Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.
Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Jovan berlari histeris menembus kerumunan warga. Tangannya bergetar saat berlutut di samping tubuh Nadia yang bersimbah darah.
"Bunda! Bangun, Bun!" teriak Jovan panik. Air matanya pecah. Rasa bersalah menghantam dadanya.
Warga bergerak cepat memanggil ambulans. Dalam hitungan menit, Nadia dievakuasi ke Rumah Sakit Medika. Jovan terus memegang erat jemari dingin Nadia di dalam ambulans.
Dengan tangan gemetar, Jovan menelepon Arvin.
"Papa! Cepat ke Rumah Sakit Medika! Bunda tertabrak mobil!" jerit Jovan histeris.
Di ruang rapat, Arvin membeku. Cangkir di tangannya terlepas dan hancur di lantai.
"Jovan?! Kamu bicara apa?!"
"Bunda tertabrak pas ngejar Jovan, Pa! D*rahnya banyak banget!" tangis Jovan pecah. "Cepat ke sini, Pa. Jovan takut!"
Tanpa memedulikan rapat dan kliennya, Arvin menyambar jas dan kunci mobil, lalu berlari keluar penuh kepanikan.
Arvin melajukan mobilnya membelah kemacetan kota dengan kecepatan tinggi. Pikirannya kacau membayangkan kondisi Nadia.
Setibanya di ruang IGD Rumah Sakit Medika, Arvin melihat Jovan duduk bersandar di dinding koridor. Baju seragam sekolahnya ternoda bercak darah. Remaja itu menunduk dalam-dalam dengan bahu berguncang menahan tangis.
"Jovan!" panggil Arvin terengah-engah sambil berlari mendekat.
Jovan mendongak. Begitu melihat papanya, tangisnya pecah lagi. Ia langsung bangkit dan memeluk Arvin erat.
"Papa... maafin Jovan, Pa... Ini semua salah Jovan..."
Arvin menepuk-nepuk punggung putranya dengan tangan bergetar. "Bunda gimana, Jovan? Dokter sudah keluar?"
"Masih di dalam, Pa," jawab Jovan tersengal-sengal.
"Bunda tadi ngejar aku yang mau nyebrang... aku bentak Bunda, terus Bunda ketabrak mobil..."
Belum sempat Arvin membalas, pintu IGD terbuka. Seorang dokter melangkah keluar dengan raut wajah serius. Arvin dan Jovan langsung menyerbu dokter tersebut.
"Dokter, gimana keadaan istri saya?" tanya Arvin panik.
"Kondisi Bu Nadia cukup kritis akibat benturan di kepala dan patah tulang di lengan kirinya. Kami harus segera melakukan tindakan operasi untuk menghentikan pendarahan di kepalanya," jelas dokter cepat.
"Keluarga harap segera mengurus administrasi dan persetujuan operasi."
Arvin menelan ludah, dadanya sesak. "Lakukan yang terbaik, Dok! Tolong selamatkan istri saya!"
Setelah mengurus berkas persetujuan, Arvin menuntun Jovan ke kursi tunggu. Ponsel di saku Arvin mendadak berdering nyaring. Nama Mama tertera di layar. Arvin menarik napas panjang, mencoba menetralkan suaranya sebelum menggeser layar telepon.
"Halo, Ma..."
"Arvin! Kamu sama Nadia di mana? Ini Papa sama Mama sudah pulang jalan-jalan, kok rumah sepi? Anak-anak juga belum ada yang pulang," cecar Ranti di ujung telepon.
Arvin memejamkan mata rapat-rapat, mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Ma... Mama sama Papa langsung ke Rumah Sakit Medika sekarang."
"Rumah sakit?! Siapa yang sakit, Vin?!" suara Ranti mendadak panik.
"Nadia, Ma... Nadia kecelakaan."
Di toko kue, Kenzo duduk di salah satu kursi pelanggan sambil menopang dagunya. Anak kecil itu berkali-kali melirik ke arah pintu luar.
"Tante Wulan... Bunda masih lama ya datangnya?" tanya Kenzo pada Wulan yang sedang merapikan kasir.
Wulan tersenyum ramah, menghentikan aktivitasnya sejenak. "Tante juga kurang tahu, Kenzo. Mau Tante coba telepon Bundanya?"
Kenzo mengangguk cepat. "Mau, Tante."
Wulan mengambil ponsel toko lalu mencoba menghubungi nomor Nadia. Nada sambung terdengar agak lama, namun tak ada jawaban sampai panggilan terputus.
