NovelToon NovelToon
HABISNYA CINTA SUAMIKU

HABISNYA CINTA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Duda
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.

​Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.

​Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HABISNYA CINTA SUAMIKU

​Saat Alana berbalik hendak melangkah pergi meninggalkan kerumunan di ruang keluarga, Papanya berdiri dari sofa. Pria tua itu membetulkan letak kemeja batiknya, lalu melangkah cepat menyusul sang putri.

​"Alana, tunggu sebentar, Nak. Papa mau bicara sama kamu," panggil Papanya lembut.

​Papa Alana berjalan mengiringi putrinya menuju koridor samping rumah yang jauh lebih sepi dari lalu lalang para tamu pengajian. Pria tua itu menatap wajah Alana dengan pandangan teduh yang dipenuhi rasa bersalah yang teramat mendalam.

​"Alana..." panggil Papanya lagi seraya menyentuh lembut pundak putri sekundernya. "Kamu sehat, Nak? Maafkan Mamamu ya... kamu tahu sendiri sifat Mamamu dari dulu kalau bicara suka tidak disaring."

​Alana menatap wajah sepuh papanya. Di keluarga kandungnya, hanya Papa yang selalu bersikap lembut dan netral padanya, walau pria tua itu sering kali kalah dominan dari sikap otoriter Ibunya.

​"Alana sehat, Pa," jawab Alana halus, mengulas senyum tulus yang sangat langka ia perlihatkan hari itu. "Papa tidak perlu minta maaf. Alana sudah biasa dan tidak apa-apa."

​Papa Alana menghela napas panjang, matanya tampak berkaca-kaca menahan rasa haru. "Papa sering merasa gagal jadi Papa yang baik buat kamu, Alana. Sejak kecil kamu selalu dituntut mengalah dari Kirana. Dan setelah kamu menikah sama Gema... Papa pikir kamu bisa bahagia dan punya sosok pelindung."

​Papa Alana merogoh saku batiknya, lalu menatap Alana dengan pendar penuh rasa ingin tahu. "Oh iya, Alana... soal acara selamatan Kirana di rumah minggu depan, Mamamu cerita kalau semua persiapannya sudah beres dan tempatnya sudah dipesan di restoran besar. Papa kaget waktu tahu biayanya besar sekali.

Waktu Papa tanya dapat uang dari mana, Mamamu cuma bilang dapat rezeki. Tapi Papa tahu Mamamu..."

​Papa Alana menatap mata putrinya lekat-lekat. "Alana, jujur sama Papa. Apa Mamamu minta uang sama kamu lagi untuk acara selamatan itu?"

​Alana terpaku sejenak. Ia teringat kejadian satu bulan lalu di ruang kerjanya, ketika ibunya datang menuntut uang puluhan juta rupiah sambil membisikkan kalimat kejam bahwa harusnya Alana yang meninggal, bukan Kirana. Namun, Alana memilih untuk tidak membuka luka itu di depan papanya yang sudah tua dan rentan sakit.

​"Tidak, Pa," sahut Alana berbohong dengan sangat rapi dan tenang. "Mama tidak minta uang apa-apa dari Alana. Mungkin Mama memang ada tabungan sendiri atau dapat jatah dari hal lain. Papa jangan terlalu banyak pikiran ya."

​Papa Alana menatap putrinya dengan pandangan ragu. "Beneran, Nak? Kamu jangan bohong sama Papa. Kalau Mamamu minta uang atau menyusahkan kamu, bilang sama Papa. Jangan kamu tanggung sendiri."

​"Beneran, Pa," balas Alana mantap, menepuk pelan punggung tangan papanya untuk memberikan rasa tenang. "Alana sudah dewasa, Alana bisa jaga diri sendiri. Toko kue Alana juga sangat lancar."

​Papa Alana mendesah lega, lalu mengelus rambut putrinya dengan penuh kasih sayang. "Ya sudah kalau begitu. Papa bangga sekali sama kamu, Alana. Kamu tumbuh jadi wanita yang hebat dan mandiri, melebihi ekspektasi siapa pun."

​Pujian tulus dari sang papa merembet hangat di sudut hati Alana yang sempat membeku. Tanpa mereka sadari, dari belokan koridor yang tak jauh dari sana, Gema berdiri mematung di balik pilar kayu.

