Di sungai ia mendorong pacarnya, lalu ikut tenggelam. Ketika membuka mata, usianya lima belas: 1 April 2005, tiga bulan sebelum ujian, dengan ingatan penuh akan semua yang akan terjadi. Di laci rumah tua ia menemukan kotak kayu ukiran berisi tanah sakti—satu tegukannya menyembuhkan luka dan mengubah takdir. Ia membangun keluarga dari nol: gerobak es campur, bakso, juara satu se-kota, kuliah, dan cinta yang dulu ia tolak. Setelah hidup pertama berakhir pada usia seratus tahun, ia terbangun lagi—dan sadar semuanya hanya penglihatan. Ibu kritis, bisnis hilang, dan ia harus mulai dari nol sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23 - Uang Empat Puluh Hari
Upacara penghargaan baru saja usai. Lapangan sekolah berubah menjadi panggung perpisahan yang riuh; murid-murid saling berpelukan, orang tua memanggil-manggil dari kejauhan, dan spanduk juara satu masih terbentang kaku di atas panggung.
Intan menyelipkan tasnya lebih kokoh di bahu, dengan amplop tebal yang baru tadi siang diserahkan kepadanya tersimpan di dalamnya, lalu mengangkat wajah, menatap langit kelabu yang bergerak cepat.
Nadia memegang lengannya sambil cemberut. "Benar-benar tidak mau kuantar? Hujan akan turun, lho."
Intan menggeleng sambil tersenyum, menepuk pundak sahabatnya. "Sepedaku di parkiran. Bapak sendirian menjaga gerobak sejak siang; aku tidak sabar sampai di sana."
Nadia tahu, begitu menyangkut gerobak keluarga, Intan tidak akan bisa dibelokkan. Keduanya berpelukan singkat, lalu berpisah di gerbang sekolah.
Intan mengayuh sepedanya melintasi jalanan kota kecil yang masih basah oleh gerimis tadi pagi.
Pikirannya bercabang dua: sebagian bersorak mengingat amplop di dalam tas, sebagian lagi sibuk membayangkan Bapak yang barangkali sedang kewalahan di tikungan Plaza Cendrawasih.
Begitu tiba di kawasan pejalan kaki, Intan mencium aroma minyak goreng yang jauh lebih pekat dari biasanya.
Sepeda motor Bapak terparkir di depan emperan toko air mineral, dan dari balik gerobak tampak asap mengepul di sekitar sebuah wajan besar.
Belum sempat meletakkan sepeda, ia sudah mendengar suara Bapak berteriak riang.
"Ayo, cicipi!" Baru pas beginilah gurihnya! Bapak berdiri di depan wajan, wajahnya memerah oleh uap panas, sambil mengapit sepasang penjepit kayu.
Di dalam wajan, bulatan-bulatan bakso goreng yang mengembang keemasan berguling-guling di minyak panas.
Bapak menoleh, matanya berbinar melihat Intan datang.
"Pak, sejak kapan Bapak bisa meracik bakso?" Intan melebarkan mata. Bapak mengangkat dagunya bangga.
"Gampang! Tumbuk daging sampai halus, campur bumbu, bulatkan, terus goreng sampai mengembang kuning begini. Baru kutahu, caranya kuhafal dari Ibu. Tadi pagi Ibu menelepon, bilang adonan harus didiamkan dulu di lemari es biar bumbunya meresap."
Dua pemuda yang biasa mengantar pesanan duduk di bangku emper, mengunyah bakso goreng panas sambil mendecak nikmat.
Bapak pura-pura mengerutkan kening menatap mereka. "Kalian ini! Sejak tadi sibuk makan terus. Untung belum masuk jam kerja; kalau sudah waktunya mengantar dan kalian masih nongkrong, uang segini dibuat apa?"
Salah satu pemuda itu menjawab sambil menelan bulatan bakso. "Tenang, Bang. Besok kami pesan bakso lewat antar saja, biar tidak makan di sini terus!"
Bapak memaksa diri tampak marah; dua pemuda itu tertawa cekikikan lalu pamit ke emper sebelah untuk menunggu jam siang.
Begitu mereka pergi, Bapak menoleh ke arah Intan dengan senyum merekah. "Lihat sendiri, Nak. Berkat layanan antar, dagangan kita makin ramai. Setiap siang hampir semua pesanan datang lewat ponsel; orang tidak perlu datang, mereka sudah tahu es campur kita enak."
Intan mengangguk senang. Satu hal yang dirancang sejak awal ternyata benar-benar berjalan.
"Ngomong-ngomong," Bapak menurunkan suaranya seperti sedang membagi rahasia, "tadi pagi ada pelanggan lama yang memesan. Katanya, 'Bang, es campur putrimu itu terlalu murah. Enak seperti ini kok cuma tujuh ribu? Sayang.' Aku pun ikut berpikir; harga kita memang masih lebih murah dari yang lain."
Intan mengangguk pelan. Sudah waktunya harga itu dinaikkan.
"Naiknya kita tunda sampai Minggu," kata Intan. "Pas Plaza ramai dan orang-orang datang dari mana-mana; biar kabar kenaikan harga sekalian jadi kabar yang menyebarkan nama kita."
