NovelToon NovelToon
Batal Cerai Setelah Suami Mendengar Isi Pikiran Sang Istri

Batal Cerai Setelah Suami Mendengar Isi Pikiran Sang Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:59.2k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Lorenzo Matteo Romano sudah mantap menceraikan Alina Seraphine Bellamy, setelah tiga tahun menikah.

Namun, kecelakaan terjadi tepat setelah Lorenzo mengajukan perceraian. Ketika sadar, Lorenzo justru mendapatkan kemampuan aneh—ia bisa mendengar isi pikiran Alina.

Betapa terkejutnya Lorenzo saat mengetahui bahwa wanita yang selama ini terlihat begitu patuh ternyata menyimpan segudang rahasia, keluhan, dan komentar pedas yang tak pernah berani diucapkannya.

Lorenzo akhirnya memutuskan berpura-pura amnesia agar perceraian mereka batal.

Sayangnya, rencana itu justru membuat Alina semakin stres. Sebab, di depan Lorenzo, Alina harus tetap menjadi istri yang lembut dan penurut.

Sementara di dalam hatinya, “Ya Tuhan, kenapa orang ini belum juga ingat kalau dia mau menceraikanku?!”

Sejak saat itu, pernikahan mereka berubah menjadi permainan rahasia: seorang istri yang tak sadar isi kepalanya bisa didengar, dan seorang suami yang berbalik mati-matian mempertahankan pernikahannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

“Besok kita urus perceraian.”

Tangan Alina Seraphine Bellamy yang sedang menuangkan teh langsung berhenti. Teko porselen yang dipegangnya nyaris terlepas ketika kalimat itu terdengar begitu saja dari mulut Lorenzo.

Untuk beberapa detik, Alina hanya terdiam. Tatapannya perlahan terangkat kepada pria yang duduk di seberang meja makan.

Lorenzo Matteo Romano, suaminya selama tiga tahun. Pria yang sejak awal pernikahan mereka selalu terlihat dingin, serius, dan sulit ditebak.

Di luar jendela, hujan turun semakin deras. Air mengalir membasahi kaca besar ruang makan, sementara suara gemuruh petir sesekali terdengar dari kejauhan.

Alina meletakkan teko di atas meja dengan hati-hati. “Perceraian?” tanyanya pelan.

“Ya,” jawab Lorenzo singkat.

Wajah pria itu terlihat tegang. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal di atas meja.

Alina menatapnya beberapa saat. Tidak ada keraguan di wajah Lorenzo. Pria itu benar-benar ingin bercerai.

Anehnya, bukannya merasa hancur, hati Alina justru seperti mendapat hadiah besar.

“Akhirnya! Alina hampir saja tersenyum lebar. Selama dua tahun terakhir, dia sudah berkali-kali berharap Lorenzo-lah yang mengucapkan kata itu terlebih dahulu.”

Namun, wajah Alina tetap tenang. Dia bahkan sengaja menundukkan pandangan agar kegembiraan yang hampir meledak tidak terlihat.

“Ya Tuhan, akhirnya dia sadar juga kalau pernikahan ini tidak ada gunanya!”

Alina menggigit bagian dalam pipinya untuk menahan senyum.

Lorenzo mengembuskan napas panjang sebelum kembali berbicara. “Aku tahu ini mungkin sulit untukmu, Alina,” katanya dengan suara rendah. “Tapi aku sudah memikirkannya baik-baik.”

Alina mengangkat wajah. “Tidak apa-apa.”

Jawabannya terdengar begitu lembut hingga Lorenzo sempat terdiam.

“Aku tidak ingin kita terus mempertahankan sesuatu yang sudah tidak bisa dipertahankan,” lanjut Lorenzo. “Aku tidak mencintaimu.”

Kalimat terakhir itu terdengar lebih tajam daripada sebelumnya.

Alina diam dan Lorenzo menatapnya lekat-lekat.

“Aku tidak pernah mencintaimu, Alina. Pernikahan ini terjadi hanya karena keinginan kakek kita. Kalau bukan karena perjodohan itu, mungkin kita tidak akan pernah menikah.”

Alina mengangguk perlahan. “Aku tahu.”

Dia tahu betul. Sebelum menikah, Lorenzo bahkan sudah mengatakan kepadanya bahwa pernikahan mereka hanyalah sebuah kewajiban keluarga.

Alina juga tidak pernah memaksanya untuk mencintai. Justru diam-diam, dia bersyukur Lorenzo tidak pernah bersikap terlalu romantis kepadanya. Sebab, sejujurnya, Alina juga tidak pernah jatuh cinta kepada pria itu.

