Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.
Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.
Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Jalur yang terlupakan
Menggeser duduknya dari lantai batu yang dingin, Ye Chan membebat ulang bahunya dengan sobekan kain bersih. Rasa ngilu di nadinya belum hilang seutuhnya, tapi denyutnya sudah melandai.
Peta kulit hewan di tangannya mendadak menunjukkan perubahan. Di atas permukaan yang kusam itu, garis merah tipis yang sebelumnya pudar kini berpendar samar—jalur baru yang terbentang lurus menembus sisi timur reruntuhan. Matinya formasi penjaga batu rupanya memicu pembukaan segel tersembunyi pada peta tersebut.
'Jalurnya tidak mengarah ke alun-alun kota, melainkan membelah tebing lembah,' batin Ye Chan sembari mengusap ujung jempolnya di atas tinta kering tersebut.
Jika ini jalan pelarian darurat dari peradaban masa lalu, jalurnya mungkin lebih masuk akal dibanding menerobos reruntuhan gerbang utama. Namun, ia tidak langsung menelan mentah-mentah petunjuk tersebut.
Pedang besinya yang sedikit retak kembali ia sarungkan ke pinggang.
"Satu pemeriksaan singkat," gumamnya pelan seraya bangkit berdiri. "Kalau terlalu berbahaya, aku putar balik."
Langkahnya membawanya melewati celah dinding di belakang ruang penyimpanan. Lorong batu di hadapannya sempit, berbau apak khas tempat yang terkubur tanah selama berabad-abad.
Bongkahan batu besar menutup separuh jalan di beberapa titik. Ye Chan terpaksa menyelipkan tubuhnya di celah sempit, sesekali mendorong tumpukan kerikil dengan sarung pedang agar tidak menimbulkan suara berderak yang memancing bahaya.
Di lantai, ia mendapati lempengan logam bersilang yang sudah berkarat. Sebuah mekanisme perangkap kuno. Sebagian besar jarum pegasnya telah patah, tetapi satu lempeng di sudut kanan masih memancarkan getaran Qi tipis.
Ye Chan menahan napas. Ia melangkah hati-hati, meniti tepian dinding batu tanpa menyentuh lempengan berenergi tersebut.
'Bukan fasilitas umum,' nilainya dalam hati seraya menatap ukiran kasar di dinding terowongan. 'Lorong ini dibuat terburu-buru, sengaja dirancang menghubungkan wilayah kota langsung ke alam bebas.'
Rasa penasarannya terusik, tetapi naluri bertahan hidup membuatnya kian waspada.
Lorong mendadak melebar menjadi semacam koridor pengawas berkubah rendah. Sebelum matanya sempat terbiasa dengan ruang yang lebih lapang, embusan angin dingin menyambar dari celah dinding samping.
Seekor monster berkaki enam dengan sisik legam meluncur turun. Moncongnya terbelah dua, mengeluarkan desis beracun yang mengikis lumut di lantai batu.
'Pengumpulan Qi tingkat menengah!'
Otot lengan Ye Chan menegang seketika. Tubuhnya belum berada dalam kondisi prima untuk meladeni adu kekuatan secara frontal.
Ia tidak melompat mundur ke ruang terbuka. Sebaliknya, ia justru membalikkan badan, memancing makhluk itu masuk kembali ke mulut lorong yang sempit.
Monster itu menerjang buas, tetapi tubuhnya yang berukuran dua kali lipat manusia terhimpit dinding batu. Ruang geraknya terkunci.
Ye Chan memanfaatkan sepersekian detik itu. Alih-alih mengayunkan pedang ke tempurung kepala yang keras, ia merendahkan kuda-kuda, lalu menebaskan bilah besinya tepat ke persendian kaki depan monster tersebut.
Denting tulang retak terdengar nyaring. Monster itu melolong tertahan saat tumpuan tubuhnya hilang, miring ke sisi kiri.
Tanpa memberi celah bernapas, Ye Chan menusukkan pedang dengan seluruh sisa Qi-nya langsung ke lipatan kulit di bawah rahang monster. Bilah besi menembus dalam hingga mematikan saraf geraknya.
Makhluk itu mengejang beberapa detik sebelum akhirnya terkulai kaku di atas lantai berdebu.
Ye Chan menarik napas panjang, menstabilkan meridiannya yang berdenyut panas. Ia berlutut di samping bangkai, lalu dengan cekatan mengiris kantung empedu dan kelenjar lendir di dekat tenggorokan monster menggunakan belati kecil.
'Bahan penstabil energi. Kualitasnya cukup murni untuk menyempurnakan ramuan,' pikirnya puas sembari mengamankan organ tersebut.
Menyusuri sisa lorong yang semakin menurun, hawa pengap berangsur-angsur lenyap, digantikan semilir angin sejuk yang beraroma lumut basah.
Di ujung terowongan, dinding batu terbelah membentuk celah ngarai. Ye Chan melangkah keluar dan menemukan sebuah lembah kecil yang terkurung di antara dinding tebing raksasa.
Sinar matahari samar menembus celah kabut di atasnya. Berbeda dari tanah gersang di Lembah Kekacauan yang ia lalui sebelumnya, di sini beberapa rumpun tanaman obat tumbuh subur di sela retakan tanah yang dialiri rembesan air jernih.
Matanya tertuju pada sekelompok bunga berkelopak ungu keperakan yang mekar di dekat tebing.
'Rumput Jiwa Embun,' desah Ye Chan dengan binar lega di wajahnya.
