Ketika langit di atas pinggiran Kekaisaran Yanling tiba-tiba terkoyak oleh invasi mendadak monster binatang, ilusi kedamaian hancur dalam semalam. Di tengah kepanikan para kultivator muda elit yang formasinya porak-poranda, Lin Juan—seorang yatim piatu bermarga Lin yang selalu dicaci karena Jiwa Rohnya yang cacat—menjadi satu-satunya yang menolak mundur. Tanpa pancaran energi spiritual yang mewah, ia mengandalkan insting murni dan tubuh yang ditempa penderitaan untuk bertahan hidup. Di tengah genangan darah dan keputusasaan, sebuah jiwa purba yang tertidur di kedalaman nadinya, Roh Kera Putih yang legendaris, akhirnya membuka mata, merespons panggilan kematian dengan raungan yang mengguncang surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TARIAN TOMBAK BERKARAT
Cakar raksasa Beruang Zirah Besi menghantam tanah, memecahkan lantai batu menjadi serpihan tajam yang memercik ke segala arah. Angin tebasan monster itu membuat bajuLin Yuan yang sudah koyak mengibar keras.
"Bocah! Tangkap ini!" Teriak Paman Gu dari balik pintu gudang.
Sebuah benda panjang dilemparkan membelah udara. Lin Yuan menangkapnya dengan refleks cepat. Itu adalah sebatang tombak besi tua. Matanya sudah berkarat kecokelatan, gagang kayunya menghitam dan penuh goresan lapuk, namun poros besinya masih utuh dan terasa berat di genggaman.
"Senjata karatan tidak akan bisa menembus zirah besi itu!" Jerit Lin Heng dari balik barikade kayu dengan muka pucat pasi. "Kau cuma mengulur waktu untuk mati!"
Lin Yuan tidak membalas. Ia menggeser kaki kanannya ke belakang, memutar tombak tua itu melingkari pinggangnya, lalu menancapkan mata tombak ke lantai batu untuk mengunci posisi.
ROAAAR!
Beruang Zirah Besi meraung, menyadari mangsa kecil di depannya tidak lari. Monster itu menerjang maju, menggunakan seluruh berat tubuhnya untuk meremukkan Lin Yuan.
Lin Yuan tidak menyambut benturan itu secara langsung. Begitu moncong monster mendekat, ia menghentakkan kakinya ke tanah, melompat miring sejauh tiga jengkal.
BLES!
Lin Yuan menusukkan mata tombak karatan itu tepat ke celah ketiak monster—area sempit tempat lempengan zirah hitam tidak menyatu sempurna.
TET!
Suara gesekan besi beradu terdengar nyaring. Mata tombak itu menancap dua jari dalam sebelum tertahan otot keras monster. Gesekan keras itu mengirimkan getaran hebat melintasi gagang kayu, menghantam kedua telapak tangan Lin Yuan hingga kulitnya terkelupas berdarah.
Darah segar menetes dari telapak tangan Lin Yuan, membasahi gagang tombak yang karatan.
ROAAAR!
Monster itu melibas tangannya ke samping. Lin Yuan melepas pegangannya tepat waktu, merunduk rendah saat cakar besi itu menyapu udara hanya seujung rambut di atas kepalanya.
Benturan keras dari getaran tombak tadi bukannya mematahkan tangan Lin Yuan, melainkan memicu reaksi berantai di dalam dadanya. Darah yang menetes dari tangannya seolah membakar energi Kera Putih di dalam lautan jiwanya.
DES!
Sensasi menusuk yang luar biasa tajam meledak di paha dan pergelangan tangannya. Untuk pertama kalinya, bukan hanya rasa hangat pasif, melainkan seberkas aliran energi spiritual murni—*qi*—tertembak keluar dari lautan jiwanya, memecahkan sumbatan pertama di meridian tangan kanannya.
Lin Yuan merasakan lengannya mendadak menjadi dua kali lebih ringan sekaligus padat.
"Aliran *qi*?" Bisik Lin Yuan dengan napas terengah-engah.
Monster itu berputar cepat, mengibaskan ekor pendeknya yang berlapis cangkang besi ke arah dada Lin Yuan.
Lin Yuan menarik kembali tombak karatan yang masih tertancap samar di ketiak monster. Tanpa ragu, ia memutar poros tombak, menggunakan bagian tumpul gagang kayu untuk menahan kibasan ekor tersebut.
BAM!
Benturan fisik murni beradu di tengah lorong. Kayu tombak tua itu berderak hebat, namun tidak patah. Aliran *qi* pertama yang baru saja menyembur dari meridian Lin Yuan secara otomatis melapisi permukaan kayu lapuk itu, menahan tekanan ton-tonan dari serangan sang beruang.
Lin Yuan terdorong mundur lima langkah, tumitnya mengikis batu jalanan hingga menimbulkan asap tipis. Namun badannya tetap tegak.
