NovelToon NovelToon
Kebangkitan Istri Yang Direndahkan

Kebangkitan Istri Yang Direndahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:76.4k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Astrid mengorbankan segalanya untuk keluarga. Namun, pengorbanannya justru dibalas dengan hinaan.

Setelah melahirkan, tubuh Astrid berat badannya naik drastis hingga membuat Lucas, suaminya yang seorang dokter, merasa malu memiliki istri sepertinya. Tak hanya itu, Marta, sang mertua, juga menganggap Astrid sebagai wanita tidak berguna karena tidak memiliki pekerjaan maupun prestasi yang bisa dibanggakan.

Puncaknya terjadi saat Lucas dan Marta mempermalukannya di depan banyak tamu undangan. Harga dirinya diinjak-injak tanpa belas kasihan, seolah seluruh pengorbanannya selama ini tidak pernah berarti. Hari itu, Astrid memutuskan untuk berhenti menangis.

Dengan bantuan Mateo, Astrid bangkit dan mengubah hidupnya. Saat satu per satu kesuksesan berhasil diraihnya, orang-orang yang dulu merendahkan mulai menyadari kesalahan mereka.

Kini giliran mereka yang memohon, sementara Astrid tak lagi peduli. Karena ada penghinaan yang bisa dimaafkan, tetapi tidak pernah bisa dilupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Perasaan Marta sungguh tidak enak. Putra semata wayangnya sekarang berada di kantor polisi.

"Mereka menuduh aku melakukan penggelapan dana dan pencucian uang." Nada suara Lucas semakin meninggi

Marta sampai kehilangan keseimbangan sesaat. Tubuhnya terasa limbung. Ia buru-buru berpegangan pada sandaran sofa agar tidak jatuh.

"Apa?!" Suara wanita itu terdengar jauh lebih pelan sekarang. Penuh ketidakpercayaan.

"Penggelapan dana? Pencucian uang?" Mata Marta mulai berkaca-kaca. "Tidak mungkin ...."

Lucas mengembuskan napas dengan kasar. "Aku juga bilang begitu. Tapi mereka tetap membawaku ke sini."

Marta menggeleng berulang kali. Seolah menolak mempercayai apa yang baru saja didengarnya. "Tidak mungkin!" gumamnya lagi. "Pasti ada kesalahan."

"Itu yang sedang aku coba jelaskan! Mereka tiba-tiba datang membawa surat perintah dan langsung membawaku ke sini."

Di tempat itu, emosi Lucas akhirnya meledak. Kemarahannya yang sejak tadi ditahan mulai keluar sedikit demi sedikit. Lucas menendang kaki meja di dekatnya hingga bergeser beberapa sentimeter.

"Seolah-olah aku penjahat!"

Marta tersentak mendengar bentakan putranya. Selama beberapa detik ia tidak mampu berkata apa-apa. Pikirannya kacau.

Beberapa jam lalu ia masih sibuk memarahi Astrid karena gugatan cerai. Ia masih yakin masalah terbesar keluarganya adalah perceraian itu. Namun sekarang, semuanya berubah dalam sekejap. Jika tuduhan itu benar, maka masalah yang mereka hadapi jauh lebih besar daripada sekadar rumah tangga yang retak.

"Mama, aku butuh pengacara." Suara Lucas terdengar lebih rendah kali ini.

Marta menelan ludah. "Oke. Mama akan cari pengacara." Pikirannya masih berputar-putar. "Kamu tenang dulu."

Lucas tertawa pendek. Namun, tawa itu sama sekali tidak terdengar lucu. Lebih mirip suara seseorang yang sedang menahan amarah.

"Tenang?" Lucas memejamkan mata sejenak. "Bagaimana aku bisa tenang kalau mereka memperlakukanku seperti kriminal?"

Marta tidak memiliki jawaban. Ia hanya bisa berdiri membeku di tengah ruang tamu yang mendadak terasa sangat dingin. Tangannya masih menggenggam ponsel. Namun, pikirannya sudah melayang ke mana-mana.

Ini pertama kalinya sejak Lucas dewasa, ia mendengar ketakutan yang nyata dalam suara putranya. Dan hal itu membuatnya jauh lebih takut daripada tuduhan apa pun yang baru saja disebutkan Lucas.

