Dimadu di Hari Pernikahannya. Ditolak mentah-mentah lewat pesan, Naura Kirana, gadis bercadar yang harus menanggung malu di hari pernikahannya.
Demi menyelamatkan keluarga, Cakra, adik mempelai pria terpaksa menggantikan posisi kakaknya.
Namun, alih-alih melindunginya, Cakra yang sejak awal membenci wanita bercadar itu justru langsung membawa dan menikahi kekasihnya sendiri tepat di hari yang sama, memadu Naura di depan mata.
Di balik itu semua, ternyata, Komandan Anggara yang merupakan calon suami Naura, tidak pernah menolaknya, semua terjadi hanya salah paham.
Pembatalan itu murni ulah licik bawahan Anggara yang merupakan seorang wanita yang terobsesi padanya.
Lalu, bagaimana kelanjutan nasib Naura? Apakah Anggara berhasil meluruskan semuanya? bagaimana kisahnya saat tiba-tiba hadirnya seorang gadis yang berusia 6 tahun yang ternyata merupakan anak kandung Naura? siapakah ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanyaan Mematikan
"Pak Anggara,"
Pria itu sedikit terkejut, saat tiba-tiba mendengar suara Naura Yang menyapanya.
"Kapan, Pak Anggara datang?" Lanjutnya bertanya, sembari mendekati pria itu.
"Baru saja. Kau dari mana?" Anggara bertanya pada Naura.
"Oh, ini," mengangkat kantong kresek di tangannya. "Aku dari beli makanan."
"Oh ya, Pak Anggara, saya mau Tanya, kenapa bapak tempatkan putri saya di ruang VIP? saya tidak mau berutang dengan Anda," ujar Naura.
"Aku tidak menganggapnya utang, dan aku juga tidak memintamu untuk membayarnya,"
"Tapi tetap saja, saya tidak bisa terima,"
"Kiki itu secara tidak langsung kan ponakan saya ya? Karena kamu kan istrinya Cakra. Anggap saja aku melakukan ini untuk kekeluargaan," tutur Anggara, tidak ingin Naura menolak bantuannya.
"Di mana-mana yang namanya keluarga, memang tetap menjadi keluarga. Hanya saja, uang tidak ada yang namanya berkeluarga," ucap Naura menolak tegas, bantuan dari pria itu.
Tapi siapa sangka, pria itu justru mengikis jarak di antara mereka. Yang membuat Naura waspada.
"Anda, mau apa?" Melangkah mundur.
"Kalau begitu, bagaimana jika kau bayarnya dengan membalas perasaanku kepadamu?" Tersenyum tipis.
.
Naura menelan salivanya. Dia melempar pandangan ke sebarang arah.
"Anda ini sering bicara yang aneh-aneh, padahal Anda sendiri tau kalau saya ini istri dari adik Anda. Dan Anda tidak pantas mengatakan itu,"
"Siapa yang peduli? Kalian juga cuma pasangan suami istri sementara, kan? Lagipula... matamu tidak bisa berbohong padaku, Naura. Aku tahu kalau kau juga punya perasaan padaku..." Ujar Anggara yang bisa merasakan detak jantung wanita dihadapannya itu.
Blus...
Wajah dibalik cadarnya bersemu merah.
"Anda percaya diri sekali. Dan Anda benar, pasangan suami istri sementara yang Anda ciptakan sendiri," tutur Naura, menyindir pria itu.
"Ak---"
"Terima kasih Pak Anggara, karena sudah membantu putri saya mendonorkan darah," potong Naura, saat pria itu kembali ingin bersuara, dia langsung mengubah topik pembicaraan.
Sunyi...
Untuk beberapa saat diantara mereka sunyi. Naura sebenarnya berharap pria itu mau cepat pergi, karena dia merasa sangat canggung berada hanya berdua dalam ruangan itu.
"Naura," panggil pria itu, justru menatapnya semakin lekat seolah bisa menembus dasar hatinya.
"Iya?"
"Apa kau bisa jujur? Sebenarnya siapa ayah dari anakmu ini?"
DEG!
Tidak tau kenapa, pria itu tiba-tiba menanyakan hal yang di mana Naura sendiri tidak tau jawabannya. Karena dia juga tidak tau siapa sebenarnya ayah anaknya itu.
Dia terdiam tak mampu mengeluarkan jawaban, untuk pertanyaan Anggara.
Di lain tempat, kediaman keluarga besar Safira, terlihat Nada baru saja pulang setelah pergi beberapa hari.
Gadis itu memakai jaket Hoodie berwarna hitam, dengan penampilan berantakan dia mengendap-ngendap masuk ke dalam rumah agar tidak terlihat oleh mertuanya.