"Dia... dia menahan sabetan Beruang Zirah Besi murni dengan kekuatan fisik?" Pekik seorang pengawal klan yang bersembunyi di balik tiang dengan mata membelalak.
"Bukan murni fisik," Gumam Paman Gu dari kejauhan, matanya yang kabur menatap lekat-lekat pada gagang tombak tua di tangan Lin Yuan. "Ada energi yang mulai mengalir. Meridian bocah itu pecah."
Lin Heng yang menyaksikan hal itu mendesis benci. "Tidak mungkin! Dia sampah tanpa meridian! Bagaimana mungkin dia memancarkan energi spiritual?!"
Beruang Zirah Besi makin murka melihat mangsanya berkali-kali menahan serangannya. Monster itu mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi, memposisikan seluruh bobot tubuh empat tonnya untuk menghantam tanah dan menciptakan gelombang kejut yang akan meremukkan organ dalam Lin Yuan.
"Ini kesempatanmu, Lin Yuan!" Teriak Paman Gu keras.
Saat kedua kaki depan monster terangkat ke udara, area leher bawah dan dadanya terbuka lebar tanpa perlindungan cakar.
Lin Yuan menarik napas panjang, memasukkan udara dingin pagi dalam-dalam ke paru-parunya. Rasa sakit di tulang rusuknya yang retak seolah menguap, digantikan oleh suara raungan liar Kera Putih yang bergema makin nyaring di dalam kepalanya.
Lin Yuan berlari kencang menerjang maju.
Setiap kali kakinya menghantam tanah, aliran *qi* baru merembes keluar dari lautan jiwanya, membasahi meridian di sepanjang kakinya. Gerakannya menjadi semakin cepat, meninggalkan jejak bayangan tipis di atas batu jalanan basah.
Tarian tombaknya dimulai.
SREK! SREK! SREK!
Lin Yuan tidak mencoba menembus zirah tebal di dada monster. Sebaliknya, ia mengayunkan tombak karatan itu dalam serangkaian tusukan taktis yang sangat presisi.
Tusukan pertama menghantam celah persendian siku kanan monster. Tusukan kedua mematuk urat di lipatan lutut kiri. Tusukan ketiga menggores celah daging lembut di bawah rahang bawah sang beruang.
TET! BLES! BLES!
Darah hitam kental menyembur keluar dari tiga titik persendian tersebut. Raungan beruang itu berubah dari nada murka menjadi jeritan kesakitan yang melengking.
Kombinasi antara teknik bertarung jarak dekat murni dan dorongan *qi* yang baru bangkit membuat tombak karatan tua itu bergerak bagai patukan ular besi yang membara.
"Gila... dia membaca titik lemah monster itu di tengah serangan!" Bisik murid klan yang berada di belakang Lin Heng dengan bibir gemetar.
Beruang Zirah Besi kehilangan pijakan saat kaki kirinya melemah akibat saluran uratnya yang terputus. Tubuh raksasanya terhuyung ke depan, jatuh berlutut dengan satu kaki tepat di hadapan Lin Yuan.
Monster itu masih berusaha mengangkat rahangnya, mencoba menggigit kepala Lin Yuan dengan sisa kekuatannya.
Lin Yuan tidak memberi ruang semeter pun. Ia memegang poros tombak karatan itu dengan kedua tangannya, memutar tubuhnya tiga ratus enam puluh derajat untuk mengumpulkan momentum penuh dari pinggang dan pundaknya.
Aliran *qi* di meridian tangannya melonjak hebat, membuat urat-urat di lengan Lin Yuan menonjol ke permukaan kulit, dipenuhi oleh kilatan aura perak tipis yang makin pekat.
"Kembali ke dalam tanah!" Teriak Lin Yuan dengan suara berat melengking.
BAM!
Gagang tombak besi tua itu dihantamkan secara horizontal tepat ke samping rahang Beruang Zirah Besi.
Benturan dahsyat itu menimbulkan gelombang angin yang menyapu debu di sekeliling lorong. Kepala raksasa beruang itu terlempar ke samping dengan keras, beberapa gigi besarnya patah dan terbang ke udara bersama semburan darah hitam.
Monster raksasa itu ambruk miring ke tanah, tidak mampu langsung bangkit kembali.
Lin Yuan berdiri di atas tubuh beruang yang terengah-engah itu, menancapkan ujung tombak karatan ke tanah untuk menopang tubuhnya sendiri. Dahi dan dadanya dibasahi keringat dingin. Napasnya memburu keras, dan seluruh meridian di lengannya terasa seperti disiram air raksa panas.
Namun, di dalam dadanya, lautan jiwa Kera Putih tidak lagi senyap. Pintu kekuatan purba itu telah terbuka satu celah lebih lebar, siap meledakkan gelombang kekuatan yang sesungguhnya.