Dari desa yang sederhana tumbuh cinta yang tak pernah disangka...
Hal itulah yang mungkin dirasakan oleh Vallery gadis cantik yang lahir dan dibesarkan di kota dengan berbagai macam vasilitas mewah kemudian dipaksa untuk tinggal didesa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk dan kemudahan fasilitas umum yang biasa ia dapatkan setelah diusir oleh nenenk tirinya dari rumah begitu kedua orang tuanya meninggal dunia. Tanpa disang,ka keputusan cepat yang dimabilnya untuk tinggal di Desa Maju Bersama, kampung halaman sang papa untuk tinggal bersama neneknya mengubah seluruh kehidupan Vallery termasuk kisah cintanya yang terejrat kepada seorang kepala desa yang berstatus duda perjaka di kampung neneknya itu yang terus mengejarnya secara ugal-ugalan hingga membuat hati Vallery pun menjadi luluh...
Kisah cinta romantis namun ada sedikit unsur komedi mewarnai kisah cinta keduanya membuat cerita kali ini bisa terbilang sangat ringan karena jauh dari intrik panjang dan berat.
HAPPY READING.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DIUSIR DARI DESA
Tanpa belas kasihan, beberapa ibu-ibu yang ikut masuk kedalam warung milik Gison, merasa marah karena desa mereka ternoda oleh perbuatan bejat ketiganya sehingga dengan kasar mereka pun segera menyeret ketiganya untuk kelur.
Bug duk bug...
Pukulan dan tendangan dilayangkan warga yang begitu ketiganya melewati mereka.
"Dasar sampah masyarakat!".
"Tak tahu malu! dasar lonte (pelacur)!'
"Usir mereka dari Desa!"
"Ya, usir mereka! "
Teriakan caci maki, tendangan, jambakan, serta tamparan dan pukulan tak sedikitpun terlewat, membuat wajah dan tubuh ketiganya sudah babak belur.
Rambut Sulastri yang panjang pun sudah awut-awutan dan banyak yang tercabut setelah dijambak kasar oleh ibu-ibu yang merasa marah atas tindakan buruk yang dilakukannya.
“Nih pakai sarung untuk menutupi tubuh kalian yang polos itu!”, teriak salah satu warga sambil melemparkan tiga sarung untuk dipergunakan menutup tubuh ketiganya yang polos karena jijik menatapnya.
Sulastri dan kedua tamunya segera menutupi tubuh mereka yang polos sebelum di seret menuju balai desa untuk diadili.
Salah satu pelanggan Sulastri tak terima diperlakukan seperti itu sehingga ia terus berontak untuk melepaskan diri sementara yang satunya lagi karena sudah babak belur setelah mencoba kabur dan berhasil ditangkap oleh warga, ia kini hanya bisa diam pasrah menerima nasibnya.
Arak-arakan pasangan mesum ini, disepanjang jalan yang dilaluinya menerima banyak caci maki dan penghinaan.
Bahkan tak jarang beberapa warga yang sangat marah desa mereka di cemari oleh perbuatan asusila seperti ini pun meludahi wajah pelaku dan melempari ketiganya dengan batu yang mereka ambil di jalan untuk melampiaskan amarah mereka.
Sulastri yang baru pertama kali mendapatkan penghinaan sebesar ini hanya bisa menunduk malu dan menahan amarah dalam hatinya karena menantang semua warga sama saja dengan bunuh diri.
“Brengsek! Awas saja kalian semua, begitu aku kembali nanti dan menjadi kaya raya, aku akan membuat perhitungan kepada kalian semuanya satu persatu dan akan aku pastikan kalian semua menyesal telah memperlakukanku seperti ini!”, batin Sulastri penuh dendam.
Menik dan Gison yang melihat putri semata wayang mereka dan kedua pelanggannya ditangkap, melihat kerumunan warga yang focus pada ketiganya, pasangan suami istri itupun diam-diam berusaha melarikan diri, namun sayangnya tindakan tersebut dipergoki warga yang langsung menyeret keduanya untuk kembali.
“Eh, mau kemana kalian? Enak saja mau kabur!”, hardik warga yang memergoki keduanya hendak melarikan diri dari keramaian.
Karena mencoba berontak, warga yang sudah geram tak segan melayangkan tendangan dan pukulan ke tubuh Menik dan Gison, membuat keduanya pada akhirnya hanya bsia pasrah digiring ke balai desa dimana Sulastri dan kedua pasangan mesumnya telah lebih dulu dibawa.
Sebelum tiba dibalai desa, Dirga sudah menghubungi Yono agar membawa para saksi yang beberapa waktu sebelumnya sempat pernah melaporkan masalah warung nasi milik Menik yang dijadikan tempat maksiat karena mereka tanpa sengaja pernah memergoki beberapa pria hidung belang bergiliran memasuki sebuah kamar dimana Sulatsri, putri semata wayang pasangan Menik dan Gison tengah menunggu para pelanggannya. Dan hari ini, Dirga kembali mendapatkan laporan hal yang sama ketika ia bau memasuki desa setelah meninggalkan gapura desa dimana anak-anak karang taruna sedang berkumpul untuk menghiasnya.
Berkat laporan tersebut membuat Dirga yang hari ini memang ingin memberikan peringatan keras kepada Sulastri dan keluarganya, seolah mendapatkan durian runtuh karena laporan tersebut datang diwaktu yang tepat.
