"Aku mengejarmu karena mengira kamu adalah malaikat penyelamatku. Ternyata, kamu hanyalah luka paling berdarah yang sengaja aku pelihara."
Selama dua tahun di SMA Taruna Bakti, Rian Pratama rela menjadi budak cinta demi Keysha Mariela, sang kapten cheerleader. Rian tulus, ia hanya ingin membalas budak kebaikan gadis yang ia kira telah menolongnya di malam ibunya meninggal dunia. Namun, ketulusan Rian dibanting hancur di pesta ulang tahun Keysha. Di depan ratusan mata, Keysha menolaknya mentah-mentah demi Marvel, cowok idaman sekolah, sambil menertawakan kemiskinan Rian.
Di titik terendah saat Rian ingin mengakhiri segalanya, Ziva Zakiyah datang. Cewek genius, manipulatif, dan terkenal 'cegil' (cewek gila) ini membawa satu misi: balas dendam.
Ziva tahu rahasia besar yang disembunyikan Keysha, dan dia siap mengubah Rian yang polos menjadi pangeran berdarah dingin untuk menghancurkan Keysha dan Marvel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 03. Ziva Zakiyah Datang, (Revisi)
Hujan malam itu tidak punya otak. Datang tanpa aba-aba, langsung menumpahkan air dalam volume brutal seolah tahu dunia Rian baru saja kiamat.
Rian berjalan seperti zombi keluar dari area hotel bintang lima itu. Kemeja murahnya yang disetrika rapi sejak subuh sekarang melekat basah di kulit, terasa dingin dan mencekik. Dia tidak tahu sudah berjalan berapa jauh, sampai akhirnya kakinya menyerah di sebuah taman kota yang sepi. Rian duduk di bangku semen yang dingin, menunduk, dan membiarkan air hujan menyamarkan air mata yang akhirnya pecah.
Dada Rian sesak sampai rasanya mau mati. Di kepalanya, rekaman audio tawa Keysha berputar berulang-ulang seperti kaset rusak. “Lo beneran delusional, Rian.” Lalu visual syal merah marunnya yang robek, hancur di lantai teras, bercampur dengan senyum manis Keysha saat memeluk Marvel.
Dua tahun. Dua tahun Rian bertahan hidup hanya demi menjadi badut di pesta ulang tahun gadis itu.
Rian meremas rambutnya yang basah, terisak pelan di tengah gemuruh guntur.
Suara tangisnya menyedihkan, tenggelam oleh suara hujan yang menghantam bumi. Dia merasa menjadi manusia paling tidak berharga di dunia ini.
Tiba-tiba, hantaman air di kepalanya berhenti. Suara gemercik air berubah memantul di atas permukaan kain tebal.
Sebuah payung hitam transparan berlogokan minimarket kini terbentang di atas kepalanya.
Rian termangu. Dia menghapus air matanya dengan kasar, lalu mendongak.
Di balik remang lampu taman dan rintik hujan, berdiri seorang cewek berjaket denim kebesaran. Rambut pendeknya agak basah di bagian ujung, dan sepasang matanya yang bulat menatap Rian dengan tatapan yang sulit diartikan.
Campuran antara kasihan, kesal, dan lelah.
Ziva. Teman sekelasnya yang terkenal ketus dan tidak punya geng di sekolah. Cewek yang selalu tidur di pojok kelas saat pelajaran sejarah.
"Ngapain lo di sini?" suara Rian serak, nyaris hilang. "Mau ngetawain gue juga? Sana balik ke dalem aula. Tontonan lo kurang puas?"
Ziva tidak menjawab. Dia hanya menatap Rian yang menggigil seperti anak kucing telantar. Detik berikutnya, Ziva menutup payungnya dengan sentakan cepat, membiarkan tubuhnya ikut diguyur hujan deras dalam sekejap.
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Rian.
Suara kulit yang beradu itu terdengar nyaring, mengalahkan deru angin malam.
Rian terkesiap, memegang pipinya yang langsung terasa panas di tengah dinginnya air hujan. Dia menatap Ziva dengan mata membelalak, syok.
"Lo gila?!" bentak Rian, emosinya mulai tersulut.
"Lo yang gila, Rian!" Ziva balas berteriak, suaranya melengking menembus suara hujan. Napas cewek itu memburu. "Lo lihat diri lo sekarang! Kayak sampah! Lo nangisin cewek yang bahkan gak sudi ngelihat lo sebagai manusia? Mana Rian yang selalu rangking satu paralel? Mana Rian yang selalu punya jawaban pas guru nanya? Lo buang harga diri lo demi cewek modelan Keysha?!"
