NovelToon NovelToon
Pendekar Sang Penakluk

Pendekar Sang Penakluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Bima Samudra, pemuda tampan dan jenius yang hidup terisolasi di puncak Gunung Lawu bersama seorang guru cantik dan tujuh kakak seperguruan yang luar biasa cantik. Di era modern yang penuh kebisingan, Bima justru ditempa dalam kesunyian, menguasai bela diri kuno dan ilmu pengobatan warisan leluhur. Mereka semua menyayanginya lebih dari nyawa mereka sendiri. Hingga sebuah takdir memanggil ketujuh kakaknya untuk turun gunung kembali ke hiruk-pikuk kota. Dan dari sinilah, rahasia besar tentang jati diri Bima yang sesungguhnya mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: SYAIR DARI PUNCAK LAWU

Di antara para tamu yang memenuhi aula besar Kerajaan Mataram Baru, hadir pula putra-putri bangsawan dari berbagai penjuru tanah air — dari Solo, Yogya, Semarang, hingga Kediri. Mereka tampak anggun dan gagah dalam pakaian terbaik, namun di antara mereka ada yang belum pernah menyaksikan langsung kekuatan pahlawan muda yang bernama Bima Samudra itu.

Saat Bima melangkah masuk diiringi Amelia dan Intania, Raja Sima Ngusada beserta para tetua dan pemimpin perguruan seketika berdiri. Semua orang tahu betapa dahsyatnya kekuatan pemuda ini, dan betapa tegasnya ia terhadap mereka yang berani mengganggu orang-orang yang ia sayangi — tak ada yang lupa bagaimana Raja Barat dan seluruh pengikutnya lenyap dalam sekejap karena kesombongan mereka.

Bima memberi salam dengan sopan, lalu duduk di tempat yang telah disiapkan untuknya. Di sudut-sudut ruangan, terdengar bisik-bisik dari kalangan muda yang belum pernah ikut bertempur di Lembah Kematian.

"Dia hanya berpakaian sederhana, dari mana asalnya sebenarnya?"

"Mungkin dia hanya beruntung saja waktu itu..."

Pendengaran Bima begitu tajam, setiap kata itu terdengar jelas di telinganya. Namun ia hanya tersenyum tipis dan memilih diam. Tidak ada gunanya menjelaskan kepada mereka yang belum siap memahami.

Malam semakin larut. Putri Kirana, putri sulung Raja Sima Ngusada, selesai memainkan lagu di atas mandolin. Suara alunan itu begitu indah, membuat seluruh aula terdiam terpesona. Tepuk tangan gemuruh menyambutnya selesai bermain.

Putri Kirana tersenyum anggun lalu menatap ke arah Bima. "Sang Pahlawan, jika berkenan, bolehkah kami mendengar senandung dari tempat asalmu? Kami semua ingin mendengarnya."

Sebagian besar hadirin bersorak antusias, namun tak sedikit pula yang diam-diam berharap Bima akan malu karena tak bisa menampilkan apa-apa.

Bima berdiri perlahan dan tersenyum lembut. "Aku hanya bisa memetik kecapi dengan sederhana. Tidak seindah permainan Tuan Putri tadi. Namun jika kalian berkenan, aku akan mencoba sebaik yang kubisa."

"Oh, silakan saja! Justru kami merasa terhormat," jawab Putri Kirana tulus.

Bima berjalan ke tengah aula. Dari Cincin Semesta di jarinya, ia mengeluarkan sebuah kecapi kayu berukir naga yang tua namun terawat indah. Sebelum memetik senarnya, Bima memejamkan mata sejenak dan mengalirkan energi Nirvana murni ke dalam alat musik itu, membentuk ilusi halus yang menyentuh hati setiap pendengarnya.

Triiing...

Satu petikan pertama mengalun lembut, dan seketika riuh rendah aula lenyap. Semua mata tertuju padanya, napas pun tertahan. Lalu Bima mulai menyanyikan syair yang begitu sederhana namun begitu dalam:

Dinginnya angin malam ini menyapa tubuhku

Namun tak mampu mendinginkan panasnya hatiku

Terasa terhempasnya harapanku ini oleh sikapmu

Apakah karena aku hanyalah insan yang biasa?

Mudahnya kau mainkan hatiku yang tulus ini

Mungkinkah aku bisa mengubah buih menjadi permadani?

