NovelToon NovelToon
Suami Instanku Ternyata CEO Yang Ku Benci

Suami Instanku Ternyata CEO Yang Ku Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: fikafiky

Pernikahan impian yang dibayangkan Naya berubah menjadi takdir nekad saat ia terpaksa naik ke pelaminan, menggantikan sang kakak yang kabur tepat sehari sebelum akad. demi menyelamatkan kehormatan keluarganya, Naya pasrah mengikat janji suci dengan pria asing yang bahkan tak pernah ia bayangkan.

Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat tirai malam pertama tersingkap. Pria yang kini sah menjadi suaminya adalah Raka Mahendra—CEO dingin dan arogan yang pernah memanjatkan penderitaan di hidup Naya dengan memecatnya secara sesepihak di depan umum. Pernikahan atas dasar kesepakatan enam bulan pun dimulai dengan kebencian yang masih membakar dada.

Di tengah perang dingin satu atap, benteng pertahanan Raka perlahan runtuh. Sikap ketusnya berganti perhatian samar yang membuat hati Naya berdesir.
Bagaimana keseruan rumah tangga instan yang mereka jalani ??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fikafiky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedamaian

Matahari sore merayap perlahan di balik cakrawala Jakarta, membiaskan pendar warna jingga keemasan yang menawan di atas pemandangan taman belakang kediaman utama keluarga Mahendra.

Rumah megah bergaya arsitektur klasik modern yang berdiri kokoh di kawasan elit Menteng itu sore ini tampak jauh lebih bernyawa dan penuh kehangatan dibandingkan masa-masa sebelumnya.

Tidak ada karpet merah yang kaku, tidak ada sorotan lampu kilat kamera dari ratusan wartawan media massa, dan tidak ada puluhan jajaran pengawal berjas hitam yang berdiri tegap mengawasi setiap sudut lorong dengan pandangan mengintimidasi.

Pesta yang digelar sore ini adalah sebuah syukuran sederhana namun teramat elegan, sebuah perayaan atas pulihnya kesehatan Surya Kanindita, kembalinya nama baik keluarga, serta perpisahan resmi dengan seluruh kepalsuan yang pernah membelenggu hidup Raka dan Naya.

Naya yang berdiri tidak jauh dari meja utama mendengar ucapan ayahnya. Dadanya terasa hangat. Selama bertahun-tahun, ia hanya bisa membayangkan hari ketika keluarganya kembali hidup tenang tanpa bayang-bayang ancaman Hendra Mahendra. Kini, semua itu bukan lagi sekadar harapan.

Ia mengenakan gaun panjang berwarna krem dengan potongan sederhana yang membuat penampilannya terlihat anggun. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai, sementara senyum tipis menghiasi bibirnya.

Di sampingnya, Raka berdiri dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Berbeda dari penampilannya di ruang rapat yang selalu kaku dan mengintimidasi, sore ini wajahnya terlihat lebih santai.

Namun, sejak tadi, pria itu terus memperhatikan Naya.

"Ada apa?" tanya Naya ketika menyadari tatapan suaminya.

Raka menggeleng kecil. "Tidak ada."

"Lalu, kenapa melihat saya terus?"

"Memangnya saya tidak boleh melihat istri sendiri?"

Naya mendengus pelan. "Boleh. Tapi jangan seperti sedang mengawasi tersangka kejahatan."

Sudut bibir Raka terangkat. "Kalau tersangkanya secantik kamu, mungkin saya tidak keberatan mengawasinya seharian."

Naya langsung menoleh tajam. "Raka!"

"Apa?" Raka memasang wajah polos. "Saya hanya mengatakan fakta."

"Sejak kapan CEO Mahendra Group pandai merayu?"

"Sejak menikahi perempuan yang terlalu sulit dipuji tanpa membuatnya marah."

Naya mencubit pelan lengan suaminya.

Raka tertawa kecil, lalu menangkap tangan Naya sebelum perempuan itu menjauh. Ia menggenggamnya dengan lembut, kemudian mengusap punggung tangannya menggunakan ibu jari.

"Terima kasih," bisiknya.

Naya mengerutkan kening. "Untuk apa lagi?"

"Karena masih berada di samping saya setelah semua yang terjadi."

Senyum di wajah Naya perlahan memudar. Ia menatap pria di hadapannya, menemukan kesungguhan yang begitu jelas di mata Raka.

