"Baguslah kamu ada di sini. Tolong urus makan malam mas Ardy juga ibu mertuaku! Aku mau belanja dan bersenang-senang pakai kartu kreditnya."
Selama tiga tahun pernikahan, Kirana dikenal sebagai istri yang penurut, pendiam dan selalu mengalah.
Bahkan ketika tahu suaminya, Ardy, memelihara wanita lain. Kirana hanya bisa menangis di pojok kamar, menerima semua makian dari mertua dan manipulasi dari keluarga suaminya sendiri.
Sampai sebuah kecelakaan tragis mengubah segalanya.
Saat Kirana membuka mata, ketakutan di jiwanya lenyap tanpa bekas.
Ardy mengira dia masih memegang kendali atas hidup Kirana, sampai akhirnya pria itu sadar, Kirana yang sekarang bukanlah Kirana yang dulu.
Dan saat Ardy mulai berlutut memohon cintanya kembali, Kirana sudah menutup pintu hatinya untuk pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 1 Dua garis merah
“Aku sungguh hamil? Alhamdulilah.”
Mata Kirana berkaca-kaca menatap alat uji kehamilan yang masih berada dalam genggamannya. Selama tiga tahun menikah dengan Ardy, ia tak pernah berhenti berharap. Di setiap sujud panjangnya di sepertiga malam, hanya ada satu doa yang selalu ia panjatkan dengan derai air mata.
“Semoga Tuhan menghadiahkan seorang anak yang mampu menghangatkan rumah tangga yang sedingin ini.”
Sebab Kirana sadar sepenuhnya, hati suaminya tak pernah benar-benar menjadi miliknya. Ardy memang menikahinya atas desakan almarhum kakeknya, tetapi pria itu tak pernah mencintainya. Meski begitu, Kirana selalu bodoh dan percaya bahwa cinta bisa tumbuh seiring waktu.
Dan pagi ini, Tuhan seolah memberinya secercah harapan.
Dengan hati-hati ia memasukkan test pack itu ke dalam kotak kecil berlapis pita biru yang telah disiapkannya sejak berbulan-bulan lalu. Ia bahkan menyelipkan sepasang kaus kaki bayi mungil berwarna putih yang sengaja ia beli diam-diam.
Malam nanti, ia akan memberi kejutan kepada suaminya. Membayangkan ekspresi Ardy saat mengetahui dirinya akan menjadi seorang ayah membuat dada Kirana dipenuhi kehangatan yang meletup-letup.
“Mas Ardy pasti senang. Dia pasti akan memelukku,” gumam Kirana sembari mengusap sisa air matanya.
*
*
“Mas.”
Kirana tersenyum manis sembari melangkah maju, tangannya terulur merapikan dasi suaminya yang sedikit miring.
“Nanti malam jangan lupa ya? Di restoran tempat kita biasa makan malam bersama keluarga.”
Ardy yang sedang sibuk membalas pesan di ponselnya, berdiri kaku di depan cermin tanpa sedikit pun menoleh. Tangan Kirana di dadanya seolah tak ada artinya.
“Kenapa harus di sana? Dekat kantor saja tidak bisa?” sahut Ardy dengan nada dingin.
“Aku ada kejutan buat Mas. Sangat penting.”
Tatapan Ardy akhirnya beralih sekilas dari layar ponsel.
“Kalau penting, bicarakan sekarang, Kirana. Jadwalku padat.”
“Nggak bisa.” Kirana terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana. “Harus nanti malam, Mas.”
“Hmm. Aku usahakan datang.”
Hanya itu. Tak ada senyum. Tak ada pertanyaan manis. Tak ada antusiasme.
“Mas, tolong jangan sampai batal ya. Aku benar-benar menunggu. Ini soal masa depan kita.”
Ardy mengembuskan napas kasar. “Aku bilang aku usahakan, Kirana! Jangan mengulang-ulang ucapan yang sama. Telingaku sakit mendengarnya!”
Pria itu menyentak jasnya, menyambar tas kerja di atas ranjang, lalu melangkah lebar keluar kamar tanpa menoleh lagi.
“Mas, tunggu!”
Brak!
Pintu tertutup rapat sebelum Kirana sempat menyelesaikan kalimatnya. Wanita itu memejamkan mata. Rasa sesak yang sudah terlalu akrab kembali meremas dadanya. Tangannya perlahan turun, mengusap perutnya yang masih rata dengan kelembutan luar biasa.
“Nggak apa-apa, Sayang. Nanti malam semuanya akan berubah. Papamu pasti bahagia mengetahui kamu sudah hadir di sini.” Ia tersenyum kepada dirinya sendiri di pantulan cermin. Lalu menyusul suaminya.
Begitu menuruni anak tangga terakhir, langkah Kirana mendadak terhenti. Senyum di bibirnya membeku.
Di ruang makan, telah duduk seorang wanita bernama Siska. Mantan kekasih Ardy. Wanita yang entah sejak kapan memiliki keistimewaan luar biasa hingga lebih sering berada di rumah ini.
“Selamat pagi, Tante Sarah, Mas Ardy, Mbak Kirana,” sapa Siska dengan senyum manis.
Sarah, ibu mertua Kirana, langsung tersenyum lebar hingga matanya menyipit.