Seperti janji cinta yang kau ucapkan dahulu

Mustahil bagiku menggapai bintang di langit tinggi

Siapalah aku? Hanya manusia biasa yang lemah

Namun yang mampu kuberi hanyalah ketulusan hati

Salahku juga, karena berani jatuh cinta kepadamu

Yang anggun bagai bidadari dari kayangan

Seharusnya aku melihat siapa diriku dulu

Sebelum kubuka pintu hatiku lebar-lebar untukmu...

Suara Bima rendah dan lembut, namun menembus ke dalam sanubari. Tak terasa, air mata mulai menetes di pipi para pendengar. Syair itu bukan sekadar kata-kata — ia adalah cerminan perasaan tulus yang pernah dikhianati, harapan yang dipatahkan, dan kerendahan hati yang menerima kenyataan. Para putri bangsawan yang tadi sempat meremehkan Bima kini menangis terisak, menyadari betapa sempitnya pandangan mereka selama ini. Penyesalan terasa menyesakkan dada.

Ketika alunan terakhir memudar ke dalam keheningan, sejenak tak ada suara. Lalu meledaklah tepuk tangan yang begitu meriah, menggema ke seluruh penjuru istana.

"Luar biasa... sungguh luar biasa..." gumam Bima dalam hati sambil tersenyum kecil melihat mereka yang masih mengusap air mata di pipi. Ia tidak menunggu pujian berlama-lama, melainkan berjalan kembali ke tempat duduknya.

Di sana, dua pelukan hangat langsung menyambutnya. Amelia dan Intania menatapnya dengan mata berbinar penuh bangga.

"Bima, kau sungguh menaklukkan hati semua orang malam ini," bisik Intania lembut.

Bima tersenyum dan merangkul mereka berdua. "Aku tak ingin menaklukkan siapa pun selain kalian berdua. Buat apa memiliki dunia jika aku tidak memiliki kalian?"

Intania mencubit pelan lengan Bima sambil tersipu malu. "Ihhh... mulutmu selalu saja manis berlebihan."

"Karena tempat di hatiku hanya untuk kalian berdua, tentu rasanya selalu manis," jawab Bima sambil tersenyum nakal.

"Sudah-sudah, nanti didengar orang lain lho," tegur Amelia sambil menekan pelan pipi Bima. Bima pura-pura meringis kesakitan sambil mengelus pinggangnya, membuat mereka berdua tertawa lepas.

Saat mereka sedang bercanda, beberapa putri bangsawan berjalan mendekat dengan langkah yang ragu namun tulus.

"Bima, sepertinya mereka ingin bicara denganmu," bisik Amelia.

"Biarlah. Jika niat mereka baik, kita sambut dengan baik. Jika sebaliknya, kita tahu cara menjawabnya," jawab Bima tenang.

Mereka berhenti di depan Bima, menundukkan kepala dengan penuh hormat.

"Kami hanya ingin meminta maaf. Sebelumnya kami terlalu menilai seseorang dari penampilannya saja. Kami salah, dan kami sungguh menyesal," ucap salah seorang dari mereka dengan suara lembut namun tulus.

Bima tersenyum lembut. "Aku menerima permintaan maaf kalian. Tapi ada satu syarat."

"Apa itu...?" tanya mereka serentak.

"Mulai hari ini, jangan pernah lagi meremehkan siapa pun. Kita semua sama — manusia biasa yang dibedakan hanya oleh sedikit keberuntungan dan kesempatan. Itu bukan alasan untuk merendahkan orang lain."

Mendengar itu, mereka serta seluruh orang yang hadir di sana merasa semakin kagum. Di hadapan kekuatan yang bisa menghancurkan kerajaan dalam sekejap, Bima justru mengajarkan kerendahan hati. Para tetua dan bangsawan merasa malu — betapa kecilnya diri mereka dibanding pemuda yang tidak memiliki gelar apa pun ini.

"Kami berjanji," ucap mereka tulus sambil menahan tangis.

Bima tersenyum melegakan. "Sudah, jadikan masa lalu sebagai pelajaran. Mari kita mulai lembaran baru. Jika kita saling menghormati dan bersatu, maka Tanah Jawa ini akan sekuat gunung batu. Ancaman apa pun dari luar akan bisa kita hadapi bersama, bergandengan tangan dengan tekad yang kuat."

Suasana aula dipenuhi tepuk tangan yang tulus. Semua orang merasa terinspirasi. Bukan karena kekuatan Bima, melainkan karena kebijaksanaannya.