Ruang pemeriksaan itu terasa dingin dan pengap pada saat yang bersamaan. Lampu putih yang tergantung di langit-langit memancarkan cahaya terang tanpa ampun, membuat setiap sudut ruangan terlihat kaku dan tidak nyaman. Di tengah ruangan hanya ada sebuah meja logam dan beberapa kursi. Tidak ada hiasan. Tidak ada jendela besar. Hanya suasana yang membuat siapa pun merasa seperti sedang berada dalam tekanan.

Lucas duduk tegak di kursinya. Jas yang tadi masih tampak rapi kini sedikit kusut, namun ekspresinya tetap tenang. Setidaknya itulah yang berusaha ia tunjukkan.

Sudah hampir dua jam ia berada di sana. Selama itu dia menjawab pertanyaan yang sama berulang kali. Dia menghadapi tatapan tajam para penyidik yang seolah berusaha menembus pikirannya.

Namun, Lucas bukan orang yang mudah panik. Selama bertahun-tahun ia terbiasa menghadapi situasi sulit. Ia tahu kapan harus berbicara dan tahu kapan harus diam. Yang paling penting, ia tahu bagaimana membuat dirinya terlihat tidak bersalah.

Salah satu penyidik membuka sebuah map di depannya. "Kami menemukan sejumlah transaksi mencurigakan yang terhubung dengan perusahaan tempat Anda bekerja."

Lucas menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Wajahnya terlihat datar seolah informasi itu sama sekali tidak mengejutkannya.

"Itu bukan urusan saya," jawab Lucas tenang.

Penyidik tidak menunjukkan reaksi. Ia hanya membuka beberapa lembar dokumen.

"Nama Anda muncul dalam sejumlah berkas terkait transaksi tersebut."

Lucas mengangkat sebelah alisnya. "Itu tidak membuktikan apa pun."

Penyidik lainnya ikut berbicara. "Beberapa rekening penerima dana juga terhubung dengan orang-orang yang memiliki hubungan langsung dengan Anda."

Lucas tersenyum tipis. Senyum yang terlihat santai, tetapi tidak mencapai matanya.

"Hubungan bukan berarti keterlibatan."

Suasana kembali hening. Kedua penyidik saling bertukar pandang. Mereka sudah menghadapi banyak tersangka selama bertahun-tahun.

Lucas termasuk salah satu yang paling sulit ditembus. Pria itu tidak gegabah, tidak emosional, dan tidak mudah terpancing. Setiap jawaban keluar dengan hati-hati. Semua pertanyaan dijawab dengan logika yang sudah dipersiapkan.

Seolah sejak awal ia sudah membangun benteng yang sulit diruntuhkan. Namun, ketenangan itu perlahan mulai retak ketika salah satu penyidik mengambil sebuah map lain yang berada di sampingnya. Map berwarna cokelat tua. Lebih tebal daripada yang sebelumnya.

Pria itu mendorong map tersebut ke hadapan Lucas. "Kami juga memiliki ini."

Kening Lucas langsung berkerut. Entah mengapa firasat buruk tiba-tiba muncul di dalam dadanya. Ia menarik map itu perlahan, lalu membukanya.

Halaman pertama, tatapannya masih tenang. Halaman kedua, ekspresinya mulai berubah. Halaman ketiga, rahangnya perlahan mengeras dan tangannya bergerak semakin cepat membalik dokumen demi dokumen.

Ada salinan transaksi keuangan. Ada data rekening, catatan perpindahan dana. Lalu, ada komunikasi internal yang seharusnya tidak pernah keluar dari lingkaran tertentu.

Semakin banyak yang Lucas baca, semakin dingin wajahnya. Denyut di pelipisnya mulai terasa. Jantungnya berdebar lebih cepat.

Lalu, matanya berhenti pada satu lembar dokumen. Napas Lucas langsung tertahan dan Tangannya membeku di atas kertas.

"Dokumen itu ... tidak mungkin!" batinnya.

Untuk pertama kalinya sejak pemeriksaan dimulai, Lucas benar-benar kehilangan kendali atas ekspresinya. Wajahnya perlahan memucat.

Meskipun hanya sesaat, perubahan itu tidak luput dari perhatian kedua penyidik. Mereka memperhatikan setiap gerakan kecil yang muncul di wajahnya. Setiap perubahan napas dan ketegangan otot rahang. Itu semuanya lebih banyak daripada bicara, jawaban apa pun.

Lucas menatap dokumen itu sekali lagi. Matanya bergerak cepat membaca rincian yang tertera di sana.

"Tidak. Ini tidak mungkin kebetulan. Dokumen ini seharusnya tidak pernah ditemukan," pikir Lucas.

