Bima Samudra, pemuda tampan dan jenius yang hidup terisolasi di puncak Gunung Lawu bersama seorang guru cantik dan tujuh kakak seperguruan yang luar biasa cantik. Di era modern yang penuh kebisingan, Bima justru ditempa dalam kesunyian, menguasai bela diri kuno dan ilmu pengobatan warisan leluhur. Mereka semua menyayanginya lebih dari nyawa mereka sendiri. Hingga sebuah takdir memanggil ketujuh kakaknya untuk turun gunung kembali ke hiruk-pikuk kota. Dan dari sinilah, rahasia besar tentang jati diri Bima yang sesungguhnya mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: SYAIR DARI PUNCAK LAWU
Di antara para tamu yang memenuhi aula besar Kerajaan Mataram Baru, hadir pula putra-putri bangsawan dari berbagai penjuru tanah air — dari Solo, Yogya, Semarang, hingga Kediri. Mereka tampak anggun dan gagah dalam pakaian terbaik, namun di antara mereka ada yang belum pernah menyaksikan langsung kekuatan pahlawan muda yang bernama Bima Samudra itu.
Saat Bima melangkah masuk diiringi Amelia dan Intania, Raja Sima Ngusada beserta para tetua dan pemimpin perguruan seketika berdiri. Semua orang tahu betapa dahsyatnya kekuatan pemuda ini, dan betapa tegasnya ia terhadap mereka yang berani mengganggu orang-orang yang ia sayangi — tak ada yang lupa bagaimana Raja Barat dan seluruh pengikutnya lenyap dalam sekejap karena kesombongan mereka.
Bima memberi salam dengan sopan, lalu duduk di tempat yang telah disiapkan untuknya. Di sudut-sudut ruangan, terdengar bisik-bisik dari kalangan muda yang belum pernah ikut bertempur di Lembah Kematian.
"Dia hanya berpakaian sederhana, dari mana asalnya sebenarnya?"
"Mungkin dia hanya beruntung saja waktu itu..."
Pendengaran Bima begitu tajam, setiap kata itu terdengar jelas di telinganya. Namun ia hanya tersenyum tipis dan memilih diam. Tidak ada gunanya menjelaskan kepada mereka yang belum siap memahami.
Malam semakin larut. Putri Kirana, putri sulung Raja Sima Ngusada, selesai memainkan lagu di atas mandolin. Suara alunan itu begitu indah, membuat seluruh aula terdiam terpesona. Tepuk tangan gemuruh menyambutnya selesai bermain.
Putri Kirana tersenyum anggun lalu menatap ke arah Bima. "Sang Pahlawan, jika berkenan, bolehkah kami mendengar senandung dari tempat asalmu? Kami semua ingin mendengarnya."
Sebagian besar hadirin bersorak antusias, namun tak sedikit pula yang diam-diam berharap Bima akan malu karena tak bisa menampilkan apa-apa.
Bima berdiri perlahan dan tersenyum lembut. "Aku hanya bisa memetik kecapi dengan sederhana. Tidak seindah permainan Tuan Putri tadi. Namun jika kalian berkenan, aku akan mencoba sebaik yang kubisa."
"Oh, silakan saja! Justru kami merasa terhormat," jawab Putri Kirana tulus.
Bima berjalan ke tengah aula. Dari Cincin Semesta di jarinya, ia mengeluarkan sebuah kecapi kayu berukir naga yang tua namun terawat indah. Sebelum memetik senarnya, Bima memejamkan mata sejenak dan mengalirkan energi Nirvana murni ke dalam alat musik itu, membentuk ilusi halus yang menyentuh hati setiap pendengarnya.
Triiing...
Satu petikan pertama mengalun lembut, dan seketika riuh rendah aula lenyap. Semua mata tertuju padanya, napas pun tertahan. Lalu Bima mulai menyanyikan syair yang begitu sederhana namun begitu dalam:
Dinginnya angin malam ini menyapa tubuhku
Namun tak mampu mendinginkan panasnya hatiku
Terasa terhempasnya harapanku ini oleh sikapmu
Apakah karena aku hanyalah insan yang biasa?
Mudahnya kau mainkan hatiku yang tulus ini
Mungkinkah aku bisa mengubah buih menjadi permadani?
Seperti janji cinta yang kau ucapkan dahulu
Mustahil bagiku menggapai bintang di langit tinggi
Siapalah aku? Hanya manusia biasa yang lemah
Namun yang mampu kuberi hanyalah ketulusan hati
Salahku juga, karena berani jatuh cinta kepadamu
Yang anggun bagai bidadari dari kayangan
Seharusnya aku melihat siapa diriku dulu
Sebelum kubuka pintu hatiku lebar-lebar untukmu...
Suara Bima rendah dan lembut, namun menembus ke dalam sanubari. Tak terasa, air mata mulai menetes di pipi para pendengar. Syair itu bukan sekadar kata-kata — ia adalah cerminan perasaan tulus yang pernah dikhianati, harapan yang dipatahkan, dan kerendahan hati yang menerima kenyataan. Para putri bangsawan yang tadi sempat meremehkan Bima kini menangis terisak, menyadari betapa sempitnya pandangan mereka selama ini. Penyesalan terasa menyesakkan dada.