Malam pun semakin larut. Perlahan pesta mulai sepi. Beberapa orang pulang ke kediaman masing-masing, ada yang terlelap di ruang istirahat, dan ada yang kembali ke penginapan. Bima pun berdiri dan mengajak Amelia serta Intania menuju kamar mereka.

Sesampainya di kamar, Bima membaringkan mereka dengan lembut. Lalu ia berbaring di tengah-tengah mereka, merangkul pinggang mereka berdua dengan penuh kasih sayang. Kehangatan tubuh mereka membuat hati Bima terasa damai.

Namun di keheningan malam itu, pikirannya melayang jauh ke arah Gunung Lawu. Terbayang wajah gurunya, Ratu Ayu Kirana, serta ketujuh kakak seperguruannya yang cantik dan penuh kasih sayang. Sejak kecil, hanya merekalah keluarganya. Hanya mereka yang melindunginya dengan nyawa, yang membesarkannya dengan kasih yang tak terhingga.

Satu per satu kenangan indah bermunculan — pagi yang dingin di puncak gunung, aroma masakan kakak perempuannya, tawa riang saat mereka selesai berlatih, nasihat gurunya yang selalu menenangkan hatinya.

Aku benar-benar harus pulang, pikir Bima dalam hati sambil membelai rambut Intania yang sudah terlelap. Besok pagi, aku harus mencari cara untuk kembali ke Gunung Lawu.

Dengan tekad yang bulat, Bima memejamkan mata, namun senyumnya tetap terukir lembut di wajahnya.

BERSAMBUNG...

1
Night Watcher
bosen....
kelamaan, berapa bab yg ada cuma rencana mulu. banyakan drama gak jadi² ke padepokan.🤦
Night Watcher
berarti, kemanapun bima pergi, mereka selalu ikut dong?🤭🤭🤭
Night Watcher
bima masa ikut disebut?🤭🤭
Night Watcher
ternyata masih terjebak di jaman kerajaan. 😇😇🤭🤦
Night Watcher
padahal yg cerita tadi intan & amel, berarti penjaga gerbangnya intan & amel ya? 🤭🤭
Night Watcher
padahal dr sejak awal bertemu bima, intan bercerita "adiknya sedang sakit parah".
sekarang setelah sembuh berubah jadi kakaknya..
priwe mbok thor?
fareva: Halo kak Night Watcher, terima kasih banyak sudah sangat jeli, ini mata pembaca Lv20 memang beda 🙏

Untuk ini saya luruskan biar tidak bingung ke depannya ya:

1. Nama yang benar adalah "Amelia Sri Anggrek" itu adalah nama draft lama sebelum revisi besar. Jadi sekarang semua sudah saya ganti konsisten menjadi Amelia.

2. Statusnya Amelia adalah "Adik" dari Intania. Intania itu Kakak Tertua sekaligus Ketua Perguruan Anggrek Putih di Ngargoyoso, dan Amelia adalah adik kandung kesayangannya yang sakit racun dingin itu.

Terima kasih sudah diingatkan, Sehat selalu kak!
total 1 replies
Night Watcher
yg benar namanya "amelia" atau "sari anggrek"?
terus setatusnya "adik" atau "kakaknya" intan?
fareva: Wah terima kasih koreksinya kak, jeli banget.

Yang benar Amelia ya kak. Sari Anggrek itu nama lama sebelum revisi, jadi ada beberapa bab awal yang kelewat belum keganti.

Dan Amelia itu statusnya adiknya Intania, bukan kakaknya.

Sudah saya catat, akan saya bereskan biar konsisten ke depan. Thanks kak!
total 1 replies
Night Watcher
ternyata yg bisa hidup di alam ini hanya satu pria, sisanya wanita semua... 😂😂😂😂🤭
Night Watcher
gak s4 pamit / ketemu sama bu guru ya pas mau turun gunung? atau aku yg kelewat bacanya?
fareva: Kakak tidak kelewat baca kok, memang sengaja tidak saya tulis pamitnya.

Perpisahan Bima Samudra dengan Gurunya, Ratu Ayu Kirana, di puncak Gunung Lawu itu bukan perpisahan biasa. Itu akan jadi salah satu misteri besar dan kunci utama di Babak IV nanti, kenapa Guru meninggalkan pesan "Jika berjodoh pasti bertemu lagi".

Jadi bukan dilupakan, tapi memang sengaja saya simpan untuk plot twist besarnya. Tungguin ya, nanti akan dijelaskan kenapa Guru harus pergi diam-diam.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!