NovelToon NovelToon
ISTRIKU SANTRIKU

ISTRIKU SANTRIKU

Status: tamat
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:963.9k
Nilai: 5
Nama Author: ZIZIPEDI

Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.

Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.

Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.

Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.

Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.

Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.

Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?

Ikuti kisahnya yuk...!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Izin Dari Gus Hafiz

Pagi minggu, dapur kembali ramai oleh suara temenan. Anisa memotong wortel dengan gerakan rapi, bahkan terlalu rapi untuk hatinya yang berantakan.

Anisa mulai tampak gelisah, Ia ingin meminta izin ikut kegiatan madrasah, tadabbur alam.

Ia pikir jika minta izin pada Umi Laila akan lebih mudah.

"Umi..." katanya, memberanikan diri.

Umi Laila menoleh.

"Iya Nduk." Sahutnya.

"Em... Minggu depan ada kegiatan tadabbur alam, Anisa boleh ikut, Umi?"

Umi Laila, yang sedang menumis bumbu, memelankan adukannya di kuali. Menatap Anisa dengan tajam, yang berhasil membuat Anisa merasa kecil.

"Kamu mau muncak, Nduk?" Umi Laila tersenyum.

"Iya Umi... udah lama ndak muncak." ujarnya.

"Kalo Umi, terserah Masmu saja. Izinmu itu, ada sama Masmu, Nduk. Bukan sama Umi dan Rom."

Kalimat itu jatuh jatuh pelan, tapi maknanya dalam. Tangan Anisa melambat, wortel yang ia potong tak kunjung tandas.

Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokan, ia enggan berurusan dengan Gus Hafiz, rasanya ia lebih memilih menyerah, jika harus meminta izin dengan pria kaku itu.

Ketika suara pisau memutus wortel, langkah kaki mendekat ke dapur.

"Buatkan Mas, teh ,Dek"

Suara Gus Hafiz masuk begitu saja di ruang dapur. Anisa paling sebal jika Gus Hafiz membahasakan dirinya Mas. Sungguh Anisa tak suka. Apa lagi saat Gus Hafiz memanggilnya dengan sebutan'Dek'. Rasanya Anisa ingin tutup telinga rapat-rapat.

Umi Laila tersenyum tipis.

"Nah kebetulan, ini Masmu Nduk. Coba tanya, boleh apa nggak."

Gus Hafiz, menatap Anisa.

"Enten nopo, Umi?" Sepertinya Gus Hafiz pun ikut penasaran, dengan topik yang dibahas.

"Itu, Nduk Nisa mau ikut muncak," jelas Umi Laila.

Anisa menahan napas. Gus Hafiz meliriknya sekilas. Hanya sekilas, namun cukup membuatnya merasa sedang dinilai.

"Boleh ikut." katanya, "asal ada yang ngawasi dan bertanggung jawab."

Anisa reflek menoleh, "Ada kok, Gus. Mudanbbir dan mudabbiroh juga ikut. Ustadzah dan para ustadz juga ikut mendampingi. Panitia juga nyewa Guide,yang berpengalaman, terus ada porter khusus juga yang bantu bawa barang."

Penjelasan itu mengalir cepat, seperti pembelaan, seperti satu permohonan.

Gus Hafiz mengangguk pelan. Karena beliau tahu, program yang Anisa maksud. bahkan beliau yang menyetujui kegiatan tadabbur alam itu.

"Mas, tahu." ujarnya. "Tapi itu saja ndak cukup, kamu tetap harus ada yang memantau, untuk keselamatanmu,"

Napas Anisa terasa berat, ia sudah bisa menduga jawaban Gus Hafiz yang bertele-tele, ia pasti tak mengizinkan.

"Ya sudah kalau ndak boleh," katanya datar.

Kali ini bukan Anisa ingin pura-pura, ia benar-benar lelah berdebat.

Gus Hafiz, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, namun pandangannya lurus ke layar ponsel.

"Sapa bilang ndak boleh," sahutnya terdengar ringan. "Kamu pergi, bareng Mas."

Anisa menoleh.

Apa katanya, bareng dia?

Hah...ngapain dia ikut...orang aku mau hirup udara bebas, kalok ada dia, sama aja bohong.

Lagian, emang dia kuat muncak? Anisa tersenyum setengah mengejek dalam hati.

"Kok malah bengong," lanjut Gus Hafiz.

"Cepat selesain tugasmu, kita pergi nyari perlengkapan naik gunung."

Pisau di tangan Anisa berhenti.

Ia menatap Gus Hafiz lama.

Tatapan yang aneh, campur aduk, bingung, curiga.

