Astrid mengorbankan segalanya untuk keluarga. Namun, pengorbanannya justru dibalas dengan hinaan.
Setelah melahirkan, tubuh Astrid berat badannya naik drastis hingga membuat Lucas, suaminya yang seorang dokter, merasa malu memiliki istri sepertinya. Tak hanya itu, Marta, sang mertua, juga menganggap Astrid sebagai wanita tidak berguna karena tidak memiliki pekerjaan maupun prestasi yang bisa dibanggakan.
Puncaknya terjadi saat Lucas dan Marta mempermalukannya di depan banyak tamu undangan. Harga dirinya diinjak-injak tanpa belas kasihan, seolah seluruh pengorbanannya selama ini tidak pernah berarti. Hari itu, Astrid memutuskan untuk berhenti menangis.
Dengan bantuan Mateo, Astrid bangkit dan mengubah hidupnya. Saat satu per satu kesuksesan berhasil diraihnya, orang-orang yang dulu merendahkan mulai menyadari kesalahan mereka.
Kini giliran mereka yang memohon, sementara Astrid tak lagi peduli. Karena ada penghinaan yang bisa dimaafkan, tetapi tidak pernah bisa dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Pagi itu, udara di apartemen Starla terasa begitu sunyi. Biasanya, sebelum memulai aktivitas, ia akan memutar musik pelan sambil menikmati secangkir kopi di balkon. Namun, sejak berita penangkapan Lucas memenuhi seluruh media nasional dua hari terakhir, rutinitas itu hilang begitu saja.
Televisi di ruang keluarga masih menyala. Berbagai saluran berita terus membahas kasus yang sama.
"Penyidik masih mendalami dugaan penggelapan dana, penerimaan suap, serta tindak pidana pencucian uang yang melibatkan dokter spesialis sekaligus pejabat rumah sakit, Dokter Lucas ...."
Starla segera meraih remote dan mematikan televisi. Ruangan kembali sunyi.
Namun, keheningan itu justru membuat suara detak jantung Starla terdengar semakin jelas. Ia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
Selama dua hari terakhir, Starla sudah mencoba menghubungi pengacara Lucas, tetapi tidak pernah tersambung. Ia juga berusaha mencari informasi melalui beberapa kenalan. Tidak ada yang berani berbicara, semua memilih diam.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu membuat tubuh Starla refleks menegang. "Siapa?" tanyanya dari dalam.
"Tolong buka pintunya, Bu Starla." Suara seorang laki-laki terdengar tegas. "Kami dari kepolisian."
Jantung Starla seolah berhenti berdetak. Tangannya yang memegang gagang cangkir mulai bergetar. Perlahan ia berjalan menuju pintu. Begitu pintu terbuka, dua orang polisi berpakaian sipil memperlihatkan kartu identitas mereka.
"Selamat pagi."
Starla berusaha tersenyum. "Selamat pagi."
Salah seorang polisi membuka map tipis yang dibawanya. "Kami datang untuk menyerahkan surat panggilan pemeriksaan."
Wajah Starla langsung berubah pucat. "Pemeriksaan?"
"Iya. Sebagai saksi."
Kata saksi memang terdengar lebih ringan daripada tersangka. Namun, tetap saja membuat kedua lutut Starla mendadak terasa lemas.
"Saya ... saya harus datang sekarang?" tanya Starla gugup
"Kalau memungkinkan, iya," jawab polisi itu ramah. "Kami hanya ingin meminta beberapa keterangan."
Starla menggigit bibirnya pelan. "Apakah ini berkaitan dengan Lucas?"
Kedua polisi itu saling berpandangan sejenak. "Lebih baik nanti dijelaskan langsung oleh penyidik."
Jawaban itu sama sekali tidak membuat Starla tenang. Sebaliknya perasaan wanita itu justru semakin gelisah.
Satu jam kemudian, mobil yang ditumpangi Starla memasuki halaman kantor kepolisian. Begitu turun, ia langsung menundukkan wajah. Beberapa wartawan ternyata sudah berjaga di depan gerbang. Kamera-kamera segera mengarah kepadanya.
"Itu Starla!"
"Diduga Starla kekasih Lucas!"
"Starla, apakah benar Anda mengetahui kasus Lucas?"
"Apakah Anda ikut menerima uang dari Lucas?"
"Apakah hubungan Anda masih berlanjut?"
Berbagai pertanyaan dilemparkan tanpa henti. Starla mempercepat langkah. Napasnya mulai memburu. Untungnya, petugas kepolisian segera mengantarnya masuk ke dalam gedung.
Pintu kaca tertutup. Suara para wartawan perlahan menghilang. Namun, gemuruh di dalam dada Starla belum juga mereda.