“Sudah sarapan belum, Sayang? Duduk sini. Tante sudah siapkan roti gandum kesukaanmu.”
Kirana hanya mampu menatap pemandangan itu dalam diam. Selama tiga tahun mengabdi menjadi menantu, Sarah tak pernah sekalipun menawarinya makan dengan nada sehangat itu.
“Kirana!” suara Sarah membuyarkan lamunannya.
“Kenapa masih berdiri mematung di sana?! Cepat buatkan teh chamomile hangat untuk Siska! Dia sedang kurang enak badan. Jangan lambat!”
“Iya, Ma.”
Tanpa membantah sepatah kata pun, Kirana berjalan ke dapur. Tak sampai lima menit, ia kembali dengan nampan berisi secangkir teh hangat. Baru saja tangannya hendak meletakkan cangkir itu di atas meja...
“Heh! Taruh yang benar! Jangan sampai tumpah ke baju mahal Siska!”
Bentakan tiba-tiba dari Sarah membuat Kirana refleks terkejut. Tangannya gemetar. Sendok kecil di atas tatakan berdenting keras menyentuh keramik.
Siska sontak memegang dadanya dengan sok dramatis. “Astaga! Aku kaget sekali, Tante....”
“Kirana! Kamu sengaja, ya?! Kamu sengaja mau menyiram Siska dengan air panas?!”
Kirana menggeleng panik, wajahnya pucat pasi. “Nggak, Ma! Sumpah, aku benar-benar nggak sengaja.”
“Alasan! Kerjaan mu memang cuma bikin orang susah di rumah ini!” seru Sarah tajam.
“Maaf, Ma.”
“Kata maafmu sudah basi! Kalau saja Ardy dulu menikah dengan Siska, rumah ini pasti sudah damai dan penuh suara tawa cucu. Bukan diisi perempuan mandul sepertimu!”
Kata mandul itu sukses menampar telak ulu hati Kirana. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Padahal di dalam tasnya, ada bukti bahwa ia bisa memberi keturunan.
Di saat yang sama, Ardy menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana istrinya dimarahi habis-habisan. Bukannya membela sang istri, yang ia lakukan hanyalah menarik kursi di sebelah Siska.
“Sudahlah, Ma. Pagi-pagi jangan ribut,” ucap Ardy acuh tak acuh.
“Sudah bagaimana?!” bentak Sarah tak terima. “Lihat istrimu ini, Ardy! Kelakuannya kampungan! Wajah Siska sampai pucat pasi begini karena ulahnya!”
Siska buru-buru menggenggam tangan Sarah, lalu menatap Ardy dengan mata berkaca-kaca.
“Jangan marahi mbak Kirana, Tante, Mas Ardy. Aku yakin mbak Kirana nggak sengaja. Mungkin dia capek melayani kalian.”
“Makanya Tante sangat sayang sama kamu, Sis. Kamu selalu lembut dan pemaaf. Beda jauh dengan parasit yang cuma numpang jadi istri ini!” Sarah mengusap rambut Siska penuh kasih.
Jantung Kirana serasa ditusuk ribuan jarum.
Parasit? Cuma numpang jadi istri? Bukankah ia istri sah yang dinikahi di hadapan Tuhan? Lalu mengapa kehadirannya selalu dianggap lebih rendah dari keset kaki?
“Mas Ardy, nanti bisa antar aku ke butik? Sopirku mendadak izin hari ini. Tapi kalau Mas sibuk, aku pesen taksi online saja,” pinta Siska.
“Aku saja yang antar kamu,” jawab Ardy cepat. Tanpa berpikir dan tanpa ragu sedikit pun.
Kirana tersenyum kecut. Tiga hari lalu, ia merintih kesakitan, meminta Ardy mengantarnya kontrol ke dokter karena sering mual dan kepalanya seolah mau pecah. Tapi Ardy menolak dengan alasan sibuk.
Tapi hari ini, kesibukan luar biasa itu mendadak menguap tanpa sisa hanya karena satu rengekan Siska.
“Mas.” Kirana memberanikan diri memanggil.
“Apa lagi, Kirana?!”
“Nanti malam jangan lupa, ya?”
Ardy menatapnya lekat dan datar. “Aku bilang aku usahakan!”
Tepat saat kalimat itu selesai, Siska tiba-tiba mengerang pelan dan memegang pelipisnya, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Ardy.
“Aduh, Mas, kepalaku mendadak pusing sekali. Dadaku sesak.”
“Kita ke rumah sakit sekarang!”
Tanpa pikir panjang, Ardy merangkul pinggang Siska dengan penuh kelembutan dan perhatian. Sarah pun ikut panik dan membukakan jalan.
Mereka bertiga terburu-buru Mengabaikan Kirana seolah wanita itu hanyalah pajangan tak terlihat dan tak bernapas.
Kirana membuka tasnya. Mengeluarkan kotak kecil berpita biru yang berisi dua garis merah. Seketika senyum di bibirnya pun lenyap.
“Selamat ya, Mas. Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah. Tapi sepertinya kabar bahagia ini nggak penting buatmu.”
mau lihat gimana si siska setelah ardy bangkrut dan pasti itu bukan anaknya ardy