NovelToon NovelToon
System Tycoon: Mulai Dari Mendapatkan 1 Juta Perhari

System Tycoon: Mulai Dari Mendapatkan 1 Juta Perhari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Gen-1

Seorang pemuda yang memiliki rasa haus akan mimpi menjadi orang kaya, berangkat merantau penuh harapan tinggi.

Tapi, sesampainya dikota, tamparan keras menghantamnya.

Ternyata hidup dikota tidak semudah yang dia bayangkan.

Sampai pada akhirnya sistem datang seperti malaikat yang jatuh dari langit, memberi jalan baru baginya untuk melawan kerasnya hidup didunia orang dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gen-1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Undangan Makan Malam Dan Bisnis Risa Bermasalah

Botanic Villa NavaPark, BSD city.

Setelah lama berkeliling Vila barunya, Yuda berbaring dikamar utama merasa sedikit bosan.

Vila seluas ini, tinggal sendirian, entah kenapa ia merasa kesepian untuk pertama kalinya.

Biasanya dia tinggal di kos sendirian biasa aja, tapi hari ini merasa sepi.

Jadi di atas kasur, ia memilih memainkan game moba yang baru saja di instal untuk menghilangkan kebosanannya.

Harus di akui, kecepatan internet wifi si merah sangat cepat untuk varian kecepatan tertinggi.

Yuda sangat puas dengan kecepatannya.

Ia juga sudah memindahkan file, email dan foto dari HP Poco x7 pro ke Huawei Mate XT lalu menginstal banyak apk.

Salah satunya adalah game moba.

Saat itu masih jam 14:55 Wib.

Yuda terlalu malas untuk bergerak dan memikirkan yang lain, ia ingin bersantai bermain game di HP barunya sampai puas di kamar tidur utamanya.

Niat dia bermain game adalah mengisi kebosanannya, tapi...

Dua jam kemudian.

*DEFEATS*

Duduk diatas kasur, raut wajah Yuda berubah muram, gertakan gigi terdengar "Sialan, tim anj, tim taix, 6 kali pertandingan g ada yang menang. Pantk lose streak 6 kali beruntun!!"

"Huft, sabar... ini cuman game." Ia menghirup udara beberapa kali mencoba menenangkan diri.

Kemudian ia melirik jam Patek Philippe di pergelangan tangannya, "Sudah jam 5 sore?"

Kruuk...

Suara perut lapar terdengar.

Yuda memegang perutnya dan meringis kecil. “Lapar.”

Ia kemudian membuka aplikasi Grab dan memesan ayam goreng beserta minuman untuk mengisi perutnya.

Setelah pesanan dikonfirmasi, Yuda meletakkan ponselnya di atas kasur.

Namun, saat ia turun dari tempat tidur dan berjalan menuju balkon, pandangannya tiba-tiba tertuju pada kolam renang yang terlihat dari balkon kamar.

Yuda terdiam sejenak.

“Ngomong-ngomong... dari tadi belum pernah coba.”

Rasa penasaran muncul.

Akhirnya, daripada hanya menunggu makanan datang, Yuda mengambil celana renang yang baru dibelinya dan berganti pakaian.

Beberapa menit kemudian, ia sudah berada di area kolam renang.

Yuda menyentuh permukaan air dengan kakinya. “Pas.”

Tanpa banyak berpikir, ia langsung terjun ke dalam kolam renang.

Air yang sejuk membuat tubuhnya terasa jauh lebih segar setelah berjam-jam duduk bermain game.

Yuda berenang beberapa putaran dengan santai, sesekali berhenti untuk menikmati suasana di sekelilingnya.

Dari area kolam, ia bisa melihat taman belakang dan hamparan hijau Botanic Park di kejauhan.

“Lumayan...”

Untuk pertama kalinya sejak masuk ke vila, rasa bosannya sedikit menghilang.

Setelah cukup puas berenang, Yuda kembali masuk ke dalam.

Ia mengambil ponselnya dan melihat notifikasi dari aplikasi Grab.

Pesanannya sudah hampir sampai.

“Oh, makanan.”

Yuda kemudian naik ke kamar untuk mandi.

Beberapa menit kemudian, Yuda selesai mandi dan berpakaian kasual dengan celana pendek chinos yang baru saja dia beli.

Terlihat biasa, tidak mencolok.

Itulah yang ia pikirkan saat bercermin, "Sesuai seleraku, bagus."

*Ding Dong*

Suara bel pintu terdengar, Yuda segara turun keluar dan melihat ada kurir makanan sedang membawa pesanannya.

Beberapa saat setelah membayar, ia kembali masuk kedalam vila.

Pada saat makan di ruang makan, ia kembali merasakan kesepian.

Ruang makan sebesar ini, makan sendirian rasanya agak gimana gitu.

Selesai makan, ia kembali merenungkan sesuatu.

