NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Raven Ayu

Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, Laras dicampakkan dalam semalam setelah putri kandung mereka, Tiara, ditemukan lewat tes DNA. Ketika Tiara menolak menikahi “duda tua beranak tiga dari kampung”, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi menjaga nama baik.
Di desa asing itu, Laras menghadapi seorang lelaki dingin bernama Arya dan tiga anak yatim yang kurus serta waspada. Semua orang mengira ia telah menikah turun derajat dan hanya bisa pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu bahwa Arya sebenarnya adalah mantan perwira Kopassus yang disegani para jenderal sekaligus konglomerat yang menyamar sebagai peternak sapi. Pria yang katanya dingin itu justru memanjakan Laras setiap hari lewat tindakannya, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik hidupnya. Ia membesarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius, membuat orang-orang yang pernah meremehkannya menelan hinaan mereka sendiri, dan bangkit dari “ibu tiri kampungan” menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Namun Tiara belum menyerah merebut apa yang dianggap seharusnya menjadi miliknya. Di saat yang sama, rahasia asal-usul ketiga anak itu mulai terungkap: mereka membawa darah keluarga konglomerat Adiwangsa.
"Kamu menikahiku karena terpaksa," kata Arya. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7: Lelaki yang Pulang

Arya berhenti dua langkah setelah melewati pintu.

Tatapannya menyapu teras, Bayu yang rambutnya masih basah, Raka yang memegang handuk bersih, lalu Sasa yang tertidur wangi di pelukanku.

Dia tidak menunjukkan keterkejutan di wajah. Namun matanya tinggal lebih lama pada pipi bersih Sasa dan bekas garukan di leher kecil itu.

“Ayah!” Bayu berlari mendekat. “Sasa mandi air hangat. Dia ketawa. Aku yang bikin dia ketawa.”

“Kena cipratan air juga,” tambah Raka.

“Itu bagian dari membantu.”

Arya menepuk kepala Bayu sekali. “Masuk. Udara malam dingin.”

Sebelum kami sempat bergerak, Bik Inah keluar dari dalam rumah.

“Pak Arya, akhirnya pulang juga!” Suaranya langsung naik. “Saya sudah tidak sanggup menghadapi perempuan ini. Dia merusak gembok, mengobrak-abrik gudang, mengambil semua bahan makanan, dan hampir memukul saya dengan daging beku.”

Aku hampir tertawa pada tuduhan terakhir.

Arya menatapku. “Sasa sudah makan?”

“Sudah. Nasi lembek, telur, dan sayur.”

“Yang lain?”

“Sudah makan dua kali hari ini. Raka dan Bayu juga sudah mandi.”

Dia mengangguk. “Baringkan Sasa dulu.”

Tidak ada bentakan. Tidak ada keputusan terburu-buru. Dia hanya meminta semua orang masuk ke ruang tamu setelah Sasa kubaringkan di kamar bawah agar mudah diawasi.

Di atas meja, aku menaruh ponsel, catatan jumlah barang, dua tas belanja yang tadi sudah dikemas Bik Inah, dan satu kotak susu Sasa yang masih tersegel.

Bik Inah berdiri sambil melipat tangan. “Lihat? Baru dua hari datang sudah merasa jadi nyonya rumah.”

“Bik bilang gudang itu milik pribadi,” kataku. “Di dalamnya ada kiriman makanan rumah ini dan susu atas nama Sasa. Karena saya membuka tanpa kunci, saya panggil Bu Sumi sebagai saksi. Semua isi saya foto sebelum dipindahkan. Salinannya juga saya kirim ke Bang Gino.”

Arya mengambil ponselku. Dia melihat foto satu per satu tanpa mengubah ekspresi.

“Tiga karung beras, dua baki telur, minyak, gula, empat kotak susu, dan daging,” lanjutku. “Dua tas sudah dibungkus untuk dibawa keluar. Raka bilang hal itu terjadi setiap Jumat.”

“Anak kecil bisa salah ingat,” potong Bik Inah. “Saya bawa bahan itu untuk ditukar di pasar. Uangnya dipakai beli kebutuhan rumah.”

“Mana catatannya?” tanya Arya.

Bik Inah terdiam.

“Nota belanja?”

“Saya tidak biasa simpan nota, Pak.”

“Sisa uang?”

“Sudah terpakai.”

“Untuk apa?”

“Ya, untuk makan anak-anak.”