Bapak bertepuk tangan. "Nah, ini dia! Yang soal hitung-hitungan, kau ahlinya. Bapak tinggal menurut."
Baru saja obrolan itu selesai, langit yang tadi kelabu mendadak berubah hitam pekat.
Sejauh mata memandang, gumpalan awan menyatu seperti tirai yang dicabut paksa. Intan mendongak. "Tumben, petang begini malah hujan deras!"
Bapak buru-buru menutup adonan mentah, memindahkan barang-barang dagangan ke bagian emper yang lebih terlindung, lalu menarik layar plastik yang selama ini digulung di sisi gerobak.
Tidak sampai lima menit, hujan turun seperti air yang dituang dari ember raksasa.
Teras-teras toko segera basah oleh terpaan air; pengunjung yang tadi berseliweran kini menghilang ke dalam bangunan masing-masing.
Intan dan Bapak berlindung di bawah emperan milik Pak Lamijo, pemilik toko air mineral, yang sejak lama mengizinkan mereka berteduh.
"Jangan berangkat dulu!" Bapak berteriak kepada dua pemuda pengantar yang sudah mengenakan mantel hujan.
"Hujan deras begini, kalian malah masuk angin!" Dua pemuda itu tetap bergegas; pesanan yang masuk berturut-turut menuntut mereka bergerak.
Hingga akhirnya Bapak menyerah dengan gelengan kepala, dan mereka pun menerjang rintik air membawa termos dan rantang.
"Besok-besok kalau hujan seperti ini, jangan dipaksakan," gumam Bapak sambil menyeka muka. Intan memandangi punggung dua pemuda itu yang lenyap di balik derasnya air.
Ia tahu betul perasaan Bapak: gerobak ini urusan keluarga, dan setiap orang yang terlibat di dalamnya harus dijaga seperti keluarga sendiri.
Setelah seluruh pesanan tuntas diantar oleh dua pemuda itu, hari benar-benar menggelap.
Sore hari, hujan akhirnya mereda menjadi gerimis. Intan membantu membereskan sisa dagangan, lalu berkata: "Pak, aku pulang lebih dulu. Nanti kalau sudah beres, semua uang dibawa pulang; jangan ada yang tertinggal di sini."
Bapak mengangguk paham. Sejak dulu memang begitu kebiasaan keluarga mereka: setiap urusan duit, Intan yang harus menghitung sendiri.
Sesampai di rumah, Intan mandi lalu membantu Ibu menyiapkan makan malam. Hujan kembali turun menjelang malam, dan Ibu berdiri di ambang pintu dengan dahi dikerutkan.
Ibu berdiri di ambang pintu dengan dahi dikerutkan. "Bapak belum pulang, Bu? Aman tidak, ya?" Intan menenangkannya. "Gerobak sudah diamankan; Bapak mungkin menunggu hujan reda."
Namun ketika pukul sembilan berlalu, Bapak belum juga tiba.
Malam itu Dimas sedang tidak di rumah; sejak sore ia keluar bersama teman-temannya.
Rumah kecil itu hanya berisi Ibu dan Intan. Keduanya makan malam berdua sambil sesekali melempar pandang ke jendela.
Hujan di luar tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
Pukul sepuluh tepat, ketika Intan hendak menutup pintu kamar, sorot lampu sepeda motor menyapu dari ujung gang.
Ibu cepat membuka pintu. Bapak masuk basah kuyup dari ubun-ubun sampai kaki; mantelnya meneteskan air ke lantai.
"Hujan ini belum akan reda, Bu," kata Bapak. "Kata orang, badai datang; malam ini dan besok dijamin masih hujan lebat."
Bapak meletakkan sebuah bungkusan plastik di atas meja lalu menyerahkannya kepada Intan. "Uang dagangan hari ini semua ada di sini, lengkap dengan sisa-sisa dari beberapa hari sebelumnya yang belum sempat dihitung. Gaji dua pemuda pengantar sudah kubayar; tidak ada yang tertinggal."
Bungkusan itu melekat di dadanya sejak tadi, terbungkus rapat oleh dua lapis plastik, sampai-sampai tetap kering meski seluruh tubuhnya basah.
Intan menahan haru, menundukkan kepala.
"Bapak mandi dulu, baru makan," kata Ibu sambil menyerahkan handuk. Bapak menurut tanpa banyak kata.
Di ambang pintu kamar mandi, ia menoleh, dan senyumnya mereda rasa cemas yang tadi menggantung di rumah kecil itu.
Malam itu ketiga orang itu duduk di tepi tempat tidur besar. Kelambu yang biasanya terbentang kini diikat menjulur ke satu sisi, membiarkan cahaya lampu mengisi ruang.
Bapak membuka bungkusan plastik; segepok uang yang diikat rapi dengan karet gelang terungkap di atas seprai bermotif bunga.
"Sejak tanggal lima Juli, sekarang sudah hampir empat puluh hari," kata Bapak sambil menggaruk kepala.