"Saya juga seharusnya berterima kasih kepadamu ," jawabnya lirih. "Kalau kamu tidak terus berusaha mengungkap kebenaran, mungkin Ayah tidak akan pernah mendapatkan kembali kehidupannya."

Raka menggeleng.

"Saya melakukan semua itu bukan hanya demi keluarga kamu, Nay. Saya juga ingin kamu berhenti merasa harus menanggung semuanya sendirian."

Naya terdiam.

Dahulu, ia selalu berpikir bahwa dirinya harus menjadi perempuan kuat. Ia tidak boleh menangis, tidak boleh mengeluh, dan tidak boleh memperlihatkan ketakutannya kepada siapa pun. Sebab, setiap kali ia menunjukkan kelemahan, selalu ada orang yang berusaha memanfaatkannya.

Namun, bersama Raka, ia perlahan belajar bahwa menjadi kuat tidak berarti harus menghadapi seluruh masalah sendirian.

"Raka ," panggilnya pelan.

"Hm?"

"Kalau suatu hari nanti kita bertengkar hebat, apa kamu akan tetap seperti ini?"

Raka mengangkat sebelah alis. "Seperti apa?"

"Tetap menggenggam tangan saya. Tetap mendengarkan saya. Tidak langsung memutuskan sesuatu tanpa bertanya kepada saya."

Raka terdiam sejenak sebelum mengangguk.

"Saya tidak bisa menjanjikan bahwa kita tidak akan pernah bertengkar. Saya juga manusia yang bisa salah." Ia menatap Naya lekat-lekat. "Tapi saya berjanji akan selalu memberi kamu kesempatan untuk menjelaskan. Saya tidak ingin mengulang kesalahan yang pernah dilakukan orang-orang terhadap keluarga kamu."

Mata Naya mulai berkaca-kaca.

"kamu jangan membuat saya menangis di acara seperti ini."

"Kenapa?"

"Riasan saya bisa rusak."

Raka terkekeh. "Kalau rusak, nanti saya panggil periasnya."

Naya spontan memukul pelan dadanya.

"Dasar!"

Tawa mereka menyatu dengan alunan musik dari sudut taman.

Tidak jauh dari sana, Maya yang kebetulan melihat interaksi keduanya langsung menyenggol lengan seorang pelayan yang berdiri di sampingnya.

"Lihat itu," bisiknya sambil menunjuk ke arah Naya dan Raka. "Dulu, kalau bertemu, mereka seperti dua orang yang siap berperang. Sekarang, sedikit-sedikit mesra."

Pelayan itu tersenyum sopan.

Maya menghela napas dramatis. "Cinta memang bisa mengubah manusia. Bahkan bos paling galak pun ternyata bisa berubah menjadi tukang gombal."

"Siapa yang sedang dibicarakan?"

Suara berat dari belakang membuat Maya tersentak.

Ia berbalik dan mendapati Arman, salah satu kerabat keluarga Mahendra, berdiri dengan segelas jus di tangannya.

Maya segera tersenyum lebar. "Tidak ada, Pak. Saya sedang memuji keharmonisan keluarga ini."

Arman menyipitkan mata. "Tadi saya mendengar kata bos galak."

"Ah, itu hanya istilah sayang."

"Untuk siapa?"

Maya menunjuk sembarangan ke arah Raka. "Untuk beliau, tentu saja."

Arman tertawa, sedangkan Maya buru-buru mengambil kue dari meja dan memasukkannya ke mulut untuk menyembunyikan rasa malunya.

Menjelang pukul tujuh malam, acara syukuran memasuki bagian yang paling dinantikan.

Raka berdiri di dekat panggung kecil yang dihiasi bunga putih. Di tangannya terdapat sebuah mikrofon, sementara para tamu mulai menghentikan percakapan untuk memperhatikan pria itu.

Naya berdiri di samping Surya dan Rahmi. Ia sempat menatap Raka dengan bingung ketika suaminya memberikan isyarat agar ia mendekat.

"Kenapa?" bisiknya saat sudah berada di samping Raka.

"Tunggu sebentar."

Raka kembali menghadap para tamu.

"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang sudah hadir malam ini," katanya dengan suara tegas tetapi hangat. "Acara ini memang sederhana, tetapi memiliki arti yang sangat besar bagi saya dan keluarga."

Ia berhenti sejenak, kemudian menoleh kepada Surya.

"Selama bertahun-tahun, Pak Surya kehilangan banyak hal yang seharusnya menjadi hak beliau. Bukan hanya harta benda, tetapi juga waktu bersama keluarga, ketenangan, dan kesempatan untuk menjalani hidup sebagaimana mestinya."