"Enggak diangkat, Sayang. Mungkin Bunda masih sibuk urus urusan Abang Jovan di sekolah," ujar Wulan.
Wulan lalu melirik ke luar kaca toko, melihat Pak Adam yang berdiri menunggu di dekat mobil. "Kenzo pulang dulu sama Pak Adam, ya? Kasihan Pak Adam dari tadi nungguin."
Kenzo sempat cemberut, tapi akhirnya mengangguk pasrah. "Ya udah deh, Tante. Tapi Kenzo mau minta satu kue buat dimakan di jalan, boleh?"
"Boleh banget!" sahut Wulan tertawa kecil. Ia segera mengambilkan satu potong kue favorit Kenzo, mengemasnya rapi, lalu menyerahkannya pada anak bungsu itu.
"Makasih Tante Wulan!" seru Kenzo gembira sambil menerima kuenya, lalu melangkah keluar menghampiri Pak Adam untuk pulang ke rumah.
Pak Adam membukakan pintu mobil untuk Kenzo. "Ayo, Mas Kenzo. Kita pulang dulu, ya. Nanti kalau Den Jovan dan Ibu sudah selesai di sekolah, pasti langsung pulang juga."
Kenzo mengangguk menurut, melahap kuenya di kursi belakang sepanjang perjalanan pulang.
Sementara itu, di lorong Rumah Sakit Medika, langkah kaki tergesa-gesa memecah keheningan. Ranti dan Haris berlari menghampiri Arvin dan Jovan yang duduk di depan ruang operasi.
"Arvin! Jovan! Gimana keadaan Nadia?!" tanya Ranti dengan napas memburu, wajahnya pucat pasi.
Jovan langsung menunduk rapat, tak berani menatap mata kakek dan neneknya. Air matanya kembali menetes menembus celana seragamnya.
Arvin berdiri, menyambut kedatangan orang tuanya dengan raut wajah kaku dan mata yang mulai memerah. "Nadia masih di dalam ruang operasi, Ma, Pa. Kepala Nadia terbentur keras dan tangan kirinya patah."
Haris mengelus dadanya, mengucap istighfar pelan. "Ya Allah... Kenapa bisa sampai kecelakaan begini, Vin?"
Ranti melirik Jovan yang terus menangis dan menyembunyikan wajahnya. Firasat seorang ibu membuatnya paham ada yang tidak beres. Ia mendekati cucunya lalu berlutut di hadapan Jovan.
"Jovan... tatap Oma, Nak," panggil Ranti lembut namun penuh penekanan. "Kenapa baju kamu ada bercak darah? Kenapa Nadia bisa tertabrak?"
Jovan makin tergugu, tangisnya pecah tak tertahan lagi. "Maafin Jovan, Oma... hiks... Bunda tertabrak gara-gara ngejar Jovan... Jovan bentak Bunda di jalan... Jovan yang salah, Oma..."
Ranti membeku. Haris menatap cucunya dengan rasa prihatin yang mendalam. Arvin hanya bisa merangkul bahu Jovan erat-erat, menahan rasa penyesalan yang kini mencekat tenggorokannya sendiri.
"Kalau sampai terjadi apa-apa sama Nadia..." Ranti berbisik pelan dengan suara bergetar, menatap pintu ruang operasi yang lampu merahnya masih menyala terang.
"Kita semua nggak bakal pernah bisa memaafkan diri kita sendiri."
Haris menepuk bahu Arvin pelan. "Vin, kamu hubungi ibunya Nadia sekarang. Keadaan Nadia kritis begini, orang tuanya wajib tahu."
Arvin mengangguk kaku. "Iya, Pa. Arvin telpon Ibu sekarang." Pria itu berbalik dan berjalan menjauh ke ujung lorong yang lebih sepi untuk menghubungi ibu mertuanya.
Ranti yang masih berdiri di depan ruang operasi langsung menoleh ke arah suaminya. "Pah, tolong telpon Pak Adam sekarang."
Haris mengernyit. "Ada apa, Mah?"
"Tahan Kenzo di rumah dulu sama Damian," bisik Ranti dengan suara bergetar menahan cemas. "Minta Pak Adam bilang ke Damian buat jaga adiknya di rumah. Jangan sampai Kenzo tahu ibunya kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit. Dia masih terlalu kecil untuk lihat suasana begini."
Haris mengangguk cepat. "Bener kata kamu, Mah. Papa telpon Pak Adam sekarang."
Haris merogoh ponselnya dan segera menghubungi nomor sopir keluarga mereka, sementara Ranti merangkul bahu Jovan yang masih terisak meratapi rasa bersalahnya.