“Aku juga tidak mencintaimu, tahu! Siapa juga yang mau mencintai manusia sedingin kulkas seperti kamu?”

Alina menahan senyum.

“Setiap hari kerjaannya cuma bekerja, bekerja, dan bekerja. Kalau diajak bicara, jawabannya cuma satu atau dua kata. Benar-benar membosankan.”

Lorenzo mengira Alina sedang menahan kesedihan. Dia justru merasa sedikit bersalah.

“Aku sudah mencoba menjalani pernikahan ini,” kata pria itu. “Tapi aku tidak bisa terus berpura-pura.”

Alina meletakkan cangkir tehnya. “Kalau memang itu keputusanmu, aku akan menghargainya.”

“Aku malah sangat menghargainya! Silakan pergi. Aku bahkan bisa membantumu mengepak barang. Kalau perlu, aku antar sampai depan pintu.”

Alina hampir tertawa. Namun, dia segera mengalihkan wajah dan berpura-pura memperhatikan hujan di luar jendela.

Lorenzo mengamati istrinya dengan tatapan penuh keraguan. “Sesederhana itu?” tanyanya.

Alina kembali menatapnya. “Apa maksudmu?”

“Kamu tidak marah?”

Alina menggeleng dan berkata, “Untuk apa aku marah?”

Lorenzo terdiam.

Alina tersenyum tipis. “Kalau kamu sudah tidak bahagia dalam pernikahan ini, aku tidak akan memaksamu untuk tetap tinggal.”

Senyumnya terlihat sedih. Setidaknya, begitulah yang ingin dia tunjukkan. Sementara di dalam hati....

“Tentu saja aku tidak marah! Aku justru ingin mengadakan pesta. Kalau boleh, aku pesan kue dan minuman sekarang juga.”

Lorenzo mengalihkan pandangan. Dia tidak tahu mengapa ketenangan Alina justru membuat hatinya terasa sedikit tidak nyaman.

Selama tiga tahun menikah, Alina memang selalu seperti itu. Penurut, tenang, tidak banyak menuntut, tidak pernah mempersoalkan ketika Lorenzo pulang larut malam. Bahkan ketika Lorenzo tidak datang makan malam, Alina hanya akan mengatakan bahwa dia sudah makan lebih dulu.

Lorenzo selalu menganggap Alina adalah wanita yang menerima segala sesuatu dengan lapang dada.

“Ada satu masalah,” kata Alina setelah beberapa saat.

Lorenzo kembali menatapnya. “Apa?”

“Perceraian kita tidak bisa diputuskan hanya oleh kita berdua. Kedua keluarga harus menyetujuinya.”

Lorenzo mengangguk. “Aku tahu. Aku akan bicara kepada mereka.”

“Baik.”

Alina mengangguk. Kemudian dia mengambil cangkir tehnya lagi. “Kalau begitu, aku tidak punya keberatan.”

Lorenzo masih memandanginya. “Alina.”

“Ya?”

“Kamu benar-benar tidak keberatan?”

Alina terdiam sejenak sebelum tersenyum kecil. “Aku tidak ingin mempertahankan seseorang yang sudah tidak mencintaiku.”

Jawaban itu membuat Lorenzo semakin sulit berkata-kata. Dia berdiri dari kursinya. “Kalau begitu, aku pergi dulu.”

Alina mengangguk. “Silakan.”

Lorenzo mengambil jasnya yang tersampir di sandaran kursi. Dia berjalan menuju pintu ruang makan, tetapi langkahnya tiba-tiba berhenti. Entah kenapa, dia berharap Alina akan memanggilnya. Mungkin meminta dia untuk tinggal atau mungkin menangis untuknya dan mengatakan bahwa dia mencintainya. Namun, tidak ada suara apa pun.

Lorenzo menoleh. Alina masih duduk di tempatnya sambil menikmati teh. Wajahnya terlihat tenang. Lorenzo mengerutkan kening. Kemudian dia menggeleng kecil dan kembali berjalan. Pintu depan dibuka. Angin dingin langsung menerpa tubuhnya.

“Tuan Lorenzo, payungnya!” seru seorang pelayan yang melihatnya keluar.

“Tidak perlu,” jawab Lorenzo singkat.

“Tapi hujannya sangat deras, Tuan.”

“Aku bilang tidak perlu.”

Lorenzo terus berjalan menuju mobilnya. Dia membuka pintu, masuk, lalu menyalakan mesin. Beberapa detik kemudian, mobil sport hitam itu melesat meninggalkan halaman rumah.

Alina yang masih berada di ruang makan menoleh ketika mendengar suara mobil. Dia bangkit dan berjalan menuju jendela. Dari balik kaca, dia melihat mobil Lorenzo semakin menjauh.