Suasana taman mendadak hening.

"Saya tahu, tidak ada yang bisa mengembalikan waktu yang telah berlalu. Tidak ada pula permintaan maaf yang mampu menghapus seluruh luka begitu saja. Namun, setidaknya hari ini kita bisa memulai sesuatu yang baru."

Surya menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan matanya yang mulai basah.

Raka kemudian menggenggam tangan Naya.

"Dan saya ingin berterima kasih kepada perempuan ini."

Naya membelalak kecil. "Mas..."

Raka tersenyum sebelum melanjutkan.

"Naya adalah perempuan yang mengajarkan saya bahwa keberanian bukan hanya tentang menghadapi musuh. Keberanian juga berarti tetap memiliki hati yang baik meskipun dunia berkali-kali memberikan alasan untuk membenci."

Naya tidak mampu berkata-kata.

"Dia pernah kehilangan hampir segalanya, tetapi tetap berusaha melindungi orang-orang yang dicintainya. Dia pernah disakiti, tetapi tidak membiarkan rasa sakit itu mengubahnya menjadi seseorang yang kejam."

Raka menarik napas perlahan.

"Saya tidak bisa menjanjikan kehidupan yang selalu mudah untuknya. Namun, saya ingin semua orang tahu bahwa mulai hari ini, Naya tidak perlu menghadapi badai sendirian."

Ia menoleh kepada istrinya.

"Selama saya masih diberi kesempatan untuk berdiri di sampingnya, saya akan berusaha menjadi rumah tempat dia bisa pulang tanpa rasa takut."

Air mata Naya akhirnya jatuh.

Di antara para tamu, Rahmi menutup mulutnya dengan tangan, sementara Siska tersenyum haru. Bahkan Surya yang biasanya terlihat tenang tidak mampu menyembunyikan kebanggaannya.

Raka mengusap sudut mata Naya menggunakan ibu jarinya.

"Jangan menangis," bisiknya.

Naya tertawa kecil di sela tangisnya. "kamu sendiri yang membuat saya menangis."

"Baiklah. Berarti nanti saya harus bertanggung jawab."

"Memangnya bagaimana caranya?"

Raka mendekatkan bibirnya ke telinga Naya.

"Dengan memeluk kamu sampai kamu berhenti menangis."

Wajah Naya langsung memerah. Ia mendorong bahu suaminya pelan, membuat beberapa tamu yang melihat mereka tertawa.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Naya tidak lagi merasa malu memperlihatkan kebahagiaannya di hadapan orang lain.

Setelah acara sambutan selesai, para tamu kembali menikmati hidangan. Surya yang sejak tadi duduk di kursinya meminta Raka menemaninya berjalan sebentar di sisi taman.

Naya sebenarnya hendak ikut, tetapi ayahnya menggeleng sambil tersenyum.

"Ayah hanya ingin berbicara sebentar dengan suamimu. Kamu temani ibumu dulu."

Naya mengangguk meskipun terlihat penasaran.

Di bawah cahaya lampu taman, Surya berjalan perlahan dengan bantuan tongkatnya. Raka menyesuaikan langkah, memastikan pria itu tidak kelelahan.

"Raka," panggil Surya setelah beberapa saat.

"Ya, Pak?"

"Saya tahu kamu sudah melakukan banyak hal untuk keluarga kami. Saya mungkin tidak akan pernah mampu membalas semuanya."

Raka segera menggeleng.

"Jangan berpikir seperti itu, Pak. Saya tidak pernah mengharapkan balasan."

Surya tersenyum tipis.

"Itulah yang membuat saya semakin menghormati kamu."

Mereka berhenti di dekat kolam kecil yang memantulkan cahaya lampu.

Surya memandang menantunya dengan serius.

"Saya hanya ingin meminta satu hal. Tolong jangan pernah membuat Naya merasa bahwa dirinya adalah beban bagi kamu."

Raka terdiam.

"Naya sudah terlalu lama merasa harus kuat untuk semua orang. Dia sering menyimpan kesedihan sendirian karena tidak ingin membuat orang lain khawatir." Surya menarik napas panjang. "Kalau suatu hari dia terlihat baik-baik saja, jangan langsung menganggap hatinya juga baik-baik saja."

Raka menundukkan kepala.

"Saya mengerti, Pak."

"Dan kalau kalian memiliki masalah, selesaikan bersama. Jangan biarkan orang lain kembali memanfaatkan keadaan kalian."