Itu adalah salah satu bahan utama yang tercantum di gulungan kulit untuk merekatkan meridiannya yang rusak. Ia mendekat perlahan, memeriksa kematangan bunganya.
Ia tidak serakah. Ye Chan hanya memetik tiga tangkai yang kelopaknya telah mekar sempurna, membiarkan tunas-tunas muda tetap berakar di tanah.
Namun, begitu tangkai kedua terpotong dari tanah, aroma harum yang pekat mendadak menguar ke udara. Ye Chan mengumpat pelan dalam hati saat merasakan gelombang Qi di lembah itu bergolak.
Dua desau napas berat terdengar dari balik semak belukar di dua sisi berbeda.
Dua ekor serigala bertanduk batu—berada di tingkat Pengumpulan Qi awal—muncul dengan mata merah menyala. Rupanya aroma pekat tanaman obat ini menjadi umpan bagi predator sekitar.
"Tempat ini jelas bukan tempat yang aman untuk menetap lama," bisiknya pelan.
Alih-alih panik, ia mundur dua langkah, memposisikan dirinya persis di celah sempit antara dua batu karang runcing. Kedua monster itu menerjang hampir bersamaan dari dua sudut yang berlawanan.
Ye Chan mendadak menjatuhkan tubuhnya ke tanah.
Kedua serigala batu bertabrakan dengan keras di udara. Salah satunya terpelanting membentur sudut batu hingga tanduknya patah dan melolong kesakitan.
Sebelum serigala yang terluka sempat bangkit, Ye Chan menyodorkan ujung pedangnya ke rongga leher binatang itu, menghabisinya dalam satu tusukan bersih.
Serigala kedua yang melihat temannya mati langsung bersiap menerkam lagi. Namun Ye Chan menyambar segenggam pasir bercampur serpihan batu dan melemparnya sekuat tenaga tepat ke kedua mata monster tersebut.
Hantaman kerikil yang diperkuat Qi menembus indra penglihatan binatang itu. Raungan kesakitan membahana, dan serigala yang kehilangan penglihatannya itu memilih memutar badan, melarikan diri kembali ke balik rimbun semak.
Ye Chan menyeka keringat dingin di pelipisnya. Semakin lama ia berdiam di sini, aroma darah dan sari bunga akan mengundang kawanan monster yang lebih buas.
Ia bergegas menyeberangi ngarai menuju tebing di sisi seberang. Di sana, sebuah gerbang batu tua berdiri setengah terkubur di bawah tanah longsor.
Mekanismenya tampak berbeda dari pintu formasi kota. Dari celah-celah di atasnya, terasa embusan angin kencang yang berasal dari permukaan tanah.
'Jalur menuju luar lembah,' simpulnya.
Namun, sebuah batu sebesar rumah menutup total engsel utama gerbang. Ye Chan mengamati struktur tuas penahan di sisi samping.
'Bisa diungkit, tapi hanya dari sisi luar.'
Ia tidak bisa memaksakan diri melewatinya sekarang. Mengetahui posisi gerbang ini sudah cukup berharga; ia mencatat detail lokasinya dalam ingatan untuk nanti.
Tepat di samping ceruk gerbang, terdapat sebuah ruangan sempit yang tampak seperti pos penjagaan masa lampau. Rak-rak kayunya sudah lapuk dimakan usia.
Ye Chan memeriksa puing rak tersebut secara sistematis. Kebanyakan botol tanah liat di sana telah pecah dan isinya mengering menjadi serbuk hitam tak berguna.
Tetapi jemarinya menyentuh sebuah kotak batu giok kecil yang tertutup rapat oleh lilin lebah di sudut paling bawah.
Ia mencongkel segelnya dengan hati-hati. Begitu terbuka, aroma sejuk langsung meruap.
Di dalamnya terbaring sebiji getah beku berwarna merah delima—Getah Akar Matahari yang telah terfermentasi sempurna.
Napas Ye Chan tertahan sejenak. 'Satu lagi bahan langka.'
Koleksi ramuannya kini semakin mendekati kebutuhan resep. Meski masih memerlukan herba pelengkap dari pasar kultivator di dunia luar, harapan untuk memulihkan meridiannya kini bukan lagi angan-angan kosong.
Ia menyimpan kotak itu ke balik jubahnya dengan sangat hati-hati.
***
Langkah Ye Chan terayun cepat meninggalkan ngarai tersembunyi, kembali menyusuri lorong menuju persimpangan rute utama.
Di telapak tangannya, gulungan kulit resep pemulihan meridian terasa dingin. Sebagian bahan yang ia butuhkan kini telah berada di tangannya.
Ia melirik peta sekali lagi, memantapkan arah menuju celah keluar di utara.
"Waktunya keluar."
Namun, ucapan itu baru saja lepas dari bibirnya ketika tanah di bawah telapak kakinya bergetar hebat.
Debu tebal berjatuhan dari langit-langit terowongan. Getarannya bukan berasal dari reruntuhan biasa, melainkan entakan langkah masif yang teratur dari dasar terdalam Lembah Kekacauan.
Sebuah raungan yang menggetarkan isi dada bergema ke seluruh lorong, membuat hawa di sekitarnya mendadak dingin membeku.
Ye Chan mematung di tempatnya, mencengkeram erat gagang pedang di pinggang saat menyadari sesuatu yang mengerikan dari kedalaman lembah baru saja terjaga.