NovelToon NovelToon
Memendam Perasaanku Padanya

Memendam Perasaanku Padanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:472
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10

    Langkah kaki mereka berderap cepat membelah koridor lantai dua. Beruntung, saat mereka tiba di depan ruang kuliah, pintu kayu besar itu masih sedikit terbuka. Pak Baskoro baru saja meletakkan tas laptopnya di atas meja dosen.

     Dengan napas yang masih memburu dan wajah yang memerah, Aurel, Shirin, dan Gino buru-buru menyelinap masuk sesunyi mungkin, lalu memberikan anggukan sopan kepada Pak Baskoro yang sempat menatap mereka dengan alis berkerut.

   Namun, kelegaan mereka langsung surut begitu mengedarkan pandangan ke seisi ruangan. Kelas sudah penuh sesak. Hanya tersisa dua kursi kosong yang letaknya berdampingan di barisan nomor tiga dari depan—posisi yang sangat rawan terpantau oleh radar dosen. Sementara itu, Aurel yang bergerak lebih gesit di depan, sudah langsung mengamankan satu kursi kosong tunggal di pojok belakang dekat jendela yang kebetulan ditinggalkan temannya.

      Aurel menoleh ke arah Shirin, lalu memberikan senyum tanpa dosa sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada, mengisyaratkan permintaan maaf karena telah menyelamatkan dirinya sendiri terlebih dahulu.

“Maaf, Rin! Sahabat yang baik adalah sahabat yang mendoakan dari belakang. Semangat ujian kuburnya!”

     Sialan si Aurel, awas aja nanti pas balik! umpat Shirin dalam hati, merasa dikhianati secara estetik di siang bolong.

     Shirin membeku di tempatnya. Kepalanya menoleh patah-patah ke arah dua kursi yang tersisa di barisan depan, lalu beralih menatap Gino yang berdiri di sampingnya.

     "Takdir memang enggak pernah salah memilih jalan, Rin," bisik Gino dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, lengkap dengan senyum penuh kemenangan yang membuat Shirin ingin sekali menenggelamkan cowok itu ke dalam mangkuk bakso kantin tadi.

     Mau tidak mau, dengan langkah berat dan hati yang dongkol setengah mati, Shirin berjalan menuju barisan depan. Ia segera menghempaskan tubuhnya di kursi sebelah kiri, berharap Gino akan mengambil kursi yang lain. Namun tentu saja, Gino langsung menduduki kursi tepat di sebelah kanan Shirin tanpa membuang waktu satu detik pun.

    "Selamat pagi semuanya, mari kita mulai perkuliahan hari ini," suara berat Pak Baskoro bergema di dalam ruangan, seketika memotong niat Shirin yang baru saja hendak menyikut lengan Gino.

    Shirin hanya bisa mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia melirik tajam ke samping dan mendapati Gino sedang mengeluarkan buku catatannya dengan santai, lalu sengaja menggeser posisi duduknya sedikit lebih dekat hingga bahu mereka hampir bersentuhan.

    Awas kamu ya, Gin. Dua jam ke depan bakal jadi neraka buat aku, batin Shirin frustrasi sembari membuka halaman pertama buku kuliahnya dengan sentakan kasar.

     Shirin buru-buru mengeluarkan buku catatan dan fokus menatap papan tulis. Ia bersumpah dalam hati untuk mengabaikan keberadaan makhluk di sebelahnya selama dua jam ke depan. Namun, baru sepuluh menit Pak Baskoro menjelaskan materi tentang teori komunikasi, ponsel Shirin yang diletakkan di atas paha tiba-tiba bergetar singkat.

    Satu notifikasi WhatsApp masuk. Dari Gino.

    Shirin mengerutkan kening. Ia melirik Gino lewat sudut matanya. Cowok itu tampak mengetik sesuatu di bawah meja dengan wajah yang dipasang sok serius menatap ke depan. Dengan gerakan super hati-hati agar tidak memicu radar mata elang Pak Baskoro, Shirin sedikit menurunkan pandangannya untuk membaca pesan tersebut.