Begitu kendaraan itu menghilang dari pandangan, Alina menutup tirai. Dia berdiri diam beberapa detik. Kemudian dia mengepalkan kedua tangannya.

“YES!” Alina melompat kecil. “Akhirnya!”

Seorang pelayan yang kebetulan lewat langsung berhenti. “Nyonya?”

Alina seketika kembali memasang wajah tenang. “Ada apa?”

Pelayan itu tampak bingung. “Tadi Nyonya ....”

“Aku hanya bersin.”

“Bersin?”

“Iya.”

Pelayan itu semakin bingung, tetapi akhirnya mengangguk. “Baik, Nyonya.”

Setelah pelayan tersebut pergi, Alina kembali mengepalkan tangannya. “Bebas! Weeeey!”

Dia mengambil bantal sofa lalu memeluknya erat. “Ya Tuhan, terima kasih banyak!”

Namun, kebahagiaan itu mendadak terhenti ketika Alina teringat satu hal. Dia menghela napas. Perceraian mereka memang tidak semudah menandatangani surat.

Kedua keluarga mereka sangat menghormati mendiang kakek yang dulu menjodohkan mereka. Jika ingin bercerai, Lorenzo dan Alina harus mendapatkan persetujuan kedua keluarga.

Alina menjatuhkan tubuhnya ke sofa. “Semoga mereka setuju.”

Alina tidak tahu bahwa pada saat yang sama, Lorenzo sedang membawa dirinya menuju sebuah masalah besar. Hujan semakin deras ketika Lorenzo mengemudikan mobilnya di jalan raya. Wiper bergerak cepat membersihkan kaca depan, tetapi jarak pandangnya tetap terbatas. Lampu kendaraan lain terlihat samar di balik tirai hujan.

Kedua tangan Lorenzo mencengkeram kemudi. Pikirannya masih dipenuhi percakapannya dengan Alina. Dia sudah mengambil keputusan. Dia akan bercerai. Dan setelah perceraian selesai, dia ingin hidup bersama wanita yang benar-benar dicintainya, Bianca Moretti.

Lorenzo melirik ponsel yang tergeletak di kursi sebelah. Sebuah pesan baru muncul.

Bianca: [Sudah berangkat?]

Lorenzo segera membalas.

Lorenzo: [Sebentar lagi sampai.]

Tidak lama kemudian, pesan lain masuk.

Bianca: [Aku menunggumu.]

Lorenzo tersenyum tipis. Hanya Bianca yang selalu berhasil membuatnya merasa benar-benar dicintai. Dia menekan pedal gas lebih dalam. Jarum speedometer bergerak naik, 80 kilometer per jam.

Hujan membuat jalan semakin licin, tetapi Lorenzo tidak peduli. Dia ingin segera sampai ke rumah Bianca. Dia ingin berbicara dengan wanita itu.

Malam ini, dia ingin meyakinkan Bianca bahwa semuanya akan segera berakhir. Setelah itu, mereka bisa memulai kehidupan baru.

Lorenzo kembali menambah kecepatan. Namun, beberapa detik kemudian, sebuah tikungan tajam muncul di depannya. Lorenzo terlambat menyadarinya.

“Brengsek!”

Loranzo langsung menginjak rem. Ban mobil berdecit keras di atas jalan yang basah. Mobil bergeser ke samping.

Lorenzo memutar kemudi ke kanan. Tidak berhasil. Dia mencoba mengarahkan mobil ke kiri. Namun, kendaraan itu justru semakin kehilangan kendali.

“Tidak!”

Lorenzo berusaha menginjak rem sekali lagi. Terlambat. Mobil meluncur keluar dari jalur. Di depan sana terdapat sebuah gerbang tua dengan dua patung batu besar berbentuk penjaga yang berdiri di kedua sisinya.

Lorenzo membanting kemudi. “Tidak!”

BRAK!

Mobil menghantam salah satu patung batu dengan suara keras. Kaca depan pecah berhamburan. Tubuh Lorenzo terhempas ke depan. Kepalanya membentur bagian dalam mobil dengan keras. Darah langsung mengalir dari pelipisnya.

Mobil berputar sebelum akhirnya berhenti dalam posisi miring. Mesinnya masih menyala. Asap tipis mengepul dari bagian depan kendaraan. Alarm mobil berbunyi nyaring di tengah derasnya hujan.

Lorenzo tidak bergerak. Matanya tertutup rapat. Darah mengalir melewati wajahnya. Di dalam mobil yang ringsek itu, Lorenzo masih tidak sadarkan diri.

