Time travel seorang gadis yang terpeleset di acara festival lampion kampus.
Karya Fantasi kedua setelah Petualangan Mayanza, semoga berkenan di baca tiap episode nya... 🤍😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi Selir
"Sudah jalan-jalannya?" tanya Pangeran Fang padaku dengan wajah tidak suka, wajahnya marah.
Tatapannya dingin.
"Sudah" kujawab singkat lalu aku duduk di hadapannya.
kami berdua duduk berhadap-hadapan.
Pangeran Fang menatapku lama, aku mengalihkan pandangan agar tidak terpengaruh ketampanannya.
"Kita sudah ada perjanjian bahwa setelah selesai semuanya kau diangkat menjadi Selirku" kata Pangeran Fang.
"Sepertinya tidak perlu buru-buru Pangeran, kau nikahi saja dulu Putri Nay" jawabku sambil menatap jarinya yang memegang gelas teh kramik berwarna hijau.
"Saranmu boleh juga.." kata Pangeran Fang.
"Tapi bagaimana kalau aku sudah jatuh cinta padamu" ucapnya dengan wajah memerah.
"Uhukkkk..." kataku terbatuk sendiri hampir merasa mual muntah, menutup mulutku.
Mungkin dia juga berusaha mengeluarkan kata-kata itu, aku tidak menghargai sama sekali.
"jangan di paksakan Pangeran, aku tau orang bodoh sepertiku tidak cocok berada di sisimu" kataku.
"lalu kau merasa cocok menjadi apa?' tanya Pangeran Fang.
"biarkan aku hidup tanpa ikut campur urusan istana" kataku tegas.
"bukankah kau awalnya yang tidak menyerah mendekatiku, apa alasanmu mundur? apakah Liu San? sarjana itu?" kata Pangeran Fang berusaha menahan cemburu.
"Kau cemburu?" kataku lantang.
"Cemburu? ya..kenapa?" tanyanya padaku.
Aku terdiam memalingkan wajah, rasanya hampir menangis, Pangeran Fang yang seenaknya tidak pernah menghubungiku setelah kejadian di Istana berbulan-bulan terlihat pergi dengan wanita lain di setiap kesempatan lalu datang mengatakan jatuh cinta.
"Baiklah, kalau kau cemburu, itu urusanmu. Aku menolak menjadi selirmu" kataku.
"Bukankah di awal kau setuju?" kata Pangeran Fang.
"Jangan tanyakan apapun lagi Pangeran, aku menghormati keputusan Pangeran dan tolong dengarkan permintaanku, aku tidak ingin menjadi Selirmu" kataku, aku meneteskan air mata.
Aku mengusapnya dengan tanganku, aku merasa bodoh dan gemetar.
Pangeran Fang berdiri dan memelukku.
Aku tidak tau harus bilang apa lagi.
Apakah jiwa lemah Xiu Ren yang masih melekat di tubuhku.
Aku melepaskan pelukan itu, "Pulanglah, aku sangat membemcimu" kataku.
Berlari meninggalkan gazebo.
**
Malam ini aku susah tidur, kenapa bisa-bisanya aku menolak kesempatan Xiu Ren menjadi selir kalau tidak aku bisa kembali ke duniaku.
Tapi harus kuhancurkan demi perasaanku dengan Pangeran Fang,
Seberarnya mauku apa?
Aku tidak tau mauku apa...
"Dayang kita keluar?" tanyaku.
"Nona ini larut malam" kata dayang may.
"Tenang kita pergi ke tempat hiburan, bagaimana?" kataku dengan mata berkedip merayu.
"Nona...kalau tuan tau Nona sudah berani ke tempat hiburan malam...apa citra Tuan sebagai mentri akan rusak" kata Dayang May mengingatkan.
"Tenang saja, Putri Perdana Mentri saja bisa santai seperti Ang keluar masuk tempat hiburan, kenapa orang seperti kita tidak bersenang-senang" kataku memberi ide.
"Nona....Tuan juga kandidat Perdana Mentri, nona harus ingat itu" kata Dayang May.
Aku juga tau Ayah Xiu Ren juga kandidiat Perdana Mentri menggantikan Perdana Mentri lama yang membelot.
Kupikir tidak ada hubungannya apalagi aku sudah menolak Pangeran Fang tadi siang.
**
Lampu-lampu indah di tempat hiburan, kumpulan orang minum bersama.
Aku dan Dayang May berjalan menuju bangunan itu.
Jujur, agak janggal kami berdua lebih mirip orang yang kabur dari rumah, mengendap-ngendap melihat kanan dan kiri, baru pertama kali pergi ke tempat hiburan.
"Nona pesan apa?" kata pelayan wanita yang ramah.
"Arak yang paling bagus 2 botol" kataku.
Pelayan itu mengangguk, tidak lama kemudian pesanan datang Arak 2 botol itu ternyata dilengkapi masakan ayam panggang satu ekor dan beberapa makanan yang tidak jelas namanya.