     Gino: Rin, kamu kalau lagi serius dengerin dosen gini aura cantiknya nambah 50%. Tapi kalau noleh ke kanan terus senyum ke aku, langsung nambah 1000% sih.

    Shirin mendengus pelan, hampir saja memutar bola matanya saking jengkelnya. Ia memutuskan untuk mengabaikan pesan tersebut. Namun, belum ada satu menit, ponselnya kembali bergetar.

    Gino: Kok cuma dibaca? Tega banget. Hatiku rasanya kayak dapet nilai E dari Pak Baskoro, hancur berkeping-keping.

   Kesabaran Shirin mulai menipis. Sambil tetap menegakkan kepala seolah-olah sedang memperhatikan presentasi di depan, jemarinya bergerak cepat membalas pesan di bawah meja.

    Shirin: Gino, bisa diem gak? Lu dekat bgt sama gw, ngapain pake WA sih?! Perhatiin tuh dosen di depan sebelum kita berdua diusir!

  Setelah menekan tombol kirim, Shirin melirik Gino lagi. Ia bisa melihat bahu Gino sedikit berguncang menahan tawa saat membaca balasan darinya. Sedetik kemudian, sebuah pesan baru kembali masuk.

    Gino: Habisnya kalau aku ngomong langsung, nanti satu kelas tahu kalau kita lagi pacaran. Lagian seru tahu, berasa lagi main agen rahasia-rahasiaan sama masa depan.

    Shirin refleks mengepalkan tangan di bawah meja. Ia benar-benar ingin menonjok lengan cowok itu sekarang juga. Menoleh ke belakang, ia mendapati Aurel di pojok sana sedang menatapnya sambil menutup mulut dengan buku, jelas sekali sedang menertawakan penderitaan Shirin dari kejauhan.

    Belum sempat Shirin membalas pesan menyebalkan dari Gino, suara dehaman keras Pak Baskoro di depan kelas seketika memecah konsentrasi mereka. Dosen bertubuh tegap itu mengetuk-ngetukan pulpennya ke meja, membuat seisi ruangan langsung duduk tegak.

     "Baik, sebelum saya melanjutkan ke materi inti, ada satu pengumuman penting," ujar Pak Baskoro sambil menatap mahasiswanya satu per satu lewat kacamata kotaknya. "Hari ini saya akan membagikan proyek tugas besar semester ini. Tugas ini berbobot empat puluh persen dari nilai akhir kalian."

 

   Desahan pasrah dan keluhan lirih langsung terdengar serempak dari penjuru kelas. Tugas besar dari Pak Baskoro terkenal sebagai momok yang paling dihindari oleh mahasiswa jurusan mereka.

      "Dan untuk menghemat waktu," lanjut Pak Baskoro, memotong protes yang baru saja mau mencuat, "saya tidak akan mengocok kelompok secara acak. Teman yang duduk di sebelah kalian saat ini, otomatis menjadi partner kalian untuk tugas besar ini sampai akhir semester. Tidak ada negosiasi atau tukar pasangan."

         DUARRRR!

      Shirin merasa ada petir yang menyambar tepat di atas kepalanya. Matanya membelalak sempurna. Kalimat 'tidak ada negosiasi' dari Pak Baskoro terasa seperti vonis mati.

     Shirin refleks menoleh patah-patah ke arah kanan. Di sebelahnya, Gino sudah memasang cengiran paling lebar dan paling menyebalkan yang pernah Shirin lihat seumur hidupnya. Cowok itu menaik-turunkan alisnya dengan wajah penuh kemenangan.

     "Hai, Partner Hidup... eh, maksudnya Partner Tugas," bisik Gino tanpa dosa, menopang dagunya sambil mengedipkan mata ke arah Shirin.

    Shirin langsung menenggelamkan wajahnya ke atas meja kuliah yang dingin, meratapi nasibnya yang malang. Di pojok paling belakang, ia bisa mendengar sayup-sayup suara tawa tertahan dari Aurel yang sukses menyelamatkan diri.

