Siapa sangka, Sindi Permata gadis cantik anak miliarder yang penampilannya selalu anggun dan kelihatan lemah lembut ternyata punya sisi gelap yang bikin bulu kuduk merinding. Sindi adalah Ratu Mafia yang memimpin dunia hitam dengan tangan besi. Nggak ada yang berani macam-macam sama dia.
Tapi, sehebat-hebatnya Sindi menaklukan dunia luar, dia akhirnya takluk juga pasrah waktu disuruh nikah paksa sama papanya.
Suaminya adalah Mike Sanjaya, dokter muda jenius yang terkenal dingin, kaku, dan judesnya minta ampun. Masalahnya bukan cuma sifat Mike yang kayak es batu, tapi cowok itu udah punya pacar kesayangan: Putri Adisti, seorang perawat manis yang selama ini jadi ratu di hati Mike, begitu resmi jadi suami-istri, Mike langsung pasang tembok tinggi. Dia terang-terangan nunjukkin kalau pernikahan mereka cuma formalitas dan nggak ada tempat buat Sindi di hatinya. Mike bahkan masih sering nemenin dan merhatiin Putri adisti.
akankah pernikahan mereka bertahan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16 Ratu mafia istri dokter dingin
Sinar matahari pagi baru saja menerobos celah jendela, namun Mike sudah tidak sabar untuk segera angkat kaki dari mansion mewah itu.
Rasa sesak dan lelah mental setelah pertengkarannya dengan Putri semalam, ditambah rasa enggan berhadapan dengan Sindi, membuat langkah kakinya begitu terburu-buru.
Tanpa menyentuh sarapan mewah yang disiapkan asisten rumah tangga, Mike langsung menyambar kunci mobilnya dan melesat pergi menuju kontrakan Putri.
Setibanya di sana, Mike memarkirkan mobilnya agak merapat ke pinggir jalan. Ia melangkah lebar menaiki anak tangga kecil dan mengetuk pintu kayu kontrakan itu beberapa kali.
Klek.
Pintu terbuka. Putri yang masih mengenakan drees rumahan sederhana tampak kaget melihat sosok pria yang berdiri di depannya. Matanya yang masih agak sembab bekas menangis semalam mendadak berbinar seraya mengulas senyum tipis.
"Mike? Kenapa kamu ke sini pagi-pagi sekali begini?" tanya Putri keheranan, memiringkan kepalanya sedikit.
Mike menghela napas panjang, mengusap tengkuknya yang terasa kaku.
"Aku nggak bisa tidur tadi malam, Put. Dan ya... malas banget di rumah harus makan bersama Sindi."
Mendengar penuturan jujur dari Mike, sudut bibir Putri terangkat. Rasa percaya dirinya yang sempat hancur semalam perlahan kembali membuncah.
"Ya ampun, Mike... Kamu tuh bisa aja gombalnya," sahut Putri dengan nada bermanja, memukul pelan lengan Mike.
"Tapi nggak boleh gitu, biar bagaimanapun Sindi itu kan istri kamu sekarang."
Putri membuka pintunya lebih lebar, memberi jalan. "Ya udah, masuk gih. Aku baru aja siapin sarapan sederhana. Kita makan bareng ya."
Mike tersenyum tipis—sebuah senyuman langka yang belakangan ini jarang sekali terukir di wajah dinginnya. Ia melangkah masuk, menyantap sarapan berupa nasi goreng telur buatan Putri dengan lahap di meja makan kecil kontrakan itu.
Di tengah-tengah momen sarapan bersama, Mike meletakkan sendoknya, menatap Putri yang sedang menyesap teh hangat.
"Put, nanti sore kamu ada acara nggak?" tanya Mike.
Putri menggeleng pelan. "Nggak ada, sayang. Kenapa emangnya?"
"Ikut aku ya? Teman-teman alumni fakultas kedokteran dan sahabat-sahabat dekatku mau ada kumpul-kumpul santai di lounge kafe langganan kita," ajak Mike tanpa ragu sedikit pun.
Putri sempat tertegun. "Lho? Apa nggak apa-apa kalau aku ikut? Nanti kalau teman-teman kamu menanyakan Sindi gimana?"
"Nggak usah mikirin cewek itu," potong Mike cepat, nadanya mendadak kaku dan dingin. "Aku maunya pergi sama kamu. Kamu kan ratu aku yang sebenarnya."
Sore harinya, sebuah lounge eksklusif di pusat kota bernuansa hangat dipenuhi oleh gelak tawa kelompok alumni muda berkelas. Mike berjalan masuk dengan percaya diri, menggandeng mesra jemari Putri di sampingnya.
Namun, begitu Mike mendekati meja tempat berkumpulnya para sahabat karibnya, suasana mendadak hening seketika.
Beberapa pria dan wanita bersetelan rapi saling berpandangan dengan raut wajah penuh tanda tanya dan rasa terkejut yang tidak bisa disembunyikan.
Gilang, sahabat dekat Mike sejak masa kuliah, sampai menghentikan tegukan minumannya. Ia mengerutkan dahi dalam-dalam, mengamati Mike dan Putri dari atas sampai bawah.