Sementara jauh dari sana, Alina sedang berdiri di depan cermin kamar.

Dia mulai membayangkan kehidupannya setelah perceraian. Tidak ada lagi suami yang terlalu serius. Tidak ada lagi pria yang selalu menjawab pertanyaannya dengan singkat.

Alina tersenyum puas. “Aku harus mulai mencari tempat tinggal baru.”

Namun, baru beberapa langkah berjalan, Alina tiba-tiba berhenti. Entah kenapa, dadanya terasa tidak nyaman. Perasaan aneh muncul begitu saja. Seolah-olah sesuatu yang buruk sedang terjadi.

Alina menggeleng. “Jangan berpikir macam-macam.” Dia kembali tersenyum. “Sebentar lagi aku resmi jadi wanita lajang.”

Tanpa Alina sadari, malam itu akan menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya.

***

Assalamualaikum, semua. Aku kembali dengan karya baru. Kali ini genre komedi romantis, ya. Jangan lupa selalu tinggalkan jejak di setiap bab-nya sebagai dukungan terhadap karya ini. Terima kasih untuk perhatiannya.

1
Atik Kiswati
kalau apa.....nanggung ih...../Smug/
Felycia Fernandez
Bianca mau menjatuhkan mental Alina,malah dia yang sekarang terkejut dengar kenyataan semuanya 😆😆😆😆
Alina di lawan
Felycia Fernandez
karena itu ciuman pertama Alina...
pasti membekas di hati
Felycia Fernandez
😆😆😆😆😆😆
Pudkeciput
good job Al kamu cewek yg tdk mudah di intimidasi..👍
Felycia Fernandez
mulai sayang istri ya...bagus deh
Sastri Dalila
😅😅
Ita rahmawati
bagus lah Alina bukan tipe yg mudah di tindas 😍
Ita rahmawati
makanya lerenzo jgn sok sok GK doyan sekalinya coba ketagihan,, heeh 3 THN loh dianggurin itu istri 🤣
Ita rahmawati: iya udah sadar dia 🤭
total 2 replies
Lianty Itha Olivia
caritanya diakhir...kau...kugantung 😆😆😆 thoor ngomongnya kok setengah sih diakhir kalimat
Inooy
aq kira Alina akan mudah terintimidasi ama Bianca,,ternyata Alina modelan senggol bacok niih 😆

bagus Aal, kamu jangan mudah terprovokasi oleh kata2 Bianca..walaupun ada kata2 Bianca yg sedikit nya benar, tp kamu jangan takut..karena status kamu lebih tinggi dr pada Bianca yaitu seorang istri,,skali pun terjadi nya pernikahan karena perjodohan..tp kamu lebih kuat kedudukan nya, apalagi skarang Lorenzo nya udh mulai membuka hati dn membuka mata..klo selama ini dia udh d berikan berlian berkat perjodohan....
Inooy
hayooo..klo apa niiih!?? 🤔
Inooy
kamu y Reen mulai nakal kamuu,,kasian tau jantung Alina pasti g bisa d kondisikan gara2 serang ngedadak kamu 😆
Uthie
Kalaauuuuu... ?!???
penasaran niii Thor 😆😍🙏🙏
Inooy
itu kamu tau sendiri,,ada yg udh halal knapa masih ngurusin yg lain..nyesel kan kamu Ren!? 🤦‍♀️
Inooy: iya sih kaa, klo hati udh mentok d seseorang..terkadang utk mencintai yg lain tuh susah, biar d kata kekasih qta jelek..tp klo belum meliat dengan mata kepala sendiri tentang kejelekan nya,,pasti d mata nya tetap yg terindah 🤭
total 2 replies
Inooy
ckckck,,mulai curi2 ciuman nih Lorenzo..ketagihan y kamuu 😁
Inooy
waduuuhh, gara2 ciuman kamu ngedadak garang Aal...😆
Inooy
nyesel kan kamu Reen, punya istri selama 3 taun d anggurin..kamu malah sibuk dengan kekasih kamu, yg jelas2 udh selingkuhin kamuuu...😮‍💨
Inooy: dn parah nya lg, tuh Bianca g bisa menjaga hati ka Fely..kata nya dia mencintai Lorenzo, tp tega2 nya Lorenzo d selingkuhi..jangan2 selingkuh nya sebelum Lorenzo d jodohkan kaa...
total 2 replies
Uthie
Duhhhhh... jadi makin sukkkkaaa BANGETTT sama chemistry mereka 😍😍😍
Eka Haslinda
Kamu kira Alina bahagia dgn pernikahan mereka.. nggaaaakkk.. kamu kira Alina suka sama Lorenzo.. nggaaakkkk 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!