"Lo gak tahu apa-apa tentang gue dan Keysha!" Rian berdiri, suaranya meninggi, menantang Ziva di bawah guyuran hujan. "Dia... dia pernah nyelamatin gue, Ziv! Gue berutang hidup sama dia!"
Ziva maju satu langkah dengan terkekeh misterius, lalu mencengkeram kerah kemeja Rian yang basah, memaksa cowok itu menatap matanya yang berkilat tajam. "Lo lihat mata gue, Rian. Keysha yang lo puji-puji itu udah mati. Yang ada di dalam sana tadi cuma cewek sombong yang hobi nginjek perasaan orang demi gengsi! Sadar, bego! Syal lo dirusak, lo dipermaluin di depan Marvel, dan lo masih mau merangkak di kaki dia?!"
Kata-kata Ziva seperti belati yang menusuk langsung ke pusat luka Rian. Menyakitkan, tapi anehnya, membuat kabut di kepala Rian perlahan terkikis. Rian menatap Ziva.
Di mata cewek itu, Rian tidak melihat ejekan. Ada kemarahan yang tulus di sana. Kemarahan karena melihat seseorang menyia-nyiakan dirinya sendiri.
Cengkeraman Ziva di kerah Rian perlahan melonggar. Dia menurunkan tangannya, lalu mengusap wajahnya yang basah oleh air hujan. Ziva menghela napas panjang, mencoba menstabilkan emosinya yang sempat meledak.
"Gue capek ngelihat lo jadi keset kaki di sekolah, Rian," ujar Ziva, suaranya kini melunak, digantikan oleh nada dingin yang kalkulatif. "Dan kebetulan, gue lagi butuh orang gila yang gak punya beban buat bantuin gue."
Rian mengernyit, masih berusaha mencerna situasi. "Maksud lo?"
Ziva memungut kembali payungnya yang tergeletak di bangku taman, mengibaskannya perlahan, lalu menatap Rian dengan senyum miring yang mendadak muncul di sudut bibirnya. Itu bukan senyum mengejek seperti milik Keysha, melainkan senyum penuh rencana.
"Gue tahu lo benci Marvel. Dan lo harus tahu, gue jauh lebih benci sama cowok brengsek itu," kata Ziva, matanya menyipit kejam saat menyebut nama Marvel. "Dia pikir dia bisa mainin semua cewek di sekolah ini, termasuk gue."
Rian tertegun. Dia baru ingat desas-desus beberapa bulan lalu kalau Ziva pernah dekat dengan Marvel sebelum Marvel beralih mengejar Keysha untuk menaikkan status sosialnya.
Ziva melangkah mendekati Rian, menyodorkan kembali payung hitamnya ke tangan Rian yang gemetar.
Kali ini, Rian menerimanya tanpa sadar. Ziva berdiri sangat dekat, hingga Rian bisa mencium aroma samar parfum vanila yang bercampur dengan bau air hujan dari tubuh cewek itu.
Ziva menepuk bahu Rian yang basah, lalu membisikkan sebuah kalimat yang langsung membuat darah Rian yang tadinya sedingin es, mendadak berdesir panas.
"Mulai besok, lo jadi pacar sewaan gue buat bikin mantan gue panas!"
Rian mematung. Kepalanya mendadak kosong. "Pacar... sewaan?"
"Iya. Kita bikin skenario," Ziva mundur dua langkah, melipat tangannya di dada dengan ekspresi mutlak yang tidak menerima penolakan. "Lo butuh bikin Keysha nyesel dan sadar kalau lo bukan cowok menyedihkan yang bisa dia injek-injek. Dan gue butuh bikin Marvel ngerasa kalah karena cewek yang dia buang ternyata bisa dapet cowok yang jauh lebih pinter dari dia. Kita saling manfaatin, Rian. Gimana? Deal?"
Hujan perlahan mulai mereda, menyisakan rintik-rintik tipis yang jatuh di antara mereka berdua. Rian menatap payung di tangannya, lalu menatap Ziva yang berdiri menantangnya di bawah langit malam.
Dunia Rian memang baru saja hancur beberapa menit lalu. Tapi di depan matanya sekarang, Ziva justru menyodorkan sebuah palu besar untuk menghancurkan balik orang-orang yang telah meremukkannya.
Rian mengepalkan tangan kirinya yang bebas. Rasa perih di pipinya akibat tamparan Ziva masih ada, tapi rasa sakit di dadanya mendadak berganti menjadi sesuatu yang baru. Sesuatu yang dinamakan dendam, yang dibungkus rapi dalam sebuah kesepakatan gila.
"Oke," jawab Rian, suaranya kini terdengar dalam dan penuh determinasi. "Gue ikut permainan lo."
Ziva tersenyum puas. "Bagus. Selamat datang di neraka, Rian."
......................
...****************...
Tbc,