"Kapan nikah?"
"Udah mau 30 loh."
"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."
Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.
3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.
Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?
Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
"Nek, Nenek!"
Terdengar suara teriakan Alena.
"Nenek di dapur," sahut Bu Hana.
"Nenek" Gadis kecil itu muncul sambil berlari. "Di depan ada mobil mewah!" Tangannya menunjuk ke arah depan. "Mobil siapa ya?" Alena tampak begitu bersemangat sampai lupa bernapas. "Warnanya hitam, licin, mengkilap. Kayaknya mahal banget. Kok di parkir di depan rumah kita, mobil siapa ya, Nek?"
Bu Hana menunjuk dagu ke arah kulkas.
Alena menoleh, baru menyadari ada orang lain di rumah mereka. Ia menatap Jena. "Kak Jena..." Ia masih ingat wajahnya.
"Itu mobil Kakak." Jawab Bu Hana.
Alena menutup mulutnya yang menganga. "Itu mobil Kak Jena?"
Jena mengangguk.
Wajah Alena berubah seolah baru saja mendapatkan informasi besar. "Berarti, Kak Jena orang kaya dong."
Jena tertawa kecil.
"Jangan Kak Jena manggilnya, tante Jena," ujar Bu Hana.
Alena kemudian mendekati Jena yang masih berdiri di depan kulkas. "Kak, eh Tante Jena, nanti aku boleh gak, diajak jalan-jalan pakai mobilnya Tante Jena."
"Alena..." Budi memperingati.
"Boleh kok." Jena menyentuh bahu Alena.
"Yeeyyy!" Alena girang.
"Tapi..."
"Tapi apa?" Ekspresi wajah Alena langsung berubah. "Aku janji kok, gak bakal ngotorin mobilnya Tante Jena. Aku juga bakal bawa keresek nanti, jadi kalau muntah, gak kena mobilnya Tante Jena."
Tanpa sadar, air mata Bu Hana menetes. Ia kasihan pada Alena. Andai saja musibah itu tidak terjadi, Alena tidak akan kehilangan Papanya, tidak akan ditinggal Mamanya merantau, dan hidupnya pasti jauh lebih enak.
"Bukan itu, tapi Tante Jena mau minta bantuan."
"Hah, bantuan. Apa?"
Jena berbisik di telinga Alena. "Kasih tahu Tante, yang mana yang namanya labu siam?"
"Hah!" Mulut Alena menganga. Beberapa saat kemudian, ia malah tertawa ngakak. "Hahaha...masa Tante Jena gak tahu labu siam sih?"
Wajah Jena auto memerah, mana Budi dan Bu Hana menatapnya. Astaga, kenapa Alena malah buka kartu sih, padahal dia sudah bisik-bisik.
"Alena..." Panggil Bu Hana dengan suara rendahnya. Ia lalu menggeleng, membuat tawa Alena langsung reda. "Gak boleh ngetawain orang. "
"Ya kan Tante Jena udah gede Nek, masa gak tahu labu siam?"
Budi mendekat, mengambil labu siam dari kulkas, menujukan pada Jena. "Ini yang namanya labu siam. Gak papa kok gak tahu, gak dosa juga." Ia tersenyum, tak ingin Jena malu.
Jena menyerahkan sayuran itu kepada Bu Hana, lalu berdiri di sampingnya. Ia memperhatikan dengan serius ketika Bu Hana mulai mengupas.
Perempuan yang biasanya begitu percaya diri itu kini berdiri di dapur kecil, memperhatikan cara mengupas sayuran dengan kesungguhan seperti sedang mempelajari sesuatu yang sangat penting.
Tanpa sadar, senyum muncul di wajah Bu Hana. Mungkin memang bukan soal Jena bisa memasak atau tidak. Yang membuatnya senang adalah melihat perempuan itu mau mencoba masuk ke dalam kehidupan sederhana keluarganya, meski Jena anak orang berada.
Bu Hana mencuci labu siam yang sudah dikupas, lalu mengambil alat parutan.
Gerakannya cepat dan teratur saat memarut. Jena memperhatikan, sepertinya gampang.
"Boleh saya coba, Bu?"
Bu Hana tersenyum, lalu menyerahkannya pada Jena. "Pelan-pelan aja, hati-hati."
Jena mengangguk. Ia mulai memarut pelan. Ternyata lumayan gampang. Dia yang memang tak sabaran dan selalu ingin menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, mempercepat gerakannya. Dan...
"Aduh!" Jena langsung menarik tangannya.
Budi yang terkejut, langsung mendekati Jena. "Kenapa?"
Jena mengangkat jarinya. Ada luka kecil di ujung telunjuk, darah mulai keluar.
Budi langsung menarik Jena ke arah wastafel, mencuci jari yang terluka itu, kalu mengeringkan dengan tisu.
"Aw..." Jena meringis.
"Perih ya?" Budi meniup luka tersebut.
Di belakang mereka, Bu Hana dan Alena bengong, seperti sedang menonton drama percintaannya.
"Nek, orang pacaran itu enak ya," celetuk Alena.
"Hus!" Bu Hana memutar tubuh Alena ke arah lain. 'Kecil-kecil kok ngomong pacaran, kayak ngerti aja."
"Kayak Ayah dan Tante Jena." Alena cekikikan.
"Alena..." Bu Hana geleng-geleng.
Budi mengambil plester dari kotak p3k, lalu membalut luka Jena.
Mencium bau gosong, Bu Hana langsung mendekat cepat ke arah kompor. "Bud, tahunya gosong."
Budi tersenyum absurd, sambil mengusap tengkuk.
"Ayah sih, pacaran terus, kan tahunya jadi gosong." Alena memperhatikan tahu yang baru diangkat neneknya dari penggorengan
Nanti kalian saling jatuh cinta 🌹🌹🌹