Aku langsung membayar lunas.
"Nona, apa yakin kita kuat minum dan makan banyak begini" kata dayang may.
"Tentu saja, ayo kita berpesta" kataku.
Beberapa pria yang tidak kukenal datang ke meja kami, mau bergabung.
Aku mengiyakan, aku minum banyak, mataku kunang-kunang.
Kepalaku juga pusing.
"Nona sudah mabuk" Kata Dayang May panik.
**
Aku bangun, sudah di kasur.
"Aku dimana?" tanyaku.
Wangi dupa ini rasanya aku kenal.
Tempat ini bukan kamarku.
Aku melihat ke samping, "Pangeran Fang!" kataku.
Aku mendorongnya hingga jatuh ke lantai, bisa-bisanya aku tidur satu ranjang dengan Pangeran Fang.
Dayang May kemana?
"Dasar tidak tau terima kasih, sudah di tolong" kata Pangeran Fang yang bangkit berdiri dari lantai.
"Kenapa aku disini?kau apakan aku?" tanyaku curiga.
"Kau mabuk, maracau, merepotkan" kata Pangeran Fang.
Aku tidak ingat sama sekali yang terjadi menepuk-nepuk dahiku untuk mengingat.
Yang kuingat aku sibuk minum dengan beberapa pria, kami berpesta menyanyi tidak jelas dan....
seorang datang memaksaku pulang...
Orang itu pasti dia...
Ya, Siapa lagi kalau bukan Pangeran Fang.
"Kenapa kau tidak pulangkan aku kerumah?" tanyaku
"Rupanya kau sudah ingat" kata Pangeran Fang.
"Ingat, sebagian" kataku
"Kalau kau pulang subuh, apa kata orang tuamu?" kata Pangeran Fang.
Aku terdiam.
"Lekaslah sadar, kalau kau mau minum, minum di rumah saja, untuk apa mabuk-mabukan" kata Pangeran Fang duduk di Kasur membelakangiku.
"Sudah aku mau pulang" kataku.
Pangeran Fang menyentuh tanganku dengan cepat, aku hampir jatuh tersangkut selimut.
"Kau di Istana tidur sekamar denganku kalau kau keluar sekarang, apa kata orang banyak" kata Pangeran Fang.
"Hei, kau menjebakku!" kataku
"Siapa yang menjebakmu, kau yang mau ikut ke Istana, tanyakan dayangmu sendiri" kata Pangeran Fang.
"Dimana Dayang May?" kataku mondar-mandir.
"Sudah di Kediaman Mentri." Jawab Pangeran Fang.
"Apaaaaaaa!!!" aku berteriak nyaring, Pangeran Fang membekap mulutku.
"Fang, apa yang kau lakukan!" aku mengigit tangannya.
"Lepas" katanya.
Pangeran Fang mengibas-ngibaskan tangannya, sakit.
"Kau ini binatang apa beraninya mengigitku" kata Pangeran Fang.
"Aku mau pulang, bagaimanapun harus pulang" kataku dengan tangan dipinggang melotot pada Pangeran Fang yang ahli berperang.
Lalu aku memeluk dadaku dengan tanganku sendiri.
Terkejut, "Fang...kau tidak apa-apakan aku kan semalam?" tanyaku bergidik, bulu tanganku merinding.
Aku tidur seranjang tadi malam dengan Pangeran Fang.
"Kau pikir saja sendiri" katanya bangkit berdiri menuangkan air putih di meja.
Aku mengeleng-gelengkan kepala.
Pangeran Fang hanya mengigit bibir sepertinya menahan tawa,
"Hei Fang, kenapa kau tertawa?" tanyaku.
"dari tadi kau tidak sopan memanggil nama kecilku, Fang?" kata Pangeran Fang memiringkan kepala menunduk ke arahku lalu melingkarkan satu lengannya ke leherku seolah ingin mencekik.
Aku berubah tegang, tubuhku kaku, aku sudah tidak sopan.
"Pembawa lentera, kemarin kau kasar menolak lamaranku, sekarang malah lebih kasar lagi kau berani memanggilku Fang!" katanya, lalu mencium rambutku.
mendadak pintu terbuka, "Fang" kata Permaisuri Raja masuk ke kamar.
Aku terkejut panik, tangan Pangeran Fang masih melingkar di leherku seolah tubuhnya memelukku dari belakang.
"Xiu Ren? kapan kau ada di Istana" kata Permaisuri, Putri Nay berdiri di belakang Permaisuri terlihat terkejut dan Pangeran Fang belum juga melepasku.
Aku menolak lengannya, akhirnya terlepas dari leherku.
"Baiklah, rapikan dulu diri kalian, kami menunggu di luar" kata Permaisuri Raja, meninggalkan ruangan.
Aku menginjak kaki Pangeran Fang, aku tidak tau harus berbuat apa, aku malu.
**Bersambung...