"Sepertinya aku harus memperkerjakan pembantu, tidak mungkin aku membersihkan vila seluas ini sendiri kan?"

Apalagi sekarang ia punya banyak uang.

Yuda bersandar di kursinya sambil memandang ruang makan yang luas.

Ia akhirnya mengambil Huawei Mate XT-nya dan membuka pencarian di internet.

“Jasa housekeeper villa...”

Tatapannya menyapu beberapa hasil pencarian.

“Besok saja deh. Sekarang sudah sore.”

Yuda meletakkan ponselnya, kemudian bangkit dan berjalan menuju living room belakang.

Ia duduk di sofa menghadap kolam renang, menikmati suasana sore tanpa melakukan apa-apa.

Yuda menyadari bahwa memiliki rumah sebesar ini ternyata juga membawa pekerjaan tersendiri.

“Sepertinya memang harus punya orang yang mengurus rumah.”

Yuda masih duduk santai di sofa ruang keluarga belakang, menikmati suasana sore yang perlahan berubah menjadi lebih tenang.

Ia sebenarnya tidak sedang melakukan apa-apa.

Hanya bersandar sambil sesekali memandang kolam renang di luar melalui dinding kaca.

Tiba-tiba, HPnya yang diletakkan di atas meja bergetar.

Brrt... brrt...

Yuda mengambil Huawei Mate XT-nya dan melihat nama yang muncul di layar.

Risa.

“Tumben nelpon jam segini.”

Ia segera mengangkat panggilan tersebut.

“Halo?”

Suara wanita itu terdengar dari seberang.

“Yuda...”

Baru mendengar satu kata saja, Yuda langsung mengernyitkan kening.

Nada suaranya terdengar berbeda dari biasanya.

“Tumben kamu telepon. Ada apa?”

Risa terdiam sesaat.

“Memangnya nggak boleh telepon kamu?”

“Boleh aja.” Yuda terkekeh kecil. “Tapi dari nada bicaramu kayaknya lagi bad mood.”

Kali ini Risa kembali diam.

Yuda bisa membayangkan dirinya sedang menarik napas panjang di seberang sana.

“Ada masalah sedikit.”

“Masalah?”

“Iya... di toko onlineku.”

Yuda yang tadinya bersandar santai mulai sedikit memperhatikan.

“Ada apa dengan tokonya?”

“Panjang ceritanya.”

“Kalau begitu persingkat cerita aja.”

Risa menghela napas.

Hari itu rupanya ada sesuatu yang tidak beres dengan toko online yang selama ini ia kelola.

Masalah tersebut cukup membuatnya kesal, terlebih karena sejak tadi ia terus memikirkannya sendirian.

“Aku sebenarnya cuma pengen cerita ke seseorang,” katanya pelan.

Yuda tidak langsung menjawab.

Ia hanya mendengarkan.

Beberapa saat kemudian, Risa tiba-tiba berkata, “Yuda, kamu malam ini ada acara nggak?”

“Kayaknya nggak ada.”

“Kalau begitu... makan malam bareng aku, yuk?”

Yuda sedikit terdiam.

“Makan malam?”

“Iya. Aku lagi butuh teman buat curhat.”

Mendengar alasannya, Yuda tersenyum kecil.

“Ya sudah. Mau jam berapa?”

“Jam delapan?”

“Boleh.”

“Serius?”

“Kenapa nggak?”

Suara wanita tersebut terdengar sedikit lebih ringan. “Oke. Nanti aku kabari tempatnya.”

“Siap.”

Panggilan pun berakhir.

Yuda menurunkan HP nya dan kembali bersandar di sofa.

“Ternyata ada masalah di tokonya...”

Ia menatap kolam renang di luar.

Setidaknya malam ini ia tidak perlu menghabiskan waktu sendirian di vila.

Dua jam kemudian...

Yuda menerima lokasi makan malam dari Risa.

Kebetulan tempatnya dekat dengan kawasan BSD city.

Jadi ia segera mengendarai motornya menuju restoran.

Beberapa menit kemudian, Yuda sampai di area parkir restoran.

Ia memarkirkan motornya lalu perlahan melangkah masuk restoran.

Suasana di dalam restoran terlihat tenang, ada beberapa pasangan muda dan perkumpulan remaja juga.

Yuda melihat sekeliling sejenak, sebelum akhirnya menemukan Risa duduk di sudut ruangan.

Risa, mengenakan blouse berwarna cream dengan potongan sederhana yang dipadukan dengan celana panjang hitam.

Rambut panjangnya ditata rapi, sementara sebuah tas kecil tersampir di bahunya.

Penampilannya tetap membuatnya terlihat anggun dan menarik.

Risa sedang duduk sendirian di salah satu meja restoran, sesekali melihat layar ponselnya dengan ekspresi murung.

"Mbak Risa."