​Gema telah mendengarkan seluruh percakapan itu dari awal hingga akhir.

​Dada Gema serasa dihantam oleh beban beritong-tong yang sangat berat. Satu bulan lalu, Alana memang pernah bercerita padanya bahwa ibunya datang meminta uang selamatan dan mengucapkan kalimat kejam. Saat itu Gema sempat tak habis pikir, namun menyaksikan sendiri bagaimana ibu kandung Alana merendahkan istrinya di depan para tamu hari ini, serta mendengar bagaimana Alana dengan gigih melindungi ketenangan papanya dengan berbohong... membuat Gema menyadari betapa kesepian dan sendirinya Alana selama ini.

​Gema memegangi dadanya yang terasa begitu sesak. Ia melangkah keluar dari balik pilar, berjalan mendekati Alana dan papa mertuanya.

​"Papa," sapa Gema dengan suara parau yang ditahan.

​Papa Alana menoleh. "Eh, Gema. Kenapa, Nak?"

​Gema menatap papa mertuanya, lalu beralih menatap Alana yang seketika mengubah raut wajahnya menjadi dingin dan formal begitu melihat kehadiran suaminya.

​"Pa... acara doa bersama di dalam sudah mau dimulai," tutur Gema berusaha terdengar sejelas dan setenang mungkin. "Papa dipanggil Mama untuk duduk di barisan depan dekat ustadz."

​"Oh, begitu ya? Ya sudah, Papa ke dalam dulu ya," ujar Papa Alana seraya menepuk bahu Gema dan Alana bergantian. "Kalian berdua masuk juga, ya."

​Setelah Papa Alana melangkah pergi meninggalkan koridor, suasana di antara Gema dan Alana seketika kembali membeku bagaikan ruang hampa udara.

​Gema menatap Alana dengan mata yang memerah menahan keharuan dan penyesalan yang membakar jiwa.

​"Alana..." panggil Gema dengan suara bergetar. "Saya... saya dengar semuanya tadi. Pembicaraan kamu sama Papa..."

​Alana merapikan lipatan jilbabnya yang sebenarnya sudah rapi. Wajahnya tidak menunjukkan riak terkejut sedikit pun karena tahu Gema berada di sana.

​"Lalu kenapa, Mas?" tanya Alana singkat, nada suaranya begitu datar hingga terasa mengiris hati.

​"Kenapa kamu tidak cerita sama Papa kalau Ibu yang minta uang itu dari kamu?" tanya Gema dengan dada menegang. "Kenapa kamu harus menanggung semuanya sendiri, Alana? Kenapa kamu harus berbohong untuk melindungi orang yang sudah menyakiti kamu sedalam itu?."

​Alana menatap Gema lurus-lurus. Tatapan mata yang dulu selalu memancarkan binar cinta dan kehangatan, kini hanya menyisakan kekosongan yang amat luas.

​"Untuk apa saya cerita, Mas Gema?" sahut Alana lirih namun menghantam tepat di ulu hati Gema. "Cerita atau tidak cerita, tidak ada yang berubah. Masalah itu sudah selesai satu bulan yang lalu saat saya mengirimkan uangnya. Saya tidak butuh pembelaan dari siapa pun, dan saya tidak butuh kasihan dari siapa pun."

​"Tapi saya suami kamu, Alana!" seru Gema setengah berbisik, menahan amarah pada ketidakmampuannya sendiri. "Saya ada di sini! Kamu bisa bagi beban itu sama saya!"

​Sebuah senyuman tipis begitu tipis dan sarat akan ironi terukir di bibir Alana.

​"Mas Gema lupa?" tanya Alana pelan. "Selama hampir tujuh tahun ini, saya sudah sangat terbiasa menyelesaikan semua masalah saya sendiri. Mas tidak pernah ada untuk menjadi tempat saya berbagi beban. Jadi, kenapa sekarang Mas bertingkah seolah-olah Mas adalah tumpuan hidup saya?"

​Gema tercekat. Lidahnya kufur kata. Kalimat Alana bagaikan panah beracun yang menghantam tepat di dadanya yang paling lemah.