     Aurel sialan! Gino kurang ajar! Kenapa nasibku apes banget hari ini?! jerit Shirin frustrasi dalam hati, menyadari bahwa hari-harinya ke depan tidak akan pernah tenang lagi.

     Shirin hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja, menahan diri sekuat tenaga agar tidak berteriak frustrasi di depan Pak Baskoro. Namun, alih-alih membiarkan Shirin menenangkan diri, Gino justru mulai menaikkan level kejahilannya.

    Duk.

    Ujung sepatu Gino sengaja menyenggol pelan kaki Shirin di bawah meja. Shirin refleks menarik kakinya menjauh dan mendelik tajam. Bukannya takut, Gino malah memajukan tubuhnya sedikit, memutus jarak di antara mereka hingga Shirin bisa mencium samar wangi parfum maskulin milik cowok itu.

    "Rin," bisik Gino pelan, hampir menyerupai desiran angin. "Bagi pulpen dong satu. Aku lupa bawa kotak pensil."

    "Enggak ada," ketus Shirin tanpa menoleh, matanya lurus menatap papan tulis padahal pikirannya sudah buyar ke mana-mana.

     "Masa partner sendiri pelit banget, sih? Tuh, di dalam tempat pensilmu yang gambar kucing ada pulpen warna merah nganggur," bisik Gino lagi, matanya mengerling nakal ke arah meja Shirin. Karena tidak mendapat respons, tangan Gino bergerak pelan, sengaja meraih kotak pensil Shirin secara langsung.

    Saat jari-jari Gino menarik ritsleting kotak pensilnya, kulit tangan mereka tidak sengaja bersentuhan. Sentuhan singkat itu terasa seperti sengatan listrik kecil yang membuat Shirin refleks menarik tangannya dengan sentakan agak keras.

    Plak!

    Kotak pensil plastik milik Shirin terdorong dan jatuh ke lantai, menimbulkan suara deburan yang cukup nyaring di tengah kelas yang sedang hening mendengarkan penjelasan dosen.

     "Ehem! Saudari Shirin dan Saudara Gino. Ada masalah di barisan depan?"

    Suara berat Pak Baskoro seketika menghentikan waktu. Dosen itu menurunkan kacamatanya, menatap lurus ke arah mereka berdua dengan tatapan mengintimidasi.

    Shirin merasa seluruh darah di tubuhnya mendadak surut. Wajahnya memucat karena panik. Namun, sebelum Shirin sempat membuka mulut untuk membela diri, Gino sudah lebih dulu membungkuk cepat, mengambil kotak pensil Shirin yang terjatuh, lalu menegakkan tubuhnya kembali sambil tersenyum sopan ke arah dosen.

    "Maaf mengganggu penjelasannya, Pak. Ini... pulpen partner kelompok saya tadi sempat menggelinding jatuh saat kami sedang mendiskusikan materi Bapak," jawab Gino dengan nada bicara yang sangat tenang, sopan, dan luar biasa meyakinkan.

    Pak Baskoro hanya mendengus pelan lewat hidung. "Fokus ke papan tulis. Diskusi kelompoknya dilanjutkan nanti setelah kelas saya selesai."

   "Baik, Pak. Terima kasih," sahut Gino runtut.

    Begitu radar Pak Baskoro beralih kembali ke slide presentasi, Gino langsung mengembuskan napas lega. Ia meletakkan kotak pensil itu kembali ke meja Shirin, lalu melirik gadis di sebelahnya dengan senyum jail yang tertahan.

     "Tuh, kan. Belum apa-apa kita udah kompak banget sebagai partner," bisik Gino super pelan, sambil memamerkan pulpen merah milik Shirin yang berhasil ia "selamatkan" ke dalam genggamannya.