Arya menatap Raka dan Bayu. Kedua anak itu kurus di balik pakaian bersih. Bayu masih memegang ujung kausnya, sementara Raka berdiri sedikit di depan adiknya seperti biasa.

“Anak-anak ini makan singkong pagi tadi,” kataku. “Semalam Bayu minta setengah mangkuk nasi dan dibilang rakus.”

Rahang Arya mengeras.

Bik Inah buru-buru mendekat. “Pak, jangan percaya begitu saja. Laras sengaja membuat anak-anak melawan saya. Dia juga mengancam akan mengambil alih uang rumah.”

“Dia tidak perlu mengambil alih,” kata Arya. “Aku yang akan memberikannya.”

Ruangan mendadak sunyi.

Bik Inah berkedip. “Maksud Pak Arya?”

Arya tidak menjawabnya. Dia memandang foto gudang sekali lagi, lalu meletakkan ponsel di depanku.

“Aku memang jarang di rumah,” katanya. “Tapi aku tahu keadaan anak-anak enam bulan terakhir. Mereka makin kurus. Sasa tidak pernah bersih. Aku bertanya, kamu selalu bilang mereka susah makan dan susah diatur.”

Bik Inah memucat. “Memang begitu, Pak. Saya sudah berusaha.”

“Hari ini mereka makan masakan Laras.”

“Karena makanannya mewah. Kalau setiap hari seperti itu, uang rumah cepat habis.”

“Uang rumah tidak pernah kurang.”

Nada suaranya tetap datar. Justru itu yang membuat Bik Inah tidak berani menyela lagi.

“Setiap awal bulan aku memberi uang belanja,” lanjut Arya. “Beras, daging, telur, dan susu dikirim terpisah dari peternakan. Biaya sekolah Raka dan Bayu kubayar langsung.”

“Uangnya habis untuk obat dan pakaian anak-anak,” kata Bik Inah cepat.

“Obat apa?” tanyaku.

“Macam-macam. Demam, batuk, vitamin.”

“Sebutkan bulan terakhir Sasa dibawa ke puskesmas.”

Bik Inah menoleh kepadaku dengan mata menyala. “Saya tidak hafal tanggal.”

“Nama obatnya?”

“Sudah dibuang bungkusnya.”

“Pakaiannya?”

Bayu menarik ujung kausnya yang sudah sempit. “Ini punya Kak Raka waktu kecil.”

Raka mengangguk. “Baju baru terakhir dibeli Ayah sebelum Lebaran tahun lalu.”

Arya membuka aplikasi perbankan di ponselnya dan memperlihatkan riwayat transfer bulanan. Jumlahnya tetap, tidak pernah terlambat. Di luar itu masih ada pengiriman bahan pangan setiap minggu.

“Mulai malam ini, simpan semua nota,” katanya. “Aku akan periksa enam bulan terakhir.”

Bik Inah memegang sandaran kursi. Buku-buku jarinya memutih.

Arya mengambil dompet dari saku celananya. Di dalamnya ada beberapa lembar uang seratus ribuan. Dia mengeluarkan semuanya, lalu menaruhnya di telapak tanganku.

“Untuk kebutuhan beberapa hari. Besok aku ambil uang lagi.”

Tumpukan itu terlalu tebal untuk disebut kebutuhan beberapa hari. Aku menatapnya, lalu menatap Arya.

“Mas Arya tidak perlu memberi sebanyak ini.”

“Pakai untuk makan, pakaian, atau apa pun yang dibutuhkan anak-anak.”

“Saya bisa mencatat pengeluarannya.”

“Kalau mau.”

“Dan uang ini tetap uang Mas Arya. Kita belum akad.”

“Aku tahu.” Dia menutup jemariku di atas tumpukan uang. “Aku memercayakan kebutuhan rumah kepadamu, bukan membeli persetujuanmu.”

Telapak tangannya hanya menyentuh punggung jariku sebentar. Namun kehangatannya tertinggal setelah dia menarik tangan.

“Terima kasih sudah memasak dan mengurus anak-anak,” lanjutnya.

Kalimatnya kaku, seolah ucapan terima kasih adalah benda berat yang jarang dia angkat. Anehnya, justru itu membuatnya terasa sungguh-sungguh.

Bik Inah berdiri di seberang meja dengan wajah sulit dibaca.