"Uang ini belum pernah kita hitung sungguhan." Ketiganya lalu duduk melingkari tumpukan itu, seperti tiga orang yang belum pernah melihat uang sebanyak itu.
Penghitungan berlangsung pelan dan teliti. Ibu yang biasanya cepat, kali ini menghitung dengan bibir berkomat-kamit; Bapak mencoret-coret angka di sobekan kertas.
Yang terurai di atas tempat tidur adalah dua ratus tujuh puluh delapan lembar pecahan sepuluh ribu, enam ratus dua puluh lembar pecahan lima ribu, seribu lembar pecahan dua ribu, seribu delapan ratus lembar pecahan seribu, dua ribu lembar pecahan lima ratus, dan segenggam koin dua ratus, seratus, serta lima puluh rupiah.
Pecahan sepuluh ribu berjumlah dua juta tujuh ratus delapan puluh ribu; pecahan lima ribu tiga juta seratus ribu; pecahan dua ribu dua juta; pecahan seribu satu juta delapan ratus ribu; pecahan lima ratus satu juta; dan koin-koin itu tujuh ratus dua puluh ribu.
Ketika semuanya dijumlahkan, Ibu menggantung pandangannya pada angka yang baru saja dituliskannya, tidak berani percaya.
"Sebelas juta empat ratus ribu!" Intan menyebutkan angka itu perlahan, lalu menghitung ulang sampai angka itu menetap rapi di kepalanya.
Bapak dan Ibu saling memandang; jumlah itu terlalu besar untuk dipahami sekaligus. Keluarga yang biasanya hanya memegang seratus ribu sampai dua ratus ribu kini memegang gundukan uang kecil di atas seprai.
Lalu dihitung pula apa saja yang sudah keluar: modal awal seratus dua puluh ribu dari tabungan masa kecil Intan, ongkos sewa tempat selama lebih dari sebulan, dan upah dua pemuda pengantar yang belum genap sebulan.
Setelah semuanya dikurangi, yang tersisa menumpuk pada angka kira-kira sepuluh juta rupiah, hasil bersih empat puluh hari berjualan.
Belum termasuk lagi lima juta rupiah dari amplop hadiah sekolah yang sejak siang masih tersimpan.
"Bapak, Ibu," Intan menarik napas dalam-dalam, "aku mau mengajukan satu kerja sama. Kita anggap saja keluarga kita akan membuka sebuah perusahaan."
Bapak dan Ibu mendekatkan diri; mereka diam, memberi jalan kepada anak perempuan mereka bicara.
"Mulai sekarang Ibu berhenti bekerja di perusahaan dekorasi, dan Bapak tidak usah lagi menerima panggilan kerja ledeng yang masih sesekali datang. Kita serius menggarap gerobak ini."
Bapak dan Ibu mengangguk pelan; sebenarnya mereka sudah berpikir ke arah itu sejak gerobak mulai ditinggalkan orang ramai.
"Kita tambah menu bakso," lanjut Intan. "Pagi sampai sore, es campur seperti biasa; sore sampai malam, bakso goreng dan bakso kuah kita andalkan. Kalau malam sedang ramai orang pulang dari toko, gerobak kita buka lebih lama."
Ia lalu menjelaskan usulannya tentang sewa tempat: angka lima ratus ribu yang sekarang dinaikkan menjadi tujuh ratus ribu sebulan, supaya Pak Lamijo sekalian membantu menjaga dan mereka boleh meletakkan meja kursi.
"Terasa mahal sedikit," katanya, "tetapi tidak ada yang akan berani mengganggu dagangan kita."
"Dan yang paling penting," Intan menoleh ke tumpukan uang di atas seprai, "uang ini belum boleh kita habiskan. Sepuluh juta ini menjadi modal. Kalau dipakai dengan jalan yang tepat, jumlahnya bisa berlipat sebelum pergantian tahun."
Bapak tertawa kecil lalu mengusap kepala Intan. "Rencanamu bagus, Nak. Tetapi tidak usah dikejar-kejar; kita jalan satu per satu. Besok, bakso kita masukkan dahulu ke menu pesan antar, biar orang-orang mengecap rasanya. Yang besar-besar menunggu setelah dagangan terbukti."
Ibu mengangguk-angguk lalu menyeka matanya yang berkaca. "Pokoknya apa pun keputusan Intan, Ibu ikut. Ibu dan Bapak yang menjaga gerobak; kalian berdua cukup sekolah sungguh-sungguh."
Intan tersenyum lebar; sisa kantuknya larut oleh semangat. Gerobak keluarga tidak lagi hanya menjual minuman; mulai besok ia akan menjual makanan dan minuman sekaligus.
Hujan malam itu adalah hujan yang paling cerah, dan uang di atas seprai bukanlah uang biasa. Ia adalah anak tangga pertama dari perjalanan yang jauh.
Menjelang pukul satu dini hari ketiganya baru menutup pembicaraan. Di luar, hujan yang mengguyur sejak sore mulai menipis menjadi gerimis.
Di dalam rumah kecil itu, tiga orang masih berbicara tentang es campur, bakso, dan masa depan dengan semangat yang tidak mengenal lelah.