Dicampakkan Aris karena dianggap tidak selevel, Aura memilih balas dendam paling elegan: Menikahi Hendra (38th), ayah Aris yang tampan dan kaya raya.
Kini, sang mantan harus tunduk di bawah kekuasaan ibu tiri barunya.
"Dulu kamu menginjakku, Aris. Sekarang, panggil aku Ibu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BABAK BARU
“Bagaimana hasil laporan pemeriksaan medis Rendra dari dokter pribadi tadi, Mas?”
Suara lembut Aura mengalun di dalam ruang keluarga kediaman utama Fahreza yang hangat. Wanita berusia dua puluh delapan tahun itu duduk anggun di sofa beludru abu-abu, mengenakan pakaian santai rumahan yang tetap memancarkan pesona berkelas seorang Komisaris Utama. Di pangkuannya, Rendra tampak tertidur pulas setelah melalui malam yang melelahkan di Sentul.
Hendra Fahreza melangkah mendekat dari arah beranda luar, baru saja menyelesaikan sambungan telepon darurat dengan pihak kepolisian dan tim hukum perusahaannya. Pria matang berusia empat puluh tiga tahun itu melepas jasnya, memperlihatkan kemeja putih dengan lengan yang digulung rapi hingga siku.
Hendra berlutut sejenak di depan sofa, merapikan selimut kecil yang menutupi tubuh Rendra, lalu mendongak menatap istrinya dengan sorot mata penuh ketenangan dan cinta yang teramat dalam.
“Dokter bilang fisik Rendra baik-baik saja, tidak ada luka sedikit pun, Sayang,” bisik Hendra lembut, mengusap pipi mulus putranya sebelum beralih menggenggam jemari lentik Aura. “Hanya butuh beberapa hari istirahat dan pelukan hangat kita agar rasa trauma di hatinya hilang sepenuhnya.”
Aura menghela napas lega, senyuman tulus terukir di bibirnya yang kemerahan. Ia mencondongkan tubuhnya, menyambut kecupan hangat yang diberikan sang suami di keningnya.
“Puji Tuhan... Aku sempat khawatir malam penyerbuan itu bakal ninggalin luka mendalam buat mental Rendra,” ucap Aura jujur, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu bidang suaminya.
Hendra merangkul pinggang Aura dengan sangat erat, menyalurkan kehangatan mutlak yang selalu mampu menghapus sisa-sisa ketegangan malam kemarin.
“Kamu tidak perlu khawatir lagi, Ratu saya,” tutur Hendra dengan suara beratnya yang menenangkan. “Aris sudah resmi ditahan di sel isolasi ketat kepolisian atas dakwaan berlapis. Berkas tuntutan dari tim hukum kita sudah diserahkan, dan kali ini tidak akan ada celah baginya untuk keluar atau menghirup udara bebas dalam waktu sangat lama.”
Aura menegakkan kepalanya, menatap lurus ke dalam manik mata cokelat gelap suaminya. “Dan bagaimana dengan Wijaya Group? Pak Wijaya pasti tidak tinggal diam setelah uang lima puluh triliun mereka tersedot di lelang kemarin dan anak buahnya tertangkap basah melakukan penculikan.”
Hendra menyunggingkan senyuman dominan khas penguasa puncak. “Wijaya Group sedang menghadapi krisis likuiditas terburuk sepanjang sejarah perusahaan mereka. Para pemegang saham mayoritas mereka sudah melayangkan mosi tidak percaya kepada Pak Wijaya pagi tadi. Imperium bisnis mereka runtuh dari dalam.”
Aura tertawa kecil—sebuah tawa merdu yang menandakan akhir dari seluruh badai kelam yang selama ini menghantui hidup mereka. Tidak ada lagi ancaman masa lalu, tidak ada lagi teror dari mantan kekasih yang penuh dendam. Yang ada kini hanyalah kedamaian mutlak di puncak kejayaan dinasti Fahreza.
Tiga bulan kemudian.
Pagi hari di kawasan pelabuhan internasional baru di pesisir utara Jakarta tampak begitu megah. Pendar matahari pagi memantul indah di atas permukaan air laut, menyinari jajaran kapal kargo raksasa dan kontainer ekspor yang berjajar rapi.
Sebuah plang plakat peresmian besar berlapis emas berdiri kokoh di depan gerbang utama pelabuhan: Fahreza-Wijaya International Port. Meskipun Wijaya Group mengalami krisis, proyek tersebut akhirnya diambil alih sepenuhnya oleh konsorsium Fahreza Group, menjadikan imperium bisnis keluarga itu semakin tidak tertandingi di Asia Tenggara.
Di atas panggung utama, di hadapan ratusan petinggi perusahaan, menteri perhubungan, dan awak media nasional, Hendra dan Aura berdiri berdampingan. Aura tampil begitu memukau dalam balutan setelan blazer putih gading berpotongan elegan, memancarkan aura seorang pemimpin bisnis wanita paling berpengaruh di negeri ini.
Hendra, dengan setelan jas hitam terbaiknya, memegang mikrofon dengan wibawa mutlak seorang taipan sejati.
“Keberhasilan hari ini bukan sekadar pencapaian angka atau pembangunan fisik semata,” ucap Hendra dengan suara berat dan berwibawa yang menggema ke seluruh penjuru area pelabuhan. “Melainkan bukti dedikasi, ketulusan, dan kekuatan cinta dari belahan jiwa di samping saya... Komisaris Utama Fahreza Group, istri tercinta saya, Aura.”
Tepuk tangan riuh membahana dari seluruh tamu undangan dan awak media. Blitz kamera berkedip tiada henti, mengabadikan senyuman anggun Aura saat Hendra merangkul pinggangnya dengan penuh kebanggaan di atas panggung.
Aura melangkah maju mengambil alih mikrofon, memberikan pidato penutup yang sangat memukau, elegan, dan tegas, membuat seluruh hadirin terpesona oleh kecerdasan dan kelasnya.
Usai acara peresmian selesai, di dalam kabin mobil limusin pribadi yang melaju kembali menuju kediaman utama, suasana berubah menjadi begitu intim dan hangat. Rendra tertidur pulas di pelukan pengasuhnya di kursi bagian belakang, sementara Hendra dan Aura duduk berdua di kursi utama.
Hendra menarik tubuh Aura ke dalam dekapannya, menghirup aroma parfum mawar kesukaannya.
“Pidato kamu tadi benar-benar luar biasa, Sayang,” puji Hendra tulus, mengecup bibir istrinya dengan mesra.
Aura meringkuk nyaman di dada suaminya, tersenyum bahagia. “Semua itu berkat dukungan dan perlindungan dari rajaku, Mas.”
Hendra menatap lekat-lekat mata jernih istrinya, merasakan kebahagiaan yang sempurna memenuhi rongga dadanya. Pria itu menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang panjang, hangat, dan penuh rasa syukur atas segala badai yang berhasil mereka taklukkan bersama.
Namun, di tengah kedamaian perjalanan pulang itu, ponsel pribadi Aura mendapatinya dengan sebuah notifikasi pesan singkat dari nomor tak dikenal yang masuk ke layar.
Aura melirik sekilas layar ponselnya yang menyala di atas pangkuan. Sebuah pesan sederhana tanpa nama, berisi satu kalimat misterius:
‘Permainan baru di balik layar baru saja dimulai, Ratu Fahreza... Sampai jumpa di babak berikutnya.’