunya duduk di sampingnya dan terus mengusap punggungnya.
“Istirahat saja dulu, Nak,” bisik ibunya. “Nanti kita bicarakan pelan-pelan. Jangan dipikirkan dulu.”
Mobil mulai melaju meninggalkan rumah itu. Dari kaca jendela, Mia sempat melihat Rukmini masih berdiri di depan pintu dengan tangan di pinggang.
Mia menutup mata. Kepalanya masih pusing, tubuhnya masih lemah, tapi dia merasa lebih baik.
THOR BUAT YG HAJAR MIA DI JEBLOSKAN PENJARA TANPA ADA NEGOSIASI BIAR IPAR DAN MANTAN MERTUA TAU ARTINYA K.A.R.M.A😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