Ketika alunan terakhir memudar ke dalam keheningan, sejenak tak ada suara. Lalu meledaklah tepuk tangan yang begitu meriah, menggema ke seluruh penjuru istana.
"Luar biasa... sungguh luar biasa..." gumam Bima dalam hati sambil tersenyum kecil melihat mereka yang masih mengusap air mata di pipi. Ia tidak menunggu pujian berlama-lama, melainkan berjalan kembali ke tempat duduknya.
Di sana, dua pelukan hangat langsung menyambutnya. Amelia dan Intania menatapnya dengan mata berbinar penuh bangga.
"Bima, kau sungguh menaklukkan hati semua orang malam ini," bisik Intania lembut.
Bima tersenyum dan merangkul mereka berdua. "Aku tak ingin menaklukkan siapa pun selain kalian berdua. Buat apa memiliki dunia jika aku tidak memiliki kalian?"
Intania mencubit pelan lengan Bima sambil tersipu malu. "Ihhh... mulutmu selalu saja manis berlebihan."
"Karena tempat di hatiku hanya untuk kalian berdua, tentu rasanya selalu manis," jawab Bima sambil tersenyum nakal.
"Sudah-sudah, nanti didengar orang lain lho," tegur Amelia sambil menekan pelan pipi Bima. Bima pura-pura meringis kesakitan sambil mengelus pinggangnya, membuat mereka berdua tertawa lepas.
Saat mereka sedang bercanda, beberapa putri bangsawan berjalan mendekat dengan langkah yang ragu namun tulus.
"Bima, sepertinya mereka ingin bicara denganmu," bisik Amelia.
"Biarlah. Jika niat mereka baik, kita sambut dengan baik. Jika sebaliknya, kita tahu cara menjawabnya," jawab Bima tenang.
Mereka berhenti di depan Bima, menundukkan kepala dengan penuh hormat.
"Kami hanya ingin meminta maaf. Sebelumnya kami terlalu menilai seseorang dari penampilannya saja. Kami salah, dan kami sungguh menyesal," ucap salah seorang dari mereka dengan suara lembut namun tulus.
Bima tersenyum lembut. "Aku menerima permintaan maaf kalian. Tapi ada satu syarat."
"Apa itu...?" tanya mereka serentak.
"Mulai hari ini, jangan pernah lagi meremehkan siapa pun. Kita semua sama — manusia biasa yang dibedakan hanya oleh sedikit keberuntungan dan kesempatan. Itu bukan alasan untuk merendahkan orang lain."
Mendengar itu, mereka serta seluruh orang yang hadir di sana merasa semakin kagum. Di hadapan kekuatan yang bisa menghancurkan kerajaan dalam sekejap, Bima justru mengajarkan kerendahan hati. Para tetua dan bangsawan merasa malu — betapa kecilnya diri mereka dibanding pemuda yang tidak memiliki gelar apa pun ini.
"Kami berjanji," ucap mereka tulus sambil menahan tangis.
Bima tersenyum melegakan. "Sudah, jadikan masa lalu sebagai pelajaran. Mari kita mulai lembaran baru. Jika kita saling menghormati dan bersatu, maka Tanah Jawa ini akan sekuat gunung batu. Ancaman apa pun dari luar akan bisa kita hadapi bersama, bergandengan tangan dengan tekad yang kuat."
Suasana aula dipenuhi tepuk tangan yang tulus. Semua orang merasa terinspirasi. Bukan karena kekuatan Bima, melainkan karena kebijaksanaannya.
Malam pun semakin larut. Perlahan pesta mulai sepi. Beberapa orang pulang ke kediaman masing-masing, ada yang terlelap di ruang istirahat, dan ada yang kembali ke penginapan. Bima pun berdiri dan mengajak Amelia serta Intania menuju kamar mereka.
Sesampainya di kamar, Bima membaringkan mereka dengan lembut. Lalu ia berbaring di tengah-tengah mereka, merangkul pinggang mereka berdua dengan penuh kasih sayang. Kehangatan tubuh mereka membuat hati Bima terasa damai.
Namun di keheningan malam itu, pikirannya melayang jauh ke arah Gunung Lawu. Terbayang wajah gurunya, Ratu Ayu Kirana, serta ketujuh kakak seperguruannya yang cantik dan penuh kasih sayang. Sejak kecil, hanya merekalah keluarganya. Hanya mereka yang melindunginya dengan nyawa, yang membesarkannya dengan kasih yang tak terhingga.
Satu per satu kenangan indah bermunculan — pagi yang dingin di puncak gunung, aroma masakan kakak perempuannya, tawa riang saat mereka selesai berlatih, nasihat gurunya yang selalu menenangkan hatinya.
Aku benar-benar harus pulang, pikir Bima dalam hati sambil membelai rambut Intania yang sudah terlelap. Besok pagi, aku harus mencari cara untuk kembali ke Gunung Lawu.
Dengan tekad yang bulat, Bima memejamkan mata, namun senyumnya tetap terukir lembut di wajahnya.
BERSAMBUNG...
kelamaan, berapa bab yg ada cuma rencana mulu. banyakan drama gak jadi² ke padepokan.🤦
sekarang setelah sembuh berubah jadi kakaknya..
priwe mbok thor?
terus setatusnya "adik" atau "kakaknya" intan?