Setelah berhasil, dia langsung menuju ke kamar Cakra. Saat baru masuk ke dalam, dia dikejutkan oleh suara pria itu.
"Dari mana saja kau, Nada? Kenapa kau baru pulang? Sudah berapa hari ini kau pergi dari rumah. Aku bahkan sampai kewalahan mencarikan alasan buat kamu, untuk Mama!" Ucap Cakra menatapnya tajam.
Nada memutar bola mata malas, "Bos, perjanjian gaji aku tuh di sini cuma sekian, dan itu terlalu kecil. Aku butuh uang lebih banyak dari itu!" Jawab Nada ketus.
"Kau! Berani kau tinggikan nada di depanku?" geram Cakra.
"Sudahlah Bos, tidak usah berakting, hanya kita berdua di sini."
"Kalau butuh uang, kau kan bisa minta denganku," ujar Cakra.
Nada tak peduli, dan ingin masuk ke dalam kamar mandi. Akan tetapi, Cakra langsung menghalanginya.
"Kau ada tau informasi tentang Naura?" tanya Cakra penasaran.
Gadis itu mendengus, "Anda itu lebih kaya dan banyak uang. Cari saja orang, lalu bayar buat cari tau sendiri. Ngapain juga nanya ke saya?"
"Hei! Kalo ditanya itu jawab! Kamu kan banyak mengetahui tentangnya, karena kamu itu terlalu banyak kepo tentang kehidupan Naura," jengkel Cakra.
Tiba-tiba, Nada tersenyum penuh arti. "Apa Bos mulai menyukai istri Bos itu?"
"Ck! Mana ada aku suka sama dia! Yang benar saja!"
"Lihat wajah Anda memerah, Anda terlihat malu. Ahahahahahaha," nada tertawa meledek Cakra, sehingga suaranya itu memenuhi ruangan.
Cakra langsung membekap mulutnya, "brisik!" Cakra menatapnya tajam.
"Lagian kenapa kau tertawa, tidak ada yang lucu!" Lanjutnya.
"Ya lucu dong, Bos. Gini ya aku jelasin, sebelumnya kan Bos suka dengan wanita yang menyukai Pak Anggara? Sekarang, Bos suka lagi dengan Naura yang di mana juga kayaknya Naura itu sukanya sama Pak Anggara, begitupun dengan Pak Anggara yang juga seperti suka sama Naura. Nah, disini itu Anda kasihan sekali, karena nggak pernah di sukai..." Tutur gadis itu, kembali melanjutkan tawanya.
"Diam kamu! Mau saya pecat!" Ancam Cakra.
Nada justru tidak takut dan mengangkat dagunya, menantang. "Pecat saja, kalau Bos pecat saya. Yang ada, Bos yang kewalahan sendiri ngadepin mamanya Bos. Lagipula, aku udah terlanjur jadi istri sahnya Bos!" Ucap Nada, sengaja memancing emosi pria itu.
"Kau!!!!"
"Dadah Bos nggak laku," ledek gadis itu ingin masuk ke dalam kamar mandi.
Akan tetapi, dia tiba-tiba menghentikan langkahnya. Wajahnya juga berubah serius.
"Naura bersama putrinya ada di rumah sakit, putrinya tertabrak mobil," tutur gadis itu, lalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Apa!" Cakra sangat kaget, saat mendengar ucapan Nada.
"Kamu serius Nada?"
"Untuk apa saya berbohong?" Jawab Nada, dari dalam kamar mandi.
Cakra bergegas bersiap, ingin segera datang ke rumah sakit untuk melihat kondisi Kiki.
Di rumah sakit, Anggara masih menunggu jawaban dari Naura yang masih bungkam.
"Ini masalah pribadi saya... Anda tidak seharusnya mencampurinya," tutur Naura, mengelak.
"Naura," panggil pria itu lagi, membuat jantungnya berdebar-debar.
Takut kalau pria itu kembali melayangkan pertanyaan yang tak bisa dia jawab.
"Aku tanya kamu sekali lagi, dan coba kamu jawab aku jujur..." Menggantung sejenak ucapannya.
"Sekitar 7 tahun yang lalu, apa kamu pernah berada di hotel Cakrawala?" Lanjut Anggara menatapnya intens.
DEG!
Naura menoleh cepat ke arah Anggara, saat mendengar pertanyaan pria itu.
dan anggara ayah anakmu...duhhh hanya di novel yang bisa gini.
jatuh cinta pada bapak anak sendiri🤭
masak mencintai org yg mencintai kakaknya terulang kembali..kasihan juga cakra🤭😭
wah sip anggara 👍buruan tes dna kiki biar sgra jls