“Mulai besok, semua kiriman dari peternakan dicatat,” kata Arya kepadanya. “Tidak ada barang keluar tanpa izin Laras atau aku.”

“Pak Arya lebih percaya orang yang baru datang daripada saya?”

“Aku percaya apa yang bisa kulihat.”

Matanya beralih pada anak-anak. “Hari ini mereka bersih dan kenyang.”

Dia terdiam sesaat, lalu menambahkan, “Aku juga salah karena terlalu lama percaya tanpa memeriksa. Mulai sekarang, keadaan mereka tidak boleh luput lagi.”

Raka mengangkat wajah. Tatapan anak itu pada Arya melunak, meski hanya sebentar.

Bik Inah membuka mulut, tetapi tak ada suara keluar.

Malam semakin larut. Setelah anak-anak masuk kamar, aku membawa uang itu ke meja makan dan menghitungnya. Delapan juta rupiah. Diberikan begitu saja, tanpa ditanya akan kupakai untuk apa.

Aku membuka foto-foto gudang dan membandingkannya dengan pesan pengiriman yang diteruskan Bang Gino. Bukan hanya tiga karung beras dan dua kotak daging. Setiap minggu, peternakan mengirim bahan dalam jumlah cukup untuk satu rumah besar.

Mas Arya tidak pelit. Rumah ini tidak pernah kekurangan uang ataupun makanan.

Kalau begitu, selama enam bulan anak-anak hidup lapar karena uang dan bahan pangan yang seharusnya untuk mereka sengaja dialihkan.

Bik Inah mengambil jauh lebih banyak daripada beberapa kantong beras.

1
Sri Supriatin
lanjuut thor...eeh sy bc marathon kok .. kayanya sdh end🤭🤭🤣🤣
Sri Supriatin
gas keun pa Arya😍😍😍😍
Sri Supriatin
6 bulan lho ....anak2kurus n bi Inah kayaaa....ampun lebih galak dr mak tiri atau mertua tocik
Sri Supriatin
mampir ah, certanya end, jd ngk nunggu up🤭🤭biar marathon bc👍👍👍
Sri Hartini
wah2 akhirnya jd nyonya Arya
Sri Hartini
nah bik inah ketahuan bohongnya
Sri Hartini
pamanya terlalu sibuk di peyernakan jd nggak peduli sama ponakan
Sri Hartini
om nya kurang perhatian pdhal ponakannya kurus2
Sri Hartini
padahal bi inah msh sodara kok tega ya
Sri Hartini
arya kenapa diem klau ponakannya kurus
Sri Hartini
lamjut
Sri Hartini
lanjut ceritanya seru
Sri Hartini
ceritanya bagus
Anik Setyowati
iya kadang q bingung critanya,bener sih nggak monoton critanya nggak itu itu aja critanya,tp kapan crita kuliahnya,
Anik Setyowati
semua wanitanya iri sama Laras,tapi tidak membuat dirinya berusaha menjadi seorang wanita yg dibarengi dengan perbuatan yg baik,meningkatkan kecerdasanya, meningkatkan perekonomianya dengan jalan yg halal dan kerja keras,tapi mendahulukan prasangka buruk iri dengki,dan akhlak tercelah,nggak bisa mengontrol emosi yg malah akan menghancurkan hidup dan kebahagiaannya
Anik Setyowati
kenapa pernikahan denandra dan Almira tidak disetujui,sedangkan damar dan Vera disetujui,apakah karna Vera anak orang terpandang dan Almira anak orang biasa orang desa,padahal Vera tidak ada kelebihannya, ahklaqnya buruk
Anik Setyowati
orang seperti ini nggak pantas jadi guru,jual gorengan aja setiap hari berinteraksi sama gorengan, nggak ada orang iri sama gorengan
Anik Setyowati
Bu Ratih takut kecerdasannya tersaingi anak bocil,kasihan deh otaknya tumpul bukan tumpul ilmu tp tumpul mengelolah emosi kejiwaanya nol kosong nol,tua ilmu kedewasaannya nggak ada,yg ada ambisi dan kesombongan
Anik Setyowati
kalau Arya jadi mantu bik Inah boh aboh kasihan 3 anak krucil itu pasti di sia siakan,belum jadi aja 3 Mak itu sudah nggak terawat apalagi jadi,sungguh ancur dunia persilatan
beybi T.Halim
ada yaa guru dikota cem turunan setan gini???mulutnya kaya bukan mulut pendidik🙈
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!