"Mik, kami nggak salah lihat nih?" tanya Gilang blak-blakan, mewakili keheranan teman-teman lainnya.
Mike menarikkan kursi untuk Putri terlebih dahulu sebelum ia sendiri duduk di sebelah kekasihnya itu. "Salah lihat gimana maksudnya? Kan kalian tahu kalau aku dan Putri udah lama jadian."
Gilang menggeleng-gelengkan kepala, tertawa heran yang agak canggung.
"Yaa... kami tahu. Tapi kan istri kamu sekarang Sindi Permata, Mik! Semua orang juga tahu, berita pernikahan kalian kemarin kan heboh banget di mana-mana!"
"Udah... nggak usah ngomongin wanita itu, nggak penting," potong Mike tajam, mengibaskan tangannya santai seolah nama Sindi adalah angin lalu. "Lagian di sini ada Putri, nanti dia salah paham lagi."
Gilang melotot, menatap Mike seakan-akan sahabatnya itu baru saja kehilangan akal sehat.
"Lo... udah gila ya, Mik? Udah dibucin-bucinin cinta banget lo sama Putri sampai nekat begini?" bisik Gilang menekan suaranya, memajukan badannya ke arah Mike.
"Inget, Mik! Sindi itu anak keluarga Permata! Kalau orang tua lo atau mertua lo tahu lo bawa cewek lain ke acara publik begini, bisa mampus lo!"
Mike hanya terkekeh dingin, sama sekali tidak mengindahkan peringatan keras dari sahabatnya. Ia justru semakin menunjukkan kemesraannya pada Putri, memanjakan wanita itu di depan teman-temannya dan benar-benar mengabaikan Sindi yang ditinggalkan sendirian di rumah.
Sementara itu, di mansion mewah Sanjaya yang sangat sepi...
Sindi sedang duduk anggun di sofa ruang tamu yang luas, mengenakan gaun santai sutra berwarna hijau zamrud. Di tangannya, terpegang cangkir teh chamomile hangat yang aromanya menenangkan.
Ponsel pintarnya yang tergeletak di atas meja kaca mendadak bergetar pelan. Sindi mengulurkan jemari lentiknya, menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga.
"Ya, Danu?" sapa Sindi dengan suara halus dan tenang.
"Nona Sindi," suara Danu terdengar mantap dari seberang telepon. "Melaporkan, Dokter Mike baru saja membawa Putri Adisti ke acara kumpul-kumpul alumni dan sahabat dekatnya di lounge pusat kota. Dia secara terang-terangan memamerkan perawat itu di depan teman-temannya dan mengabaikan Anda."
Mendengar laporan yang harusnya sanggup membuat istri mana pun mengamuk dan meradang, Sindi justru mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat misterius. Tidak ada sedikit pun raut kekecewaan atau kemarahan di wajah cantiknya.
"Biarkan saja," jawab Sindi dengan nada suara yang luar biasa tenang, seolah sedang mendengarkan laporan cuaca. "Biarkan mereka bersenang-senang sebentar."
Sindi menyesap teh hangatnya sedikit, menikmati sensasi rileks yang mengalir di tenggorokannya.
"Semakin tinggi pria itu menerbangkan angan-angannya, semakin keras suaranya nanti waktu aku jatuhkan ke tanah," lanjut Sindi pelan, suara kekehannya yang dingin mengalun rendah.
Sindi meletakkan cangkir porselennya kembali ke atas tatakan dengan bunyi berdenting halus, lalu berdiri mengibaskan gaun cantiknya.
"Jemput aku, Danu. Aku mau ke markas," perintah Sindi datar tanpa basa-basi lagi.
"Baik, Nona. Lima menit lagi mobil tiba di lobi mansion," jawab Danu patuh sebelum menutup sambungan telepon.
Sindi berjalan melangkah anggun menuju kamar pribadinya untuk berganti pakaian. Bagi Sindi, permainan childish suaminya bersama perawat itu hanyalah hiburan selingan di kala senggang.
Di luar sana, ada dunia bawah tanah dan kekuasaan Black Viper yang jauh lebih penting untuk ia kendalikan.
Namun, saat Sindi sedang mengganti gaun cantiknya dengan setelan kemeja dan jaket kulit hitam kebesarannya, sebuah pesan singkat kembali masuk ke ponsel khususnya dari salah satu agen rahasia yang bertugas mengawasi lounge tempat Mike berada.
Sindi melirik layar ponselnya yang menyala.
[Nona Sindi, musuh lama kita—kelompok Red Dragon—ternyata juga ada di lokasi kafe yang sama. Pimpinan mereka tampak sedang mengamati Dokter Mike dari jauh.]
Sindi menghentikan gerakan tangannya yang sedang membetulkan kerah jaket kulitnya. Matanya yang indah mendadak menyipit sangat tajam.
Bersambung.....
hmmm ad kemungkinan klo putri anggota klan red dragon gx sih ,, yg nyamar buat deketin mike🤔🤔🤔🤭🤭🤭😁😁
makin seruu cerita ny ,,
bibir ny minta di kepang dua ,, 😒😒😒
gx Mike gx musuh ny ,, ad aj yg cari gara2 ,,
duuuh sindii ,, segera berantas semua musuh mu ,,