Begitu Sulastri dan kedua pasangan mesumnya tiba dibalai desa, semua saksi dan perangkat desa serta salah satu perwakilan ulama di Desa Maju Bersama yang selama ini menjadi panutan warga desa turut hadir dalam sidang terbuka ini.
Menik dan Gison yang baru tiba setelah Dirga selaku kepala Desa Maju Bersama membacakan dakwaan yang dituduhkan kepada Sulastri hanya bisa terduduk lemas setelah beberapa orang yang merupakan saksi mata membeberkan perbuatan bejat putri tunggal mereka.
Salah satu pasangan mesum Sulastri yang tadi dipukuli warga karena berusaha melarikan diri juga memberikan kesaksian jika ia merupakan pelanggan tetap janda tersebut sejak lama. Bahkan ketika Sulastri masih berstatus sebagai istri orang.
Kesaksian itupun semakin memberatkan Sulastri apalagi Menik menjajakan anaknya didalam warung nasi miliknya, membuat warga yang merasa jika keluarga berisi tiga orang tersebut telah mencemarkan nama baik Desa Maju Bersama, menuntut agar Gison, Menik, dan Sulastri diusir dari Desa Maju Bersama.
Selain dijatuhi hukuman pengusiran, Gison sekeluarga juga harus membayar kompensasi berupa denda kepada warga Desa Maju Bersama berupa seratus sak semen yang akan diserahkan ke desa untuk dipergunakan membangun infrastruktur Desa Maju Bersama.
Untuk kedua pasangan mesum Sulastri, karena mereka bukan warga Desa Maju Bersama, keduanya juga tak lepas dari hukuman denda yaitu dengan menyumbangkan dua truck pasir dan seribu batu bata yang harus mereka serahkan kepada Desa Maju Bersama paling lambat lusa semua denda wajib terbayarkan lunas jika tidak maka pihak aparat desa tak akan segan untuk mengirim mereka semua kedalam penjara.
Kedua pasangan mesum sulastri langsung mengangguk setuju dan segera menandatangani surat pernyataan kesanggupan untuk membayar denda tepat waktu agar merek bisa segera pulang untuk mempersiapkan denda yang harus mereka bayar.
Mereka berdua lebih baik segera membayar denda agar pihak desa tak mendatangi rumah mereka yang bisa menyebabkan kehancuran rumah tangga yang telah mereka bangun.
Untuk menahan agar keduanya tak bisa berbuat curang, maka pihak desa menyita KTP dan SIM keduanya serta BPKB kendaraan bermotor yang mereka pakai agar keduanya tak bisa kabur dari tanggung jawab mereka.
Untuk Gison dan keluarganya, pihak desa langsung menyuruh mereka segera membayarkan denda jika tidak maka pihak desa akan menyita rumah serta asset berharga yang mereka miliki termasuk perhiasan emas yang dipakai oleh Menik dan Sulastri saat ini.
Dibawah pengawasan dari warga desa, Gison dan keluarganya tak lagi bisa berkutik sehingga begitu salah satu orang membawa ayah Sulastri itu ke kota kecamatan untuk membeli semen seratus sak, Gison tak bisa berbuat apapun dan hanya bisa pasrah menerima nasib buruk mereka.
Vallery dan anak-anak karang taruna yang baru saja menyelesaikan hiasan pintu gapura desa, mendengar kabar pengusiran Sulastri dan keluarganya setelah tertangkap basah berbuat zinah dan diduga melakukan praktek portitusi di warung bu Menik merasa sangat terkejut.
“Aku tak menduga rumor itu ternyata benar adanya, padahal aku hanya mengira jika Sulastri itu hanyalah janda gatel yang keganjenan saja, eh ternyata malah menjajakan dirinya demi memperoleh kepuasan dan uang”, Mila berkata dengan ekpresi tak percaya setelah mendengar kabar tersebut.
“Mungkin ini karma. Tadi bukankah ia habis melabrak Vallery dan mengatainya sebagai jalang, eh tak lama kemudian ia sendiri yang kepergok berbuat mesum bersama dua pria sekaligus dan diusir dari desa”, ucap Ningsih menimpali.
Sepanjang jalan pulang, gerombolan anak-anak karang taruna terus membahas masalah Sulastri dan peringai buruknya selama ini.
Vallery yang ada ditengah-tengah mereka hanya menjadi pendengar setia karena ia sendiri tak mengenal sosok Sulastri sehingga ia tak memiliki pendapat apapun mengenai wanita tersebut selain sikapnya yang tak tahu malu dan agresif.
Dirga sendiri tak mengira jika masalah Sulastri akan dengan cepat terselesaikan dan berakhir seperti ini pun merasa lega karena dengan diusirnya Sulastri dan keluarganya dari Desa Maju Bersama dan berita mengenai perbuatan bejat wanita itu, ia sangat yakin jika wanita tak tahu malu itu bersama keluarganya bukan hanya akan meninggalkan Desa Maju Bersama akan tetapi juga akan meninggalkan kabupaten Sentosa dan pergi jauh agar kabar buruk mengenai perilaku asusila Sulastri tak lagi membayang-bayangi kehidupan ia dan keluarganya.
TENG TENG TEEEEEEEEEENNNNGGGGG☕️
SELAMAT PAGI SEMUAAAAAA