Suara pria yang dikenalnya terdengar memanggilnya.

Ia mendongak keatas, sosok pria mengenakan pakaian kasual biasa dan chinos pendek berjalan mendekat.

Mata lesu Risa sedikit berbinar ketika melihat Yuda.

"Yuda, akhirnya datang juga, ku kira kamu bakal terlambat."

Yuda tersenyum lebar, "Bagaimana mungkin aku terlambat saat wanita cantik sepertimu mengundang ku makan malam?"

Risa terkekeh kecil ketika dipuji, suasana hatinya yang sedang buruk sedikit mereda.

"Mulutmu makin hari makin manis aja, sudahlah cepat duduk. Pesan apa saja, aku yang bayar."

Yuda mengangguk, dan tidak menolak ditraktir.

Ia kemudian memilih pesanan.

Beberapa saat setelah memesan, Yuda menatap wajah cantik Risa.

Meski Risa berusaha menyembunyikannya rasa gelisahnya, tapi Yuda sangat peka terhadap perubahan mikro wajah.

Ia menatap serius kearahnya. "Jadi Mbak Risa... Katanya mau curhat? Mulai sekarang saja sembari menunggu makanan siap."

Di tatap oleh Yuda sedemikian rupa, Risa sedikit malu.

Tapi kemudian ia menghela nafas berat ketika memikirkan masalah ditoko online nya.

“Intinya aku kena masalah sama pelanggan besar...” Risa menghela napas. “Awalnya mereka pesan pakaian dalam jumlah banyak. Sekitar empat ratus lima puluh setelan.”

Yuda mengangguk pelan.

“Karena pesanannya besar, aku pikir ini adalah kesempatan besar buat tokoku. Mereka juga sudah kasih DP, jadi aku berani keluarin hampir seluruh modal yang kupunya buat produksi.”

“Berapa?”

“Hampir tiga ratus juta.”

Yuda sedikit terkejut.

“Sebanyak itu?”

“Iya. Pakaian yang mereka pesan juga kualitasnya premium, jadi bahan dan produksinya nggak murah.”

Risa terdiam sejenak sebelum melanjutkan. “Masalahnya, setelah barangnya hampir selesai, mereka malah membatalkan pesanan.”

“Terus DP-nya?”

“Harus aku balikin.”

Yuda mengernyit, meskipun tidak tahu banyak soal bisnis, tapi soal aturan DP dia tahu sedikit, “Bukannya barangnya sudah dibuat?”

“Itu dia masalahnya.” Risa tersenyum pahit. “Di kontraknya ternyata ada klausul yang memungkinkan mereka menarik kembali DP kalau pesanan dibatalkan dalam kondisi tertentu. Aku nggak sadar waktu tanda tangan.”

“Jadi kamu harus mengembalikan uangnya?”

Risa mengangguk. “Masalahnya, uangnya sudah habis buat produksi. Barangnya juga sudah hampir selesai, tapi batal di tengah jalan.”

Yuda mulai memahami masalahnya.

Modal Risa sudah terserap ke produksi besar itu, sementara uang muka yang diterimanya harus dikembalikan.

Bahkan untuk menutup kekurangan modal, Risa sampai harus berutang.

“Jadi sekarang...” Risa menunduk. “Modal kerja habis, punya utang, dan ratusan juta pakaian yang nggak tahu mau dijual ke siapa.”

“Kalau dijual di toko online?”

“Bisa, tapi nggak bakal cepat habis. Apalagi harganya premium. Kalau aku mau cepat dapat uang, paling cuma bisa banting harga.”

Yuda menunduk merenung sejenak lalu mengangguk.

“Jadi modalmu sekarang nyangkut di barang?”

Risa mengangguk.

“Modal kerja habis. Aku masih punya pesanan lain yang harus diproduksi, tapi uangnya sudah nggak ada. Terpaksa aku pinjam uang buat nutup kebutuhan sementara.”

Ia menghela napas panjang.

“Yang paling bikin kesal, sebenarnya barang sebanyak itu bisa menghasilkan keuntungan besar kalau berhasil terjual. Tapi aku nggak tahu kapan bisa terjual habis, sementara aku butuh modal cepat.”

Yuda terdiam beberapa saat setelah mendengar cerita Risa.

Kemudian ia teringat dengan keluarga besarnya di desa.

Sebuah pemikiran terlintas dibenaknya, “Kalau begitu...”

Ia mengangkat kepalanya menatap wajah Risa yang tampak putus asa. “Boleh aku lihat barangnya?”

Bab Berakhir.

1
Gege Mas
uwaaasyeekk
Gege Mas
luncurkan 10k katanya thor...gassa...
Gege Mas
yaaah masih kelas bsd...pikir otor beli rumahnya mc di pik 2 yang ada private jetty buat naruh kapal pesiar mini..baruu howrang kayah rayah..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!