NovelToon NovelToon
Di Jodohkan Dengan Dokter Spesialis Dingin

Di Jodohkan Dengan Dokter Spesialis Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Perjodohan
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

-
Aini Zahra Wijaya, seorang dokter muda yang baru lulus, memulai masa koasnya di rumah sakit megah milik keluarga besar Wigunadi. Berharap fokus mengabdi, takdir justru mempertemukannya dengan Dr. Ivandra Arya Wigunadi—spesialis bedah saraf yang jenius, dikenal paling dingin, dan tak tersentuh.
-
Meski Ainu berusaha keras menghindari pria kejam itu, sebuah rahasia keluarga dan ikatan takdir memaksa mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Di balik dinding rumah sakit yang dingin, hubungan penuh ketegangan, batasan, dan emosi yang terpendam pun dimulai.
_

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 24

****

Kesejukan udara pagi di dalam apartemen mewah lantai tiga puluh terasa begitu hampa dan menindas. Suara denting halus sendok yang beradu dengan mangkuk porselen menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi keheningan area dapur bersih.

Ivandra berdiri tegak di depan kompor listrik. Mengenakan kaus santai berwarna abu-abu polos dan celana kain tebal, wajah tampannya tampak amat kusam. Lingkaran hitam samar terpatri di bawah matanya—bukti nyata bahwa pria itu tak memejamkan mata sedikit pun sepanjang malam, terus berjaga memantau laju tetesan infus dan suhu tubuh Aini.

Seluruh keangkuhan, gengsi menjulang, dan gelar 'Dokter Iblis' yang melekat pada dirinya lenyap tak berbekas. Di tempat itu, Ivandra hanya seorang suami yang didera penyesalan mendalam.

Dengan gerakan cermat dan amat pelan, Ivandra menuangkan bubur beras lembut beraroma kaldu gurih yang ia masak sendiri ke dalam mangkuk. Pria jangkung itu menata mangkuk tersebut di atas nampan kayu, lengkap dengan segelas air hangat, piring kecil berisi kapsul analgesik, serta salep kortikosteroid khusus untuk meredakan pembengkakan dan memar.

Ivandra menghela napas panjang yang terasa sangat berat, lalu melangkah pelan menuju kamar utama.

Klek.

Pintu kayu tebal terdorong halus. Di atas ranjang king size, Aini sudah terbangun. Gadis itu bersandar kaku pada kepala ranjang yang dilapisi busa empuk. Hijab instan berwarna abu-abu muda telah terpasang rapi menutup rambut dan lehernya, sementara selimut tebal menutupi tubuhnya hingga ke batas dada. Selang infus masih terpasang kaku di punggung tangan kirinya.

Saat pandangan mata Aini yang redup bertabrakan dengan sosok Ivandra, keheningan di dalam kamar itu seketika berubah kaku bagai dinding es.

Ivandra meletakkan nampan kayu di atas nakas samping ranjang. Pria itu mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur, mencoba mengikis jarak dengan amat hati-hati.

"Aini..." panggil Ivandra lembut. Suara berbariton beratnya mengalun serak dan rendah, sarat akan ketulusan yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya. "Bagaimana keadaanmu pagi ini? Kepala masih terasa pusing atau mual?"

Aini tak menjawab. Ia memalingkan wajahnya lurus ke arah jendela kaca besar yang menampilkan lanskap gedung-gedung tinggi. Tak ada sepatah kata pun yang meluncur dari bibir ayunya yang masih pucat.

Ivandra menelan ludah kasar, merasakan kepahitan menusuk tenggorokannya. Ia meraih mangkuk bubur yang masih mengepulkan uap tipis, menyendoknya sedikit, lalu mengarahkannya ke dekat bibir Aini.

"Makan sedikit ya?" bujuk Ivandra dengan intonasi yang amat sabar. "Saya buatkan bubur halus. Kamu butuh energi supaya stamina kamu pulih dan obat penurun demamnya bisa masuk."

Tanpa menatap mata Ivandra sedikit pun, Aini perlahan membuka bibirnya. Ia menerima suapan bubur itu, mengunyahnya pelan, lalu menelannya dalam kepatuhan yang amat kaku.

Satu suapan, dua suapan, hingga setengah mangkuk berpindah. Aini menjalankan peran sebagai 'pasien' dan 'istri yang patuh' secara sempurna, persis seperti robot yang diprogram. Namun, tidak ada binar kehidupan, tidak ada tatapan mata, dan tidak ada sepatah kata pun interaksi. Sikap acuh tak acuh dan kepatuhan yang membeku itu jauh lebih menyiksa nurani Ivandra daripada bentakan emosional atau makian kasar.

"Cukup," bisik Aini pelan setelah suapan ketujuh, memalingkan wajahnya kembali.

Ivandra menghentikan tangannya di udara. Pria itu mengangguk kaku, meletakkan kembali mangkuk tersebut ke atas nampan. Dengan cermat, ia menyodorkan segelas air hangat dan kapsul obat ke tangan Aini.

"Ini obat analgesik untuk meredakan nyeri dan peradangan. Minum dulu," ujar Ivandra.

Aini menerima obat itu tanpa bantahan, meminumnya hingga kandas dalam sekali teuk, lalu meletakkan gelas itu kembali ke atas nakas. Gerakannya begitu efisien, rapi, dan berjarak.