    Shirin hanya bisa membuang muka ke arah jendela, menggigit bibir bawahnya menahan malu yang teramat sangat. Di kejauhan sana, ia bisa melihat Aurel yang sedang menepuk-nepuk mejanya pelan sambil menahan tawa sampai pundaknya berguncang hebat.

    Begitu kalimat "Kuliah hari ini saya akhiri" keluar dari mulut Pak Baskoro, Shirin langsung membereskan buku-bukunya dengan gerakan super cepat. Ia ingin segera kabur dari radius satu meter di sekitar Gino.

     "Rin, buru-buru amat. Mau ngejar bakso di kantin  atau mengejar cintaku?" goda Gino, santai menyampirkan tas ranselnya di satu bahu. Pulpen merah Shirin masih terselip di balik telinganya.

      Sebelum Shirin sempat menyemprot cowok itu, sebuah tepukan keras mendarat di bahunya. Aurel sudah berdiri di sana dengan wajah memerah menahan tawa. "Sumpah ya, Rin! Lo berdua tadi di depan komat-kamit kayak lagi ijab kabul. Kompak banget!"

     "Aurel, diam atau lo gue unfriend seumur hidup," ancam Shirin dengan tatapan membunuh.

      Gino justru terkekeh dan mengulurkan tangan ke arah Aurel. "Hai Rel, kenalin. Gue Gino, partner masa depan Shirin. Tolong bantuin ya kalau nanti temen lo ini tiba-tiba mogok kerja."

    "Beres, Gin! Jagain nih anak kucing, suka gigit kalau laper," sahut Aurel kompor, yang langsung dihadiahi cubitan maut dari Shirin di lengan kirinya.

    "Oke, Partner," Gino beralih menatap Shirin, memotong jarak di antara mereka hingga Shirin terpaksa mendongak. "Pak Baskoro minta silabus tugas dikumpul minggu depan. Jadi, kapan kita mulai nge-date... eh, maksudnya kerja kelompok?"

    Shirin tertawa sampai terpingkal-pingkal. Tepat di tengah tawanya, bel kampus berbunyi nyaring menandakan waktu istirahat telah tiba. Saat itu juga, Shirin langsung mengambil langkah seribu menuju kantin.

     Gino dan Aurel tidak tinggal diam. Mereka segera berlari mengejar Shirin sambil ikut tertawa terbahak-bahak di sepanjang koridor. Namun, sesampainya di kantin, ternyata Bang Edward dan Kak Anita sudah nongkrong di sana lebih dulu. Kedua pasangan itu hanya bisa heran dan geleng-geleng kepala melihat tingkah heboh Shirin, Gino, dan Aurel yang datang sambil berlarian.

      "Heh, bocah-bocah! Lo bertiga habis dikejar anjing gila atau gimana? Datang-datang heboh bener," tegor Bang Edward begitu Shirin, Gino, dan Aurel sukses mendaratkan bokong di kursi panjang kantin sambil terengah-engah.

    Kak Anita yang sedang menyeruput es teh manisnya langsung menyodorkan selembar tisu ke arah Shirin. "Muka lo sampai merah banget itu, Rin. Kenapa, sih? Si Gino berulah lagi?"

     "Bukan lagi, Kak! Nih, si kucing garong hampir mau gigit gue gara-gara digodain Gino di kelas tadi," sahut Aurel kompor, masih sempat-sempatnya tertawa sambil mengelus lengannya yang tadi dicubit Shirin.

     "Aurel, sumpah, mulut lo lemes banget!" semprot Shirin, langsung menyambar es jeruk milik Gino yang bahkan belum sempat diminum oleh pemiliknya. Shirin meneguknya sampai tandas demi meredakan rasa dongkol sekaligus haus.

    Gino yang minumannya dirampas hanya bisa melongo, lalu terkekeh pasrah. Ia menopang dagu dengan satu tangan sambil menatap Shirin dengan pandangan jenaka. "Santai, Rin. Kalau kurang, ngeriuk lagi aja. Entar gue yang bayar. Anggap aja ini DP modal awal buat masa depan kita."