Keringat dingin mulai muncul di tengkuknya. Meski ruangan terasa dingin, telapak tangannya perlahan menjadi lembap.

Penyidik yang duduk di hadapannya akhirnya bersuara. Nada suaranya tenang, namun terdengar jauh lebih tajam daripada sebelumnya.

"Masih mau bilang Anda tidak tahu apa-apa, Dokter Lucas?"

Lucas tidak langsung menjawab. Ia menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.

Untuk pertama kalinya sejak duduk di ruangan itu, ia tidak memiliki jawaban yang siap diucapkan. Pikirannya berputar cepat, mencari celah untuk jalan keluar.

Mencari siapa yang telah menghancurkan semua rencana yang selama ini ia bangun dengan hati-hati.

"Siapa? Siapa yang memberikan semua ini?"

Tatapan Lucas mengeras dan pikirannya dipenuhi pertanyaan. Dada Lucas mulai terasa sesak. Perasaan yang selama ini berhasil ia tekan perlahan muncul ke permukaan.

Ketakutan. Bukan ketakutan karena dituduh, melainkan ketakutan karena menyadari sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Selama ini ia selalu merasa berada beberapa langkah di depan semua orang dan bisa mengendalikan situasi.

Mengendalikan Astrid, Starla, dan ibunya. Mengendalikan orang-orang di sekitarnya. Namun sekarang, Lucas menyadari bahwa permainan itu sudah berubah. Dan lebih buruk lagi, ia bukan lagi orang yang memegang kendali.

Lingkaran yang selama ini melindunginya mulai runtuh satu demi satu. Dan ketika benteng itu akhirnya roboh, ia tidak tahu apakah masih ada jalan untuk menyelamatkan dirinya.

***

Sambil menunggu bab selanjutnya, yuk baca juga karya temanku ini.

1
Mardiana
Lucas... lupa sama istrinya karena lihat yg lebih kinclong 😈
Mardiana
cakep ...👍👍👍👍
Aidil Kenzie Zie
ha ha ha selamat datang di hotel prodeo Lucas 🤣🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Good
sunaryati jarum
Saatnya Lucas runtuh,harta yang dikumpulkan dari hasil mencuri akhirnya akan kembali ke pemiliknya
sunaryati jarum
Semoga uang yang dicuri dan diberikan pada selingkuhannya kembali ke Astrid.Dan semua asetnya dibekukan dan jadi hak Astrid
Sugiharti Rusli
apa itu data" transaksi pengalihan yang dimiliki oleh istrinya yang selama ini juga disalah gunakan olehnya,,,
Sugiharti Rusli
dan kira" apa isi amplop yang pada akhirnya membuat pertahanan si Lucas runtuh yah itu,,,
Sugiharti Rusli
dalam hal ini sepertinya si Lucas sudah mempersiapkan kala dirinya sudah tertangkap dan bukti kejahatan mulai di paparkan,,,
Sugiharti Rusli
tapi kalo penyidik sudah berpengalaman tahu kapan mulai menyerang si tersangka yah,,,
Sugiharti Rusli
memang yah ada karakter penjahat yang bisa memainkan emosi penyidik sih dalam dunia kriminal,,,
Sugiharti Rusli
sekalinya penjahat tetap penjahat yah si Lucas itu
Sugiharti Rusli
dan kamu berkilah sama ibu kamu kalo ini hanya salah paham agar bisa menutupi semua kecurangan yang sudah kamu lakukan,,,
Sugiharti Rusli
dan sekarang kamu menghadapi dua gugatan sekaligus, dari Astrid dengan gugatan cerai, dan kasus penyelewengan
Sugiharti Rusli
kamu pikir kamu sudah bermain cantik dan tidak akan ketahuan dengan semua trik licik yang telah kamu perbuat, bahkan sama istri kamu sendiri,,,
Sugiharti Rusli
kamu memang terlalu sombong dan jumawa Lucas dengan sepak terjang kamu selama ini,,,
sutiasih kasih
lanjut thor...
ku kirim 🌹&☕.. biar semangat...
sutiasih kasih
yakin dech.... perempuan trindahmu... yg km cintai ugal"an.... g akn mau brtahan mdampingi kerutuhan karir dan hidupmu lucas🤣🤣
Tarwiyah Nasa
semakin seru 😄 gimana2 perasaan lo casss 🤣🤣
Halimah
Itulah buah dr perbuatan kalian berdua....Emak sm anak sm" benalu🤦🤦
Ini br awal Lucas...Setelah ini akan byk badai yg siap menerpa km
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!