Ivandra menghela napas panjang. Pria itu kemudian meraih tabung salep medis dari atas nampan, membuka tutupnya, dan mengoleskan sedikit krim bening tersebut ke ujung jemari tangannya.

"Aini... lebam di leher dan paha dalammu harus diolesi salep ini," tutur Ivandra dengan nada suara yang bergetar pelan. "Krim ini akan mempercepat penyerapan hematoma dan meredakan bengkak di area intimmu. Biar saya bantu oleskan—"

Greb!

Belum sempat jemari Ivandra menyentuh keliman baju Aini, Aini bergerak secepat kilat. Dengan gerakan penuh kejut dan panik, Aini menyentak tubuhnya mundur hingga punggungnya terbentur keras pada kepala ranjang.

Kedua tangannya yang gemetaran hebat meremas rapat ujung piyama dan selimut di dadanya. Mata jernih Aini yang mulai membasah membelalak lebar, memancarkan aura ketakutan, luka mendalam, dan trauma yang amat pekat.

"Jangan sentuh saya!" pekik Aini dengan suara yang melengking parau, memutus keheningan kamar.

Ivandra membeku di tempatnya. Tangannya yang mengudara terhenti kaku. Melihat tatapan trauma dan ketakutan murni dari mata istrinya saat ia mencoba mendekat menghantam dada Ivandra bagai pukulan benda tumpul yang amat telak.

"Aini... saya hanya ingin mengobati lukamu..." bisik Ivandra dengan pendar mata yang sarat akan rasa bersalah yang hancur berkeping-keping.

"Saya bisa mengoleskannya sendiri!" sahut Aini cepat, suaranya bergetar hebat menahan tangis yang hendak pecah. "Tolong... jangan pernah sentuh saya lagi, Dokter Ivandra. Jangan buka piyama saya... saya mohon..."

Aini merapatkan paha dan melipat kedua lututnya ke dada, menyembunyikan wajahnya di atas pangkuan sembari terisak pelan tanpa suara. Pundaknya naik turun menahan guncangan trauma atas peristiwa malam itu.

Ivandra berdiri mematung di tepi ranjang. Jemari tangannya yang membawa salep gemetaran kencang. Pria yang selama ini dipuja sebagai spesialis bedah saraf jenius yang sanggup menyelamatkan ratusan nyawa kini merasa menjadi manusia paling tidak berguna dan paling berengsek di muka bumi.

Ia sendiri yang telah menorehkan lebam itu. Ia sendiri yang telah merobek rasa percaya dan kehormatan istrinya. Dan kini, uluran tangannya untuk mengobati justru menjelma menjadi ancaman ketakutan bagi wanita yang seharusnya ia lindungi.

Ivandra meletakkan tabung salep tersebut di atas nakas, tepat di samping gelas air minum. Pria jangkung itu memundurkan langkahnya secara perlahan, memberikan ruang dan jarak aman bagi Aini.

"Baik... baik, Aini. Saya tidak akan menyentuhmu," tutur Ivandra dengan nada suara yang teramat serak, rendah, dan penuh rasa kalah. "Salepnya saya taruh di sini. Kamu bisa mengoleskannya sendiri jika sudah merasa lebih tenang."

Ivandra melangkah menuju tiang infus, memeriksa laju tetesan cairan Ringer Laktat dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tak mengejutkan Aini lagi.

"Cairan infus ini tinggal seperempat lagi," lanjut Ivandra pelan, menatap punggung mungil istrinya yang masih tertunduk. "Setelah habis, saya akan lepaskan jarumnya. Kamu bisa istirahat seharian ini. Jangan memikirkan tugas rumah sakit... saya sudah mengambil alih perizinanmu."

Aini tak memberikan respons apa pun. Ia tetap menyembunyikan wajahnya di balik lipatan tangan, membiarkan isak tangisnya meredam di balik selimut tebal.

Ivandra mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat di samping tubuh, menahan gemuruh penyesalan yang membakar dadanya hingga sesak. Pria itu memutar tubuhnya perlahan, berjalan menuju pintu keluar dengan langkah yang terasa begitu berat.

Sebelum menutup pintu, Ivandra sempat menoleh sekilas, menatap figur mungil istrinya yang bergelung kesepian di tengah ranjang besar itu. Tembok pemisah di antara mereka kini tak lagi sekadar dingin—melainkan telah menjelma menjadi benteng luka dan trauma yang teramat sulit untuk diruntuhkan kembali.

Bersambung.

1
zamiyatin nafifah
looo kak kok uda tamat aja pdhaal suka dengan crtnya
imel
apa sih jangan touch.. memang artinya sentuh tapi kurang enak bacanya. maaf
Anonim
CRAZY UP THOR
Anonim
crazy up thor
Anonim
up thor
Shuttttttttttt
pls crazy up thooor
Anonim
crazy up
Anonim
crazy up thor
Ai Nurlaela Jm
karyamu kereen Thor
Anonim
crazy up thor
Anonim
crazy up
Putry Chan
dokter pria itu serem deh bikin merinding jangan sampai ketemu lagi
mampir ya ke novel ku
Putry Chan
Aini Mungkin kmu sedikit ceroboh
Putry Chan
maaf gak sengaja kau pikir aku buta 🙄
Putry Chan
semangat Aini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!