Ardio adalah seorang mafia kejam sejak kematian istri yang meninggal karena di bunuh oleh musuhnya, padahal istrinya bari melahirkan seorang bayi.
Setelah kepergian istrinya, ia menjadi bertambah kejam, meskipun begitu, ia sangta lembut kepada putri kecilnya yang bernama Adel, bahkan menggantikan popok pun ia mau bahkan rela begadang agar buah hatinya tidak terganggu oleh masalah.
Hari ini ia sedang mengeksekusi penjahat yang ingin menganggu bisnisnya, Tiba-tiba saja ia mendapat telpon dari pengasuh anaknya jika Adel tidak bisa tidur tanpa dirinya, dan ia rela pulang, dan menyurh anak buahnya untuk mengeksekusi penjahat tersebut.
Meskipun ia mafia kejam, tapi ia adalah ayah yang penyayang.
Adel pun berusia masuk SMA favorit, tapi ia mendapatkan pembullyan daei teman Sekolahnya karena ada seorang pria primadona yang mendekatinya.
Sementara ia tidak sedikit pun menyukai sang primadona tersebut.
Tapi Adel menyimpan sendiri pembullyan itu hingga akhirnya di ketahui oleh Ardio.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Suasana area belakang gedung sekolah sudah sepi ketika bel pulang sekolah usai berbunyi sepuluh menit yang lalu.
Adel yang hendak mencuci tangan melangkah masuk ke dalam toilet lantai dasar dekat laboratorium yang terisolasi.
Karin sendiri sudah lebih dulu menunggu di pos satpam depan.
Saat Adel baru saja memutar kran air, pintu utama toilet mendadak didorong keras hingga membentur dinding.
BAM!
Sisca melangkah masuk dengan senyum licik, diikuti oleh Sheila dan Vanya.
Sheila langsung mengunci pintu toilet dari dalam dan memutar kuncinya.
Adel mematikan kran air, membalikkan badan dengan tenang.
"Mau apa kalian?" tanya Adel menatap mereka tajam.
"Mau apa?" Sisca tertawa renyah, ia tertawa antara rasa dengki dan amarah.
Ia melangkah maju hingga menyudutkan Adel ke dinding wastafel.
"Kamu masih tanya mau apa setelah bikin malu Devan dan nginjak-injak harga diri aku di kantin tadi siang?!" ucapnya dengan intimidasi.
"Aku cuma menjawab penolakan pada Kak Devan. Itu tidak ada hubungannya denganmu," balas Adel tegas, menatap lurus ke mata Sisca.
"Masih berani menjawab?!" bentak Sisca murka.
"Sheila! Vanya! Pegang dia!" titahnya dengan penuh amarah.
Sheila dan Vanya langsung maju. Dengan cepat, mereka mencengkeram kedua lengan Adel dan menguncinya ke belakang tubuhnya.
Adel sempat memberontak dan mencoba melepaskan diri menggunakan teknik dasar pertahanan yang diajarkan Paman Reno, namun ruang gerak yang sempit membuatnya kewalahan saat Vanya mendorong tubuhnya hingga berlutut di lantai.
"Lepaskan!" pekik Adel, napasnya mulai terengah.
Sisca meraih ember plastik di dekat bilik toilet, ember yang sudah diisi air kotor bekas pel-pelan yang bau.
Sisca pun menyiramkan air di ember itu tepat ke atas kepala Adel.
BYURRR!
Air kotor membasahi rambut panjang Adel dan membasahi seragam putih abu-abunya hingga basah kuyup dan kotor.
Adel memejamkan mata rapat-rapat, menahan dingin, tapi sedikit pun ia tidak menangis.
Sisca menjambak rambut basah Adel, memaksa gadis itu untuk mendongak menatap wajahnya.
"Dengar baik-baik, Anak Kampung! Ini baru permulaan. Kalau besok aku masih melihatmu berkeliaran di dekat Devan, atau kalau kamu berani melaporkan kejadian ini pada guru, aku pastikan hidupmu dan keluarga miskinmu bakal hancur! Papaku punya pengaruh buat bikin kamu dikeluarkan dari sekolah ini dan diusir dari kota ini!" bisik Sisca tepat di depan wajah Adel dengan nada penuh ancaman mematikan.
Sisca melepaskan jambakannya dengan kasar hingga kepala Adel terhentak sedikit ke bawah. Ia menyapu tangannya yang basah ke rok seragamnya dengan raut jijik.
"Ayo kita pergi. Biarkan dia membusuk di sini," cemooh Sisca penuh kemenangan.
Sheila membuka kunci pintu, dan ketiganya keluar dari toilet lalu mengunci pintu toilet dari luar, meninggalkan Adel di dalam
Adel perlahan berdiri dari lantai dingin. Ia merapikan rambutnya yang basah, menatap dirinya di cermin wastafel.
Bajunya kotor, baunya busuk, tapi ia tetap tenang.
"Sisca... kamu baru saja melewati batas yang paling dilarang di dunia ini," batin Adel pelan.
Sementara itu, di luar toilet, melalui modul mikrofon tersembunyi yang tertanam di ventilasi udara, seluruh suara siraman air, makian, dan ancaman Sisca terekam secara jelas.
Di dalam mobil komando pengawasan yang terparkir tak jauh dari gerbang sekolah, agen wanita yang memegang perangkat komunikasi mendengar seluruh rekaman tersebut Wajahnya mejadi pucat.
Ia tidak takut pada Sisca, tapi ia tahu betul apa yang akan terjadi pada kota ini jika Ardio mendengar rekaman ini.
Dengan tangan gemetaran, agen itu menekan saluran darurat prioritas tertinggi yang terhubung langsung ke ruang kerja Ardio.
"Kode Merah... Kode Merah! Non Adel... Non Adel baru saja mengalami kekerasan fisik dan penguncian di toilet oleh target Sisca. Kondisi Non Adel basah kuyup oleh air kotor..." bisik agen itu dengan suara bergetar.
Di markas besar, Ardio terdiam selama tiga detik.
PRANGGG!
Gelas kristal berisi minuman mahal di tangan Ardio hancur.
Aura membunuh memancarkan membuat Reno yang berdiri di samping meja kerja langsung berlutut dengan wajah pucat pasi.
Ardio berdiri perlahan dari kursi kebesarannya. Amarahnya telah mencapai puncaknya.
"Reno..." suara Ardio terdengar sangat rendah, bergetar menakutkan hingga membuat siapapun yang mendengarnya merinding.
"S-Siap, Bos Ardio!" sahut Reno patah-patah.
"Siapkan seluruh armada. Malam ini... hilangkan nama keluarga Wijaya dari peta bisnis negara ini!" perintah Ardio datar tanpa ekspresi.