"Saya berjanji akan menjaga kepercayaan itu."

Surya menepuk bahu Raka dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Saya tidak meminta kamu menjadi suami yang sempurna. Saya hanya ingin kamu menjadi suami yang mau belajar memahami anak saya."

Raka menggenggam tangan mertuanya dengan hormat.

"Saya akan mengingat pesan Bapak."

Dari kejauhan, Naya memperhatikan mereka. Ia tidak mendengar percakapan keduanya, tetapi melihat cara ayahnya menepuk bahu Raka membuat hatinya terasa tenteram.

Mungkin, inilah yang selama ini ia impikan.

Bukan kehidupan tanpa masalah, bukan pula keluarga yang selalu terlihat sempurna di mata orang lain.

Ia hanya menginginkan rumah yang dipenuhi kejujuran, tempat setiap orang boleh mengakui kesalahan, meminta maaf, dan tetap diterima dengan kasih sayang.

Ketika Raka kembali menghampirinya, Naya langsung menyambutnya dengan senyuman.

"Ayah mengatakan apa kepadanya ?"

"Rahasia."

Naya menyipitkan mata. "Jangan-jangan Ayah meminta Mas menjaga saya baik-baik?"

Raka tersenyum penuh arti.

"Kalau memang begitu, bagaimana?"

Naya mengangkat dagu dengan gaya angkuh. "Tidak perlu. Saya bisa menjaga diri sendiri."

Raka tertawa kecil, lalu merangkul bahunya.

"Saya tahu kamu bisa. Tapi mulai sekarang, izinkan saya ikut menjaga kamu."

Naya terdiam sesaat sebelum menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.

"Baiklah. Tapi kamu juga harus mengizinkan saya menjagamu ."

Raka menoleh, menatap wajah istrinya yang diterangi cahaya lampu taman.

"Sepakat."

Malam semakin larut. Langit Jakarta mulai dipenuhi bintang yang sesekali terlihat di antara awan. Musik mengalun lembut, tawa keluarga terdengar bersahutan, dan Surya kembali bercakap-cakap dengan orang-orang yang telah lama dirindukannya.

Di tengah kehangatan itu, Naya menggenggam tangan Raka erat-erat.

Delapan tahun penderitaan tidak bisa dihapus dalam satu malam. Luka masa lalu mungkin masih akan sesekali datang mengetuk ingatan mereka. Namun, malam itu mereka telah membuktikan satu hal: kejahatan boleh merenggut banyak hal, tetapi tidak harus merampas masa depan.

Dan ketika Raka mengecup lembut puncak kepala Naya, perempuan itu akhirnya memahami bahwa kebahagiaan bukanlah akhir dari sebuah perjuangan.

Kebahagiaan adalah keberanian untuk kembali percaya, meskipun pernah dikhianati

1
Kam1la
semangat up...💪
Kam1la
kira-kira gimana reaksi ibunya Raka kalau penggantinya ganti?
Kam1la
cieh... Raka akhirnya cinta beneran sama Naya. dulu aja main pecat sekarang bacin....
Kam1la
Benalu memang harus segera disingkirkan...
Kam1la
Naya terancam keselamatannya...
Kam1la
Hendra tidak bisa berkutik lagi...
Kam1la
semoga tidak terjadi apa-apa pada ayahnya Naya
fikafiky: terimkasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
Kam1la
bukti itu berhasil mereka dapatkan
Kam1la
Raka sudah menyatakan keterbukaan hatinya, kena karma dari perjanjian yang ia buat sendiri
Kam1la
mungkinkah orang itu pelakunya? cepat kejar Raka..
Kam1la
perubahan sikap Raka ke Alya terlihat cepat.
Kam1la
oh, sudah ada niat berarti. pernikahan karena bisnis
Kam1la
katanya saksi kunci, tapi kok tidak tahu....
Kam1la
Raka Raka, tersedak juga kan dengan pertanyaan tentang cucu
Kam1la
pasti aktingnya lebih romantis lagi...nih
Kam1la
kocak....👍👍. pasti ujungnya Raka jatuh hati sama pembuat mie
Kam1la
gengsinya setinggi langit, mau makan saja curiga dikasih racun.🤣🤣
Kam1la
sampai makanan juga diganti. parah Raka cemburu nya😄😄
Kam1la
nah, benerkan.... ada rasa cemburu sekarang...
Kam1la
ntar. kalau Naya didekati cowok lain, gimana reaksi Raka yah....🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!