Beberapa menit kemudian, Starla duduk di sebuah ruang pemeriksaan. Ruangan itu sederhana, dinding berwarna putih, sebuah meja kayu, dan tiga kursi. Pendingin ruangan yang membuat suasana terasa semakin dingin. Ia meremas kedua telapak tangannya sendiri dan jemarinya terasa dingin.
Tak lama kemudian, dua orang penyidik masuk sambil membawa beberapa map tebal. "Selamat pagi, Bu Starla."
Starla langsung berdiri. "Selamat pagi, Pak."
"Sila duduk."
Starla kembali duduk. Wajahnya semakin pucat pasi karena ketakutan.
Salah seorang penyidik membuka map pertama. "Kami ingin memastikan beberapa hal."
Starla mengangguk pelan. "Saya akan bekerja sama."
"Bagus sekali." Penyidik itu mulai membuka berkas. "Sejak kapan Anda mengenal Dokter Lucas?"
"Kira-kira hampir tiga tahun."
"Hubungan Anda?"
Starla terdiam sesaat. Ia tahu tidak mungkin lagi berbohong. "Kami, berpacaran."
Penyidik itu mencatat sesuatu. "Selama menjalin hubungan, apakah Saudara Lucas pernah memberikan hadiah kepada Anda?"
Starla mengangguk pelan. "Iya."
"Hadiah apa saja?"
Starla mencoba mengingat. "Perhiasan, tas, jam tangan, mobil, dan apartemen."
Penyidik kembali mencatat. "Lalu biaya perjalanan ke luar negeri?" tanya pria berwajah dingin dan mata yang tajam.
"Itu juga Lucas yang membayar," jawab Starla dengan pelan.
"Liburan ke Jepang?"
"Iya."
"Paris?"
"Iya."
"Swiss?"
"Iya."
Semakin banyak pertanyaan yang dijawab, wajah Starla semakin pucat. Ia mulai tidak mengerti ke mana arah pembicaraan itu.
Penyidik kemudian menggeser sebuah map lain ke hadapannya. "Bu Starla, kami ingin Anda melihat beberapa dokumen ini."
Starla mengambil map tersebut. Halaman pertama berisi salinan rekening. Ia mengernyit.
"Apa ini?" tanya wanita itu.
"Silakan lanjutkan."
Starla membuka halaman berikutnya. Lalu, beberapa halaman selanjutnya. Mata wanita itu mulai bergerak semakin cepat. Di sana terdapat foto-foto transfer bank, tanggal, nominal, dan nomor rekening. Semuanya tersusun sangat rapi.
"A-ku ... a-ku tidak mengerti."
Penyidik menatapnya tenang. Ia menunjuk salah satu dokumen.
"Apartemen tempat Anda tinggal. Dibeli menggunakan rekening perusahaan yang saat ini sedang kami selidiki."
"A-apa?!" Starla membeku. Dia merasa nyawanya dicabut sebagian dari tubuhnya.
Penyidik kembali membuka halaman lain. Ia menunjukkan foto sertifikat pembelian.
"Kalung berlian yang Anda kenakan saat acara penghargaan tahun lalu. Pembayarannya dilakukan melalui rekening yang sama."
Jantung Starla berdegup semakin keras. Tangannya mulai gemetar. "I-tu ti-dak mungkin."
Penyidik tidak memotong. Ia membiarkan Starla membaca sendiri. Semakin banyak halaman yang dibuka. Semakin banyak kenyataan yang muncul.
Seluruh barang yang diberikan oleh Lucas, dibayar menggunakan aliran dana yang kini diduga berasal dari hasil penggelapan, suap, dan pencucian uang. Starla menggeleng berulang kali.
"Ti- dak ...!" Suara Starla terdengar lirih. "Ini tidak mungkin!"
Penyidik menghela napas pelan. "Bu Starla, selama ini Anda tahu dari mana sumber penghasilan Lucas?"
Starla langsung mengangguk. "Dia bilang dia dokter spesialis. Dia punya investasi. Dia juga punya beberapa usaha. Itu yang dia katakan."
"Apakah Anda pernah meminta bukti?" tanya penyelidik.
Starla terdiam. Tidak pernah sekalipun dia melakukan hal itu. Selama ini ia percaya begitu saja. Lucas selalu tampil sebagai laki-laki mapan. Pekerjaan bergengsi. Mobil mewah. Jaringan pertemanan luas. Tidak pernah sekalipun terlintas di pikirannya bahwa semua itu bisa dibangun di atas kebohongan.
Penyidik kembali berbicara. "Lucas memang dokter spesialis. Namun, pendapatan resminya tidak mungkin mampu membiayai gaya hidup sebesar itu. Setiap kata terasa seperti palu yang menghantam kepala Starla. Matanya mulai dipenuhi air mata.
"Jadi ...." Starla menatap penyidik dengan wajah pucat. Tangannya menunjuk foto-foto barang mewah di atas meja. "Semua berasal dari ...."
***
Baca juga karya temanku ini, ya.