    "Uhuk!" Bang Edward yang baru saja mengunyah siomay langsung tersedak. Ia menatap Gino sambil geleng-geleng kepala. "Gila ya, si Gino. Masih maba tapi skills buayanya udah menyamai rekor alumni. Belajar di mana lo, Dek?"

      "Nggak usah diajarin, Bang. Ini bakat alami semenjak lahir," jawab Gino bangga, yang langsung dihadiahi lemparan tisu bekas dari Shirin.

    Kak Anita tertawa renyah melihat tingkah mereka. "Tapi serius deh, kalian berdua kompak banget dari tadi. Ada angin apa nih? Biasanya Shirin kalau melihat Gino radius dua meter udah pasang muka pengin nerkam."

     "Kompak karena terpaksa, Kak," gerutu Shirin ketus. "Pak Baskoro mendadak masangin kita berdua buat silabus tugas minggu depan. Musibah awal semester!"

    "Wah, pas banget itu!" Bang Edward langsung menepuk meja, membuat mangkuk siomay-nya berdenting. "Kebetulan gue punya draf tugas Pak Baskoro tahun lalu. Mau gue bagi nggak?"

    Mendengar kata 'draf tugas', mata Shirin  langsung berbinar cerah. "Serius, Bang? Mau banget!"

    Gino langsung menyenggol lengan Shirin dengan ekspresi menang. "Nah, pucuk dicinta ulam pun tiba. Berarti fiks ya, sepulang kampus kita langsung meluncur ke kafe buat pelajari draf dari Bang Edward. Gimana, Partner?"

     "Kok cuma Shirin sama Gino sih, Bang, yang dikasih? Aurel mana protesnya?" Aurel langsung melayangkan protes pada Bang Edward dengan nada tidak terima.

     "Kamu satu tim sama siapa, Dek?" tanya Kak Anita menimpali. "Bukannya satu kelompok sama mereka berdua?"

     "Bukan, Kak. Aku sama orang lain satu kelompoknya," jawab Aurel sambil menghela napas lesu.

    Bang Edward terkekeh melihat wajah cemberut Aurel. "Kamu juga bakal Abang kasih, kok. Nanti Abang ajari juga. Suruh aja teman satu kelompokmu datang ke rumah Abang. Soalnya kita nggak ngerjain di kafe, tapi di rumah."

    "Lah, kirain di kafe tadi?" sahut Gino bingung.

     "Gak, di rumah aja," jawab Bang Edward tegas. Ia kemudian beralih menatap Aurel dengan senyum jahil. "Dan kalau nilai mu sampai merah, Abang bakal kasih hukuman buat kamu, Rel!"

    Seketika itu juga Aurel langsung mengerucutkan bibirnya mendengar ancaman Bang Edward. Kak Anita yang berada di sebelah Bang Edward langsung memukul pelan bahu cowok itu karena gemas melihat keisengannya.

    "Kalau Bang Edward berani menghukumku, aku bakal ngadu sama Papa, Mama, Daddy, dan Mommy! Biar Bang Edward dimarahin habis-habisan di rumah nanti!" ancam Aurel ketus sambil menyilangkan kedua tangan di dada dengan wajah cemberut.

Tiba-tiba

1
falea sezi
cewek gatel aurel🤣 kayak gka ada cwek. lain aja
falea sezi
aurel g tau malu🤣 di tolak lu ngarep move on neng maaf g suka cwek menye ngemis ngemis cinta😒
falea sezi
🤣🤣 Reyhan maju reyy q dukung jangan hiraukan Edward di vampir sok ngatur
falea sezi
🤣 Edward saudara bukan kok ngatur uda urus aja pcr tercinta lu ngapain. ngurus aurel😒 biar aurel pergi jauh aja minimal. keluar negri gt cwek. kok menye
falea sezi
kenapa malah bahas figuran peran utama siapa aneh author nya🤣
falea sezi
mending pindah tempat kuliah aja aurel yg jauh 😒 biar gk sakit hati
falea sezi
move on donk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!