Season kedua ini akan berfokus pada persiapan Yang Zhen dalam menghadapi ancaman invasi skala penuh dari Sekte Pedang Langit ibu kota yang berniat merebut energi Jiwa Iblis Darah Kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Wush wush.
Angin malam kembali berhembus membawa asap debu tulang yang hancur ke segala penjuru Kota Awan Merah.
Master Sekte Jian Tian terkapar tak berdaya di bawah telapak kaki Yang Zhen, sementara sisa prajurit ibu kota berdiri mematung dalam keputusasaan absolut.
Senjata rahasia kebanggaan mereka telah menjadi serpihan debu, dan pemimpin tertinggi mereka kini berada dalam posisi yang sangat memalukan.
"Lari! Mundur ke perbatasan sekarang juga!" teriak salah satu komandan tingkat Bumi dengan suara gemetar.
Komando panik itu langsung memecah formasi puluhan ribu prajurit yang tersisa.
Mereka membuang senjata, helm perak, dan zirah berat mereka untuk mengurangi beban agar bisa berlari lebih cepat menjauhi alun-alun neraka tersebut.
Namun, tidak semua orang memilih untuk lari layaknya pengecut.
Sekelompok kecil tetua elit dari Sekte Pedang Langit yang tersisa memutuskan untuk melakukan perlawanan putus asa terakhir.
Syuut.
Lima orang tetua melesat menembus kepanikan pasukan mereka sendiri dan mengarah ke barisan penjaga Asosiasi Alkemis.
"Bocah iblis itu mungkin tidak tersentuh, tapi kita bisa menyandera anak buahnya untuk bernegosiasi!" raung tetua yang memimpin serangan tersebut.
Mulan yang sedang membersihkan sisa darah di pedang kayunya langsung menyipitkan mata melihat pergerakan musuh itu.
"Kau pikir kami ini tawanan lemah yang bisa kalian gunakan sebagai perisai, Kakek Tua?" ejek Mulan dengan suara sedingin es.
Wang Hao maju satu langkah dan meninju telapak tangannya sendiri dengan sangat keras.
Bugh.
"Biarkan mereka datang, Mulan. Otot-otot perungguku ini baru saja melakukan pemanasan," ucap pemuda botak itu dengan senyum lebar yang mengerikan.
Kelima tetua ibu kota itu mengeluarkan pedang terbang mereka dan membentuk formasi jaring elemen angin untuk menjebak kedua remaja tersebut.
Wush wush wush.
"Jangan sombong, Bocah! Kami adalah master Tahap Bumi tingkat puncak!" teriak tetua itu meremehkan usia lawannya.
Jaring pedang angin itu melesat cepat, berniat memotong anggota tubuh Wang Hao agar ia tidak bisa melawan saat ditangkap.
Trang trang trang.
Namun, jaring pedang angin tajam itu langsung hancur menjadi serpihan udara saat membentur kulit dada Wang Hao.
Pemuda itu bahkan tidak menggunakan energi pertahanan, hanya mengandalkan kulit Baja Hitam murni hasil mutasi pil buatan Yang Zhen.
"Apakah itu tadi serangan angin atau hanya tiupan pelan dari mulut kalian?" ledek Wang Hao mengorek lubang telinganya.
Kelima tetua itu ternganga lebar melihat pertahanan absolut yang tidak masuk akal tersebut.
"Monster! Tubuhnya lebih keras dari pelat baja spiritual!" jerit salah satu tetua mulai merasakan teror.
Sebelum mereka sempat mengatur ulang formasi serangan, Wang Hao sudah melesat maju dengan kecepatan yang sangat buas.
Bum.
Tanah batu alun-alun retak saat pemuda itu melakukan tolakan lari.
Dalam satu kedipan mata, Wang Hao telah berdiri tepat di depan tetua yang memimpin serangan tadi.
"Terima kasih atas pijatannya, Kakek," sapa Wang Hao menyeringai iblis.
Ia mengayunkan tinju kanannya tepat ke arah perut tetua tersebut.
Bugh krak.
Tinju Wang Hao tidak hanya menembus perisai energi tetua itu, tetapi juga menembus zirah besi dan perutnya sekaligus.
Darah dan isi perut langsung berceceran ke lantai batu saat tetua itu membelalakkan matanya dalam kematian seketika.
Wang Hao menarik tangannya kembali dan membiarkan mayat tetua itu jatuh ke tanah.
Bruk.
Keempat tetua lainnya yang melihat kejadian mengerikan itu langsung memutar tubuh mereka untuk melarikan diri.
"Mundur! Kita tidak bisa melawan monster fisik ini!" teriak mereka dengan panik.
Namun, hembusan angin badai yang jauh lebih tajam tiba-tiba menyapu dari arah belakang mereka.
Syuut.
Mulan menari di udara dengan pedang kayunya yang kini dilapisi oleh bilah angin setajam berlian.
"Guru kami tidak mengajarkan kami untuk melepaskan musuh yang sudah masuk ke dalam jangkauan tebas," ucap gadis tomboi itu.
Cras cras cras.
Gerakan Mulan sangat anggun namun mematikan layaknya badai tarian pedang.
Dalam tiga ayunan cepat, keempat tetua yang mencoba kabur itu langsung terpotong menjadi beberapa bagian.
Darah segar menyembur seperti air mancur kecil, mewarnai jalanan alun-alun yang sudah dipenuhi oleh mayat.
Wang Hao bersiul pelan melihat kebersihan tebasan rekannya tersebut.
Fiuuuh.
"Tebasanmu semakin rapi, Nona Mulan. Bos pasti sangat bangga melihatnya," puji Wang Hao membersihkan darah di tangannya.
Mulan menyarungkan pedangnya dan menganggukkan kepalanya dengan tatapan dingin.
"Mereka terlalu bergantung pada teknik jarak jauh dan melupakan latihan reaksi jarak dekat," analisis Mulan dengan taktis.
Di tengah alun-alun yang berlumuran darah itu, Yang Zhen masih berdiri dengan satu kakinya menginjak dada Jian Tian.
Tap.
Pemuda itu menonton pembantaian yang dilakukan oleh kedua muridnya dengan senyum puas.
Jian Tian yang terbaring lemah di bawah kaki Yang Zhen menatap murid-murid iblis itu dengan sisa satu matanya yang penuh keputusasaan.
"Kalian... kalian semua adalah monster pembunuh yang tidak memiliki hati nurani," rintih Jian Tian dengan darah mengalir dari sudut bibirnya.
"Sekte Pedang Langit akan hancur... tapi kekaisaran tidak akan membiarkan iblis sepertimu menguasai wilayah ini."
Yang Zhen menunduk menatap Master Sekte yang sudah kehilangan seluruh kebanggaannya tersebut.
"Aku tidak peduli dengan kekaisaran bodohmu itu," jawab Yang Zhen dengan suara sangat arogan.
Pemuda itu menambahkan sedikit tekanan gravitasi di ujung sepatunya.
Krak.
Terdengar suara tulang rusuk Jian Tian yang retak perlahan, membuat pria paruh baya itu memekik tertahan.
Aaaargh.
"Aku hanya peduli pada siapa yang berani menghalangi jalanku menuju puncak absolut dunia ini," bisik Yang Zhen dengan senyum kematian.
Pertarungan fisik memang telah usai, namun bayang-bayang politik dari kekuasaan yang jauh lebih besar di pusat benua kini mulai bergerak mendekati wilayah utara yang sedang berdarah.