​"Alana, saya tahu saya salah di masa lalu... tapi tolong beri saya satu saja kesempatan untuk"

​"Acara pengajian di dalam sudah mulai, Mas," potong Alana cepat tanpa memberi ruang bagi Gema untuk memohon. "Sebaiknya Mas masuk. Mas adalah tuan rumahnya, tidak enak kalau menghilang di saat pengajian kakak saya sedang berlangsung."

​Alana memberi anggukan sopan yang amat sangat berjarak, lalu berbalik arah dan berjalan menuju area dapur katering di belakang. Ia melangkah dengan kepala tegak, meninggalkan Gema yang berdiri kaku di lorong sepi tersebut.

​Gema bersandar lemah pada dinding tembok koridor. Air mata penyesalan yang tertahan akhirnya menetes basah di pipinya. Pria pengusaha sukses itu menatap punggung istrinya yang kian menjauh dan menghilang di belokan. Di tengah lantunan ayat-ayat suci yang mulai bergema dari ruang depan, Gema menyadari sebuah kebenaran yang teramat pahit: Alana tidak lagi membencinya, Alana tidak lagi menuntut apa pun darinya, Alana hanya telah sepenuhnya berhenti menganggapnya ada. Dan penolakan yang terbungkus dalam ketenangan sempurna itulah siksaan terkejam yang harus ia pikul sepanjang sisa hidupnya.

1
Ma Em
Bagus Alana keputusan Alana sdh benar jgn menyiksa diri sendiri hanya untuk membahagiakan orang lain lbh baik Alana cari kebahagiaan Alana sendiri , semoga Alana dapat pengganti gema lelaki baik yg mencintai dan menyayangi Alana 🤲🤲.
Arieee
mantap alana💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
Sri Widiyarti
nyesek banget Alana 😭 semoga author kasih pasangan hidup yang memuliakan Alana ...
Zhafran Althaf
good job alana
Lee Mba Young
eleh paling nnti juga balikan🤣. soale yg bucin Alana nya nnti dng alasan Tania pasti balikan.
Chintya Ananda
bagus alana pergilah dan raihlah kebahagiaanmu...lanjut thor💪💪
Lee Mba Young: nnti pling juga balikan, biasanya bgitu sih 🤣.
total 1 replies
sutiasih kasih
telatttt gema....
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
sutiasih kasih
bukan tiba" dodol.....
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
sutiasih kasih
keren g tuh......
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅
Elina thea
akhirnya Alana membuat keputusan yg benar👍... please Alana setelah ini kamu harus lebih berani kalo di rendahkan ibumu atau orang lain,jangan mudah luluh sampai rujuk lagi kayak cerita kebanyakan yah...
Susi Susanti: ini judul nya mesti di balik🤭
total 1 replies
Elina thea
memang mikirnya harusnya kesana alana...buat apa mempertahankan pernikahan dgn alasan anak kalo diri sendiri udah sakit,sakit secara fisik masih bisa ke dokter untuk bisa sembuh...tapi batin dan jiwa yg sakit,sekalipun bibir berucap sudah ikhlas dan memberikan kesempatan kedua belum tentu bisa sembuh meski dalam waktu yg panjang,karna sakit batin yg tidak terlihat justru akan slalu di ingat dan akan jadi bayangan di dalam pernikahan...
Sri Widiyarti
Ya Allah terbayang diposisi Alana 😭😭😭
Arieee
menguras emosi💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
sutiasih kasih
pdahal alana bukan perempuan biasa lho....
dia perempuan mandiri... sukses & hatinya baik...
tpi memang org" di skitrnya bneran buta mata dan hatinya....
sutiasih kasih: suka heran dgn mereka...
ap lgi ibunya Alana tuh.... g tau malu... minta uang buat selametan kirana... tpi mulutnya paling pintar mncaci dan merendhkn Alana....
kpan sih ibunya Alana kena stroke🙄🙄
total 2 replies
sutiasih kasih
kpan ibu durjananya kena stroke🤔🤔
sutiasih kasih
mau km tebus pke apa.... luks hati istrimu slm ber tahun lamanya....
blcak areng
terima kasih kakak 🙏
Sri Widiyarti
menjadi asing ditengah keramaian Allah nyesek banget Alana semoga kak author kasih pasangan hidup yg memuliakan Alana ..
Sri Widiyarti
dah tinggalin aja Alana kamu berhak bahagia...
Agunk Setyawan
othor love you♥️🥰🥰 novelnya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!