Ini bukan sikap suami yang menikah karena terpaksa. Bukan juga wajah orang yang sekedar menjalankan amanah.

Gus Hafiz terlihat siap menjalani perannya sebagai suami, bahkan kehadiran Anisa dalam hidupnya bukan seperti beban.

Anisa buru buru membalik badan, kembali memunggungi Gus Hafiz yang duduk di meja makan.

***

Sore itu, Gus Hafiz menepati janji, mereka pergi ke sebuah toko yang menjual perlengkapan outdoor di pasar kabupaten.

Mobil melaju tenang, namun di dalamnya sepi dan canggung, seperti dua orang asing yang dipaksa berbagai ruangan.

Mobil terus melaju, hingga di satu titik Anisa membuka mulutnya.

"Enak ya jadi Gus. bebas mau kemana pun." ujarnya dengan nada dingin.

Gus Hafiz menoleh, menatap sekilas Anisa yang wajahnya menatap ke arah luar jendela.

"Aku bahkan untuk ikut tadabbur alam aja, harus mikir izin." sambungnya datar.

Gus Hafiz, memelankan laju mobilnya.

kembali menatap Anisa dalam.

"Kamu merasa terkekang?" tanyanya.

"Menurut, Gus?" pertanyaan itu terdengar menantang.

Gus Hafiz menarik napasnya perlahan, lalu kembali bersuara.

"Itu bukan mengekang," sahutnya, " itu bentuk tanggung jawab."

Kata itu lagi.

Tanggung jawab.

Anisa tertawa kecil, namun terdengar getir.

"Tanggung jawab versi Gus itu rasanya kayak borgol," ujar Anisa menatap kesal.

Gus Hafiz menoleh, mata mereka saling bertemu, namun Anisa cepat-cepat memalingkan pandangannya.

"Gus pasti mikir, aku mau kabur lagi kan?"

Gus Hafiz tersenyum.

“Kamu itu kan memang selalu mikir mau kabur, dari pondok to? ” ujar Gus Hafiz. Nadanya datar, tak menyindir, tak pula menghakimi, karena itu fakta, Anisa sudah lima kali kabur dari pondok, tapi tetap ketahuan oleh Gus Hafiz.

Tangan Anisa mengenal di pangkuannya.

“Bukan kabur. Aku cuma mau punya hidupku sendiri,” jawabnya pelan, nyaris berbisik.

“Hidup yang seperti apa, yang kamu mau, Anisa Fadillah? Hidupmu itu nggak saya rampas,” balas Gus Hafiz. “Cuma saya jaga.”

Anisa tertawa kecil, getir. “Menjaga versi Gus itu sama aja kayak ngurung.”

Gus Hafiz tak menjawab, ia hanya menatap Anisa dalam diam.

1
Manis
quotes yg luar biasa kak.
izin save dan share nggeh🙏
Manis
aaaaaaa
so sweet
Nurwana
sebenarnya kamu itu Nisa terlalu bodoh.... sudah tau semuanya tapi masih bertahan.... saya kira kamu bukan satu dia hari di pesantren, dimana mana yang namanya laki laki pesantren itu tetap ikut keinginan ortunya tanpa ada niat untuk menolak. jadi nisa tidak usah banyak drama, toh kamu sendiri yang ciptakan itu neraka.
Nurwana
nah kan.... kena kamu Anisa.... lagian kelakuanmu aneh aneh....🤭🤭🤭🤭🤭
Ina
bagus
Dwi Vella
Abinya Sifa pak Tama kok jadi pak Hadi ya Thor 😇
Mukeseh
nasipe anisa rek
Mukeseh
bu nyai soak 🤣
Mukeseh
ceritnya soo swet thor
Leni Fastuti
JD mewek aku, karya mu bagus banget thor💪
Leni Fastuti
kayak ny seru ni👍
Dinda Gusti
knp nisa manggilnya msh gus, bkn mas aj klo lg berdua
Ani Daulay
mantap banget Thor ceritanya menyentuh tanpa berbelit2
Dinda Gusti
kasian nisa🥺
Janah Husna Ugy
ahhhhhh,,sedih thorr,tp yang jaadi pertanyaan nya dimana adik nisa🤔🤔🤔
Janah Husna Ugy
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Sutrisno Sutrisno
luar biasa
Janah Husna Ugy
panas dingin walau baca🤭🤭🤭
Desmawati
terimakasih kak author, cerita nya begitu banyak pesanan yg dapat kami Ambil dan jadikan pelajaran hidup
Janah Husna Ugy
q baca nasihat nya Rono ikut nangis
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!